Tuesday, February 3, 2015

Bacaan Perang "PERANG SALIB a.k.a HOLY WAR ( EDISI LENGKAP) - PART 10"

http://massandry.blogspot.com
Perang Salib Keempat
Perang Salib Keempat (1202-1204) pada awalnya dimaksudkan untuk menaklukkan Yerusalem yang telah dikuasai Muslim melalui suatu invasi melalui Mesir. Sebaliknya, pada April 1204, Tentara Salib dari Eropa Barat menyerang dan menaklukkan Kristen (Ortodoks Timur) kota Konstantinopel, ibukota Kekaisaran Bizantium. Ini dipandang sebagai salah satu dari tindakan terakhir di skisma besar antara Gereja Ortodoks Timur dan Gereja Katolik Roma.

Kutip:
Gereja-Gereja Ortodoks, adalah nama sebuah kelompok denominasi gereja yang pengikutnya terutama berada di Eropa Timur dan daerah pesisir timur Laut Tengah. Selain itu, Gereja Ortodoks juga terdapat di India, Jepang, dan sekarang juga di Indonesia.

Umat gereja Ortodoks beribadat mengikuti Ritus Bizantin dan tata-tertib gerejawi Bizantium karena pengaruh Gereja Konstantinopel (Bizantium). Selama milenium (seribu tahun) pertama Kekristenan, lima wilayah yaitu Jerusalem, Aleksandria, Antiokhia, Roma dan Konstantinopel berada dalam persekutuan dan mengaku sebagai Gereja yang Satu, Kudus (Suci), Katolik (Penuh/Universal) dan Apostolik (Rasuli). 

Perkembangan politik dan jatuhnya Romawi Barat ke tangan suku-suku Jerman mengakibatkan jarangnya komunikasi antara Gereja Barat (Roma) dan Gereja Timur (Jerusalem, Aleksandria, Antiokhia dan Konstantinopel). Pada tahun 1054 utusan Paus Roma ke Konstantinopel mengekskomunikasi Patriarkh Konstantinopel, yang membalas dengan tindakan serupa. Menurut pandangan Roma (satu-satunya wilayah patriarkhal Gereja Barat), Gereja Ortodoks yang memisahkan diri dari Gereja Yang Satu yaitu Gereja Katolik Roma. Tapi menurut pandangan Gereja Timur (empat wilayah patriarkhal), Roma lah yang jatuh dalam kesesatan (dengan memaksakan kekuasaan paus dan mengubah Pengakuan Iman Nicea) dan memisahkan diri dari Gereja Yang Satu. Perpecahan ini disebut skisma. Sampai sekarang Gereja Ortodoks tetap menganggap dirinya sebagai Gereja Yang Satu, Kudus, Katolik dan Apostolik. Gereja Katolik Roma juga mengklaim hal yang sama.

Latar belakang
Setelah kegagalan Perang Salib Ketiga (1189-1192), Yerusalem kini telah dikendalikan oleh dinasti Ayyubiyah, yang memerintah seluruh Syria dan Mesir, kecuali untuk beberapa kota di sepanjang pantai masih dikuasai oleh tentara salib Kerajaan Yerusalem, sekarang berpusat di Acre. Perang Salib Ketiga juga telah mendirikan sebuah kerajaan di Siprus.

Paus Innosensius III berhasil menjadi Paus pada 1198, dan penyeruan perang salib baru menjadi tujuan dari kepausannya. Mayoritas pasukan perang salib, yang berangkat dari Venesia pada Oktober 1202 berasal dari daerah-daerah di Perancis. Beberapa daerah lain di Eropa dikirim juga, seperti Flanders dan Montferrat. Kelompok terkenal lainnya berasal dari Kekaisaran Romawi Suci, termasuk orang-orang di bawah Uskup Martin dari Pairis and Uskup Conrad dari Halberstadt, bersama-sama dalam persekutuan dengan tentara dan pelaut Venesia yang dipimpin oleh Enrico Dandolo doge. Perjanjian ini diratifikasi oleh Paus Innosensius, dengan larangan penyerangan terhadap negara-negara Kristen.

Perang Salib Anak-anak (The Children's Crusade)
Perang Salib Anak-Anak merupakan julukan yang diberikan untuk beberapa karangan atau kejadian sesungguhnya yang terjadi pada tahun 1212. Seluruh peristiwa ini mengandung berbagai unsur seperti: tujuan dari seorang anak laki-laki dari Perancis atau Jerman; hasrat untuk memurtadkan masyarakat Islam di Tanah Suci secara damai; sekumpulan anak-anak yang menuju ke Italia; dan anak-anak yang dijual menjadi budak. Suatu analisa yang diterbitkan pada tahun 1977 memaparkan sebuah keganjilan kepada peristiwa ini dan kebanyakan ahli sejarah sekarang percaya bahwa mereka itu bukanlah (atau bukan hanya) anak-anak tetapi beberapa kumpulan orang miskin di Jerman dan Perancis yang setengahnya hijrah ke Tanah Suci dan sebagian lainnya tidak. Kebanyakan versi awal peristiwa ini yang diceritakan selama berabad-abad diragukan kebenarannya.

Versi kuno
Pandangan tradisi mengenai Perang Salib anak-anak yang terdapat pelbagai versi yang mempunyai tema serupa. Seorang anak laki-laki awalnya berkotbah di Perancis atau Jerman dengan menyerukan Yesus memberkatinya dan memberitahu dia supaya memimpin pasukan untuk memurtadkan orang Islam secara damai. Melalui beberapa kejadian mukjizat, budak ini mendapat pengikut yang dapat dikatakan banyak sekitar 30,000 anak-anak. Dia memimpin pengikutnya ke selatan ke arah Laut Mediterania, dengan kepercayaan laut itu akan terbelah apabila ketika mereka sampai dan mempersilahkan mereka melanjutkan perjalanan menuju Yerusalem. Tetapi itu semua tidak pernah terjadi. Dua orang saudagar pun kemudian bersedia kanak-kanak ini menumpang ke dalam kapal mereka. Tetapi malah anak-anak tersebut dibawa ke Tunisia dan dijual sebagai budak dan sebagian mati karena kapal mereka karam di Pulau San Pietro ketika angin ribut kencang. Dalam versi yang lain, mereka gagal sampai ke laut karena mati kelaparan.

Versi modern
Dalam analisa terkini menunjukkan terdapat dua pergerakan manusia pada setiap tingkatan usia pada tahun 1212 di Jerman dan Perancis. Persamaan kedua pergerakan ini untuk menyamakan dengan cerita ini.

Dalam pergerakan pertama, Nicholas, seorang penggembala dari Jerman, memimpin satu kumpulan dari Alps ke Italia pada awal musim semi tahun 1212. Sebanyak 7,000 orang sampai di Genoa pada akhir bulan Agustus. Tetapi rencana mereka gagal karena air laut tidak terbelah seperti yang dijanjikan dan kumpulan itu berpecah. Setelah kembali ke kampung halaman, ada yang ke Roma dan mungkin ada yang ke Marseilles di mana kemungkinan mereka dijual sebagai budak. Hanya sedikit yang kembali ke kampung halaman dan tidak ada seorang pun sampai ke Tanah Suci.

Dalam pergerakan kedua dipimpin oleh penggembala Perancis bernama Stephen dari Cloyes yang menyerukan bahwa dia mempunyai perjanjian antara Raja Perancis dengan Yesus. Dia berhasil membuat pasukan sebanyak 30,000 orang di mana beliau digosipkan mempunyai keajaiban. Dengan perintah Raja Philip II dan penasehat dari Universitas Paris, mereka kemudian pulang kembali ke rumah masing-masing.