Saturday, February 7, 2015

Bacaan Ringan "POLITIK PERANG KEKAISARAN ROMAWI MENGHARAMKAN PERANG GERILYA - PART 3"

http://massandry.blogspot.com
Kekaisaran Romawi Timur, 395-1453
Kekaisaran Romawi Timur atau Bizantium (Byzantine) bertahan cukup lama dan berakhir dengan kematian Constantine XI dan jatuhnya Konstantinopel (Istanbul) di tahun 1453 ke tangan Kerajaan Turki Ottoman dibawah kepemimpinan Mahmud II. Ekonomi dan budaya yang sudah maju ditengarai sebagai faktor utamanya. Hal ini membuat Konstantinopel merupakan kota terbesar dan terkaya di Eropa sepanjang Abad Pertengahan. Secara militer dan pertahanan, ada semacam pemberian upeti kepada penjajah dan tentara bayaran dari luar seperti bangsa Avar, Arab, Rus, Bulgar, dan lainnya. Khusus untuk bangsa Han suruhan Attila, subsidi yang diberikan Theodosius II berjumlah 300 kg emas. Kebijakan lainnya berupa favoritisme kepada pedagang yang berhubungan dengan bangsa Han dan bangsa asing lainnya.

Secara fisik, kebijakan Theodosius II yang lain adalah membentengi tembok Konstantinopel (the walls of Constantinople) dan memanjangkannya 1,5 km ke barat, yang akhirnya berhasil dijebol pada tahun 1204. Per 29 Mei 1453, Kerajaan Ottoman Turki berhasil merobohkan benteng dua tembok dengan bantuan meriam. Walau tetap dipertahankan semasa Ottoman berkuasa, keberadaannya mulai dihilangkan di abad ke-19 menyusul perkembangan kota yang semakin pesat. Tembok Konstantinopel sepanjang 2,8 km dibangun tidak lama setelah Constantine the Great (r. 306-337) memindahkan ibukota Kekaisaran Romawi ke Bizantium dengan nama Constantinopolis (Kota Constantine). Constantinopolis diresmikan per 11 Mei 330 setelah dibangun selama 6 tahun dengan kesan yang jauh berbeda dengan Roma lama.

Marcus Antonius, Penguasa Provinsi Timur, 43-33 SM
Wilayah kekuasaan Kekaisaran Romawi Timur sebelumnya berada di bawah kekuasaan Marcus Antonius. Provinsi Timur mencakup wilayah Achaea, Macedonia, dan Epirus (Yunani dan Macedonia), Bithynia, Pontus, dan Asia (Turki), Syria, Cyprus, dan Cyrenaica. Antonius merupakan jenderal, administrator, pendukung utama, teman setia, dan memiliki ikatan darah dengan Julius Caesar (Gaius Julius Caesar). Pembunuhan Caesar oleh persekutuan Marcus Junius Brutus dan Gaius Cassius memaksa Antonius membentuk aliansi politik resmi dengan Octavian (Augustus) dan Marcus Aemilius Lepidus dengan nama the Second Triumvirate per 26 November 43 SM. Setelah berhasil mengalahkan Brutus dan Cassius yang didukung Kekaisaran Parthian di Perang Philippi di bulan Oktober 42 SM, Triumvirat II diubah: Octavian ke Roma, Antonius di timur, dan Lepidus di Hispania dan Afrika.

Pemberlakuan Triumvirat II dalam bentuk Lex Titia menandakan akhir periode Republik Romawi. Triumvirat II bertahan untuk 2 periode 5 tahun, yakni selama 43-33 SM. Sebagai institusi yang disahkan hukum, Triumvirat II berkuasa atas negara Romawi, memberikan sanksi hukum, kekaisaran yang lebih tinggi (imperium maius) dari seluruh magistrates, termasuk konsul. Seperti halnya Triumvirat I, Triumvirat II hancur karena intrik politik dari dalam. Lepidus menggantikan Caaesar sebagai Pontifex Maximus di tahun 43 SM. Walau Lepidus pro-Antonius, keberadaannya lebih dekat dengan Octavian, Lepidus malah dikebiri Octavian dengan melarangnya mengendalikan legiun Octavian yang menang saat melawan Pompeius (anak Gnaeus Pompeius Magnus) dan mengeluarkannya dari Triumvirat II, dan membolehkannya menguasai Pontificate. Lepidus malah dilengserkan dari Triumvirat II dengan alasan politis yang dibuat-buat.

Antonius sendiri lebih suka menetap di timur bersama Cleopatra (Cleopatra II of Egypt), ketimbang di Roma bersama Octavia, istrinya yang merupakan adik Octavian. Alasan utamanya adalah karena Cleopatra mau mendanai Antonius untuk membalas invasi Parthian. Alasan kedua adalah karena Octavian wanprestasi terhadap persetujuannya mengirim bantuan memerangi invasi Kekaisaran Parthian di Syiria dan Asia kecil. Alasan Octavian adalah pemberontakan Sextus Pompeius di Sisilia membuat bala bantuan tertahan di Italia. Skeptisme Antonius tidak hilang walau telah dibuat kesepakatan baru antara Octavian dan Antonius yang dibantu Octavia di Tarentum di tahun 38 SM.

Dengan bantuan uang Mesir, Antonius akhirnya berhasil menaklukan Armenia, wilayah barat Kekaisaran Parthian. Saat perayaan, Antonius menyampaikan keinginannya untuk mengakhiri aliansinya dengan Octavian. Sebelumnya, Antonius pernah gagal menginvasi wilayah Parthian dengan kekuatan 100.000 tentara Romawi dan pasukan aliansi. Kemenangan Antonius dimanfaatkan Cleopatra dengan mendeklarasi Caesarion sebagai anak dan keturunan yang sah dari Caesar. Proklamasi yang dikenal sebagai Donasi Alexandria (Donations of Alexandria) berakibat fatal pada hubungan Antonius dengan Roma.

Perang propaganda dimulai. Antonius yang ada di Mesir menceraikan Octavia yang ada di Roma. Antonius berpendapat bahwa Octavian memalsukan surat adopsi Octavian sebagai anak angkat Caesar; Octavian sebagai biang kerok kerusuhan sosial, dan timbulnya pemberontakan. Di sisi lain, pengadopsiannya oleh Caesar merupakan senjata kesetiaan dan popularitas yang sangat dibutuhkan Octavian dari legiunnya. Proklamasi Cleopatra sebagai wanita terkaya di dunia membuatnya mendesak Senat Roma melucuti kekuasaan Antonius dan mendeklarasikan perang terhadap Cleopatra, ketimbang terhadap Antonius yang keturunan Romawi. Dakwaan Octavian lainnya meliputi peperangan terhadap Armenia dan Parthia tanpa persetujuan Senat dan menguasai wilayah peruntukkan bagi bangsa lain.

Perang Octavian-Antonius dimulai di tahun 31 SM. Dengan bantuan Marcus Vipsanius Agrippa, jenderal yang sangat berbakat dan memahami cara berperang Antonius, Octavian berhasil menghancurkan angkatan laut Antonius di perang Actium, Yunani, per 2 September 31 SM. Antonius dan Cleopatra berhasil kabur dengan 60 kapal. Dalam waktu kurang setahun, Agustus 30 SM, Octavian menginvasi Mesir. Informasi Cleopatra bunuh diri yang sumir membuat Antonius menikam diri sendiri dan akhirnya tewas di pangkuan Cleopatra di tempat persembunyiannya. Cleopatra sendiri akhirnya berhasil bunuh diri di bulan yang sama.

Alexander The Great, Peletak Dasar Helenisasi di Timur, 356-323 SM
Provinsi Timur merupakan wilayah bekas taklukan Alexander the Great (Alexander III of Macedon, 356-323 SM). Kebesaran nama Alexander diabadikan sebagai pahlawan klasik dalam bentuk relif atau cetakan patung Achilles. Taktik perangnya tetap menjadi tolok ukur di akademi-akademi militer sampai saat ini. Aristokrasi bernuansa Yunani di wilayah Romawi Timur dengan nama budaya baru Hellenistis. Bahasa Yunani sering menjadi lingua franca. Tradisi Kekaisaran Byzantine bertahan sampai pertengahan abad ke-15.

Sejarah dan mitos Alexander tetap dipertahankan dalam budaya Yunani dan di luar Yunani. Orang Persia menyebutnya Iskandar Yang Agung. Teologis Al-Quran mengidentikkannya sebagai Zulkarnain yang hanya tersurat dalam 17 ayat di dalam Surat Al-Kahfi (QS-18:83-99). Sebagai keturunan Yunani-Mesir (Greco-Egyptian) dengan nama Mesir Marzuban bin Mardhaba yang artinya Orang Yunani, Alexander terkenal sebagai Raja Persia dan Yunani, raja timur dan barat. Beberapa penulis muslim lainnya mengidentikkan Zulkarnain sebagai Cyrus the Great (600-530 SM) atau Raja Yaman Kuno (ancient Yemenite king). Keyakinan terhadap satu Tuhan (monoteis) membuat penulis Yaman kuno menyebut Zulkarnain sebagai seorang muslim.

Kejayaan Alexander sangat dipengaruhi ajaran 3 tahun dari gurunya, Aristoteles. Aristoteles mendidik Alexander, 13 tahun, dan companion-nya ajaran-ajaran tentang obat, filosofi, moral, agama, logika, dan seni. Taktik perangnya membuatnya tidak pernah kalah selama berperang. Wilayah kekuasaannya mencakup Syria, Mesir, Mesopotamia, Bactria, dan seluruh Kekaisaran Persia. Alexander gagal menginvasi India karena digoyang isu politik dalam pasukannya. Kematiannya pada usia 32 tahun ditengarai setelah diracuni dengan bermabuk-mabuk ria bersama Medius of Larissa. Sebagai politisi yang tidak pernah berperang atas nama raja, Medius diyakini berjiwa pengecut, penjilat, dan pengkhianat.