Skip to main content

Bacaan Ringan "NAPAK TILAS ANAK ANAK MUDA TAHUN 70-AN - PART 2"

http://massandry.blogspot.com
kegiatanm musik merupakan salah satu kegiatan anak muda 1970-an yang cukup diminati, mulai dari bikin band hingga konser. “Anak band paling banyak dikerubungi siapa saja, termasuk wanita. Kayaknya , kalau punya band, gengsinya luar biasa,” kenang Triawan. Di Bandung sendiri berderet band yang bermunculan, seperti The Rollies, Giant Step, Freedom Of Rhapsodia, Gang Of Harry Roesli dan banyak lagi. “Umumnya lebih banyak berorientasi ke musik rock. Mungkin karena rock itu berkonotasi dengan kebebasan jiwa yang berontak hinggar-bingar, dan semacamnya,” komentar Triawan.

Di Jakarta sendiri berderet panjang grup-grup band, antara lain Gipsy, Bigman Robinson, Fancy, Ireka, Rhadows, Rasela, Hookerman, Cockpit, The Lord Ayodya, The Pro’s, God Bless dan masih banyak lagi. Selain manggung di pesta-pesta rumahan, mereka juga tampil di beberapa tempat seperti Mini Disco hingga Taman Ismail Marzuki. Saat itu hampir semua band di kota-kota besar membawakan repertoar dari grup-grup kesohor dunia, seperti The Rolling Stones, Jimi Hendrix, Experience, Grand Funk Railroad, Led Zeppelin, hingga Deep Purple.

Darimana anak band memperoleh repertoar musiknya? “Saat itu sumber yang pasti adalah dari pelat atau piringan hitam. Pelat biasanya dibawa sebagai oleh-oleh dari luar negeri,” ucap Tono. Namun, tak sedikit juga yang membeli pelat di sekitar kompleks pertokoan Pasar Baru. “Ada beberapa toko di Pasar Baru yang sering dikunjungi anak muda dulu seperti toko Eropah, Combinatie, dan Sinar Jaya,” jelas Ali Gunawan (47), arsitek yang saat itu sempat menekuni dunia disko sebagai disc-jockey. Menurut Ali, yang kini memiliki koleksi piringan hitam lebih dari 10.000 keping ini, harga pelat masih sekitar Rp 1.000 hingga Rp 2.000. “Harga segitu termasuk mahal,” kata Ali.

Juga populer saat itu kaset ketikan. “Kita bisa memesan rekaman lagu yang kita inginkan, lalu judul lagunya diketik sebagai sampul kaset, makanya dinamakan kaset ketikan. Biasanya ada di Jalan Bungsu, dekat perapatan lima Bandung,” kenang Triawan. Untuk mendapatkan kaset rekaman di Jakarta, kata Ali, tempat yang paling ramai dikunjungi adalah di kawasan Lokasari.

Dan tempat barang-barang bekas di bilangan jalan Surabaya juga merupakan tempat yang dikunjungi untuk memperoleh piringan hitam. Kios pelat yang terkenal di Jalan Surabaya adalah milik Silalahi. “Silalahi itu ngerti musik. Barang-barangnya pun termasuk bagus. Jadi nggak heran bila harga yang dipatok Silalahi agak mahal. Tetapi, itu nggak jadi masalah,” kata Ali.

Saking ngetopnya kios pelat Silalahi, gitaris Deep Purple, almarhum Tommy Bolin, sempat mampir di kios kecil milik lelaki berdarah Tapanuli itu. “Saya juga kaget ketika sebuah Mercedes hitam yang ditempeli spanduk Deep Purple, mampir di depan kios saya. Kebetulan waktu itu tengah dipajang album terbaru Purple yang didukung Tommy Bolin, Come Taste The Band. Bolin hanya tersenyum melihat sampul pelat itu,” kenang Silalahi (64)

Maraknya berdiri pemancar radio dengan antena bambu juga menandai kehidupan anak muda tahun 1970-an. “Radio yang cukup beken di Bandung saat itu Bonkenk yang merupakan singkatan Bongkok dan Kerempeng. Sudah pasti radio ini memutar lagu-lagu rock,” kata Imank. “Yang saya ingat, Radio Oz Bandung sering jadi tempat kita nongkrong. Malah diajak siaran segala. Bahkan band saya, Giant Step, sempat bernaung di bawah manajemen Radio Oz,” kata Triawan.

Di Jakarta sendiri bermunculan banyak pemancar radio seperti TU 47, Mr Pleasant, Prambors, dan beberapa nama unik lainnya yang rata-rata belum memiliki izin resmi. Prambors, yang berada di sekitar Menteng, baru mengantungi izin resmi sebagai radio swasta niaga pada tahun 1971. Radio yang dibentuk oleh anak-anak muda seputar Jalan Prambanan, Mendut, dan Borobudur ini (kemudian disingkat menjadi Prambors), bisa dianggap membentuk selera musik anak muda saat itu.

Radio yang menyapa pendengarnya dengan kawula muda ini menjalin akrab di antara anak muda karena memutar lagu-lagu milik The Rolling Stones, Pink Floyd, Black Sabbath, dan Led Zeppelin. “Acara seperti Blues Streamline yang memutar lagu-lagu blues sangat diminati saat itu,” kata Imran Amir, direktur utama Radio Prambors, yang di tahun 1970-an sempat mengasuh acara blues itu.

Popular posts from this blog

Bacaan Dewasa "FAKTA KEHIDUPAN SEKSUAL REMAJA JEPANG"

http://massandry.blogspot.com Inilah beberapa alasan Negeri Sakura itu melegalkan JAV Sex di Jepang sudah bukan hal yang tabu bagi kita, apalagi budaya sex yang bisa terbilang ekstrem di tengah-tengah bangsa yang menjunjung tinggi kesopanan ini. Siapa sih yang tidak tahu kalau bangsa Jepang terkenal sopan? Namun tak sedikit pula yang tahu budaya sex Jepang yang ekstrim.
Berikut kisahnya: 
1. Di salah satu kuil di Tokyo, ada sebuah gerbang merah yang jadi simbol sakral penduduk disana. Ternyata, di arena setelah kita melewati gerbang merah tersebut adalah area ritual bagi perempuan disana yang ingin melepas keperawanannya. 

2. Tahu shinkansen? Di kereta api super cepat ini ternyata tersedia gerbong khusus buat perempuan. Di gerbong ini, perempuan diberikan kebebasan untuk ngapain tanpa harus keganggu ama cowo- cowo yang ada disana. Konon kabarnya cowo Jepang sering ngelakuin tindakan asusila di kereta api. (bahkan beberapa syuting film porno memakai latar belakang kereta api sinkansen …

Bacaan Ringan "PROFIL LENGKAP WARKOP DKI "

http://massandry.blogspot.com
PROFIL: WAHYU SARDONO (DONO - WARKOP)
Drs. H. Wahjoe Sardono lebih dikenal dengan Dono Warkop lahir di Solo 30 September 1951 adalah aktor dan pelawak Indonesia yang bertinggi badan 167 cm serta beragama Islam. Ia juga dikenal sebagai aktor pada akhir 1970-an, tahun 1980-an dan era 1990-an. Dono meninggal pada 30 Desember 2001 akibat Kanker Paru-Paru.
Pendidikan:  Fakultas Ilmu Sosial - Jurusan Sosiologi, Universitas Indonesia 
Karir: Penyiar Radio Prambors (1974-1980)  Asisten Dosen Jurusan Sosiologi – Fakultas Ilmu Sosial UI (1974- 1980)  Dosen Jurusan Sosiologi – Fakultas Ilmu Sosial UI 
Alamat Rumah: Jalan Pulo Asem Utara 13/18, Jakarta Timur. 

Kabut tebal menyelimuti dunia perlawakan Indonesia. Ahad dini hari 30 Desember 2001 sekitar pukul 00.50 WIB, Drs H.Wahyu Sardono alias Dono Warkop, menghembus napas terakhirnya di kamar no 11 Paviliun Ignatius rumah sakit St Carollus Salemba Jakarta Pusat. Dia meninggal dengan tenang, disamping sahabatnya, Indr…

Bacaan Ringan "SABUNG AYAM MAULANA HASANUDDIN vs PRABU PUCUK UMUN"

http://massandry.blogspot.com Setelah kedua belah pihak telah bersepakat, dan telah menyiapkan ayam yang akan disabungkan, maka di hari itu, pada 11 Rabiul Awal tahun 888 Hijriah, orang-orang dari istana Pakuan Banten Girang dan para adjar dan pandita di Gunung Pulosari telah berkumpul untuk menyaksikan pertandingan sabung ayam antara Maulana Hasanuddin dan Ragamulya Surya Kencana alias Prabu Pucuk Umun. Saat itu, ayam keduanya saling mematuk, menghantam, mencabik, atau sesekali menghindari serangan lawannya, sebelum saling menyerang satu sama lain, yang diiringi oleh sorak-sorai para pendukung Maulana Hasanuddin dan Ragamulya Surya Kencana secara bergantian atau pun bersamaan.
Saat itu, semua yang hadir dan menyaksikan adu tanding kesumat itu merasa takjub dan heran ketika kedua ayam yang sama gagah dan perkasanya belum menandakan ada yang akan kalah di tengah arena. Bila ayam yang satu terpantik atau terjangkar oleh ayam yang lainnya, maka para pendukungnya akan bersorak gembira, da…