Sunday, May 1, 2016

Bacaan Ringan "NAPAK TILAS ANAK ANAK MUDA TAHUN 70-AN - PART 2"

http://massandry.blogspot.com
kegiatanm musik merupakan salah satu kegiatan anak muda 1970-an yang cukup diminati, mulai dari bikin band hingga konser. “Anak band paling banyak dikerubungi siapa saja, termasuk wanita. Kayaknya , kalau punya band, gengsinya luar biasa,” kenang Triawan. Di Bandung sendiri berderet band yang bermunculan, seperti The Rollies, Giant Step, Freedom Of Rhapsodia, Gang Of Harry Roesli dan banyak lagi. “Umumnya lebih banyak berorientasi ke musik rock. Mungkin karena rock itu berkonotasi dengan kebebasan jiwa yang berontak hinggar-bingar, dan semacamnya,” komentar Triawan.

Di Jakarta sendiri berderet panjang grup-grup band, antara lain Gipsy, Bigman Robinson, Fancy, Ireka, Rhadows, Rasela, Hookerman, Cockpit, The Lord Ayodya, The Pro’s, God Bless dan masih banyak lagi. Selain manggung di pesta-pesta rumahan, mereka juga tampil di beberapa tempat seperti Mini Disco hingga Taman Ismail Marzuki. Saat itu hampir semua band di kota-kota besar membawakan repertoar dari grup-grup kesohor dunia, seperti The Rolling Stones, Jimi Hendrix, Experience, Grand Funk Railroad, Led Zeppelin, hingga Deep Purple.

Darimana anak band memperoleh repertoar musiknya? “Saat itu sumber yang pasti adalah dari pelat atau piringan hitam. Pelat biasanya dibawa sebagai oleh-oleh dari luar negeri,” ucap Tono. Namun, tak sedikit juga yang membeli pelat di sekitar kompleks pertokoan Pasar Baru. “Ada beberapa toko di Pasar Baru yang sering dikunjungi anak muda dulu seperti toko Eropah, Combinatie, dan Sinar Jaya,” jelas Ali Gunawan (47), arsitek yang saat itu sempat menekuni dunia disko sebagai disc-jockey. Menurut Ali, yang kini memiliki koleksi piringan hitam lebih dari 10.000 keping ini, harga pelat masih sekitar Rp 1.000 hingga Rp 2.000. “Harga segitu termasuk mahal,” kata Ali.

Juga populer saat itu kaset ketikan. “Kita bisa memesan rekaman lagu yang kita inginkan, lalu judul lagunya diketik sebagai sampul kaset, makanya dinamakan kaset ketikan. Biasanya ada di Jalan Bungsu, dekat perapatan lima Bandung,” kenang Triawan. Untuk mendapatkan kaset rekaman di Jakarta, kata Ali, tempat yang paling ramai dikunjungi adalah di kawasan Lokasari.

Dan tempat barang-barang bekas di bilangan jalan Surabaya juga merupakan tempat yang dikunjungi untuk memperoleh piringan hitam. Kios pelat yang terkenal di Jalan Surabaya adalah milik Silalahi. “Silalahi itu ngerti musik. Barang-barangnya pun termasuk bagus. Jadi nggak heran bila harga yang dipatok Silalahi agak mahal. Tetapi, itu nggak jadi masalah,” kata Ali.

Saking ngetopnya kios pelat Silalahi, gitaris Deep Purple, almarhum Tommy Bolin, sempat mampir di kios kecil milik lelaki berdarah Tapanuli itu. “Saya juga kaget ketika sebuah Mercedes hitam yang ditempeli spanduk Deep Purple, mampir di depan kios saya. Kebetulan waktu itu tengah dipajang album terbaru Purple yang didukung Tommy Bolin, Come Taste The Band. Bolin hanya tersenyum melihat sampul pelat itu,” kenang Silalahi (64)

Maraknya berdiri pemancar radio dengan antena bambu juga menandai kehidupan anak muda tahun 1970-an. “Radio yang cukup beken di Bandung saat itu Bonkenk yang merupakan singkatan Bongkok dan Kerempeng. Sudah pasti radio ini memutar lagu-lagu rock,” kata Imank. “Yang saya ingat, Radio Oz Bandung sering jadi tempat kita nongkrong. Malah diajak siaran segala. Bahkan band saya, Giant Step, sempat bernaung di bawah manajemen Radio Oz,” kata Triawan.

Di Jakarta sendiri bermunculan banyak pemancar radio seperti TU 47, Mr Pleasant, Prambors, dan beberapa nama unik lainnya yang rata-rata belum memiliki izin resmi. Prambors, yang berada di sekitar Menteng, baru mengantungi izin resmi sebagai radio swasta niaga pada tahun 1971. Radio yang dibentuk oleh anak-anak muda seputar Jalan Prambanan, Mendut, dan Borobudur ini (kemudian disingkat menjadi Prambors), bisa dianggap membentuk selera musik anak muda saat itu.

Radio yang menyapa pendengarnya dengan kawula muda ini menjalin akrab di antara anak muda karena memutar lagu-lagu milik The Rolling Stones, Pink Floyd, Black Sabbath, dan Led Zeppelin. “Acara seperti Blues Streamline yang memutar lagu-lagu blues sangat diminati saat itu,” kata Imran Amir, direktur utama Radio Prambors, yang di tahun 1970-an sempat mengasuh acara blues itu.