Sunday, May 8, 2016

Bacaan Ringan "TRADISI NYEKEP - LAMBANG KEJANTANAN PRIA MADURA - PART 2"

http://massandry.blogspot.com
Senjata tajam sebangsa celurit sebenarnya terdiri banyak jenis dan bentuknya, antara lain are’ lancor, takabuwan, bulu ajem, bulu pete’, daun perrengan, karangkengan dan sejenisnya. Sedang bentuk senjata tajam konvensional lainnya, juga banyak macamnya, yakni ; taji, gobang, cakkong, bireng, pangabisan, todi’, golok, tombag, dan lainnya sesuai dengan fungsi dan keperluannya.

Sekep bukan hanya dalam wujud benda saja. Justru dibalik benda yang disekep itu, tersimpan suatu kekuatan yang mungkin tak terduga sebelumnya, yaitu bila saat digunakan (katakanlah untuk membunuh orang) mempunyai akibat yang lebih fatal bagi korbannya. Sebab benda (tajam) tersebut telah “diisi” suatu kekuatan yang melebihi senjata tajam yang disekep.

Di lain hal, sekep-sekep tertentu mempunyai fungsi lain, yaitu sebagai alat penangkal bila berhadapan dengan lawan (musuh). Sekep semacam itu, merupakan senjata yang cukup ampuh untuk menipu lawan. Sebab lawan yang dihadapi tidak tampak pada dirinya, sedang yang ber-sikep akan lebih leluasa melakukan serangan. Hal ini tentu berlaku bagi lawan yang “kosong” tenaga dan ilmunya.

Ada juga jenis sekep yang cukup diletakkan dibagian pintu rumah. Sekep ini berfungsi untuk menghalangi bila suatu saat ada orang yang bermaksud jahat, misalnya pencuri. Apabila sebuah rumah telah dilengkapi dengan sekep semacam ini, maka rumah itu akan selalu aman dari tangan-tangan jahil. Karena siapa yang bermaksud jahat memasuki rumah itu, seakan mereka dihadapkan oleh berbagai keganjilan.

Peristiwa semacam ini pernah terjadi di sebuah desa, di kecamatan Dungkek Sumenep. Seorang pencuri berhasil masuk dan menggaet perabot rumah tangga. Namun beberapa saat kemudian terdengar suara ombak yang mendebur diluar rumah. Mendengar suara itu tentu sang pencuri kalang kabut, maka secepat kilat ia keluar rumah. Namun apa yang terjadi, ternyata disekitar rumah itu telah berubah menjadi laut yang menggenangi disekitar rumah. Melihat kenyataan itu, sang pencuri tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menuggu air surut. Hingga pagi hari, ia baru tersadar bahwa ia telah terjebak oleh tipuan kekuatan magis yang dipasang pemilik rumah. Dan akibatnya, masyarakat setempat tidak sulit menagkap pencuri tersebut lengkap dengan bukti barang curiannya.

Dan banyak lagi tipuan-tipuan fatamorgana semacam ini dengan berbagai macam bentuk dan akibatnya, bahkan menurut cerita jebakan-jebakan semacam itu seakan pencuri terdampar ditengah hutan belantara lengkap dengan binatang buasnya