Sunday, May 1, 2016

Bacaan Ringan "SEJARAH PERADABAN TENTANG ETHNIS MADURA LENGKAP - PART 3"

http://massandry.blogspot.com
Jokotole
Setelah Jokotole selesai melakukan peperangan ia kembali ke Sumenep, tidak lama kemudian datanglah Adipodaj (ayah dari Jokotole) untuk menjumpai ibu Jokotole (Puteri Kuning).

Pulau Sapudi
Setelah beberapa hari ke Sumenep, Ia lalu ke Sepudi membawa Puteri Kuning, pada waktu itu di Sepudi yang memerintah ialah nenek Jokotole Panembahan Blingi (Wilingi), setelah itu beliau meninggal dunia, setelah itu Adipodaj menggantikan ayahnya dengan gelar Penembahan Wiroakromo, menjalankan pemerintahan didaerah sekitar Sepudi, Panembahan ini dikenal sudah memeluk Islam siang dan malam suka memegang tasbih dari buah pohon Nyamplong, karena itu banyaklah orang menanam pohon Nyamplong tersebut. Keraton yang ia tempati disebut orang Desa Nyamplong, Adipodaj juga meninggal ditempat itu dan kuburannya disebut Asta Nyamplong yang hingga sekarang masih juga banyak orang yang berkunjng untuk berziarah.

Diceritakan bahwa Adipodaj memang menjalankan pemerintahannya dengan sangat bijaksana dan apa yang menjadi cita citanya dapat direalisir dengan baik, pohon nyamplong yang dianjurkan ditanam ternyata kayunya sangat baik untuk dijadikan alat-alat perahu, Pulau Sepudi dari dulu terkenal dengan sapinya yang sapi itu dilombakan di Madura dan terkenal dengan sebutan 'Kerapan Sapi'.

Menurut keterangan orang hal itu terjadi karena cara-cara Adipodaj memelihara ternak itu tetap tertanam dalam hati dan sanubari rakyat dan rakyat tidak berani merubahnya, petunjuk-petunjuk Adipodaj dalam memelihara ternak dan pertanian dianggap mempunyai kekuatan magis untuk diikutinya dan pelanggaran-pelanggaran dianggap dapat menimbulkan bahaya juga menjadi kebiasaan warga Sepudi, jika ada wabah penyakit menyerang penduduk disana mereka mengeluarkan alat-alat peninggalan Adipodaj (Calo', kodi, dsb) untuk diarak guna menolak adanya wabah penyakit tersebut.

Pulau Kaangean

Pulau lain yang perlu disebut ialah pulau Kangean pulau ini juga sudah terkenal sejak Zaman Majapahit. Empu Prapanca dalam kitabnya Negara Kertagama menulis sebagai berikut :

Syair 15 ( 2 )
Kunang tekang nusa Madura tanami Iwir parapuri
Ir denya tunggal mwang Yawadharani rakwekana
Dengu ............................

Syair 14 ( 5 )
Ingkang sakanusa Makasar butun Bangawi
Kuning Ggaliyao mwang ing Salaya Sumba Solot 
Muar .................................

Jadi Pulau Kangean pada Zaman Majapahit disebut Galiyao. Di pulau itu pada saat itu sudah ditempatkan seorang Adipati, semula tempat tersebit adalah pembuangan bagi orang orang yang mendapt hukuman berat dari Raja. Tetapi kerena tanahnya subur (sawah, ladang) dan banyaknya penghasilan yang didapat dari lautan (ikan) beserta hasil hutannya maka lambat laun pulau itu menjadi pusat perdagangan serta banyak orang dari Sumenep dan dari daerah lain yang menetap di Kangean.

Diceritakan bahwa Jokotole (Setyoadiningrat III) memegang pimpinan pemerintahan di Sumenep sampai berumur lanjut dengan sangat memuaskan bagi lapisan masyarakat. Pada suatu saat datanglah utusan dari bali dengan menaiki sebuah kapal dan membawa surat bahwa putera mahkota Bali akan datang berkunjung ke Sumenep, kedatangan mereka di sambut baik oleh Raja Sumenep, akan tetapi setelah sampai ke Istana mereka ngamuk-ngamuk sehingga banyak orang-orang yang terluka atau mati terbunuh begitu juga dengan Jokotole ia mendapat luka-luka dan dibawa lari Lapataman dengan dipikul memakai tandu menuju ke keraton lama di Banasareh tetapi diperjalanan Jokotole meninggal dunia, sukar sekali dicari air untuk memandikan jenazah, karena itu Raden Ario Begonondo (putera Jokotole) menancapkan tongkat ibunya yang dipakai di Socah dan keluarlah air dari tanah.lalu tempat itu disebut Sa-Asa yang artinya tempat untuk mencuci Jokotole dan sekarang termasuk kecamatan Manding, adik dari Jokotole yaitu Jokowedi segera datang untuk membantunya setelah orang-orang Bali melihat Jokowedi yang mirip sekali dengan kakaknya mereka ketakutan dan lari tunggang langgang ke kapalnya.