Saturday, February 7, 2015

Bacaan Ringan "SEJARAH KEKAISARAN PRINSIPAT ROMAWI KUNO - PART 3"

http://massandry.blogspot.com
2. Para Kaisar Yang Menjadi Penerus Augustus
Setelah kematian augustus, kaisar pengantinya tidak mempunyai kecakapan dalam menjalankan tugas sebagai kaisar Romawi. Bahkan empat kaisar sesudah Augustus sama sekali tidak sesuai untuk memangku jabatan setinggi itu. Tiberius lahir pada tahun 42 SM, selama dua tahun ia hidup bersama orang tuanya dalam pengasingan. Pada tahun 38 SM ibunya Livia Drusilla membujuk ayahnya untuk menceraikanya dan kemudian ibunya menikah dengan Oktavianus. Oleh karena itu, Tiberius merupakan anak tiri dari kaisar Augustus. Tiberius naik tahta pada usianya 55 tahun. kaisar Tiberius banyak menyalahgunakan wibawa dan wewenang yang didapatkan dari ayah tirinya sehingga ia cepat dikenal sebagai pengusa berakhlak bejat dan kejam, ia menyingkirkan setiap orang yang dianggapnya berkhianat. 

Meskipun demikian Berita kuno menyebutkan bahwa Tiberius adalah kaisar yang menjalankan pemerintahan dengan bagus. Ia memperlakukan senat dengan sangat peduli dan hormat, ia menghadiri semua pertemuan, mempersilahkan dan memberikan kebebasan dalam berbicara dan melakukan perdebatan dan yang diterima itu sama dengan Partner asli dalam pemrintahan, menghilangkan penelitian untuk jabatan di kampus Martinus, pengadilanpun memperoleh martabatnya kembali. Popularitas Tiberius sebagai kaisar Romawi,kelihatan mempunyai jiwa kepemimpinanya penuh ketenangan, baik dalam pengetahuanya ataupun kemampunya dalam hal adminastrasi pemerintahan Romawi. Ia mengikuti politik luar negeri yang dijalankan Augustus yaitu lebih mempercayakan taktik diplomatik dari pada dengan peperangaan. Namun semua itu hanyalah keadaan yang dipaksakan. 

Tiberius menghabiskan waktu 11 tahun terakhir pemerintahanya di Capri , disana ia berbuat tidak senonoh didepan orang Roam dengan pesta yang berlebihan dan meneror mereka dengan menyerahkan pemerintahanya kepada seorang letnan yang kejam yaitu Sejanus. 

Penganti Tiberius adalah Caligula, anak kemenakanya. Pada awalnya Caligula disanjung sebagai tokoh yang poluler karena ia mengampuni lawan politiknya, meniadakan tukang lapor, mengurangi pajak, dan mendukung keuangan berbagai macam kegiatan olahraga. Tetapi selanjutnya Caligula menyerukan kekuasaan Priceps yang tak terbatas, ia juga menuntut agar dirinya disebut sebagai dewa dan mengusulkan agar kudanya sebagai konsul. Akibat kehidupanya yang serba mewah, Roma mengalami kebangkrutan, untuk itu ia memaksa orang kaya mewariskan hartanya kepada negara dengan terlebih dahulu mengancam hukuman mati dan penyitaan harta benda mereka. Tindakanya yang kejam dan pikiranya yang selalu berubah-ubah hingga gila membuat seluruh Roma marah, bahkan pengawal Pretorianya menjadi marah. Pada tahun 41 M Caligula dibunuh oleh parwira pengawalnya sendiri dan langsung dikuburkan di kota Roma. Pada saat kematianya, Caligula baru berusia 30 tahun sehingga belum menentukan kaisar yang akan mengantinya.

Penganti Caligula akhirnya ditentukan sendiri oleh pasukan Preutoria, Claudius yang merupakan paman Caligula diangkat menjadi kaisar pada usia 50 tahun. Claudius digambarkan sebagai orang yang bodoh dan tidak mempunyai sopan santun, akan tetapi pada masa kekaisaranya kepamongprajaan lebih diluaskan lagi serta dijadikan lebih berdaya guna, dan kekuatan-kekuatan baru dilimpahkan kapada para gubernur di Provinsi luar. Pemerintahan yang dipimpin oleh kekaiasaran Augustus ini dapat dikatakan sebagai pemerintahan yang sangat resah, karena selama ia berkuasa banyak muncul kota-kota provinsi menjadi sebuah pusat industri yang hampir sama dengan kota Roma sehingga kota-kota tersebut menuntut peranan yang lebih besar dari pemerintahan Roma. Claudius sendiri banyak meninggalkan garis kebijakan yang diterapkan oleh Augustus yaitu tentang batas-batas geografis dan politik Romawi, bahkan Claudius memberikan hak kewarganegaraan Roma kepada seluruh penduduk provinsi, seperti arah kebijaksanaan yang dianut pada masa Caesar. 

Akibat arah kebijaksanaan tersebut muncul banyak ketegangan di sekitar Romawi, bahkan ketika Claudius meninggal pada tahun 54 M, kata Latin tidak lagi mempunyai arti Geografis karena banyak kota yang mempunyai hak Latin . Hak Latin ini sangat didambakan oleh setiap kota karena dengan hak itu, kota memiliki status tertentu dalam berurusan dengan Roma melalui para pejabatnya. Hal inipun diberikan kepada kota-kota disekitar Alpen dan kota-kota di Spanyol yang dikuasai Roma.

Claudius sendiri maninggal karena diracun oleh istrinya yang ke-empat bernama Agrippia. Sebelum meracuni Claudius, Agrippia membujuknya agar mengadopsi dan menyerahkan tahta kekaisaran kepada Nero anak dari Agrippia dan bukan kepada Britannicus, anak dari Claudius sendiri.

Penganti Claudius adalah Nero yang naik tahta pada usia 16 tahun, dan sebelum sampai satu tahun pemerintahanya ia membunuh Britannicus dengan racun. Di kemudian hari ia juga mengambil keputusan bahwa ibunya juga harus dibunuh, berbagai usaha untuk membunuh Agrippia ini mengalami kegagalan. Akhirnya Nero mengambil tindakan lengsung yaitu menuduh ibunya berkomplot untuk melawan kaisar dan segera menyuruh orang untuk membunuhnya. 

Kebakaran besar yang melanda Roma pada tahun 64 M menjadikan Nero disangka sebagai orang dibalik peristiwa tersebut, terlebih setelah ia menggunakan dalih kebakaran tersebut untuk kembali mebangun kota Roma atas nama kemasyuranya sendiri. Untuk kembali mengembalikan kepercayaan rakyat Roma Nero membuka Campus Martius, gedung umum, dan tamannya sendiri untuk menampung korban kebakaran tersebut. Sarana kehidupan juga didatangkan dari Ostria dan kota-kota tetangga, bahkan harga gandum pun diturunkan. Akan tetapi, semua tindakan tersebut tidak mendapatkan simpati rakyat karena muncul desasdesus bahwa saat terjadi kebakaran Roma, Nero menaiki mimbar pribadinya untuk membandingkan dengan kehancuran Troya. Guna mengalihklan perhatian rakyat terhadap dirinya atas tuduhan pembakaran kota Roma, ia menyalahkan orang-orang Kristen dan kemudian ratusan orang Kristen dibantai. 

Kaum tradisional Roma juga menyimpan kemarahan pada kaisar Nero karena ia selalu menghayalkan diri sebagai seniman dan selalu mendesak agar dapat tampil di mimbar umum untuk bernyanyi dan memainkan lira. Padahal hal itu adalah aib bagi seorang bangsawan. Perbuatan Nero yang telah melampaui batas tersebut menimbulkan ketidakpuasan dimana-mana. Pada tahun 65 M komplotan rahasia yang didalangi oleh senat berusaha untuk melawan Nero, namun tindakan ini dapat diketahui dan dihancurkan oleh Nero. Semenatar itu Nero banyak menghadapi berbagai kekacauan antara lain di Armenia, Britania, Yudea, dan pada akhirnya harus menghadapi pemberontakan dari dalam bala tentaranya sendiri. Komandan pasukan Romawi di Gallia, Afrika, dan Spanyol berusaha merebut kekuasaan di provinsi mereka masing-masing. Akibat tantangan yang semakin besar, akhirnya Nero lari meningggalkan kota Roma dan ia akhirnya dijatuhi hikuman mati oleh Senat. 

Kematian Nero ini menimbulkan masa anarki di seluruh Romawi yang lebih dikenal sebagai masa empat kaisar yaitu masa kaisal Galba, Otho, Vittelius, dan Vespasianus. Akhir masa kekaisaran Vitellius ditandai dengan peperangan yang melanda seluruh Italia. Dalam pertempuran tersebut menyebabkan Vespasianus berkuasa dan diangkat menjadi kaisar oleh para Senat karena keberhasilanya mengatasi semua kekacauan yang terjadi di selurh Italia. 

Senat juga memberikan kebebasan pada Vespasianus untuk mengadakan perjanjian dengan siapapun, memanggil Senat untuk bersidang, memperluas wilayah, mengadakan transaksi dan melakukan apapun yang menurut anggapanya mengabdi pada kepentingan negara serta kehormatan dewa, negara, dan perorangan. Dalam melanjutkan pemerintahanya, ia juga melanjutkan kebijakan yang dilakukan Claudius yaitu memberikan hak kewarganegaraan kepada setiap provinsi, dan melimpahkan status Latin kepada kota-kota diseluruh Spanyol. Vespasianus juga berusaha memperbaiki kas negara yang bangkrut dengan memotong pengeluaran dan mengutip pajak baru dan tindakan itu dilakukan secara hati-hati dan tidak terlalu keras.

Dengan wibawa jabatanya Vespasianus mengeluarkan Roma dari masa kekacauan, ia melakukan pengabdianya kepada negara yang dapat dikatakan besar yakni menegakan hubungan baik antara Senat dan Princeps.

Dibawah Vespasianus dan para pengantinya, senat mengalami sedikit perubahan dan sedikit kekhasanya. Jabatan-jabatan tinggi dalam dalam rumah tangga kekaisaran dianggap penting sekali mulai diambil alih oleh para kaum Ksatrya, dan Senat mulai berfungsi sebagai badan tertinggi pegawai negeri. Berkat pengalaman anggotanya menduduki berbagai jenjang jabatan di seluruh kekaisaran, badan ini juga menjadi dewan penasehat pemerintah. Pada masa kekuasaan wangsa Flavius ini (keluarga Vespasianus) mulai surut perubahan peranan inilah yang memungkinkan Senat melaksanakan tugas untuk menunjuk seorang kaisar. 

Pada tahun 79 M, Vespasianus digantikan oleh anaknya Titus. Setelah kaisar Titus meninggal kemudian digantikan oleh anak kedua dari Vespasianus yaitu Domitianus yang merwarisi kekuasaan pada usia 29 tahun. Pada masa kekaisaran Domitianus kehidupan penuh dengan keurigaan dan ketakutan, hal ini berlangsung selama 15 tahun. Ia banyak menjatuhi hukuman mati kepada mereka yang disangka sebagai penentang kaisar. Akhirnya kaisar dibunuh oleh anggota rumah tangganya sendiri. Senat kemudian memerintahkan agar nama Domitianus dihilangkan dari seluruh kota Roma, dan untuk pertama kalinya Senat menentukan pilihanya sendiri seorang kaisar yang akan berkuasa. Nerva seorang pengacara tua terhormat akhirnya yang dipilih sebagai kaisar penganti Domitianus.

Kekaisaran Nerva inilah yang memulai zaman lima kaisar baik. Meskipun masa pemerintahan Nerva berlangsung singkat, namun ia mewariskan pendekatan yang rasional terhadap masalah pengantian kaisar. Ia mengambil calon untuk mengisi jabatan tersebut dan kemudian melatihnya, hasilnya adalah masa kemantaban yang dapat berlangsung lama. Buktinya pada masa kekaisaran Trajanus, Hadrianus, Antonius Pius, dan Marcus Aurelius yang berturut-turut sebagai penganti Nerva kekaisaran Roma mencapai puncaknya meskipun tidak seperti pada masa Augustus.

Penganti langsung Nerva adalah Trajanus, ia adalah seorang komandan di Spanyol meskipun namanya tidak banyak dikenal nemun ia memberikan harapan yang besar kehidupan Romawi. Dibawah kaisar Trajanus perbatasan kekaisaran mencapai jangkauan yang paling jauh. Trajanus memimpin bergerak ke Dacia diseberang sungai Donau dan pada akhir masa kekuasaanya ia memimpin ekspedisi masuk Armenia dan Mesopotamia. 

Dalam bidang pemerintahan, Trajanus melakukan perubahan terutama dalam pemerintahan daerah kota-kota provinsi. Kekaisaran di bawah Trajanus menikmati kemakmuran yang besar, provinsi juga berkembang menandingi perkembangan yang ada di kota Roma. Salah satu ukuran kemakmuran ini ialah meningkatnya kedermawaan umum dan perorangan diseluruh kekaisaran. Gandum dibagikan secara cuma-cuma bagi penduduk miskin dan mereka berhak menonoton sirkus tanpa harus membayar.dan kedermawanan Trajanus yang paling menonjol adalah mengambil uang yang sama banyaknya dengan anggaran kekaisaran selama satu tahun. Dengan uang ini ia membangun sistem sewa tanah pertanian dengan mudah, sedangkan keuntungan dari sistem ini dibagikan pada yatim piatu. Program yang dikenal dengan nama Alimenta ini diperluas oleh penganti Trajanus dan dilaksanakan hampir 200 tahun. 

Sesuai dengan perintah Nerva, Trajanus mengangkat seorang kerabatnya yang bersal dari Spanyol yaitu seorang jendral cemerlang bernama Hadriyanus sebagai ahli warisnya. Dengan semikian pada saat Trajanus meninggal pada tahun 117 M jabatan kaisar langsung diserahkan kepada Hadrianus. Kebijaksanaan Hadrianus agak menyimpang dari apa yang dilakukan oleh Trajanus. Karena merasa kekaisaran sudah terlampau luas , maka ia melepaskan pangkalan Trajanus di Armenia serta Mesopotamia. Ia juga mundur dari wilayah Britania sebelah Utara karena di wilayah ini Roma telah kehilangan satu legion utuh dalam perang perbatasan. Kaisar Hadrianus inilah yang membangun benteng terkenal yang memisahkan Britania bagian selatan dengan bagian utara yang belum dikuasai.
Hadrianus melakukan perjalanan hampir diseluruh wilayah propinsi untuk memperhatikan secara lebih mendetail wilayah yang jauh dari pengawasanya, membangun gedung baru dan berusaha meringankan beban pajak rakyat. 

Hadrianus juga membakukan hukum Romawi dengan menyamakan semua prosedur hukum di seluruh kekaisaranya. Negara Romawi menjadi persemakmuran sejati dan bukan pemerintahan pusat yang menguasai negara jajahan. Kota-kota di wilayah Romawi dijadikan Minicipia atau kotapraja yang semua penduduknya dterima sebagai warga negara Romawi.

Kaisar terakhir dari lima kaisar yang bijaksana ini adalah Antonius Pius dan Marcus Aurelius. Kedua kaisar ini memerintah dan mencapai jaman kejayaan kembali. Dibawah pemerintahan Marcus Aurelius (161-180 M) perasaan persatuan dan kerukunan rakyat sangat menonjol. Tetapi pada waktu yang sama terdapat tanda yang tidak menyenangkan bahwa akan terjadi perubahan . Selama tahun-tahun terakhir pemerintahan Marcus Aurelius perbatasan Roma di Sungai Rhein, Donau, dan eufrat mengalami bahaya serentak. Zaman Marcus Aurelius banyak disibuki oleh permasalah militer. Ia sering berada di perbatasan dan sering memimpin tentaranya sendiri disela-sela pertempuran. Aurelius tetap mempertahankan jabatan kaisar sebagai “Pontifex Maximus” dan mempertahankan kontrol atas angkatan perang dan birokrasi berada di tangan mereka sendiri. Selama beabad-abad juga dikembangkan beberapa lembaga politik baru dan merintis adanya pemujaan terhadap kaisar yang dipuja sebagai dewa seperti halnya pada masa Caesar