Sunday, May 1, 2016

Bacaan Ringan "MENIKMATI SEJARAH LEBARAN PADA MASA LALU - PART 2"

http://massandry.blogspot.com
Sementara itu suasana shalat Id tahun 1947 di Alun-alun Yogyakarta terekam dalam sebuah foto koleksi Antara/Ipphos. Dalam foto itu tampak Panglima Besar Jenderal Sudirman berpici, berjas putih dengan empat saku berdiri di sebelah Soekarno. Di sebelahnya lagi ada Sultan Hamengku Buwono IX, Moch Ichsan (walikota Semarang yang diusir Belanda dan menyusul pemerintahan sementara di Yogyakarta) serta Soepardjo Rustam yang ketika itu ajudan Sudirman. Tampak jas dan pakaian keempat tokoh tersebut kumal, lusuh dan tak disetrika, sama seperti semua rakyat yang berjemaah bersama mereka.

Tahun 1950-an, pada masa demokrasi liberal, shalat Id dipindahkan ke lapangan Banteng. Setelah di tengah lapangan berdiri monumen pembebasan Irian Barat, sejak itu shalat Id terpencar di lapangan dan mesjid yang ada di Jakarta.

Tahun 1961, Taman Wijayakusuma yang semula bernama Wilhemina Park dibongkar dan akan dibangun Masjid Istiqlal, mesjid yang ketika itu terbesar di Asia Tenggara. Masjid ini pun menjadi salah satu pusat shalat Id di Jakarta.

Dalam Sebelum Prahara: Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965, Rosihan Anwar menceritakan pengalaman pada hari Idulfitri 1961. Ketika pergi shalat Id di Kebayoran Baru, Rosihan melihat banyak becak yang dihiasi kulit ketupat. Awalnya ia menganggap upaya abang becak itu gerakan spontan menyambut lebaran. Namun, dari penuturan seorang sopir jip, kulit-kulit ketupat itu dibuang di pasar-pasar karena tak habis terjual. Mengapa dibuang? Sopir jip menjawab karena tidak ada isinya. Beras yang seharusnya menjadi isi ketupat ternyata tak mampu terbeli oleh rakyat karena harganya sudah sampai 14 rupiah per liter. Inflasi di waktu lebaran.

Pada tahun berikutnya, situasi tidak berubah. Menurut Rosihan, menjelang Lebaran 1962, harga-harga di Jakarta melonjak. Sayur mayur dan bahan-bahan bumbu melonjak 100 hingga 150 persen. Begitupula tepung terigu, minyak goreng, dan gula pasir ikut melonjak. Anehnya, barang-barang itu belum tentu tersedia. Pada masa itu di pinggiran Jakarta dikenal istilah “kambing barter”. Para penduduk pinggiran Jakarta dapat menukarkan seekor kambing dengan 20 liter beras dan 1 ayam ditukar dengan 3 sampai 4 liter beras.

Perbedaan pendapat mengenai jatuhnya Idulfitri pun terjadi pada 1962. Muhammadiyah memutuskan Lebaran jatuh pada 7 Maret sedangkan Nahdlatul Ulama merayakan Lebaran pada 8 Maret. Oleh karena NU ketika itu duduk di pemerintahan, maka melalui Menteri Agama, Lebaran didekritkan pada 8 Maret. Dalam kutbah Idulfitri yang dilaksanakan 7 Maret di mesjid Al Azhar, Kebayoran Buya Hamka mengatakan adanya dua Hari Raya Idulfitri hendaknya jangan diartikan sebagai perpecahan di kalangan umat Islam. Karena semuanya bernaung di bawah bendera merah putih.

Sementara itu dalam pidato Presiden Soekarno yang diucapkan pada pidato Hari Raya Idulfitri 8 Maret 1962, Soekarno menyinggung soal sengketa dengan Belanda mengenai Irian Barat. Ia menegaskan Trikora (Tri Komando Rakyat) tak dapat dihentikan. Salah satunya, merah putih harus dikibarkan di Irian Barat.