Monday, February 9, 2015

Bacaan Ringan "SEJARAH AWAL PERSIA SEBELUM MASUKNYA ISLAM - PART 3"

http://massandry.blogspot.com
Ciri-ciri Bangsa Persia
a. Watak dan fisik
Bangsa Persia adalah salah satu Bangsa Indo-Eropa, karena itu sifat dan fisik mereka kurang lebih sama dengan Bangsa Eropa lain. Karena peradaban mereka yang sangat maju, mereka memiliki sifat angkuh,Rasa Chauvinisme yang tinggi dan sedikit Rasis pada bangsa bangsa Barbar yang tak berperadaban, contoh saja Bangsa Arab dan Bangsa Turki-Mongol. Walaupun secara fisik bangsa Iran saat ini memiliki banyak kemiripan dengan penduduk Timur Tengah Modern akibat percampuran dari berbagai bangsa pendatang, namun mereka akan marah apabila disama-samakan dengan orang Arab apalagi Turki.

b. Bahasa
Bahasa yang digunakan bangsa Persia adalah bahasa Persia sendiri, yang termasuk rumpun bahasa indo-eropa. Bangsa Persia kini tersebar di wilayah Iran dan sekitarnya. Karena itu, tidaklah mengherankan jikalau bahasa Persia merupakan bahasa resmi Iran, juga Afghanistan dan Tajikistan. Sementara itu, bahasa Turki, Kurdi, Arab, Lori, Gilani, Mazandarani, dan Baluchi, merupakan bahasa setempat bangsa minoritas yang mendiami wilayah Iran.

Bahasa ini terus berkembang, dan setelah Islam memasuki tanah Persia, kurang lebih 40 persen kosakata bahasa Persia telah terpengaruh oleh kosakata bahasa Arab. Selain itu unsur-unsur bahasa Yunani, bahasa Aramaic, bahasa Inggris dan bahasa Perancis serta sedikit Turki, juga masuk ke dalam bahasa ini. Bahasa Persia ini terkenal karena tradisi sastranya dan juga sastrawan-sastrawannya yang terkenal, di antaranya ialah Hafez, Ferdowsi, Khayyam, Attar, Saadi, Nezami, Roudaki dan juga Rumi.

Dalam bahasa Persia terdapat banyak ragam dialek dan varian yang tersebar dari Iran hingga semenanjung Khumzari di Oman, di antaranya yakni: Bahasa Dari yang dituturkan di Afganistan, termasuk Hazaragi, dan Tajik yang dituturkan di Tajikistan, tapi menggunakan Huruf Sirilik.

8.     Kerajaan Persia Pra Islam
Di bawah pimpinan Cyrus berdirilah Kerajaan Persia, berhasil memperluas wilayah kekuasaannya dengan menaklukkan Babylonia Baru dan daerah Asia Kecil. Raja Cyrus menguasai sebagian dari daerah India bagian barat. Namun dalam pertempuran melawan bangsa Tura, Raja Cyrus terbunuh. Ia kemudian digantikan oleh anaknya yang bernama Cambysses.

Raja Cambysses berhasil mengembalikan ketentraman dalam negeri Persia. Bahkan pada tahun 525 SM Cambysses berhasil menaklukkan negeri Mesir. Setelah Raja Cambysses meninggal ia digantikan oleh Raja Darius. Di bawah pemerintahannya, Kerajaan Persia mencapai masa kejayaannya. Pada masa itu dibangun istana yang megah dan indah di Kota Suza. Istana di Persepolis terkenal karena mempunyai tangga raksasa untuk memasuki istana tersebut. Kerajaan Persia hancur ketika mendapat serangan dari Iskandar Zulkarnaen.

Sassania adalah kekaisaran Persia terakhir sebelum kedatangan Islam. Persia kemudian ditaklukkan oleh bangsa Arab diikuti dengan Turki (Tentara Seljuk),  Mongol, Inggris dan Rusia. Di balik penaklukan ini, etnis Persia berhasil mempertahankan kebudayaan, bahasa dan jati diri mereka.

Kekaisaran Persia Sassania adalah kekaisaran Iran yang ketiga dan kekaisaran Persia yang kedua. Kekaisaran Sassania merupakan Kekaisaran Persia pra-Islam  terakhir, dipimpin oleh Dinasti Sassania pada tahun 224 hingga 651 M.[14] Kekaisaran Sassania, yang menggantikan Kekaisaran Parthia atau Kekaisaran Arkasid, diakui sebagai salah satu kekuatan utama di Asia Barat, Selatan, dan Tengah, bersama dengan Kekaisaran Romawi dan Kekaisaran Bizantium, dalam periode selama lebih dari 400 tahun.[15]

Kekaisaran Sassania didirikan oleh Ardashir I, setelah keruntuhan Kekaisaran Parthia dan kekalahan raja Parthia terakhir, Artabanos IV. Kekaisaran Sassania berakhir ketika Syahansyah (Raja Segala Raja) Sassania terakhir, Yazdegerd III (632–651), kalah dalam perjuangan selama 14 tahun untuk menyingkirkan kekhalifahan Islam yang pertama, yang merupakan pendahulu dari kekaisaran-kekaisaran Islam lainnya. Wilayah Sssania meliputi wilayah yang kini menjadi Iran, Irak, Armenia, Afganistan, Turki bagian timur, dan sebagian India, Suriah, Pakistan, Kaukasus, Asia Tengah dan Arab. Selama pemerintahan Khosrau II (590–628), Mesir, Yordania, Palestina, Israel, dan Lebanon juga sementara waktu menjadi bagian dari Sassania.

Bangsa Sassania menyebut negara mereka Eranshahr (Wilayah kekuasaan bangsa Iran (Arya)) atau Ērān dalam bahasa Persia Pertengahan, yang menghasilkan istilah Iranshahr and Iran dalam bahasa Persia baru. masa kekuasaan Sassania terbentang sepanjang Antikuitas Akhir), dan dianggap sebagai salah satu periode yang paling penting dan berpengaruh dalam sejarah Iran. Dalam banyak hal periode Sassania menyaksikan pencapaian tertinggi kebudayaan Persia, dan melambangkan kemegahan Kekaisaran Iran terakhir sebelum Penaklukan Islam atas Persia|penaklukan muslim dan berkembangnya agama Islam.

Menurut legenda, panji Kekaisaran Sassania adalah Derafsh Kaviani.[16] Diduga juga bahwa peralihan menuju Kekaisaran Sassania melambangkan akhir perjuangan etnis proto-Persia melawan kerabat etnis migran dekat mereka, yakni bangsa Parthia, yang tempat asalnya sssadalah di Asia Tengah.

Era Sassania dianggap sebagai salah satu periode paling penting dan berpengaruh dalam sejarah Persia maupun Iran, dan Kekaisaran Sassania disebut sebagai kekaisaran Iran besar terakhir sebelum penaklukan oleh Muslim dan pengadopsian agama Islam.[17] Dalam banyak hal, periode Sassania merupakan puncak peradaban Persia kuno.

Persia banyak berpengaruh terhadap peradaban Romawi pada periode Sassania.[18] Selain itu, bangsa Romawi menganggap bangsa Persia Sassania sebagai satu-satunya bangsa yang berstatus sama dengan mereka. Hal ini diperlihatkan misalnya dalam surat-surat yang ditulis oleh Kaisar Romawi kepada Syahansyah Persia, yang isiya bertuliskan "kepada saudaraku".

Pengaruh kebudayaan Sassania terbentang jauh melebihi batas-batas wilayah kekaisaran mereka, dan bahkan menjangkau sampai Europa Barat,[19] Afrika, Cina, dan India, serta berperan penting dalam pembentukan seni Abad Pertengahan di Eropa dan Asia.[20]

Pengaruh tersebut terus terbawa ke masa awal perkembangan dunia Islam. Kebudayaan yang unik dan aristokratik dari dinasti ini telah mengubah penaklukan Islam atas Iran menjadi sebuah Renaisans Persia.[21] Banyak hal yang kemudian dikenal sebagai kebudayaan, arsitektur, dan penulisan Islam serta berbagai keahlian lainnya, diperoleh dari Sassania Persia dan kemudian disebarkan pada dunia Islam yang lebih luas.[22] Sebagai contohnya ialah bahasa resmi Afghanistan, yaitu Bahasa Dari yang merupakan dialek dari Bahasa Persia, merupakan perkembangan dari bahasa kerajaan bangsa Sassania.[23]