Tuesday, March 3, 2015

Bacaan Ringan "SEJARAH PERADABAN BARAT PERIODE KLASIK - PERTENGAHAN - PART 2"

http://massandry.blogspot.com
Sejarah membuktikan bahwa pada abad ke-6 SM, bangsa Yunani telah memiliki manusia-manusia yang mampu berspekulasi tentang alam dan cara kerjanya. Thales adalah orang yang diakui oleh Aristoteles sebagai filosof pertama Yunani. Filsafat semakin pesat berkembang di Yunani melalui kiprah para filosof kenamaan, seperti Socrates, Plato, dan Aristoteles. Socrates memperkenalkan kesadaran sebagai intensi dan penyandaran timbal balik antara bentuk kesadaran dan substansi kesadaran, Plato memperkenalkan istilah noese (bentuk), sedangkan Aristoteles memperkenalkan istilah noeme (materi). Dari trio Yunani inilah lahirnya aliran pemikiran formalisme, materialisme dan filsafat kehidupan. Dengan demikian, dapat ditegaskan bahwa dari para filosof inilah yang mendasari kemajuan ilmu pengetahuan dan peradaban Barat hingga saat ini.

Pada abad ke-5 S.M, Yunani sudah sangat terkenal, terutama di daerah Athena, kemudian diikuti Sparta dan Thebes. Sebuah semangat kebebasan dan kasih yang membara, membuat Yunani dapat mengalahkan bangsa Persia sebagai bangsa adikuasa saat itu dalam peperangan yang sangat terkenal, yaitu Marathon, Termopylae, Salamis dan Plataea.

Pada paruh kedua abad ke 4 S.M, banyak daerah-daerah bagian Yunani membentuk Aliansi (Cœnon of Corinth) yang dipimpin oleh Alexander Agung sebagai Presiden dan Panglima dari Aliansi serta Raja dari Macedonia yang menyatakan perang dengan Persia, membebaskan saudara-saudara mereka yang terjajah di Ionian, dan ingin menguasai daerah-daerah strategis. Dari hasil perang ini nantinya menghasilkan masyarakat yang berkebudayaan Yunani, mulai dari India Utara sampai Laut Tengah barat dan dari Rusia Selatan sampai Sudan.

Setelah mengalahkan bangsa Persia, bangsa Yunani telah mencapai puncak kejayaannya. Namun setelah itu, Yunani mulai memasuki masa-masa kesuramannya, di mana antara mereka sudah sering saling memangsa satu dengan lainnya. Kondisi ini akhirnya memicu munculnya konflik internal di antara mereka, dan akhirnya terjadilah perang Peloponnesian antara kaum Sparta dengan Athena. Perang tersebut berlangsung selama kurang lebih 30 tahun, dan berakhir dengan kemenangan kaum Sparta. Akibat kekalahan perang itulah, Yunani kehilangan pamor kekuasaannya sehingga kejayaannya runtuh.[5]

Dari peradaban Yunani tersebut, terdapat peninggalan berharganya berupa dua tradisi pada pemikiran Barat. Tradisi ini bangkit kembali selama masa renaissance, dan sejak saat itu selalu memberikan warna pada perkembangan pemikiran Barat. Tradisi pertama adalah kepercayaan terhadap kemampuan akal dan pemikiran dalam menjelaskan segenap gejala yang ada. Tradisi kedua adalah pemisahan agama dari segenap ilmu pengetahuan serta pemisahan agama dari lembaga-lembaga sosial dan politik. Keberadaan agama saat itu dikesampingkan, atau hanya di susun untuk melayakkan dan memberikan legitimasi terhadap bentuk-bentuk pemikiran.[6]

Berlandaskan pada dua tradisi tersebut, terbentuklah inti filsafat Barat kontemporer. Meskipun demikian, peranan Yunani hanya sampai pada pentahbisan belaka, sedangkan perkembangan dan pelembagaan tradisi-tradisi itu dalam filsafat Barat mulai mekar dan berkembang sejak masa-masa renaissance dan reformasi.

Setelah berakhirnya kekaisaran Yunani, perlahan-lahan mulailah muncul kekuasaan baru pada bangsa Romawi. Sebenarnya negara bagi bangsa Romawi telah terbentuk sejak abad ke-5 SM, yang diberi nama dengan Roman Republic. Ketika Alexander Great (Dzulkarnain) masih berkuasa di penghujung kekuasaan Yunani, bangsa Romawi masih belum memiliki power yang signifikan. Namun saat Alexander Great wafat dan Yunani mengalami konflik yang berkepanjangan, bangsa Romawi mulai bangkit. Menurut catatan sejarah, bangsa Romawi pertama kali belajar tentang kebudayaan dan kemudian ia sendiri mengambil bagian dalam menciptakan kebudayaan cemerlang di era itu, tempatnya adalah Greek World belahan Barat Mediteranea.

Selama berabad-abad bangsa Romawi hidup dalam negara yang berbentuk republik tradisional, dan berakhir sekitar 450 tahun setelahnya. Adapun basis penopang kehidupan ekonomi bangsa Romawi adalah pertanian. Lahan pertanian mereka sangat terbatas sehingga memaksa mereka mencari lahan di luar negeri mereka. Hal ini menjadi salah satu penyebab bangsa Romawi melakukan berbagai penaklukan dan ekspansi daerah lain secara agresif. Seperti halnya Yunani, bangsa Romawi juga memiliki system kemiliteran yang mampu membentuk sumber daya manusia yang handal. Setiap warga negara laki-laki yang sehat jasmani dan rohani harus siap memasuki dinas militer ketika diperlukan. Setiap infantri harus bertugas selama 16 tahun, walau tidak sepanjang tahun. Lantaran kekuatan militer inilah, Romawi sering memenangkan perang terhadap lawannya dan hal ini pula yang menyebabkan luasnya wilayah kekuasaan kekaisaran Romawi.

Pada saat perang Punic atau Phoenician, Romawi membangun kekuatan angkatan laut yang tangguh dan berakhir dengan memperoleh kemenangan pada tahun 241 SM. Kemenangan demi kemenangan yang diperoleh Romawi sehingga mempermudah mereka untuk menyebarkan peradaban hellenistik Barat. Namun, setelah banyaknya muncul konflik internal, kekacauan pada sector ekonomi, gangguan dari kaum bar-bar, korupsi, pertentangan kelas, perbudakan, kristenisasi, dan ditambah lagi dengan serangan yang dilakukan kaum Goth dari Jerman secara terus-menerus, akhirnya kekaisaran Romawi runtuh.

Selama periode 248 sampai 476, peradaban Romawi sangat kuat dipengaruhi oleh ide-ide despotisme, pandangan hidup pesimisme, dan fatalisme dari Timur pra Islam. Ketika kesulitan ekonomi dan kemunduran kebudayaan, manusia kehilangan gairah terhadap kepentingan kehidupan duniawi dan mulai merindukan kebahagiaan hidup setelah mati. Perubahan sikap hidup ini terjadi bersamaan dengan perkembangan agama Timur di Barat, terutama Kristen. Ketika kekaisaran Romawi betul-betul hancur, kemenangan orientalisme mencapai kesempurnaannya. Sebagai hasilnya, terjadilah evolusi sebuah peradaban baru yang tersusun dari elemen yang berasal dari Greece dan Romawi, namun agama sebagai faktor dominan dalam pencapaiannya. Akhirnya, secara bersamaan, tiga peradaban baru serentak muncul, yaitu peradaban Eropa Barat, peradaban Bizantium dan peradaban Saracens pada awal abad pertengahan.[7]

Periode Pertengahan Peradaban Barat
Istilah abad pertengahan seringkali dianggap sebagai kata yang rendah derajatnya, terutama dalam kamus-kamus abad modern. Kata itu tidak hanya menunjukkan keterbelakangan dan penindasan terhadap aneka kebebasan, namun juga kebuasan dan teror keagamaan. Ada beberapa alasan atau faktor penyebab terjadinya kondisi seperti itu, di antaranya: tendensi gereja untuk mewujudkan dominasi yang totaliter, ide-ide yang bertentangan dengan dogma gereja, penerapan kebencian terhadap adat secara ekstrim yang hanya dilandasi prasangka belaka, dan sebagainya.

Gejala pertama muncul sejak kekaisaran Romawi yang menganut agama Kristen runtuh sampai akhir abad ke 4 M. Hal ini menyebabkan gereja tumbuh lebih kokoh dan mendominasi kehidupan Barat sampai 10 abad berikutnya. Orang-orang Kristen yang sangat tertindas selama era paganisme, memunculkan kembali kebiasaan menindas itu di antara mereka sendiri. Usai tampil sebagai penguasa dalam kekaisaran Romawi, mereka mulai menyerang lawan-lawannya, sungguhpun mereka adalah pemeluk-pemeluk Kristen. Berkaitan dengan perubahan drastis pada sikap kebebasan itu, H.J. Muller[8] menyatakan: “Tatkala orang-orang Kristen memperoleh kejayaan, mereka langsung tidak mempercayai kebebasan agama. Mereka menghendaki agar kebebasan agama itu hanya milik mereka saja. Mereka pun mulai menindas pemuja-pemuja patung dan orang-orang Yahudi untuk kemudian disusul dengan tindakan keras terhadap orang-orang kristen yang melakukan penyimpangan. Kebebasan pemikiran agama dan kesadaran untuk mengamalkannya diredam dengan ketegasan dan kejelian yang tidak dikenal dalam sejarah sebelumnya”.

Hilangnya semangat toleransi tersebut berlangsung selama 1000 tahun. Intoleransi itu tidak hanya terbatas pada agama saja, tetapi juga diterapkan pada sebagian besar aspek kegiatan pemikiran. Selain itu, pemberian hukuman yang keji dan ekstrim terhadap orang-orang yang dicurigai serta dituduh tidak sejalan dengan dogma gereja adalah corak reputasi abad pertengahan yang mengerikan.[9]