Sunday, May 1, 2016

Bacaan Ringan "NAPAK TILAS ANAK ANAK MUDA TAHUN 70-AN - PART 1"

http://massandry.blogspot.com
Konser Deep Purple di Senayan Jakarta 1975
God Bless dalam sebuah konser yang super meriah.
Tulisan ini dimuat di Harian Kompas 30 Maret 2002

MASIH ingat penampilan anak muda 1970-an? Rambut gondrong menuntai, kurus kerempeng berbusana army look, celana cut-bray, dan sepatu tumit tinggi, bagi yang lelaki. Sedangkan yang perempuan berambut sasak, rok mini, dan sepatu boot setinggi lutut. Wow!

Karena ingin berambut gondrong dan bebas merokok, Supartono Suparto, atau lebih dikenal dengan panggilan Tono Bigman, akhirnya memutuskan bersekolah di Perguruan Taman Madya, SMA di Blok S, Jakarta Selatan pada tahun 1970. “Taman Madya lebih dikenal sebagai John Mayall High School karena muridnya berambut gondrong,” ungkap Tono (49), yang saat itu telah ngeband bersama grup Bigman Robinson.

Mayall, pemusik blues Inggris, dengan rambut tergerai sepunggung, sedang ngetop-ngetopnya di Indonesia, terutama di Jakarta dan Bandung. Dia menjadi idola anak muda di kurun waktu akhir 1960-an hingga awal 1970-an. Di Bandung pun ada sekolah John Mayall. “Sekolah itu berada di Jalan Naripan. Murid-muridnya dibolehkan memelihara rambut gondrong,” ungkap Triawan Munaf (44), praktisi periklanan yang pernah mendukung sederet grup rock di Bandung seperti Lizzard, Giant Step, dan Gang Of Harry Roesli.

Tampaknya semangat kebebasan memang menjadi milik anak muda. Tak mau diatur, dan sarat kreativitas. “Apalagi, saat itu kita baru lepas dari pemerintahan Orde Lama yang pernah melarang budaya Barat, seperti membreidel musik ngak-ngik-ngok. Makanya wajar bila terjadi pelampiasan dengan meniru pola tingkah yang terjadi di belahan Barat sana,” jelas Tono. Musik dan fesyen yang terpicu semangat Flower Power yang anti kemapanan, merasuk di benak anak muda 1970-an negeri ini. “Walaupun harus jujur, saat itu kita cuma meniru kulitnya doang, bukan esensinya,” tambah Tono lagi. “Saat itu kita cuma meniru modenya aja. Di sana berambut gondrong, kita pun ikut,” kata Triawan sambil tergelak.

Maka berbondong-bondonglah anak muda Bandung ke kios Apple Shoes di Jalan Dipati Ukur, untuk memesan sepatu bertumit tinggi sekitar 10-15 cm. “Namanya sepatu eksotik. Yang menggunakan sepatu ini nggak jarang mengalami keseleo,” tutur Imank Wandi (46), yang menjadi penabuh drum Gang of Harry Roesli pada tahun 1970-an. Selain itu, kata Imank, mereka pun memesan baju-baju eksentrik dan eksklusif di Prima Butik di Jalan Alketiri. “Penjahit Daman di Jalan Jurang yang terkenal dengan jahit bordir pun sibuk menerima order dari anak band,” kata Iman lagi.

Tak beda jauh dengan Bandung, anak muda Jakarta pun sering mengunjungi butik Mic Mac di kawasan Menteng, Topsy di Pasar Baru, dan Hias Rias di Cikini. “Yang mereka cari adalah busana-busana yang dipakai oleh artis dan grup Barat yang mereka lihat di majalah musik Belanda Pop Foto atau Muziek Express,” kata Andy Julias (48). “Memang harus diakui, saat itu banyak yang menuding, dekadensi moral gaya hidup bebas anak muda Barat, menjadi pilihan untuk tidak disebut ketinggalan zaman. Mulai terdengar pesta dayak, kebut-kebutan, bahkan free sex,” cerita Andy. Andy juga menyebut novel Cross Mama karya Motinggo Boesje sebagai salah satu novel pop yang mewakili kondisi aktual remaja 1970-an.

Baik Andy maupun Tono sepakat mengakui warna kehidupan anak muda 1970-an menoreh banyak warna. Mulai dari pesta dayak yang acapkali menampilkan live band dari rumah ke rumah, hingga menjamurnya gang-gang di seantero Jakarta. Beberapa nama gang anak muda Jakarta yang menjadi buah bibir di antaranya adalah Legos, Sartana, Bearland, Siliwangi, dan Medisa. “Nama gang itu pun dibikin unik, kayak Sartana yang merupakan singkatan Sarinah Tanah Abang, atau Medisa yang berarti Meleng Dikit Sabet,” cerita Tono.

Apa yang dilakukan anak-anak gang? “Wah, macam-macam. Mulai dari bikin pesta, ngeband, kebut-kebutan, bikin pemancar radio, hingga rebutan cewek,” tutur Andy, yang mengaku sering nongkrong di sekitar Jalan Pegangsaan, Menteng. “Nggak bedalah dengan anak muda sekarang. Cuma, kalausekarang sering main keroyokan, dan anak muda 1970-an cenderung lebih sportif,” kata Tono, yang mengaku ikut bergaul dengan gang Bearland dan Siliwangi. Saat itu, para gadis pun seolah tidak mau kalah dengan para lelaki. Misalnya, ada gang cewek bernama Degradax yang dikenal jago kebut-kebutan mobil di jalan. “Mereka bisanya adu zig-zag dengan menggunakan mobil Toyota Hardtop dan Fiat 1300,” ungkap Tono.