Saturday, February 7, 2015

Bacaan Ringan "POLITIK PERANG KEKAISARAN ROMAWI MENGHARAMKAN PERANG GERILYA - PART 1"

http://massandry.blogspot.com
oleh: Sando Sasako
Tulisan ini bertujuan memberikan makna susahnya membuat dan menjaga kebesaran, kejayaan, kekuasaan seseorang, suatu bangsa, atau suatu negara. Puncak kejayaan mereka merupakan awal kehancuran mereka. Kegagalan merealisasi satu ambisi besar, meraih satu angan yang tinggi, membuat mereka hancur dari dalam, secara fisik, psikis, maupun secara sosial. Kegagalan memberdayakan dan membina regenerasi kepemimpinan yang berdedikasi dan segala atributnya yang ‘benar’ pun, dipastikan bisa menghancurkan seseorang tersebut, secara pribadi berupa kematian secara fisik atau secara sosial. Hal ini juga berlaku untuk tingkat masyarakat, bangsa, dan negara.

Individualisasi yang semakin tinggi dan sangat memuja ajaran neo-liberalisme membuat ‘perang terbuka’ menjadi suatu hal yang tabu. Hukum melarangnya. Cara yang lazim dilakukan adalah dengan berpolitik, menempuh jalan hukum, melakukan spionase, sabotase, dan lainnya. Intrik politik dan intrik bisnis menjadi keniscayaan lawan sesungguhnya dalam hidup keseharian masing-masing orang, masyarakat, bangsa, dan negara. Banyak pihak menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. The ends justifies the means. Chivalry is dead. Then, there is no justice, but mercy, with some ‘price’ to have been paid off. You can keep up with some minimum requirements, otherwise, you go solo and keep one thing in mind, ablsolute termination of your sole competitor, rival, enemy.

Setiap upaya penaklukan wilayah secara fisik akan berhadapan dengan kekuatan fisik. Perang terbuka yang bersifat frontal akan berlaku ketika setiap pihak yang bersengketa (the belligerents) memiliki beberapa kesamaan umum, seperti kekuatan militer, visi, misi, dan segala macam tujuan perang yang menjadi kebiasaan dan di’legal’kan secara internasional menurut apa yang mereka ketahui dan pahami. Bila tidak, mereka akan beranggapan bahwa pihak lawan barbar, biadab, tidak beradab, tidak jantan, dan lainnya.

Hal ini berbeda di pihak lawan. Lawan beranggapan kami tidak punya sumber daya yang memadai untuk melakukan perang secara terbuka, kecuali perang secara tertutup alias gerilya. Dengan kata lain, mereka berpendapat kami berperang dengan upaya seefisien mungkin dan se’ekonomis’ mungkin, demi hasil (berupa) korban dan pampasan perang sebanyak mungkin. Kekaisaran Romawi dengan Legiun IX-nya yang sangat terkenal digjaya dan segala atribut kehebatan lainnya harus punah dari muka bumi ketika disergap bangsa Skotlandia. Amerika harus kalah memalukan di Vietnam. Soviet harus kalah memalukan di Afghanistan (Vietnamnya Soviet). Amerika dan Sekutunya harus kalah di Irak dan Afghanistan.

Attila harus mundur dari rencana menyerang Roma, pusat Kekaisan Romawi Barat, karena ketiadaan ransum perang dan bencana kelaparan dan lainnya di Italia. Tidak lama kemudian, Attila mati pada usia 47, setelah berpesta minuman merayakan perkawinan terakhirnya. Marcian, Kaisar Romawi Timur (450-457) ditengarai berada di belakang kematian Attila. Sebelumnya, Kekaisaran Romawi Timur harus berdamai dengan bangsa Han yang dipimpin Attila. Kekuasaan Attila (434-453) terbentang dari Jerman sampai sungai Ural, dan dari sungai Danube sampai Laut Baltik.

Sungai Ural terpanjang ketiga ini di Eropa (2.428 km) merupakan pembatas Asia dan Eropa dan mengalir dari selatan Pegunungan Ural di Rusia ke Kazakhstan dan berakhir di Laut Kaspia. Sungai Danube merupakan sungai terpanjang kedua di Eropa (2.850 km) dan mengalir dari Black Forest di Jerman ke Laut Hitam melalui Delta Danube di Romania dan Ukraina. Sungai Danube merupakan pembatas tradisional Kekaisaran Romawi.

Kematian Attila setelah berpesta minuman tidak berbeda jauh dengan kematian Alexander the Great. Alexander mati pada usia 32 tahun akibat ‘racun’ (calicheamicin) saat berpesta minuman dengan Laksamana Nearchus dan pemilik rumah, Medius of Larissa di bulan Juni 323 SM. Sebelumnya, Alexander banyak mengeksekusi tentaranya yang desersi dan memberontak saat ingin menginvasi India. Coenus, jenderal terbaik di bidang infantri, taktik, intelijen perang, dan pemberani, bahkan meminta Alexander untuk menarik rencananya. Nearchus mengantar Alexander pulang melalui Teluk Persia.