Monday, February 9, 2015

Bacaan Ringan "PERADABAN SEBELUM ISLAM - PERADABAN ROMAWI - VISIOGOTHIC DAN ISLAM - PART 2"

http://massandry.blogspot.com
Usaha Umat Islam Menaklukkan Spanyol
Semenanjung Iberia mulai ditaklukan oleh umat Islam pada zaman khalifah Bani Umayyah, Al-Walid bin Abdul Malik (86-89 H/705-715 M). Sebelumnya, umat Islam telah menguasai Afrika Utara dan menjadikannya sebagai salah satu propinsi dari dinasti Bani Umayyah. Penguasaan sepenuhnya atas Afrika Utara ini terjadi pada masa Abdul Malik bin Marwan (685-705 M), dimana dia mengangkat Hasan bin Nu’man al-Ghassani menjadi gubernur di daerah itu. Penaklukan atas Afrika Utara memakan waktu selama 53 tahun.[11] Setelah kawasan ini dikuasai, umat Islam mulai memusatkan perhatiannya ke Spanyol. Dengan demikian, Afrika Utara menjadi batu loncatan bagi kaum muslimin dalam penaklukan wilayah Spanyol[12].

Kedatangan pasukan Islam terdengar oleh Raja Roderick melalui para Bangsawan yang menyaksikannya. Maka Raja itupun mempersiapkan bala tentaranya untuk menghadapi pasukan Thariq. Pada tanggal 19 Juli 711, kedua pasukan bertemu ditepi sungai Rio Guadalete, sehingga terjadilah pertempuran yang sengit.  Pasukan Roderick terdesak dan dapat dikalahkan, bahkan Roderick sendiri tewas tenggelam di Rio Babate ketika hendak melarikan diri[13].

Kesuksesan di Rio Guadalete mendorong semangat pasukan muslim untuk terus bergerak memasuki wilayah-wilayah kekuasaan Visigoth lainnya. Mula-mula bergerak ke Toledo dengan melewati dan menguasainya terlebih dahulu kota-kota Malaga, Elvira, Murcia dan Cordova. Kemudian Thariq terus bergerak hingga kebagian barat semenanjung Iberia. Thariq mendapat dukungan penduduk taklukannya untuk menaklukkan wilayah-wilayah lainnya[14]

Mendengar kesuksesan yang dicapai oleh Thariq bin ziyad, maka Amir Musa bin Nushair pada tahun 712 berangkat menuju Spanyol. la bersama pasukannya sebanyak 18.000 personil yang kebenyakan dari suku-suku Arab dengan menempuh jalur yang tidak dilewati oleh pasukan Thariq, la mampu menaklukkan  Sidonia,Carmona, dan berhasil memasuki Sevilla, Huelva dan ahirnya mengikuti arah sungai,sampailah ia bersama pasukannya kekota Merido dan kota-kota kecil lainnya. Kemudian ia dapat bertemu dan bergabung dengan pasukan Thariq di Toledo pada bulan Juli tahun 713[15].

Gelombang perluasan wilayah berikutnya ditujukan untuk menguasai daerah sekitar pegunungan Pyrenia dan Perancis Selatan. Pimpinan pasukan dipercayakan kepada Al-Samah, tetapi usahanya itu gagal dan dilanjutkan oleh Abdurrahman bin Abdullah al-Ghafiqi. Dengan pasukannya, ia menyerang kota Bordeaux, Poitier, dan dari sini ia mencoba menyerang kota Tours. Akan tetapi, di antara kota Poitier dan Tours itu ia ditahan oleh Charles Martel, sehingga penyerangan ke Perancis gagal dan tentara yang dipimpinnya mundur kembali ke Spanyol[16].

C. Perkembangan Politik  Islam di Spanyol
Secara garis besar perkembangan  Politik Islam di Spanyol dapat dibagi kepada beberapa tahap perkembangan sebagai berikut :

1.Provinsi Umayyah Andalusia
Pada periode ini Spanyol merupakan salah satu propinsi di bawah kekuasaan Dinasti Umayyah di Damaskus, yang dipimpin oleh para wali wakil Khalifah disana, mulai dari tahun 93 H / 716 M sampai tahun 138 H/ 756 M.[17]

Pada masa ini, stabilitas politik di Spanyol belum tercipta dengan sempurna, dimana diantara para elite penguasa masih terdapat perselisihan, terutama diakibatkan oleh perbedaan etnis dan golongan, seperti antara etnis Barbar dan Arab yang masing-masing merasa berhak untuk memerintah di negeri tersebut. Bahkan terjadi pula perbedaan pandangan politik antara Khalifah di Damaskus dan Gubernur Afrika Utara, dimana diantara mereka merasa paling berhak berkuasa di Spanyol. Hal ini sering menyulut terjadinya perang saudara, sehingga dalam jangka 40 tahun terjadi 20 kali pergantian wali dengan wali yang pertama adalah Abdul Aziz bin Musa bin Nushair, sampai Gubernur terakhirnya Yusuf bin Abdurrahman al-Fihri.[18]

 Itulah sebabnya di Spanyol pada saat itu tidak ada gubernur yang mampu mempertahankan kekuasaannya untuk jangka waktu yang agak lama. Periode ini berakhir dengan datangnya Abdurrahman Al-Dakhil ke Spanyol pada tahun 138 H/755 M.[19]

2.Emirat Umayyah Andalusia
Periode ini dimulai dengan masuknya Abdurrahman ad-Dakhil[20] Amir Abdurrahman yang dipanggil al-Dakhil (New Comer) menetapkan Cordova sebagai ibu kotanya. Karena ketangkasan dan kegigihannya, ia mampu melepaskan diri dari kejaran Bani Abbas hingga dapat mendirikan Emirat (Dinasti Umayyah di Spanyol), Khalifah al-Mansur di Bagdad menjulukinya sebagai "The Falcon of Quraysh" atau si rajawali Quraysh[21].

Pada periode ini, umat Islam Spanyol mulai memperoleh kemajuan-kemajuan baik di bidang politik maupun bidang peradaban. Abdurrahman Al-Dakhil mendirikan masjid Cordova dan sekolah-sekolah di kota-kota besar Spanyol. Hisyam dikenal sebagai pembaharu dalam bidang kemiliteran. Dialah yang memprakarsai tentara bayaran di Spanyol. Sedangkan Abdurrahman Al-Ausath dikenal sebagai penguasa yang cinta ilmu. Pemikiran filsafat juga mulai dikembangngkan pada periode ini.[22]

Sekalipun demikian, berbagai ancaman dan kerusuhan terjadi. Pada pertengahan abad ke-9 stabilitas negara terganggu dengan munculnya gerakan Kristen fanatik yang mencari kesyahidan (martyrdom). Namun, Gereja Katolik  Spanyol tidak menaruh simpati pada gerakan itu, karena pemerintah Islam mengembangkan kebebasan beragama[23]