Monday, February 9, 2015

Bacaan Ringan "SEJARAH AWAL PERSIA SEBELUM MASUKNYA ISLAM - PART 1"

http://massandry.blogspot.com
oleh:
A.A. Basit, Ahmad Rifa'i, Ahmad Sehabuddin dan Rina Syafrianti 

Sejarah Persia Kuno
Iran dan Persia adalah dua nama yang kerap digunakan untuk menunjukkan satu wilayah. Sebenarnya, antara keduanya terdapat sedikit perbedaan. Salah satu rumpun bangsa Arya yaitu bangsa Media, mendiami wilayah Iran bagian barat. Sementara rumpun bangsa lainnya, yaitu banga Persia, mendiami bagian selatan wilayah tersebut. Baik bangsa Media maupun Persia, keduanya tunduk pada kekuasaan bangsa Assyria.  Namun, sejak 1000 SM, bangsa Persia berhasil menaklukkan bangsa Media bahkan menaklukkan imperium Assyria. Sejak saat itu, wilayah Iran dikenal dengan nama Persia[1].

Kekaisaran Arkhemeniyah (Persia): Imperium ini didirikan oleh Cyrus atau Koresh yang Agung pada tahun 550 SM. Kerajaan ini menjadi imperium pertama kala itu. Pada tahun 486 SM, Raja Darius I naik tahta, dan pada tahun 521 SM menguasai Iran. Pada tahun 334 SM, Alexander Agung, Kaisar Macedonia, Yunani, merentangkan kekuasaannya hingga mampu menaklukkan dan menguasai Imperium Persia. Alexander bahkan memerintahkan pasukannya untuk membunuh ribuan tentara Persia, dan membakar ibu kotanya: Parsepolis. Tindakan ini sengaja dia lakukan sebagai balasan atas pembakaran kota Athena yang dulu dilakukan pasukan Persia.

Alexander sendiri mengikrarkan bahwa dia adalah pewaris tahta raja-raja Arkhemeniyah. Alexander pun mengikuti cara hidup, tradisi, dan budaya Persia, bahkan berusaha menciptakan kebudayaan baru yang memadukan kebudayaan Persia dan Yunani (helenistik). Selain menaklukkan Persia dan menyemaikan Helenistik, Alexander juga menyungguhkan model pemerintahan baru ala Persia kepada Barat-Yunani, khususnya yang berkaitan dengan tata negara dan undang-undang, yang pada gilirannya menjadi asas model tata Imperium Romawi di kemudian hari.

Setelah sesaat kematian Alexander pada tahun 323 SM, terjadilah perpecahan diantara para panglima militernya. Mereka pun mulai membagi wilayah kekuasaan yang telah ditaklukkan Alexander. Wilayah Persia sendiri pada akhirnya menjadi milik panglima Seleucid, salah seorang Jenderal Alexander. Sejak masa tersebut, Persia memasuki era pemerintahan Kekaisaran Seleucid yang berlangsung hingga tahun 141 SM. Dibawah kekaisaran Seleucid, Persia mengalami babak sejarah yang cemerlang. Kekaisaran ini berhasil menggabungkan Asia Kecil, Syam, Irak, dan Iran menjadi satu kesatuan wilayah. Ibukota baru pun didirikan sebagai pusat pemerintahannya, yaitu Seleukia di tigris, Irak. Dinasti ini juga mempunyai ibu kota kedua di wilayah bagian barat, yaitu Antakya yang terletak di lembah Sungai al-Ashi[2]

Setelah itu, muncul kekaisaran Parthia yang menguasai Persia pada tahun 247 SM- 224 M. Dalam lembar sejarah Iran kuno, kekaisaran Parthia disebut juga Dinasti Arsacia. Nama Arsacia dinisbahkan kepada raja pertamanya, yaitu  Arsacia I. Dinasti ini berasal dari klan Saka yang mendiami wilayah timur laut Iran. Dinasti ini telah berhasil menaklukkan kekaisaran Seleucid demi merentangkan pengaruh dan kekuasannya hingga ke seluruh wilyah Persia. Nama Arsacia kemudian dipakai sebagai gelar untuk seluruh kekaisaran Parthia, seperti gelar pada raja-raja Romawi. Kekaisaran Parthia (Arsacia) banyak terlibat serangkaian perang dengan pihak Imperium Romawi. Mereka bahkan pernah meraih kemenangan gemilang atas Romawi pada tahun 54 SM. Kemenangan ini menjadi Imperium Persia (masa kekaisaran Parthia) menjadi satu-satunya kekuatan terbesar dunia saat itu. Sekalipun rentang masa pemerintahan kekaisaran ini mencapai lima abad lebih, namun tidak meninggalkan banyak jejak peradaban bagaimana Kekaisaran Persia lainnya. Kekaisaran Parthia hanya meninggalkan jejak seni yang sederhana.

Kekaisaran Sasanid: didirikan oleh Ardhashir I yang berkuasa pada tahun 224 M. Dinasti ini dipercayai sebagai pembangun dan penghidup kembali peradaban Persia dan Zoroaster, sekaligus berupaya membangun kembali tradisi Persia peninggalan Dinasti Arkhemeniyah. Dinasti ini justru membuka kontak dagang dengan pihak musuh utama mereka, yaitu Romawi (Byzantium), juga dengan pihak Cina. Penggalian arkeologis di Cina menemukan adanya koin-koin (mata uang) perak dan emas Sasanid yang digunakan selama beberapa abad lainnya.

Ardhashir memiliki posisi yang tinggi dalam sejarah orang-orang Iran. Dia dipandang sejarah orang-orang Iran. Dia dipandang sebagai sosok yang berhasil menyatukan bangsa Iran, orang yang menghidupkan kembali ajaran Zoroaster, sekaligus sebagai pendiri Imperium Pahlavi. Ardhashir wafat pada tahun 240 M dan digantikan oleh putranya, Shapur yang kembali memerangi Imperium byzantium, dan berhasil menaklukkan kaisar Romawi, Valerian pada tahun 260 M. Beberapa waktu kemudian, Shapur mendirikan akademi Gundishapur di Gundeshapur. Dia pun kembali membangun tata kerajaan dan Imperium Persia, seperti membangun banyak kota-kota utama, salah satunya adalah Nishapur. Pada periode berikutnya, muncul Raja Nushirvan (531-579 M) yang dikenal sangat adil dan bijak dalam memerintah. Pada awal pemerintahannya, dia telah mampu menghilangkan fitnah pengikut Mazdak dan memulihkan stabilitas situasi di Iran. Kemudian, tahta Kekaisaran Sasanid bergantian pada masa 629-632 M. Pada tahun 642 M, pasukan muslim berhasil mengalahkan bangsa Persia pada dua pertempuran: Perang Qadisiyah dan Perang Nahawan pada masa Khalifah Umar bin Khatab. Setelah itu, kaum muslim tersebar di negara Persia hingga pemerintahan Dinasti Sasanid berakhir.[3]

2.      Peradaban Persia
Koresy memimpin pasukan penunggang kuda dan pemanah ulung. Mengambil keuntungan dari kelemahan para tetangga, ia menaklukkan sebuah kerajaan yang wilayahnya terentang dari Laut Mediterania hingga ke Afganistan. Anaknya Cambyses, menyerang Mesir. Bangsa Persia mendapat dukungan dari warga taklukan berkat pemerintahan yang adil. Darius I memperluas wilayah hingga ke India dan Yunani. Ia mengatur ulang kerajaan dan menunjuk para satrap (gubernur) di setiap provinsi. Ia memungut pajak dari setiap provinsi berupa padi-padian, perak dan hasil pertanian. [4]

Darius membangun banyak jalan dan kota dagang untuk menjangkau seluruh bagian dari kerajaan yang luas. Ia memajukan perdagangan dengan memperkenalkan mata uang standar. Bangsa Persia menguasai ujung barat Jalur Sutera dari Cina, dan seluruh lalu lintas perdagangan dari India ke Laut Mediterania. Kerajaan kosmopolitan yang makmur ini menjalin hubungan dengan sebagian besar peradaban kuno pada masa itu. Namun, kerajaan ini sangat bergantung pada kemampuan pemimpinnya. Akhirnya, bangsa Yunani meruntuhkan kerajaan Persia dan merebut wilayah kekuasaan Persia.

Istana Jashmid (Persian: Takhte Jamshid) di Ibukota Persepolis.Istana ini dibakar oleh Alexander Agung [24]

3.      Agama Persia Kuno
Di sisi akidah, pada zaman dahulu mereka menyembah Allah dan sujud kepad-Nya. Kemudian mereka menjadikan permisalan matahari, bulan, bintang dan galaksi-galaksi di langit sebagai sesembahan, seperti juga selain mereka dari generasi-generasi awal.[5]

Agama asli orang-orang persia adalah suatu kultus yang sederhana sekali, yang berhubungan dengan kehidupan penggembalaan pertanian. Akan tetapi kemudian seorang persia yang bernama Zarathustra mengembangkan suatu agama baru yang disebut Zoroastrianisme.[6] Zoroastrianisme merupakan kepercayaan yang menyembah kepada Ahura Mazda atau "Tuhan yang bijaksana". Di dalam ajaran Zoroastrianisme, hanya ada satu Tuhan yang universal dan Maha Kuasa, yaitu Ahura Mazda. Ia dianggap sebagai Sang Maha Pencipta, segala puja dan sembah ditujukan hanya kepadanya. Pengakuan ini adalah bentuk penegasan bahwa hanya Ahura Mazda yang harus disembah.

Zarathustra menunjukkan pemikirannya tentang perbaikan tujuan arah negara yang beragama. Dia mengatakan, “Sesungguhnya cahaya Allah menjelma dalam setiap sesuatu yang berkilau dan menyala di alam dunia. Dia memerintahkan menghadap matahari dan api waktu beribadah, karena cahaya merupakan perlambang Tuhan. Ia mengajarkan untuk tidak mengotori empat unsur, yaitu: api, udara, debu dan air. Kemudian setelah itu datanglah para pendeta yang mengajak pengikut Zarathustra untuk mengikutui syariat yang bermacam-macam. Mereka mengharamkan menggunakan sesuatu yang ada hubungannya dengan api, mencukupkan diri dengan segala perbuatan mereka hanya dengan pertanian dan perdagangan. Dari ritual penyembahan api ini, kemudian dijadikanlah api sebagai kiblat ritual ibadah dari berbagai tingkat golongan untuk menyembahnya. Selanjutnya, mereka menjadi para penyembah api dengan makna sebenarnya. Mereka membangun biara dan klenteng-klenteng, menentang setiap keyakinan dan agama selain menyembah api.[7]

Menurut penganut Zoroaster, Ahura Mazda adalah esensi murni yang suci dari segala bentuk materi, yang tidak dapat dilihat oleh pandangan mata dan tidak dapat ditangkap kedzatannya oleh akal manusia. Banyak dari manusia yang tidak mampu mengimani dzat dengan sifat seperti ini. Sehingga Zoroastrianisme membuat rumusan tentang hakikat ketuhanan Ahura Mazda dengan rumus[8] [9]