Skip to main content

Bacaan Ringan "SEJARAH PETASAN DAN TRADISI PADA BULAN RAMADHAN - PART 3"

http://massandry.blogspot.com
Presiden Soeharto kemudian turun tangan, apalagi Idul Fitri akan segera tiba. Dalam Sidang Kabinet Paripurna 12 Oktober 1971, presiden mengeluarkan serangkaian larangan dan instruksi khusus soal petasan. Hanya petasan jenis "cabe rawit" dan "lombok merah" yang diperbolehkan; itu pun harus bikinan dalam negeri –dengan alasan menghemat devisa negara. Menteri Dalam Negeri Amir Machmud lalu mengirimkan kawat kepada gubernur seluruh Indonesia, antara lain tentang ukuran mercon yang diizinkan: “Tidak boleh lebih panjang dari 8 cm, tidak boleh lebih lebar dari garis tengah 1 cm, dan isinya tidak boleh berat dari 10 gram.” Amir Machmud juga tak lagi mengeluarkan izin impor mercon. Kepala Polisi RI Komjen Polisi Drs Moh. Hasan menginstruksikan semua pejabat polisi tertinggi di setiap propinsi untuk menertibkan pemasangan dan pembuatan mercon.

Tempo juga melaporkan bagaimana para pemimpin agama sudah kewalahan melarang petasan. Bahkan Hamka hingga menteri agama pernah mencarikan ayat maupun hadist yang mencegah orang membakar mercon. Imron Rosjadi SH, ketua IV NU, pernah pula melarang orang Islam menyulut mercon dalam sebuah khotbah dua tahun sebelumnya di Masjid Istiqlal, “tapi orang-orang melototkan matanya pada saya.” Karena itulah, pada 22 Oktober 1971, bersama Jenderal Maraden Panggabean selaku Panglima ABRI, Machmud berseru: "Pemasangan petasan bukanlah suatu keharusan agama, pemasangan petasan hanyalah suatu penghamburan uang yang tak berguna," tanpa mengutip ayat Alquran atau kitab suci lainnya. Seruan itu disiarkan oleh RRI dan pers ibukota.

Polisi merazia penjual dan pemilik petasan, memusnahkan banyak petasan, tapi petasan impor tetap saja masuk lewat pelabuhan. Produsen dan penjual petasan juga diam-diam menjualnya. Setiap tahun, sekalipun ada larangan, razia, korban juga selalu berjatuhan, petasan masih mewarnai suasana perayaan di Indonesia, hingga kini.

Zaman sekarang tidaklah sama seperti Sukarno kecil yang kekurangan permainan. Ada banyak cara untuk menunjukkan status atau rasa syukur. Lalu, masihkah pendar dan suara petasan dibutuhkan?

Popular posts from this blog

Bacaan Dewasa "FAKTA KEHIDUPAN SEKSUAL REMAJA JEPANG"

http://massandry.blogspot.com Inilah beberapa alasan Negeri Sakura itu melegalkan JAV Sex di Jepang sudah bukan hal yang tabu bagi kita, apalagi budaya sex yang bisa terbilang ekstrem di tengah-tengah bangsa yang menjunjung tinggi kesopanan ini. Siapa sih yang tidak tahu kalau bangsa Jepang terkenal sopan? Namun tak sedikit pula yang tahu budaya sex Jepang yang ekstrim.
Berikut kisahnya: 
1. Di salah satu kuil di Tokyo, ada sebuah gerbang merah yang jadi simbol sakral penduduk disana. Ternyata, di arena setelah kita melewati gerbang merah tersebut adalah area ritual bagi perempuan disana yang ingin melepas keperawanannya. 

2. Tahu shinkansen? Di kereta api super cepat ini ternyata tersedia gerbong khusus buat perempuan. Di gerbong ini, perempuan diberikan kebebasan untuk ngapain tanpa harus keganggu ama cowo- cowo yang ada disana. Konon kabarnya cowo Jepang sering ngelakuin tindakan asusila di kereta api. (bahkan beberapa syuting film porno memakai latar belakang kereta api sinkansen …

Bacaan Ringan "PROFIL LENGKAP WARKOP DKI "

http://massandry.blogspot.com
PROFIL: WAHYU SARDONO (DONO - WARKOP)
Drs. H. Wahjoe Sardono lebih dikenal dengan Dono Warkop lahir di Solo 30 September 1951 adalah aktor dan pelawak Indonesia yang bertinggi badan 167 cm serta beragama Islam. Ia juga dikenal sebagai aktor pada akhir 1970-an, tahun 1980-an dan era 1990-an. Dono meninggal pada 30 Desember 2001 akibat Kanker Paru-Paru.
Pendidikan:  Fakultas Ilmu Sosial - Jurusan Sosiologi, Universitas Indonesia 
Karir: Penyiar Radio Prambors (1974-1980)  Asisten Dosen Jurusan Sosiologi – Fakultas Ilmu Sosial UI (1974- 1980)  Dosen Jurusan Sosiologi – Fakultas Ilmu Sosial UI 
Alamat Rumah: Jalan Pulo Asem Utara 13/18, Jakarta Timur. 

Kabut tebal menyelimuti dunia perlawakan Indonesia. Ahad dini hari 30 Desember 2001 sekitar pukul 00.50 WIB, Drs H.Wahyu Sardono alias Dono Warkop, menghembus napas terakhirnya di kamar no 11 Paviliun Ignatius rumah sakit St Carollus Salemba Jakarta Pusat. Dia meninggal dengan tenang, disamping sahabatnya, Indr…

Bacaan Ringan "SABUNG AYAM MAULANA HASANUDDIN vs PRABU PUCUK UMUN"

http://massandry.blogspot.com Setelah kedua belah pihak telah bersepakat, dan telah menyiapkan ayam yang akan disabungkan, maka di hari itu, pada 11 Rabiul Awal tahun 888 Hijriah, orang-orang dari istana Pakuan Banten Girang dan para adjar dan pandita di Gunung Pulosari telah berkumpul untuk menyaksikan pertandingan sabung ayam antara Maulana Hasanuddin dan Ragamulya Surya Kencana alias Prabu Pucuk Umun. Saat itu, ayam keduanya saling mematuk, menghantam, mencabik, atau sesekali menghindari serangan lawannya, sebelum saling menyerang satu sama lain, yang diiringi oleh sorak-sorai para pendukung Maulana Hasanuddin dan Ragamulya Surya Kencana secara bergantian atau pun bersamaan.
Saat itu, semua yang hadir dan menyaksikan adu tanding kesumat itu merasa takjub dan heran ketika kedua ayam yang sama gagah dan perkasanya belum menandakan ada yang akan kalah di tengah arena. Bila ayam yang satu terpantik atau terjangkar oleh ayam yang lainnya, maka para pendukungnya akan bersorak gembira, da…