Wednesday, March 4, 2015

Bacaan Ringan "SEJARAH ASAL USUL BANGSA JERMAN DAN PERKEMBANGAN NYA - PART 4"

http://massandry.blogspot.com
Akhir Abad Pertengahan –Masa Krisis
Abad pertengahan merupakan masa penuh gejolak dan krisis, kebangkrutan ekonomi dan otomatis perpecahan sosial. Namun yang terburuk adalah wabah penyakit pes yang merajalela, yang sering disebut  Der Schwarze Tod “sakaratul maut kelam”. Pada abad ke-14 wabah ini menyebar ke seantereo benua Eropa dalam beberapa gelomabng dan menghabiskan hampir seluruh penduduk di sebagian daerah.

Peristiwa keagamaan terbesar pada zaman ini adalah konsili paripurna di Konstanz. Lebih dari 3 tahun lamanya 29 Kardinal, sekitar 300 Uskup dan Monsinyur, 150 Raja dan kaum bangsawan bersidang di sebuah kota di Danau Konstanz, yang dipimpin raja Jerman Sigismund dalam rangka penetapan entitas dari Yesus Kristus. Tapi mengapa justru dipimpin oleh Raja dan bukan oleh Paus? Bukankah pemimpin tertinggi gereja adalah Paus? Masalahnya adalah bahwa sejak tahun 1490 terdapat tiga Paus. Sidang memutuskan dengan cara Voting (karena perseteruan dan kebuntuan), sang reformator Jan Hus, yang menuntut dikembalikannya kepapaan apostolos (Yesus Kristus) dan dengan pedas mengkritik lembaga kepausan, sebagai murtad akhirnya menjalani hukuman mati dengan dibakar tanggal 6 Juli 1415. Ketiga Paus yang saling berseteru di Konstanz dipecat dan kemudian siding memilih seorang pemimpin baru gereja yang diakui oleh semua pihak: Martin V. 

Abad 15 – Zaman yang Kondusif untuk Ilmu Pengetahuan dan Seni
Setelah masa pengap di akhir abad pertengahan, kerajinan tangan, ilmu pengetahuan dan seni mulai hidup lagi pada pertengahan abad 15.

Di Mainz, Johannes Guttenberg menemukan mesin cetak dengan leter bergerak,
Peter Henlein membuat konstruksi jam saku untuk pertama kali, 
Galileo Galilei dan Astronom Nikolaus Kopernicus berpendapat bahwa yang menjadi pusat tata surya kita adalah matahari dan bukanlah bumi (pendapat ini sangat ditentang gereja pada saat itu),
Albrecht Dürer salah seorang pelukis dan perupa ternama dalam sejarah seni Jerman untuk pertama kali mencantumkan inisial namanya dengan “AD”, yang sebelumnya belum pernah dilakukan oleh para pelukis di abad pertengahan, 

Ulrich von Hutten, philosof keturunan bangsawan Prancis ini memang dipuja dimana-mana, namun karena peringatannya terhadap bangsa Jerman agar menjaga persatuan dan kesatuan serta menghindari perang saudara, karena pamfletnya tentang keburukan gereja dan lembaga kepausan, Hutten kehilangan simpati dari semua pengikutnya, sehingga terpaksa harus melarikan diri ke Swiss.

Martin Luther
Seorang biarawan kecil yang mampu mengguncang kepercayaan penganut katolik. Martin Luther. Dalam 95 Thesisnya pada tahun 1517, ia membeberkan pandangan surat pembebasan dosa oleh gereja katolik. Dinasti Habsburg, yang sedang berkuasa merasa dikritik secara pedas. Bahwa orang bisa mensucikan jiwanya dengan uang, itulah yang sangat ditentang Martin Luther. walaupun ia tidak menempelkan sendiri tesisnya di pintu gereja istana Wittenberg, seperti kisah legenda, dampaknya tetap saja dahsyat. tesisinya itu merupakan cikal bakal refomasi di seluruh Eropa. Surat pembebasan doa yang diperdagangkan ini hanyalah pemicu. Lutter mengembangkan kritik semacam itu terhadap gereja katolik dan terutama terhadap Paus.

April 1521 Lutter dipanggil menghadap Karl V (sang kaisar dari keluarga Habsburg yang berkuasa di Jerman) di Worms. Namun siapa yang mengira bahwa biarawan keras kepala ini akan menganulir kritiknya, jelas keliru besar. Luther tetap saja pada pendirian yang telah diucapkan dan ditulisnya. Bagi gereja ia memang sejak dahulu sudah dianggap murtad, sekarang sang kaisar Karl V memperjelas statusnya menjadi penjahat tanpa perlindungan hukum. Namun berbeda dari Jan Hus di Konstanz, Luther tiba di Worms dengan selamat dan mendapatkan perlindungan dari Adipati Fridrich dem Weisen dari Sakson. 

Di sana ia menerjemahkan injil ke dalam bahasa Jerman. Skandal sungguh-sungguh menjadi lengkap, ketika Martin Luther membangun sebuah keluarga dengan menikahi mantan biarawati Katharina von Bora tanggal 13 Juni 1525. Karena status lajang seorang pastor tidak bisa diterima oleh sang reformator “Martin Luther” yang semakin banyak pengikutnya ini. Sejak saat itu umat protestan dan katolik di Jerman saling bermusuhan satu sama lain. Perang pun berkecamuk selama 30 tahun lamanya yang memakan korban sangat banyak dan diakhiri dengan perjanjian perdamaian di Ausburg tahun 1555. Umat protestan dan katolik bersepakat bahwa penguasa setempat yang boleh menentukan agama yang dianut penduduk di wilayahnya. Kaum bangsawan dan priyai bebas memilih agama apa yang mereka anut, namun tidak demikian halnya dengan rakyat jelata, mereka harus mengacu pada pimpinan masing-masing.

Perang 30 tahun berdampak hancurnya demikian banyaknya kota dan desa, dan kepedihan yang tak terperikan. Meskipun sudah terjadi perjanjian perdamaian akan tetapi perdebatan mengenai agama di Eropa belum juga berakhir. Raja Ludwig XIV dari Perancis memberlakukan sebuah keputusan beragama bagi kaum Hugenott, yaitu julukan bagi kaum protestan di Perancis. Mereka dihadapakan pada pilihan, bertobat dan pindah ke agama katolik atau meninggalkan Prancis. Di seberang sana, di Berlin, Raja Fridrich Wilhelm von Brandenburg yang mendengar terhadap penistaan terhadap saudara seimannya menjadi sangat marah. Namun ia juga melihat tragedi pengusiran orang-orang ini sebagai sebuah kesempatan bagi negerinya yang hancur lebur dan kehilangan banyak penduduk selama perang 30 tahun tersebut. Orang-orang, terutama orang yang terlatih, para pengerajin ulung, baginya adalah harta yang amat berharga. Raja Fridrich Wilhelm mengundang mereka untuk datang kepadanya. 

Pada tahun 1683 Raja Fridrich Wilhelm (sang kaisar) bermukim di Wina. Kota yang terletak di tepi sungai Donau ini (sekarang Austria) berada dalam bahaya besar karena bangsa Turki menyerang mereka, namun mereka dapat dipukul mundur oleh sang kaisar, ketika melarikan diri, bangsa Turki tidak hanya meninggalkan senjata mereka, permadani mahal dan barang pecah belah, namun juga berkarung-karung biji kopi. Dan jika orang jerman dan Austria sekarang lebih banyak minum kopi daripada orang manapun di belahan  daunia lainnya, maka itu terutama berkat mantan musuhnya yang ketika itu melarikan diri sambil meninggalkan sumber kenikmatan berharga ini, yaitu “kopi”.