Monday, February 9, 2015

Bacaan Ringan "PERADABAN SEBELUM ISLAM - PERADABAN PERSIA - ROMAWI DAN ARAB PRA ISLAM - PART 3"

http://massandry.blogspot.com
Dari penjelasan di atas, dapat kita simpulkan bahwa :
Kerajaan Romawi dan kerajaan Persia merupakan dua kekuatan besar yang saling bermusuhan pra islam. Namun setelah datangnya islam kedua kerajaan tersebut dapat dipadukan di bawah komando agama Islam. Dalam hal keagamaan, kerajaan Romawi beragama Nasrani sedangkan Persia beragama menuhankan fenomena alam, sehingga muncul Zoroaster. Dari segi kesenian keduanya sama produksinya, seperti seni pahat, sastra dan lainnya. Namun dalam hal bahasa beda, Romawi menggunakan bahasa Latin, bahasa Greek, dan bahasa Suryani sedangkan Persia memakai bahasa pahlawi (komunikasi) dan bahasa avesta (teksbook), dan ketika islam datang keduanya digantikan oleh bahasa arab.

Dari sejarah singkat Bangsa Arab pra Islam tergambar cara hidup orang Arab pra Islam, dari segi, agama, hubungan internasional/ politik. Dalam ber- agama orang Arab menyembah berhala, mengikuti agama nenek moyang. Adapun dalam segi politik, Arab terbentuk suku( clan), menggunakan hukum rimba, terjadi perbudakan, suku berbaris (vandalisme/ konflik), dan otoritatif atau sentralistik pada kepala suku. Dengan kata lain, dapatlah kita deskripsikan ciri utama tantanan Arab pra Islam adalah sebagai berikut : (a) menganut fanatisme kesukuan yang tinggi, (b) memiliki tata sosial politik yang tertutup dengan partisipasi warga yang sedikit, (3) mengenal hierarki sosial yang kuat, dan (4) kedudukan perempuan cenderung direndahkan.

Penutup
Sebagai penutup dari penelitian ini, maka dapatkah kita ketahui bahwa sejarah sebuah peradaban memiliki pengaruh terhadap peradaban-peradaban yang muncul setelahnya. Pengaruh tersebut bisa berupa kesamaan dalam keyakinan dan kepercayaan yang dianut, sosiologi masyarakat yang kemudian menjadi hokum positif, maupun sistem politik dan pemerintahan yang menjadi pijakan peradaban-peradaban tersebut akhirnya dapat menjadi kekuatan besar.

Dengan kata lain, secara implisit peradaban-peradaban sesudahnya memiliki fungsi untuk mengafirmasi dan menagasikan pola-pola yang dianut masyarakat sebelumnya. Hal tersebut senada dengan definisi peradaban menurut Keontjaraningrat, dimana ia mendefinisikan bahwa peradaban adalah suatu aktivitas yang lahir dan biasanya dipakai untuk menyebut bagian-bagian dan unsur-unsur dari kebudayaan yang halus, maju, dan indah, seperti kesenian, ilmu pengetahuan, adat sopan santun pergaulan, kepandaian menulis, organisasi kenegaraan, dan sebagainya. Istilah peradaban sering juga dipakai untuk menyebut suatu  kebudayaan yang memiliki system teknologi, ilmu pengetahuan, seni bangunan, seni rupa, dan sistem kenegaraan dan ilmu pengetahuan yang luas sekali.[24]



Daftar Pustaka

A. Hasjmy, Sejarah Kebudayaan Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1984.
Dudung Abdurrahman, Metode Penelitian Sejarah, Jakarta : Logos Wacana Ilmu, 1999.
Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi, Jakarta: Aksara Baru, 1979.
Noeng Muhajir, Metode Penelitian Kualitatif, Yogyalarta: Rake Sarasin, 1996.
Samsul Munir Amin, Sejarah Peradaban Islam,. Jakarta: Amzah, 2009.
Sartono Kartodirdjo, Pendekatan Ilmu Sosial Dalam Metodologi Sejarah, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1992.
AF. Muntashir, S. Sos.I, http://peradabanislamiyah.blogspot.com/2009/10/nabi-muhammad-dan-perubahan-sosial.html.
Lukman, dkk, terjemahan History of The Arabis, Jakarta : Serambi Ilmu Semesta, 2008.
http://media.isnet.org/islam/Haekal/Muhammad/PraIslam.
http://jawharie.blogspot.com/2010/11/peradaban-sebelum-islam.
http://spistai.blogspot.com/2009/03/sejarah-arab-pra-islam.
http://msubhanzamzami.wordpress.com
http://msubhanzamzami.wordpress.com
http://www.scribd.com

[1] http://media.isnet.org/islam/Haekal/Muhammad/PraIslam,  diakses tanggal 07 Oktober 2011.
[2] http://jawharie.blogspot.com/2010/11/peradaban-sebelum-islam, diakses tanggal  07 Oktober 2011.
[3] http://spistai.blogspot.com/2009/03/sejarah-arab-pra-islam , diakses tanggal 07 Oktober 2011.
[4] Sartono Kartodirdjo, Pendekatan Ilmu Sosial …., hlm 4.
[5] Idem., hlm.156.
[6] Idem.,
[7] Dudung Abdurrahman, Metode Penelitian Sejarah, (Jakarta : Logos Wacana Ilmu, 1999), hlm. 67.
[8] Noeng Muhajir, Metode Penelitian Kualitatif, (Yogyalarta: Rake Sarasin, 1996), hlm 30.
[9] A. Hasjmy, Sejarah Kebudayaan …., hlm. 15.
[10] Drs. Samsul Munir Amin, M.A, Sejarah Peradaban …., hlm.53.
[11] Ibid, hlm. 54.

[12] Ibid, hlm. 55.

[13] Drs. Samsul Munir Amin, M.A, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Amzah, 2009), hlm. 48.

[14] A. Hasjmy, Sejarah Kebudayaan Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1984), hlm. 12.

[15] AF. Muntashir, S. Sos.I, http://peradabanislamiyah.blogspot.com/2009/10/nabi-muhammad-dan-perubahan-sosial.html, diakses tanggal 15 Oktober 2011

[16] A. Hasjmy, Sejarah Kebudayaan …, hlm. 12.

[17] Drs. Samsul Munir Amin, M.A, Sejarah Peradaban …., hlm. 51.

[18] Lukman, R, dkk, terjemahan History of The Arabic, (Jakarta :  Serambi Ilmu Semesta, 2008), hlm. 3.

[19] http://msubhanzamzami.wordpress.com, diakses tanggal 15 Oktober 2011.



[20] Idem.,

[21] http://www.scribd.com, diakses tanggal 15 Oktober 2011.

[22] Lukman, R. dkk, terjemahan History of The …., hlm. 37

[23] Idem., hlm. 42



[24] Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi, (Jakarta: Aksara Baru, 1979), hlm. 194.