Monday, February 9, 2015

Bacaan Ringan "PERADABAN SEBELUM ISLAM - PERADABAN PERSIA - ROMAWI DAN ARAB PRA ISLAM - PART 1"

http://massandry.blogspot.com
Oleh; Ade Chairil Anwar, M.Pd.I

Latar Belakang Masalah
Penyelidikan mengenai sejarah peradaban manusia dan dari  mana pula  asal-usulnya, sebenarnya  masih  ada hubungannya dengan zaman kita sekarang  ini.  Penyelidikan  demikian  sudah  lama menetapkan,  bahwa  sumber peradaban itu sejak lebih dari enam ribu  tahun  yang  lalu  adalah  Mesir.[1] Jauh sebelum peradaban Islam—yang dibawa oleh nabi Muhammad SAW—lahir di Jazirah Arab.

Sebelum peradaban Islam lahir, terdapat dua peradaban yang lebih dahulu mendominasi peradaban dunia, peradaban tersebut adalah peradaban Romawi di Barat dan peradaban Persia di Timur. Di Persia ini tumbuh subur berbagai khayalan (khurafat) keagamaan dan filosof yang saling bertentangan, selanjutnya di Romawi, dan mereka terlalu semangat untuk menjajah bangsa lain (kolonialisme). Di Yunani perkembangan peradaban yang cukup maju tetapi mereka terjebak dalam mitos dan khurafat.[2]

Selain itu, kondisi bangsa Arab sebelum Islam, hidup bersuku-suku (kabilah-kabilah) dan berdiri sendiri-sendiri. Satu sama lain kadang-kadang saling bermusuhan. Mereka tidak mengenal rasa ikatan nasional. Yang ada pada mereka hanyalah ikatan kabilah. Dasar hubungan dalam kabilah itu ialah pertalian darah. Rasa kesukuan (asyabiyah) amat kuat dan mendalam pada mereka, sehingga bila mana terjadi salah seorang di antara mereka teraniaya maka seluruh anggota-anggota kabilah itu akan bangkit membelanya. Semboyan mereka “Tolong saudaramu, baik dia menganiaya atau dianiaya “.[3]

Dari deskripsi seputar perkembangan peradaban sebelum peradaban Islam lahir dengan berbagai ramifikasinya, mulai dari pemikirannya tentang kepercayaan (teologis), hukum, interaksi sosial, sampai dengan sistem politik—yang terjadi baik di Romawi, Persia, maupun Arab Pra-Islam—menarik dilakukan sebuah penelitian empirik yang diharapkan menjadi dasar dasar mempelajari dan merealisasikan nilai moral (morality value) dalam kisah sejarah di masa lampau. Sehingga eksistensi sebuah peradaban memiliki beragam budaya dan nilai yang reflektif.

Peradaban Persia Sebelum Islam
Sekilas tentang Persia
Kerajaan Persia merupakan kerajaan tandingan dari kerajaan Romawi Timur. Peperangan antara keduanya terus-menerus terjadi karena kepentingan dan ambisi masing-masing yang ingin mengehegemoni dan merebut kekuasaan. Ketika Romawi Timur mencapai masa keemasan di bawah kepemimpinan Yustinus I, kerajaan Persia di bawah tangan pemimpin adil bernama Maharaja Anusyarwan dari Dinasti Sasanid (sasaniyah).

Maharaja Anusyarwan dengan pasukan berkuda dan pejalan kaki menyerang daerah-daerah Romawi Timur, dan penyerbuaannya pun membawa hasil. Satu per satu daerah-daerah di kawasan Romawi Timur dikuasai Persia. Akibat penyerangan ini, raja Romawi, Yustianus, mengadakan perlawanan dengan mengirimkan pasukan di bawah komando Panglima, Belisarius, sehingga meledak dengan terjadinya perang selama 20 tahun (541-461M). Perseteruan panjang ini akhirnya berakhir dengan suatu janji perdamaian. Yustianus harus memyar upeti kepada Anusyarwan tiap tahun sebanyak 30.000 dinar [9].

Secara teoritis perseteruan antara keduanya sudah selesai, namun praksisnya permusuhan keduanya terus berlangsung hingga keduanya mengalami kemunduran dan kehancuran. Datangnya Islam memberikan angin segar bagi keduanya untuk bersatu dalam koridor Islam.

Agama
Masyarakat Persia pada umumnya cenderung menuhankan berbagai realitas alam, seperti langit biru, cahaya, api, udara, air dan sebagainya. Sedangkan Tuhan pun bagi bangsa Persia memiliki klasifikasi, ada Tuhan baik dan ada Tuhan jahat. Tuhan baik dan Tuhan jahat selalu terjadi perkelahian dan permusuhan. Api (cahaya) adalah lambang dari Tuhan Baik sehingga menyebabkan mereka menyembah api sebagai tuhan.

Dari pendewaan alam di atas muncullah beberapa paham keagamaan di kalangan masyarakat Persia kala itu. Zoroaster, muncul abad VII SM dibawa oleh orang bernama Zoroaster yang lebih terkenal dengan nabi orang Persia. Zoroaster membawa ajaran baru dengan didasarkan pada dua prisip. Pertama, alam berjalan sesuai dengan ketentuan, Kedua, dalam alam selalu ada pertentangan antar pelbagai kekuatan.

Kitab suci Zoroaster bernama Avesta dan kitab komentarnya bernama zamdavesta. Menurut Zoroaster, antara Tuhan baik dengan tuhan jahat selalu bermusuhan, yang menjelma pada makhluk kedua Tuhan itu, sementara manusia menjadi tempat pertarungan antara kedua Tuhan itu. Ditambah lagi, ajaran Zoroaster menganggap bahwa hidup ada dua, yaitu hidup pertama (dunia) dan hidup kedua (akhirat).[10]

Selain itu, ada lagi agama almanuwiyah, yaitu campuran antara ajaran agama Zoroaster dengan ajaran agama nasrani. Dan banyak dianut oleh banyak penduduk Asia dan Eropa. Agama ini diciptakan langsung oleh pemimpinnya Manu atau mani pada tahun 215 M. Ada pula ajaran Mazdak, yang dibawa oleh seorang bernama Mazdak. Mazdak membawa faham baru dalam agama dua Tuhan, tuhan cahaya dan tuhan gelap. Dan bahkan menurut Ahmad Amin, sebgaimana dikutip Samsul Munir, mazdakisme adalah komunisme tertua dunia. Karena ia berasumsi bahwa manusia dilahirkan sama dan oleh karena itu haruslah hidup sama pula.[11]

Bahasa dan Kesenian
Pada masa pemerintahan sasanid bahasa pahlawi menjadi bahasa resmi Persia sedangkan bahasa kitab suci mereka adalah avesta. Namun setelah kedatanga islam di Persia, kedua bahasa tersebut digantikan oleh bahasa dan huruf arab. Sehingga tulisan Pahlawi sudah tidak bisa dijumpai lagi kecuali di batu-batu tertulis.

Ada banyak Kesenian Persia, dan kesenian yang paling kuno, yaitu keramik, patung-patung, dan pelbagai perabot dari perunggu dan lain-lain (5000-1000SM), seni lukis dan arsitektur (550-1600M). Masa Dinasti Akhaeminid peninggalannya tampak seperti gambar timbul berwarna di Persepolis, dan batu upin berlapis glasir di susa. Masa dinasti seleukos dan Arsacid, peninggalannya berupa runtuhan Assyaria dan tugu peringan Antochus. Dan masa Dinasti Sasanid, peninggalannya berupa jembatan-jembatan dengan busur meruncing, gambar timbul pada bukit berbatu, dan barang-barang perak anggun.[12]

Peradaban Romawi Sebelum Islam
Sekilas Peradaban Romawi
Secara historisitas kerajaan Romawi berdiri tahun 753 sebelum masehi (SM). Roma menjadi pusat mercusuar Romawi sekaligus Ibu kota kerajaan. Secara usia kota Roma lebih tua dari kerajaan Romawi karena jauh sepuluh abad sebelum kerajaan Romawi lahir, kota Roma sudah lama berdiri kokoh. Namun sayangnya, pada 395 SM setelah kematian Thedosius I, kekaisaran Romawi pecah menjadi dua bagian, kerajaan Romawi Barat (Roma) dan Kerajaan Romawi Timur, dengan beribu kota di Konstantinopel dan Konstantinus Agung (kaisar Constantin) sebagai Maharaja.

Seperti biasa, dalam sebuah kerajaan pasti terjadi pasang surut masa kejayaan. Begitu pula kerajaan Romawi, masa kejayaan disandang kerajaan Romawi ketika di bawah pimpinan Maharaja Yustianus I (527-565 M). Di era ini pula terjadi peperangan sengit dengan kerajaan Persia Sasanid, dan berujung pada sebuah perjanjian yang disebut “Perjanjian Damai Kekal” walaupun dalam praktik perjalanannya tidak kekal. Berkat jasa panglima Belisarius dan Narses, Romawi di bawah Yustianus I berhasil menaklukkan Afrika Utara, Italia, dan beberapa kawasan lainnya dari tangan bangsa Vandal dan Bangsa Got Timur.[13]

Membicarakan kebudayaan Romawi tidak dapat dilepaskan dari afiliasi Yunani yang menghegemoninya. Pengaruh budaya Yunani sangat besar terhadap corak kebudayaan Romawi. Filsafat, kesenian, Ilmu pengetahuan, dan Kesusastraan Romawi secara esensial merupakan sinergitas dan kontinuitas dari kebudayaan Yunani.[14]

Agama dan Filsafat
Mayoritas penduduk yang berada di bawah kekuasaan Romawi Timur pada umumnya beragama Nashrani (Kristian). Nashrani, sebagaimana dikatakan AF. Muntashir, S. Sos.I, kala itu juga terbagi ke dalam tiga aliran besar antara lain, Pertama, Aliran Yaqibah, yang meyakini bahwa Isa Al-Masih adalah Allah yang berarti Allah dan manusia bersatu dalam diri Al-Masih dan banyak dianut penduduk Mesir dan Habsyah. Kedua, Aliran Nasathirah, berkeyakinan bahwa dalam diri Al-Masih terdapat dua tabiat, pertama tabiat ketuhanan dan kedua tabiat kemanusiaan dan banyak dianut oleh Musil, Irak dan Persia. Ketiga, Aliran Mulkaniyah, sama dengan yang diyakini oleh aliran Nasathirah dan banyak dianut di Afrika Utara, Sicilia, Syiria, dan Spanyol.[15]

Kontradiksi terus terjadi antara aliran-aliran ini tentang keyakinan kepercayaan kepada Tuhannya. Sehingga Qur’an pun menggambarkan kisah tentang kepercayaan mereka itu dalam Qs. Al-Ma’idah 5;72, 73 dan 116). Sedangkan mengenai filsafat Jurji Zaidan, sebagaimana dikutip Hasjmy, mengatakan masa Yunani Romawi (142SM-550M), pada masa ini daerah-daerah di wilayah Yunani telah jatuh ke tangan kerajaan Romawi.

Dari sini mundurlah peradaban Yunani dan digantikan Romawi. Namun orang-orang Kristen memperbaharui, mengubah, dan sebagainya. Ditambah lagi, masa Bizantium (550-1453 M) Romawi Timur (konstantinopel) mengalami masa kegemilangan dan sekaligus menjadi parameter kebudayaan dan peradaban Yunani[16]. Sehingga begitu pula Filsafat Romawi, filsuf Yunani begitu sangat mewarnai dan bahkan mendominasi aras peradaban kerajaan Romawi.

Bahasa dan Kesenian
Setidaknya ada tiga bahasa yang berpengaruh di kawasan Romawi Timur, yaitu bahasa Latin, bahasa Greek, dan bahasa Suryani. Dan dengan bahasa-bahasa ini pula kitab-kitab suci, undang-undang, cerita-cerita, sajak-sajak dan lain sebagainya ditulis dan dibukukan. Sedangkan untuk ranah kesusastraan Bizantium muncul sekitar abad kelima pada masa kerajaan Romawi Timur.

Kesenian ini terus berkembang di Rusia dan Balkan. Kesenian Romawi sangat maju pada masa kaisar Yustinus I (527-565M) dan bahkan meluas hingga sampai ke Italia Utara. Kesenian patung menjamur sehingga banyak dibuat banyak orang kala itu. Demikian pula bangunan gereja yang berkubah, seperti Gereja Aya Sophia, dan banyak didirikan gereja-gereja berbentuk silang Yunani berkubah lima. Selain itu, kegiatan seni lukis tidak kalah menggeliat, seni pahat, seni bahasa, seni suara, filsafat dan sebagainya, semua berjiwa dan bersemangat gereja.[17]