Tuesday, March 3, 2015

Bacaan Ringan "TENTANG BYZANTINE EMPIRE - PART 2"

http://massandry.blogspot.com
695-867 M
Periode ini diawali gejolak politik yang disebabkan pemberontakan terhadap Justinian II yang otoriter. Silih berganti kepemimpinan di Bizantium terjadi hingga akhirnya Leo III terpilih menjadi Kaisar pada 717 M, mengawali Dinasti Isaurian. 

Dinasti ini mencatatkan sejumlah kemenangan penting terhadap bangsa Arab dan menyusun kembali kekuatan Kekaisaran yang diobrak-abrik serangan Arab, namun justru mengalami kemunduran di front barat dan harus kehilangan wilayah Ravenna serta Bulgaria.

Poin penting yang terjadi pada masa Isaurian adalah Ikonoklasme-larangan memuja atau mensakralkan benda, gambar, dan simbol tertentu. Dinasti Isaurian berakhir pada 802 M, bersamaan dengan bangkitnya "Romawi Barat" di bawah bendera Kerajaan Frank pimpinan Charlemagne.

Setelah Dinasti Isaurian, terjadi penggantian sejumlah Kaisar dan Dinasti, seperti Dinasti Nikephorian (802-813), Leo V si Armenia (813-820), dan Dinasti Phyrigian (820-867). Keseluruhan pemerintahan mereka dipenuhi perjuangan menahan ekspansi bangsa Arab, menahan serbuan Bulgaria, dan pro-kontra Ikonoklasme yang menyebabkan jurang antar Gereja Barat dan Timur semakin melebar. Pada masa Dinasti Phyrigian Bizantium terpukul mundur dan harus kembali kehilangan wilayah karena serangan Arab di Sisilia dan pulau Kreta.

Restorasi oleh Dinasti Makedonian, 867-1025 M
Naiknya Basil I dari Makedonia sebagai kaisar pada 867 M menandai sebuah titik balik dalam sejarah Bizantium. Basil I dan Dinasti Makedonia penerusnya berhasil mengonsolidasikan Bizantium kembali sebagai kekuatan utama Eropa selama 2,5 abad bertakhta. Konstantinopel kembali tumbuh pesat menjadi kota termakmur dan terbesar Eropa dengan populasi mencapai 400.000 orang.

Serangan balik dilancarkan terhadap Kalifah Abbasiyah di Timur dan berturut-turut wilayah penting seperti Aleppo, Kreta, dan Siprus berhasil direbut kembali. Kaisar Nikephoros II dilanjutkan John I Tzimiskes berhasil memperluas Kekaisaran hingga mencapai Suriah pada dekade 960-980 M. Di front barat, sebagian Italia kembali ke pelukan Bizantium, dan yang terpenting musuh kuat Bulgaria akhirnya berhasil ditaklukkan oleh Kaisar Basil II pada 1018 M.

Serangkaian prestasi non-militer juga dicatatkan oleh Dinasti Makedonian. Kaisar Leo VI berhasil membangkitkan kembali ekonomi dan perdagangan lewat reformasi administrasi sipil serta menyempurnakan kodifikasi dan penerjemahan UU Bizantium ke dalam bahasa Yunani. Agama Kristen tersebar ke Serbia, Bulgaria. dan Rusia, sehingga suku-suku di sana kembali berada di bawah pengaruh kuat Bizantium. Bizantium pun kembali memasuki era perdamaian dan keemasan di bawah Dinasti Makedonian. 

Basil II meninggal pada 1025 M, mengakhiri perjalanan Dinasti Makedonian yang cemerlang.

1025-1081 M
Keberhasilan Dinasti Makedonian tak lepas dari reformasi militer yang dicanangkan Nikephoros II, John I, dan Basil II. Tentara yang tadinya hanya milisi sipil diubah menjadi kesatuan profesional. Namun sepeningggal Basil II, tak ada pemimpin yang cakap, dan dengan cepat ekonomi Bizantium menjadi morat-marit. Militer Bizantium profesional peninggalan Basil II pun akhirnya dibubarkan untuk mengurangi pengeluaran negara, dan diganti dengan pasukan-pasukan bayaran yang dikontrak. Kekacauan dan pemberontakan menyebabkan tampuk kepemimpinan berganti dengan cepat. 

Relasi dengan barat pun mencapai titik nadir tatkala secara resmi Gereja Roma "mengasingkan" (excommunicate) Gereja Konstantinopel di timur pada 1054 M. Dengan demikian kedua gereja secara resmi terpisah. Gereja Barat kelak disebut Katolik Roma, sementara Gereja Timur disebut Kristen Ortodoks (East-West Schism).

Dan di saat yang genting inilah, muncul musuh" tangguh baru..

Robert & Roger Guiscard dari suku Norman (keturunan Viking) menyerang Sisilia dan Italia pada medio 1060-1070an (cikal bakal Kerajaan Sisilia). Kresimir IV dari Kroasia merebut kota-kota pesisir Dalmatia pada 1069, namun musuh tertangguh adalah bangsa Turki Seljuk yang merangsek dari Asia dan dengan cepat menyapu wilayah Bizantium di Timur sejak 1068 M. Puncaknya, Bizantium mengalami kekalahan akbar dalam pertempuran di Manzikert pd 1071 M dan Kaisar Romanos Diogenes ditawan oleh Sultan Alp Arslan dari Turki Seljuk. Pada 1081 M Turki Seljuk sudah menguasai hampir seluruh Asia Kecil (Anatolia), dan ibukotanya Nicaea hanya berjarak 90 Km dari Konstantinopel. Anatolia adalah bagian utama dari Bizantium, sehingga kehilangannya adalah pukulan yang sangat telak. Masi adakah harapan bagi Bizantium?

New Hope - Dinasti Komnenian, 1081-1185 M
Alexios I Komnenos naik takhta pada 1081 M. Dalam tahun-tahun awal pemerintahannya, Bizantium harus menghadapi serangan Roger Guiscard dari Sisilia, plus serbuan kaum Pecheneg dari dataran Khazar. Berkat kegigihan dan keberuntungannya (Roger Guiscard dan Sultan Seljuk meninggal pada 1085 & 1086 M) Alexios berhasil menangkal ancaman tersebut. Meninggalnya Guiscard mengakhiri serbuan Sisilia, sementara wafatnya Sultan menyebabkan perpecahan di Turki Seljuk. 

Meskipun ancaman serangan telah berakhir, namun Alexios masih punya tugas berat untuk mengembalikan stabilitas keamanan, ekonomi, dan politik yang amburadul pasca serbuan Seljuk. Untuk itu, Bizantium mutlak harus menguasai kembali Anatolia karena hampir separuh SDM dan SDA Bizantium berasal dari sana. Namun kendati Turki Seljuk telah pecah, Bizantium saat itu sudah tidak mampu melakukan operasi militer sendirian. 

Atas dasar inilah, pada Konsili Piacenza (1095 M) Alexios I meminta pertolongan Paus Urbanus II untuk membebaskan umat Kristiani di timur dari penderitaan di bawah pemerintahan Muslim dan menekankan bahwa tanpa bantuan Barat, hal ini mustahil terwujud. Alexios berharap dalih ini membuat Paus menggerakkan umat Katolik untuk "membantu" Bizantium memulihkan wilayah timur, sementara Paus berharap untuk kembali mempersatukan Gereja Barat dan Timur. Permintaan ini akhirnya terwujud dalam Perang Salib I, di mana akhirnya Bizantium berhasil memulihkan sebagian besar wilayah yang "dibuldozer" Pasukan Salib fanatik dalam perjalanannya ke Yerusalem. 

Kisah Alexios dan Bizantium pada masa ini dapat diketahui dengan detail berkat karya sastra Alexiad, roman sejarah yang ditulis oleh Putri Anna Komnenus, anak Alexios. 

Penerus Alexios, John II, melancarkan serangkaian kampanye militer untuk mengalahkan Sisilia dan musuh-musuh Barat lainnya, sekaligus memosisikan Bizantium sebagai pemimpin kerajaan" Kristen dalam Perang Salib. Pada masa Manuel I Komnenos, terjadi Perang Salib II melawan Dinasti Fatimid Mesir. 

Memanfaatkan aliansi dengan gereja & kerajaan Barat, ketiga kaisar ini mampu memosisikan kembali Bizantium sebagai kerajaan yang tangguh, dengan militer yang kuat, pertahanan yang kokoh, dan peradaban yang gemilang. Periode Komnenian bisa dibilang sebagai Rennaisance-nya Bizantium. Perdagangan dan ekonomi kembali berkembang pesat, keamanan terjaga ketat, dan hubungan dengan Barat makin harmonis sehubung posisi Bizantium sebagai pintu ke Tanah Suci. Meskipun wilayah Bizantium kini lebih kecil bila dibandingkan masa Justinian I atau Basil II, namun kekayaan harta dan peradaban Bizantium mencapai puncaknya pada masa Komnenian seiring meningkatnya hubungan internasional Bizantium-Eropa Barat.

Sayang, sepeninggal Manuel I pada 24 September 1180, Bizantium mengalami kemunduran. Andronikos I, kaisar terakhir Dinasti Komnenian dijatuhkan karena keji dan kepribadiannya tak stabil. Kebijakan awalnya untuk memberikan pos-pos penting berdasarkan seleksi, bukan status sosial / gelar sebenarnya reformatif namun ditentang para bangsawan, hingga Andronikos memutuskan untuk membasmi para aristokrat. 

Andronikos juga menerapkan kebijakan anti-Latin, membasmi seluruh penduduk asal Eropa Barat di Konstantinopel yang jumlahnya puluhan ribu, sehingga hubungan manis Bizantium-Eropa Barat hancur seketika.