Tuesday, March 3, 2015

Bacaan Ringan "SEJARAH LAIN BERDIRINYA KERAJAAN ROMAWI - PART 1"

http://massandry.blogspot.com
Bisa dikatakan pada saat ini tidak ada seorangpun yang tidak mengenal bangsa Romawi. Begitu banyak catatan sejarah, peninggalan-peninggalan kehebatan bangsa ini baik itu dalam bentuk bangunan dan peradaban. Kita dapat menemukan cerita mengenai bangsa Romawi ini dalam kitab-kitab keagamaan, bahkan yang lebih hebat lagi, Al-Qur’an mencantumkan satu surat yang diberi nama Ar-Rum (Bangsa Roma).

Kita tidak akan pernah habis untuk mengulas peradaban Romawi yang merupakan induk dari berbagai macam peradaban yang kemudian lahir dan tumbuh berkembang seperti yang dapat kita temui sekarang ini. Berbagai macam versi cerita, legenda tumbuh berkembang di masyarakat dunia, khususnya di daratan Eropa. Seakan menjadi sebuah kebanggaan bagi mereka apabila terbukti secara ilmiah bahwa ternyata mereka adalah keturunan dari bangsa Romawi. Hal ini dapat kita lihat dari berbagai macam literatur sampai dengan film-film box office Hollywood yang kesemuanya seakan berlomba mengupas awal lahirnya sebuah bangsa modern dan menghubungkannya dengan kejayaan bangsa Romawi.

Lalu pertanyaannya adalah:
“Siapakah mereka yang sebenarnya, dan darimanakah mereka berasal?”

Sebuah pertanyaan yang cukup menggelitik saya untuk membuat rangkuman dari berbagai macam sumber yang ada; yang akhirnya melahirkan tulisan ini. Pasti banyak kekurangan di sana-sini, tetapi Insya Allah, tulisan pendek ini dapat menjadi sebuah pencerahan bagi kita semua. Di sisi lain, dengan mengerti sejarah Romawi Kuno ini, kita dapat sedikit banyak mengerti hubungannya dengan situasi dan kondisi dunia saat ini yang telah sedemikan rupa dimanipulasi oleh orang-orang tertentu dengan berbagai macam tujuan. Semoga kita tidak terjebak dalam sebuah kebiasaan yang jelas-jelas diadaptasi baik itu dari ritual maupun penamaan kaum pagan yang akhirnya mengurangi keimanan dan ketakwaan kita.

Awal Sebuah Legenda
Berdasarkan legenda yang ada,  kota Roma pertama kali didirikan pada 21 April 753SM, oleh dua orang kakak beradik (kembar) Romulus dan Remus. Kedua saudara kembar ini adalah keturunan pangeran Aeneas dari Troy, Yunani yang melarikan diri ke Latinum setelah kerajaannya dihancurkan oleh orang Achaean dan merupakan cucu raja bangsa latin Numitor dari Alba Longa, sebuah kota kuno di daerah Latium, Italia. Kedua saudara kembar ini adalah anak dari putri Rhea Shilivia, anak perempuan raja Numitor.

Sebagai catatan, Latium adalah sebuah daerah yang sangat subur yang diperkirakan terletak di atas bukit Alban (sekitar 19 KM dari Roma sekarang). Penduduk di sana sebagian besar berasal dari suku Latia, yang kemudian menyebut diri mereka sendiri sebagai bangsa Latin. Kemudian bahasa sehari-hari mereka, yaitu bahasa Latin,  mulai dikembangkan dan terciptalah huruf Latin, seperti yang masih dipergunakan sampai dengan saat ini. Sementara itu kerajaan Alba Longa adalah pendiri dan pemimpin dari Liga Latin yang terdiri dari sekitar 30 kampung dan suku yang mendiami daerah Latium. Sebuah penggalan yang tidak lengkap dari inkripsi kuno yang ditemukan menyatakan, Liga Latin ini terdiri dari daerah seperti Tusculum, Aricia, Lanuvium, Lavinium, Cora, Tibur, Pometia and Ardea. Saat ini, orang-orang Italia menyebut daerah Latium / Latin ini dengan nama Lazio, yang kawasannya kini juga meliputi kota Roma.

Dikisahkan kekuasaan raja Numitor digulingkan oleh adik kandungnya sendiri yang bernama Amulius. Numitor kemudian diasingkan, lalu Rhea Shilvia (ilia) diampuni nyawanya dengan diangkat sebagai pendeta perawan Vesta (Dewa Bumi). Syarat utama sebagai pendeta Vesta, Rhea harus tetap perawan. Namun, dikisahkan Rhea hamil setelah diperkosa oleh Mars, dewa perang Romawi Kuno, ini yang menyebabkan legenda mempercayai Romulus dan Remus adalah sebagai manusia setengah dewa. Kemudian atas perintah Amulius, Rhea yang telah dianggap melanggar sumpah keperawanannya bersama kedua anak kembarnya, Romulus dan Remus, dihukum mati dengan dibuang ke sungai Tiber. Ini adalah salah satu cara pula bagi Amulius untuk mempertahankan kekuasaanya, karena dia takut, jika tidak dihabisi, kedua anak tersebut kelak akan dapat mengembalikan tahta kerajaan ke tangan Numitor. Kemudian legenda mengatakan, dewa Tiberius, penguasa sungai Tiber, menyelamatkan Rhea beserta kedua anak kembarnya itu. Rhea akhirnya dinikahi oleh Tiberius, sementara Romulus dan Remus diberikan kepada seekor serigala betina jejadian, yang kemudian menyusui dan mengasuh mereka. Sewaktu dalam pengasuhan serigala jejadian ini, Romulus dan Remus ditemukan oleh seorang penggembala yang bernama Faustulus yang kemudian bersama istrinya, Acca Larentia, mengangkat dan mengasuh kedua anak ini hingga dewasa.

Legenda menceritakan bahwa Romulus dan Remus kemudian tumbuh menjadi  penggembala. Kemudian dalam sebuah peristiwa, kedua anak ini terlibat pertikaian dengan para penggembala raja Amulius yang mengakibatkan Remus tertangkap dan dihukum layaknya seorang pencuri. Pada saat itulah identitas mereka yang sebenarnya diketahui oleh Amulius. Sementara itu, Romulus berhasil mengorganisasi para penggembala lainnya untuk membebaskan Remus dari tangan Amulius. Singkatnya, pertempuranpun terjadi dan Amulius tewas terbunuh. Kemudian Romulus dan Remus dianugerahi tahta kerajaan yang memang sudah menjadi hak mereka semenjak lahir; tapi keduanya menolak dan memberikan tahta kerajaan itu kembali ke kakek mereka, Numitor. Mereka lebih memilih untuk memulihkan nama baik ibu mereka, Rhea, dan mendirikan kota mereka sendiri. Akhirnya kedua saudara kembar inipun berangkat meninggalkan Alba Longa dengan ditemani oleh sekelompok orang dengan berbagai macam latar belakang seperti buronan, budak pelarian dan mereka yang menginginkan kesempatan kedua di tempat baru dengan penguasa yang baru pula.

Kedua saudara kembar ini kemudian terlibat argumentasi di antara mereka pada saat menentukan tempat terbaik untuk mendirikan kota mereka. Romulus ingin mendirikannya di bukit Palatine sementara Remus ingin mendirikannya di bukit Aventine. Akhirnya mereka sepakat untuk menggunakan metode nujum suci dalam menentukan tempat terbaik pendirian kota mereka. Nujum itu bernama “Augury”, yaitu sebuah nujum dari kepercayaan pagan Romawi Kuno yang bertujuan untuk mengartikan kehendak Ilahi dengan menggunakan metode membaca aktivitas burung yang terbang di sekitar tempat mereka berada. Caranya adalah mereka akan mengartikan dari jenis burung, arah terbang, cara terbang (berkelompok atau sendiri) sampai dengan suara yang dikeluarkan sewaktu burung-burung itu sedang terbang. Kemudian, kedua saudara kembar inipun berdiri di atas masing-masing bukit pilihan mereka, menarik garis batas suci di antara mereka berdua dan memilih untuk memantau aktivitas burung elang dan burung bangkai sebagai tanda daerah mana yang akan dipilih oleh para dewa. Setelah melewati waktu yang ditentukan, Remus menyatakan melihat 6 ekor burung sementara Romulus menyatakan melihat 12 ekor burung. Sesuai dengan kesepakatan, mana yang lebih banyak melihat jumlah burung adalah pihak yang menang, maka Romuluspun menyatakan diri sebagai pemenangnya. Namun Remus menolak pernyataan Romulus dengan mengatakan dirinyalah yang pertama kali melihat kemunculan burung-burung itu. Dengan kesal Romulus akhirnya memperjelas batas area antara dirinya dengan Remus dengan membuat tembok dan parit di sekitar bukit Palatin. Melihat itu Remus secara diam-diam berusaha untuk melompati pagar pembatas itu dengan tujuan penghinaan. Akibatnya Remus tewas dibunuh oleh saudaranya sendiri. Di saat itu Romulus berkata : “Mulai dari saat ini, hancurlah mereka yang  melompati pagarku!”. Kemudian dengan rasa sedih dan penuh penghargaan, Romulus mengubur saudaranya Remus.

Atas saran Publius Ovidius Naso atau yang lebih dikenal dengan nama Ovid, seorang pujangga Roma yang terkenal pada saat itu, Romulus kemudian membuat sebuah Festival Hari Raya Lemuria, yang bertujuan untuk mengusir hantu Remus dari kota Roma. Hari Raya Lemuria, adalah sebuah hari raya pagan yang bertujuan untuk melakukan ritual pengusiran roh-roh jahat dan roh-roh orang mati dari rumah-rumah mereka. Ritual ini dirayakan setiap bulan May tanggal 9 dan 11, serta puncak acaranya di setiap tanggal 13 setiap tahunnya. Dengan alasan ini, orang-orang Roma pantang melangsungkan pernikahan pada bulan May, karena bulan May adalah bulan bagi kematian, sehingga lahirlah pepatah kuno Roma yaitu: “Akan Sakit Bagi Mereka yang Nikah Pada Bulan May (Mense Maio malae nubent)”. Festival Lemuria ini kemudian diadopsi oleh Paus Bonifasius IV menjadi Hari Raya Kudus umat Kristiani, yang kemudian lambat laun tanggal penyelenggaraannyapun dirubah dari tanggal 13 May menjadi setiap tanggal 1 November, setiap tahunnya.

Dengan tewasnya Remus, maka tidak ada lagi yang menghalangi Romulus untuk mendirikan kota yang diberi nama mirip dengan namanya yaitu Roma. Pendirian kota Roma ini juga sebagai awal dari tarikh kalender yang digunakan oleh bangsa Romawi (sebelum tanggalan Masehi ada), yang dikenal dengan nama Ab Urbe Condita atau AUC. Apabila dalam perhitungan Masehi kota Roma ini berdiri pada 753 SM, maka 1 AUC = 753 SM.

Setelah pendirian kota Roma, Romulus kemudian memperkokoh kotanya dengan mendirikan satuan tentara dengan mengklasifikasikan 3000 orang sebagai tentara infantri dan 300 orang pasukan berkuda (kavaleri) yang mana satuan tentara ini diberi nama “Legiun”. Kemudian dari populasi yang tersisa, dia memilih 100 orang tetua yang kaya dan dihormati yang dijadikannya sebagai dewan pimpinan kota Roma. Romulus menamakan dewan ini sebagai kaum bangsawan (patriarch), atau sebagai bapak kota Roma. Hal ini bukanlah karena status latar belakang semata dari orang-orang yang dituakan ini, tetapi karena dedikasi dan perhatian mereka yang menganggap Roma dan setiap penduduk yang tinggal di dalamnya bagaikan anak-anak mereka sendiri. Kaum ini kemudian dikenal pula dengan sebutan Senator. Dengan demikian Romulus telah mendirikan sistim hirarki pemerintahan dan sosial berdasarkan hubungan “the patron-client relationship”; yaitu sebuah hubungan bermakna yang kuasa, kaya dan prestisius (patron) dapat  menolong dan melindungi yang lemah (client).

Dengan ideologinya yang unik, Roma semakin menarik perhatian dari orang-orang seperti: orang buangan, pengungsi, penjahat, orang miskin dan budak yang melarikan diri; untuk mendapatkan kesempatan kedua, dan Romapun membuka pintunya lebar-lebar atas kedatangan orang-orang tersebut. Hal ini terbukti dengan semakin meluasnya daerah kekuasaan Roma yang meliputi bukit Palatine, bukit Capitoline, bukit Aventine, bukit Caelian dan bukit Quirinal. Palatine yang berarti surga, diadopsi ke dalam bahasa Inggris menjadi Palace, sementara Capitoline menjadi Capitol.

Permasalahan Romapun timbul, karena sebagian besar dari penduduk dan para pendatang adalah kaum pria, kota ini sepi dari kaum wanita yang siap untuk dinikahi, sehingga pertambahan penduduk secara alamipun turut terganggu. Untuk mengatasi masalah ini, Romuluspun pergi menghadap sang kakek, raja Numitor, untuk berkonsultasi.  Atas saran dari kakeknya, Romulus kemudian menyelenggarakan festival suci untuk menghormati dewa air dan laut Romawi, Neptunus.  Festival ini dihadiri oleh ribuan orang baik pria maupun wanita yang datang dari daerah Latin dan Sabine. Ketika festival itu usai, ratusan perawan Latin dan Sabine diculik dan ditawan oleh Romulus, sebuah sumber menyatakan sekitar 683 gadis, untuk dipaksa kawinkan dengan para pria Roma. Inilah yang akhirnya menjadi penyulut peperangan antara Roma dengan pihak Latin dan Sabine.