Saturday, February 7, 2015

Bacaan Ringan "SEJARAH KEKAISARAN PRINSIPAT ROMAWI KUNO - PART 2"

http://massandry.blogspot.com
Penguasa Pada Masa Kekaisaran Prinsipat Romawi.
1. Augustus (Oktavianus), 27 SM-14 SM
Augustus adalah pewaris tahta Romawi dari penguasa sebelumnya Julius Caesar, Oktavianus adalah sepupu dari Caesar yang mewarisi semua kecakapan dalam menjalankan pemerintahan di Romawi. Oktavianus memulai pemerintahanya atas Romawi dengan melakukan perubahan suatu sistem Republik menjadi sebuah negara dengan sistem kekaisaran. Yang terbentuk setelah Senat merelakan jabatan penting kepadanya agar tetap bersedia memimpin Romawi. 

Hal ini dikarenakan keberhasilan Augustus bersandiwara bahwa ia akan mengundurkan diri dari pemerintahan, sehingga para senat terpengaruh. Tujuan dari perubahan sistem ini adalah tetap mempertahankan bentuk-bentuk republik tetapi dengan memperkuat kekuasaan pemerintah melalui peningkatan kekuasaanya sendiri, sehingga Oktavianus menamakan dirinya sebagai “Restorator Republik Roma”, meskipun pada kenyataanya ia adalah pendiri kekaisaran Romawi. 

Oktavianus diangkat menjadi imperator seumur hidup dan berkuasa atas seluruh angkatan laut maupun angkatan darat Romawi. Dalam rangka untuk memainkan perananya sebagai republikan yang baik, Oktavianus senantiasa menghindarkan diri dari gaya hidup yang serba bermewah-mewahan, Oktavianus lebih menyukai diberi gelar Princeps yang artinya sebagai warga negara yang pertama dari pada julukan kaisar, tetapi dalam perjalanan sejarah Oktavianus lebih dikenal dengan sebutan Augustus atau “yang mulia”.

Dalam menjalankan pemerintahan atas kekaisaran Romawi, Augustus mengembangkan dan menjadi peletak dasar sistem pemerintahan yang disebut dengan sistem diarchy yakni suatu sistem pemerintahan yang dipegang oleh dua orang penguasa tertinggi yaitu senat dan kaisar itu sendiri. Tetapi pada kenyataanya, meskipun ia tetap mempertahankan senat, serta majelais dan berbagai institusi-institusi republik lainya, sistem dyarchy ini lebih mendekati pada sistem monarchi dan merubah sistem kekuasaan kearah absolutisme. 

Seperti halnya Caesar ia menganggap dirinya mempunyai hak-hak prerogative konsul, tribun rakyat dan badan-badan eksekutif lainya. Ia pun mendikte para pejabat-pejabat yang kurang berkuasa yang tidak lagi dipilih oleh Senat. Meskipun ia tidak mempunyai keinginan untuk menyingkirkan lembaga-lembaga tinggi, misalnya Senat, tetapi dalam perjalanan pemerintahanya ia menyingkirkan para senator-senator yang dianggap dapat menimbulkan kekacauan dan menentang semua kebijakan dirinya. 

Disamping itu, ia juga memotong pengawasan senat atas dua kekuatan yang paling kuat dalam kehidupan politik kekaisaran Romawi, yakni pengawasan atas angkatan bersenjata meliputi kontrol atas angkatan darat maupun angkatan laut dan pengawasan atas kekuasaan dalam pengumpulan pajak rakyat. Senat pada masa pemerintahan kekaisaran Augustus banyak diturunkan perananya yaitu hanya sebatas sebagai pembantu kaisar dan tidak mempunyai wewenang untuk menentukan segala kebijakan seperti pada masa Republik Romawi. Oleh karena itu, kedudukan senat semakin lemah dan tidak mempunyai legalitas. Badan kenegaraan lainya seperti halnya “Centuriate Assembly dan Tribal Assembly” juga mengalami nasib yang sama seperti halnya Senat. 

Kekuatan dan keberhasilan Augustus menjadi penguasa Romawi terletak pada kekuatan angkatan bersenjata dan kekayaanya serta kekuasaan atas kendali pemerintahan. Augustus mempunyai kekayaan yang melimpah yang ia diperoleh dari warisan Caesar dan banyak menerima barang rampasan yang diperolah dari kampanye-kampanye militer. 

Selain itu, Augustus juga banyak mendapat warisan dari orang-orang kaya Roma sebagai wujud kesetiaan kepada dirinya. Dengan kekayaan yang melimpah ini, secara otomatis dapat meluruskan jalanya dalam bidang politik. Pada waktu Augustus memegang jabatan pertama kali sebagai kaisar Romawi mekanisme perpajakan mengalami masa kekacauan dan Roma dalam ancaman kebangkrutan, tetapi dengan kekayaanya Augustus membayar gaji dan pensiun para pegawainya dengan kekayaanya sendiri. Dengan uangnya sendiri, ia juga banyak melakukan perbaikan sarana penyediaan air minum pembangunan gedung-gedung pemerintahan yang megah diseluruh Roma yang semula terbuat dari batu bata merah diubah menjadi marmer yang sangat indah. 

Dalam perjalanan politiknya, Augustus banyak melakukan serangkaian inovasi yang penting bagi angkatan bersenjata, ia berusaha menghilangkan praktek yang dianggapnya tidak berguna dan berbahaya yaitu membiarkan para jendral yang independen saling bersaing untuk membentuk angkatan perang sekehendak mereka. Ia menajdikan dirinya sebagai satu-satunya komandan dari seluruh kekuatan bersenjata Roma. 

Tujuan dari penguasaan tunggal dalam angkatan bersenjata yakni agar Augustus dapat lebih mudah mendisiplinkan para jendaral yang berusaha untuk menjadi kaisar Roma. Dalam sejarah kemiliteran Romawi, Augustus membuat angkatan bersenjata dalam keadaan yang selalu siap dengan menciptakan satu legiun khusus secara permanen yang ditempatkan di perbatasan propinsi agar selalu siap apabila mendapati serangan dari luar.Selain itu juga, ia melembagakan angkatan laut kedalam badan yang permanen dan ditugaskan untuk mengawasi keamanan laku lintas laut dari ancaman para bajak laut disekitar laut mediterania. 

Augustus juga memobilisasi sekitar 300,000 orang dan memotong jumlah legiun lebih dari tujuh puluh. Mungkin menjadi dua puluh delapan legion ( sekitar 160.000 orang), jumlah pasukan yang tidak terlalu besar untuk mempertahankan perbatasan sepanjang 4000 mil. Dua puluh delapan legion tersebut dibagi dan ditempatkan di tempat yang berbeda, sekitar delapan legion ditempatkan di pulau Rhine, tujuh lagiun ditempatkan di wilayah Danubian,. Tiga legion berada di Spanyol, empat legion ditempatkan di Syiria, dua legion ditempatkan di Mesir, satu legion ditempatkan di Macedonia, dan satu legion lagi berada di Afrika. Di Italia sendiri cukup ditempatkan Garnisun dari pengawal kerajaan sebanyak 9000 orang yang kemudian dibagi dan ditempatkan di tempat yang berbeda. Augustus menempatkan 5000 pasukan di sekitar Asia Kecil, 3000 pasukan di Judea, dan 1200 di tempatkan di wilayah Gaul. Perekrutan pasukan untuk masing-masing legion diperoleh dari mereka yang mendaftarkan diri secara sukarela, kecuali bagi mereka yang mempunyai cacat tubuh. 

Dalam bidang pemerintahan, Augustus berusaha untuk mengakhiri cara-cara tidak sehat yang telah menjadi sumber ketidakpuasan bagi rakyat dan tindak korupsi yang sudah kronis pada waktu itu. Augustus hanya mengangkat orang-orang yang terampil dan jujur sebagai pegawai pemerintahan dan mereka hanya bertanggung jawab kepada dirinya untuk mengantikan kedudukan para senat yang korup. 

Oktavianus Augustus adalah kaisar yang dikenal dalam sejarah bukan karena keberanian dan kecerdasanya, melainkan sebagai pemimpin yang pandai dalam memilih pembantu-pembantunya yang mempunyai sifat yang tidak terdapat dalam dirinya. Kecakapan inilah yang membuatnya mempunyai pegawai-pegawai yang sangat loyal pada setiap kebijakanya. Langkah selanjutnya yaitu melakukan standarisasi perpajakan, meskipun masih terdapat pajak untuk barang-barang yang tidak bergerak, penjualan, impor, dan barang lainya, namun beban pajak yang dikenakan pada setiap perorangan tidak terlalu memberatkan. Untuk bertugas menarik pajak, Kaisar mengangkat aparat pemerintah, penarikan pajak tersebut di jalankan seadil mungkin serta semaksimal mungkin dijalankan agar tidak menimbulkan kesengsaraan bagi rakyat.

Masa pemerintahan Augustus ini menandai dimulainya “Pax Romana” (Perdamaian Roma) yang berlangsung dan bertahan selama 2 abad (27 SM-180M), dalam hal ini Romawi mengalami fase tanpa peperangan paling lama dalam sejarah Barat, meskipun sesekali terjadi perang perbatasan seperti halnya perang yang terjadi di hutan Tautoburger pada tahun 9 M, dimana dalam peperangan ini orang-orang Barbar Jerman yang dipimpin oleh Arminius (Herman) dapat mengalahkan pasukan Romawi dan memaksa mereka menyingkir ke tepi Barat sungai Rhine. Tetapi peperangan-peperangan yang terjadi hanya dalam skala kecil tanpa dapat mengoyahkan “Pax Romana” di bawah kaisar Augustus. 

Perjalanan politik augustus hampir berlangsung selama 60 tahun, akan tetapi pada 19 August tahun 14 M, di sebuah kota kecil Campanian di sekitar Nola, Augustus meninggal. Ia selalu siap, tenang, bahagia,tidak pernah merasa ragu, dan selalu menyesali kesalahanya yang pernah dibuat sewaktu ia menjadi pemimpin kekaisaran Romawi. Permasalahan yang kemudian muncul pasca ia meninggal adalah kesulitan tentang siapa yang akan mengantikanya karena tidak terdapat aturan yang pasti tentang pemilihan pengantinya. Permasalah inilah yang akan menganggu puncak kekuasaan sampai akhir masa kekuasaan Princeps.