Tuesday, May 3, 2016

Bacaan Ringan "ASAL USUL MADURA DAN CAROK - PART 3"

http://massandry.blogspot.com
"Orang Madura selalu menjaga diri dan wibawa keluarga. adagium "ethembeng pote tolang kathembeng poteh mata–lebih baik mati atau putih tulang dari pada menanggung malu". Orang Madura merasa sulit untuk memaafkan apabila dipermalukan atau keluarganya dipermainkan."


Carok bisa dikategorikan menjadi dua, ada carok yang spontans dan carok yang direncanakan. Kalau carok yang spontans, saat ini sulit terjadi karena orang Madura sekarang jarang membawa senjata tajam (sikep). Mereka pergi ke sawah dengan membawa senjata terkadang hanya untuk menjaga diri, pada umumnya orang itu sudah memiliki musuh, Proses terjadinya carok, di mulai dengan adanya perjanjian, pihak yang pertama biasanya memberi tahu pihak yang kedua melalui orang lain untuk bertemu di tempat tertentu.

Di Madura, carok umumnya berkaitan dengan masalah perempuan atau masalah irigasi, yaitu persoalan perairan di sawah. Ketika ada air dari sungai besar dialirkan ke sawah yang lain atau ditutup sehingga sawah yang jauh tidak kebagian air, sehingga terjadi pertengkaran karena tanaman sawahnya terganggu. Di samping itu, Kebanyakan, orang madura lebih percaya kepada pembicaraan orang lain, walaupun hanya kabar angin. Seperti istrimu diselingkuhi, padahal tujuannya hanya untuk merusak, motif-motif ini juga menjadi awal terjadinya carok.

Budaya sarung yang ada di Madura, kebanyakan didominasi oleh masyarakat yang pernah tinggal di Pondok Pesantren. Dengan memondokkan anaknya di pesantren maka perilaku memakai sarung terbawa hingga masa -masa dewasa. Sebagai pakaian sehari-hari, era tahun 2000 mulai ngettran budaya memakai sarung dan peci, banyak juga masyarakat Madura menyontoh sikap para blater (bajingan) dengan memakai peci (songkok) yang tinggi, tujuannya biar mereka ditakuti atau dianggap seorang blater, dengan membawa celurit atau senjata tajam. padahal blater yang sebenarnya memiliki sikap yang royal, baik hati dan bijaksana.

Celurit Madura ada banyak bentuknya, ada Bangtoroi dan Bulu Ajem (bulu ayam) serta Kedang saarep ( Mirip Pisang) panjang di depan agak melikuk. Di daerah Galis dan Blega ada yang namanya calok bujur, bentuknya sama-sama memiliki keunggulan, barangkali itu agak tipis seperti samurai.

Carok jarang terjadi dengan orang-orang pendatang, masyarakat luar Madura. Carok terjadi antara masyarakat Madura sendiri. Carok bisa secara berkelompok, kalau orang desa yang satu dengan desa lain ada konflik, cara bercaroknya bisa direncanakan, misalnya antara masyarakat kota Sampang dan Pamekasan beberapa tahun yang lalu, yang terjadi di kota Surabaya.