Tuesday, March 3, 2015

Bacaan Ringan "HISTOGRAFI EROPA KUNO - YUNANI KUNO - PART 2"

http://massandry.blogspot.com
Negara-negara kota Yunani yang tidak bisa mengatasi permasalahannya dimanfaatkan oleh Macedonia untuk menguasai Yunani. Macedonia adalah sebuah negeri yang tandus dan memiliki kebudayaan lebih terbelakang dari Yunani. Namun saat diperintah oleh Philip II pada tahun 359-336 SM Macedonia mengalami pembaharuan. Philip II memperbaiki kerajaannya, terutama angkatan darat. Rakyat Macedonia dilatih untuk menjadi prajurit-prajurit yang disiplin dan setia. Philip II adalah seorang negarawan pada abad ke-4 SM yang merasa prihatin atas terjadinya peperangan di antara Negara-negara kota Yunani yang berlangsung hampir 100 tahun. 

Philip II berusasha mengakhiri kemelut Negara-negara kota Yunani dan memaksa bergabung dalam sebuah persatuan. Persatuan tersebut dapat mengantisipasi kemungkinan timbulnya gerakan yang dilakukan oleh kota-kota tersebut. Setelah Philip II tewas, anaknya yang bernama Alexander (yang dikenal dengan nama Iskandar di Asia) berhasil menumbangkan kerajaan Persia dan sampai juga ke daerah India. Alexander diketahui adalah murid dari Plato dan terinspirasi darinya. Namun Alexander menolak pemikiran Plato yang menitik beratkan kepada pemikiran imajinatif. Setelah kekuasaan Alexander berakhir, panglimanya membagi-bagikan kerajaan yang telah dibentuknya. Para panglima yang merasa tidak cukup kuat akhirnya membentuk persekutuan liga untuk mempertahankan diri. Satu diantaranya adalah liga Aelia yang dengan gegabah meminta bantuan kepada kerajaan Romawi. Tindakan itu mengakibatkan Yunani menjadi provinsi Romawi pada tahun 146 SM.

Kata Romawi berasal dari nama kakek moyang bangsa Romawi, yaitu Remus dan Romulus. Roma didirikan pada sekitar tahun 1000 SM oleh bangsa yang memakai bahasa Indo-Eropa. Titik pertama sejarah Roma terjadi sekitar tahun 650 SM. Ketika bangsa Etruscan, yang bergerak ke selatan dari Tuscany, menundukkan desa-desa yang didirikan disepanjang sungai Tiber. 

Etruscan kemudian mempersatukan desa-desa disekeliling Roma kedalam satu Negara kota yang diperintah oleh seorang raja yang kuat. Penduduk dibagi kedalam dua golongan, yaitu golongan Patricia (bangsawan dan orang kaya) dan golongan Plebeia (penduduk golongan rendah dan miskin). Golongan Patricia masih dibagi kedalam klan-klan, sedangkan golongan Plebeia keberadaannya diluar klan. Bangsa Etruscan juga mengajarkan ketrampilan teknik yang dapat menambah kemakmuran bercocok tanam, ketrampilan berdagang, dan ketrampilan memproduksi barang (manufaktur) (Soetopo, 1992:44). Pada tahun 509 SM Roma menyatakan bergabung dengan kaum pemberontak dan menyerang bangsa Etruscan. 

Dari pemberontakan tersebut Roma berhasil menumbangkan kekuasaan bangsa Etruscan. Kedudukan raja diganti dengan dua orang konsul yang dipilih dari golongan Patricia setiap tahun sekali. Revolusi ini menandai awal terbentuknya pemerintahan republik Roma.

Pada tahun 509 – 350 SM merupakan masa yang menentukan bagi Roma. Karena beberapa wilayah yang dahulu dikuasai bangsa Etruscan saling memperebutkan warisan. Keadaan kacau diperparah dengan masuknya pendatang asing ke Italia, yaitu Gaul sekitar tahun 400 SM. Dengan begitu Roma menjadi kancah perang.  Berkat dukungan dan pengorbanan warga negaranya, Roma mampu mempertahankan diri dari kehancuran. Untuk mempertahankan kesetiaan rakyat dari daerah yang berhasil ditaklukannya, Roma memperkenankan beberapa kelompok untuk menjadi warga Negara Roma. Sedangkan beberapa kelompok yang lain masih diberi kebebasan mengurus pemerintahannya di dalam negeri.

Semenjak Etruscan disingkirkan Roma, kekuasaan politik jatuh ketangan aristrokat dari golongan Patricia, dan mereka Nampak ingin mempergunakan kekuasaan untuk kepentingan pribadi. Sedikit demi sedikit kaum Plebeia memperoleh hak dan kekuasaan yang lebih besar untuk berperan dalam pemerintahan kota. Mereka diperkenankan memasuki dinas militer. Kaum plebeia diperkenankan oleh pemerintah menikah dengan kaum Patricia, hasil dari perubahan politik dan sosial ini dapat diamati pada keadaan pemerintahan Roma pada tahun 265 SM (Soetopo, 1992:47). Sebuah lembaga baru, dibentuk untuk menampung suara seluruh warga Negara guna mengawasi atau mengarahkan kekuasaan golongan minoritas Patricia. Pada tahun 265 SM pemerintahan republik Roma meletakkan kekuasaan pemerintahan ke tangan rakyat. Namun dalam prakteknya diperintah oleh sekelompok Aristokrat yang kaya. Para Aristokrat ini mengontrol secara mutlak dua bagian pemerintahan, yaitu Magistrat dan Senat (lembaga penasehat). Magistrat dipimpin oleh dua orang konsul yang membawahi urusan sipil dan militer. Lembaga senat lebih berkuasa daripada Magistrat. Senat merupakan lembaga penasehat, yang bertugas membuat kebijaksanaan politik dalam Negara.

 Sesudah tahun 265 SM Roma berkuasa dan telah merubah posisi di kawasan sekitar Laut Tengah. Perhatian dan tenaga Roma dicurahkan kepada pembangunan kekuatan Roma diantara Negara lain di Laut Tengah yaitu dengan menaklukkan dan memasukkannya ke dalam wilayah imperium yang luas.Serangan pertama antara Roma dan Carthago di Afrika merupakan peristiwa yang menetukan. Carthago merupakan salah satu pesaing tangguh Roma yang telah menjalankan pemerintahannya sendiri sejak Phoenisia ditaklukan oleh Assyria pada abad ke-8 SM. Pada tahun 256 SM, Carthago berusaha mengambil alih Negara kota Yunani yang terletak di Sisilia kedalah wilayahnya. Salah satu dari kota-kota itu mengadukannya kepada Roma. Pada awalnya Roma kurang menanggapi masalah tersebut. Namun pada akhirnya Roma memutuskan untuk membantu Negara kota Yunani di Sisilia, karena letak benteng Carthago yang begitu dekat dengan wilayah Roma merupakan ancaman yang serius.

Perang Punic pertama terjadi pada tahun 264-241 SM antara Carthago dan Roma yang memperebutkan Sisilia. Melihat pada kekuatan armada laut Roma yang kuat, Carthago mengajukan perdamaian tahun 241 SM. Berdasarkan perjanjian damai tersebut Roma memperoleh Sisilia dan menerima sejumlah uang kompensasi. Meskipun perjanjian damai telah disepakati, namun permusuhan antara kedua belah pihak belum juga usai, hingga pecah pada perang Punic kedua pada tahun 218-201 SM. Pada perang Punic kedua ini Roma memperoleh kemenangan dengan Carthago diminta untuk menyerahkan Laut Spanyol, membayar harta rampasan perang selama 50 tahun, dilarang mengadakan perang di Afrika dan diluar Afrika tanpa seizin Roma. Dengan demikian Carthago menjadi sebuah Negara kecil, dan Roma menjadi tuan rumah di Laut Tengah sebelah barat.
Pada tahun 146 SM Yunani masuk kedalam kekuasaan Romawi. 

Dengan demikian Roma menguasai Yunani secara politik. Namun sebaliknya, kebudayaan Yunani menguasai Romawi. Mitologi Yunani menjadi bagian dari kebudayaan Romawi. Kebesaran Roma lambat laun mengalami kemunduran, akibat perebutan kekuasaan antara para consul seperti yang terjadi antara Caesar, Pompeius, dan Crassus pada tahun 60 SM. Ketiga orang ini dikenal dengan Triumvirat. Julius Caesar dipilih menjadi konsul pada tahun 59 SM. Setelah menyelesaikan tugasnya sebagai konsul, Caesar pergi ke Gaul sebagai prokonsul pada tahun 58-49 SM dan berhasil memasukkan wilayah tersebut ke dalam imperium Roma. Setelah Crassus meninggal dalam pertempuran di Mesopotamia tahun 53 SM, pertikaian antara Caesar dan Pompeius tidak bisa terhindarkan lagi. Pompeius berusaha merangkul senat dan menyingkirkan Caesar, namun Caesar terlebih dahulu menguasai Peninsula (semenanjung Italia) dan Pompeius melarikan diri ke Mesir dan dibunuh oleh orang Mesir yang ingin memperoleh keuntungan dari kemenangan Caesar pada tahun 48 SM. 

Akhirnya Julius Caesar menjadi penguasa tunggal Romawi. Caesar ingin mengubah pemerintahan Republik yang lama untuk membangun Roma yang baru. Namun hal ini banyak menimbulkan pertentangan dari golongan Aristokrat yang sadar akan keinginan Caesar untuk menghancurkan sistem pemerintahan republik terdahulu. Mereka berusaha untuk menghentikan langkah-langkah Caesar dengan cara membunuh Caesar, saat Caesar memasuki ruang sidang senat. Sesudah Caesar tebunuh tercipta perselisihan antara dua konsul yang lain, yaitu Octavianus dan Antonius yang menjabat sebagai panglima. Sesudah kemenangan Octavianus di Actium pada tahun 31 SM ia dinobatkan sebagai Imperator dengan nama penobatan Augustus dan pemerintahan republik di Roma. Imperator tersebut dinamakan imperator dari dinasti Julio Claudius yang memerintah hingga tahun 192 M (Mangoenrahadjo, 1976:7). Pada tahun 337 M, Roma dibagi menjadi dua Imperium yaitu, bagian barat dengan ibukota Roma, dan bagian timur dengan ibukota Constantinopel. Akhirnya imperium barat runtuh pada tahun 476 M karena invasi bangsa Huna dari Asia, sedangkan imperium Timur dikalahkan oleh bangsa Turki pada tahun 1452 M.

Daftar Rujukan

Adisusilo, Sutarjo. 2007. Sejarah Pemikiran Barat.Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.
Mangoenrahardjo, Soetomo. 1976. Mitologi Yunani-Romawi. Jakarta: Tarate Bandung.
Soetopo. 1992. Sejarah Eropa I. Malang: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Malang
Sudrajat. 2010. Yunani Sebagai Icon Peradaban Barat. 8 (1). (Online),