Monday, March 30, 2015

Fakta Dunia "GENGHIS KHAN - KHAGAN OF THE MONGOL EMPIRES - PART 2"

http://massandry.blogspot.com
Awal kehidupan dan keluarga
Temüjin mempunyai tiga saudara kandung bernama Khasar (atau Qasar), Khajiun, dan Temüge, juga seorang adik perempuan bernama Temülen (atau Temülin), juga dua saudara tiri bernama Bekhter dan Belgutei. Seperti kebanyakan suku nomaden dari Mongolia, awal kehidupan Temüjin sangat sulit. Ayahnya mengatur pernikahan untuknya, pada umur sembilan tahun, dia diantarkan oleh ayahnya kepada keluarga dari istrinya Börte, yang juga anggota suku yang sama seperti ibunya. Temujin harus berada disana melayani Sansar, kepala dari keluarga istrinya, sampai ia mencapai umur pernikahan yaitu 12 tahun. Ketika dalam perjalanan pulang, ayahnya bertemu dengan suku Tatars, yang sudah lama merupakan musuh dari suku Mongol, dan dia diracuni oleh makanan yang mereka tawarkan. Setelah mendengar ini, Temüjin kembali pulang untuk mengambil alih posisi ayahnya sebagai "Khan" dari sukunya; namun, suku ayahnya menolak untuk dipimpin oleh seorang anak yang begitu muda. Mereka meninggalkan Hoelun (Ibu Genghis) dan anak2xnya, meninggalkan mereka tanpa perlindungan.

Genghis Khan dan Ong Khan
Selama beberapa tahun, Hoelun dan anak2xnya hidup dalam kemiskinan, menggantungkan hidup mereka pada buah2xan liar, marmut, dan juga buruan2x kecil yang diburu oleh Temüjin dan adik2xnya. Ketika pada suatu perburuan Temüjin yang berumur 13 tahun membunuh saudara tirinya Bekhter, dalam sebuah pertarungan mengenai hasil perburuan. Insiden ini memperkuat posisinya sebagai kepala dari keluarganya.

Pada insiden lain di 1182 ia ditangkap dan dijadikan tawanan dalam serbuan dari mantan sekutu ayahnya, suku Bjartskular ("Serigala"). Suku Bjartskular menahan Temüjin (Dikabarkan dengan menggunakan belenggu), namun dengan bantuan dari pengawas yang simpatik, Ayah dari Chilaun (Yang nantinya menjadi salah satu Jendral dari Genghis Khan), ia berhasil melarikan diri dalam kegelapan malam dengan bersembunyi pada sebuah celah sungai. Pada waktu inilah Jelme dan Arslan, dua Jendral masa depan Genghis Khan bergabung dengannya. Bersama dengan saudara2xnya, mereka menyediakan kekuatan yang dibutuhkan untuk ekspansi awal. Reputasi Temüjin juga semakin terkenal setelah pelariannya dari Bjartskular.

Pada saat ini, tidak ada konfederasi dari suku2x Mongol yang bersatu secara politik, dan pernikahan sering digunakan sebagai upaya untuk memperoleh persekutuan secara sementara. Temujin tumbuh mengamati kekerasan suhu politik Mongol, yang juga berkaitan dengan peperangan antar suku, pencurian, sergapan, korupsi dan berlanjutnya pembalas dendam yang terjadi antara konfederasi2x tersebut, semua digabungkan juga dengan intervensi dari bangsa asing seperti Dinasti cina dari selatan. Ibu Temüjin, Ho'elun mengajarkan padanya pelajaran mengenai suhu politik yang tak stabil di Mongol, terutama yang dibutuhkan untuk aliansi.

Seperti diatur oleh ayahnya, Temüjin menikahi Börte dari suku Olkut'hun ketika dia berumur 16 tahun untuk memperkuat aliansi antara kedua suku mereka. Börte mempunyai empat anak, Jochi (1185–1226), Chagatai (1187—1241), Ögedei (1189—1241), dan Tolui (1190–1232). Genghis Khan juga punya banyak anak lainnya dari istri2xnya, tapi mereka semua tidak dimasukkan dalam urutan, dan catatan mengenai anak2x perempuannya tidak ada. Segera setelah pernikahan Börte's dengan Temüjin, ia diculik oleh suku Merkits, dan diceritakan diberikan sebagai istri. Temüjin menyelamatkannya dengan bantuan dari teman dan rival masa depannya Jamuka, dan pelindungnya, Ong Khan dari suku Kerait. Ia melahirkan anaknya, Jochi, sembilan bulan kemudian, mengaburkan isu atas asal usulnya. Meski ada spekulasi mengenai Jochi, Börtelah yang dipilihnya menjadi permaisurinya, meski Temüjin tetap mengikuti tradisi dengan mengambil beberapa selir lainnya.

Agama
Agama Genghis Khan dispekulasikan Syamanisme atau Tengriism, yang merupakan umum pada suku nomaden Mongol-Turkic tribes dari Asia tengah. Tapi dia sangat toleran secara agama, dan tertarik untuk mempelajari filosofi dan pelajaran moral dari agama lainnya. Untuk melakukan itu ia berkonsultasi dengan Misionaris Kristen, pedagang muslim, dan juga Biksu Tao Qiu Chuji.

Menyatukan Konfederasi
Dataran Asia (Utara Cina) pada masa Temüjin (awal 1200) terpecah menjadi beberapa suku dan konfederasi, diantara mereka adalah Naimans, Merkits, Uyghurs, Tatars, Mongols, dan Keraits, yang hanya memikirkan kepentingan mereka sendiri dan seringkali tidak bersahabat terhadap satu sama lain yang sering ditunjukkan dengan serangan2x acak, aksi pembalasan, dan penjarahan.

Temüjin memulai perjalanan panjang menuju kekuasaanya dengan menawarkan dirinya sebagai sekutu (atau, menurut sumber lain, pengikut) untuk anda (saudara yang diangkat dengan sumpah) ayahnya, Toghrul, yang merupakan Khan dari suku Kerait, dan lebih dikenal dengan sebutan Cina Ong Khan (atau "Wang Khan"), yang dianugerahkan Kekaisaran Jin untuknya pada 1197. Hubungan ini pertama kali terjadi ketika Börte ditangkap oleh suku Merkits; Toghrul lah yang dimintai bantuan oleh Temüjin. Sebagai balasan, Toghrul menawarkan 20,000 pejuang Kerait warriors dan menyarankan bahwa ia juga meminta bantuan dari teman kecilnya Jamuka, yang telah menjadi Khan (Pemimpin) dari sukunya sendiri suku Jadaran. Meski operasi itu sukses dan berhasil merebut kembali Börte dan kekalahan telak suku Merkits, Hal ini juga menyebabkan perpecahan antara kedua sahabat, Temüjin dan Jamuka. Temüjin telah mengucapkan sumpah saudara (anda) dengan Jamuka sebelumnya, dan mereka telah bersumpah untuk saling setia satu sama lain.

Musuh utama konfederasi Mongol pada 1200 adalah Naiman di barat, Merkits di utara, Tanguts di selatan, dan Jin dan Tatars di timur. Pada 1190, Temüjin, pengikutnya dan penasihat2xnya, telah menyatukan bagian kecil dari konfederasi Mongol. Dalam pemerintahannya dan penaklukannya terhadap suku2x saingan, Temüjin mematahkan tradisi Mongol dengan beberapa cara yang sangat krusial. Dia mendelegasikan kekuasaan berdasarkan pada Jasa dan Kesetiaan, daripada hubungan keluarga. Sebagai insentif untuk memperoleh kepatuhan dan mengikuti kode hukumnya, Kode Yassa, Temüjin menjanjikan penduduk dan prajuritnya atas hasil rampasan perang. Sambil ia menaklukan suku2x saingannya, dia tidak menyingkirkan prajurit2x musuhnya dan meninggalkan sisanya. Tapi, ia menempatkan suku2x yang ditaklukan tersebut dibawah perlindungannya dan mengintegrasikan anggotanya menjadi anggota sukunya. Dia bahkan meminta ibunya mengadopsi anak2x yatim dari suku2x taklukannya, membawa mereka masuk ke dalam keluarganya. Inovasi politik ini menginspirasikan loyalitas yang besar atas orang2x yang ditaklukan itu, membuat Temüjin lebih kuat dari setiap kemenangan.