Tuesday, March 3, 2015

Bacaan Ringan "SEJARAH PERADABAN BARAT PERIODE KLASIK - PERTENGAHAN - PART 3"

http://massandry.blogspot.com
Meski dominasi gereja, penindasan pandangan yang berlawanan dan hukuman yang ekstrim, kegiatan pemikiran intelektual saat itu tidak mati, bahkan tetap tumbuh subur. Pencapaian kebijakan St. Augustinus, argumen ontologis St. Anselmus serta kristenisasi filsafat Aristoteles yang dipelopori oleh St. Thomas Aquinas adalah contoh-contoh kegiatan pemikiran teologis yang berkembang subur selama adab pertengahan. Bahkan menurut Hassan Hanafi,[10] St. Augustinus pada waktu itu mampu menggagas filsafat yang menjadi prototipe filsafat Kristen Yunani dan Latin pada masa yang dikenal dengan sebutan Bapak Gereja. Selain itu, filsafat St. Augustinus juga dianggap menjadi “guru” bagi filsafat pasca Augustin, seperti filsafat skolastik, modern maupun yang kontemporer. Oleh karena itu, perlu ditegaskan bahwa sungguhpun pemikiran filsafat dan keilmuan yang secara langsung bertentangan dengan dogma gereja sangat ditekan, namun berbagai ilmu pengetahuan yang terimplikasi dari filsafatnya yang tidak bersifat antagonistik, dapat mengenyam kebebasan yang lebih longgar.

Meskipun demikian, fakta tetap menunjukkan bahwa pada abad pertengahan memendam suatu tragedi pertikaian antara agama dan ilmu pengetahuan. Begitu kerasnya suasana saat itu, sehingga keberadaan seseorang tidak dapat dijamin keselamatannya kecuali dengan saling menyingkirkan satu dengan lainnya. Sebagaimana dapat dilihat pada abad setelahnya, seperti pertikaian yang terjadi pada saat keruntuhan museum Alexandria, peristiwa Erigena dan Wicliff, penolakan keras ahli-ahli bidat abad ke 13 terhadap pemikiran dan penafsiran yang scriptural. Namun, tidak sampai masa Copernicus, Kepler serta Galileo bahwa upaya-upaya ilmu pengetahuan yang tidak dapat dikendalikan lagi telah menembus penghambaan yang membelenggu. Secara bertahap, memang muncul suatu pertentangan antara gereja dan ilmu pengetahuan. Jika lahir suatu kemajuan atau perkembangan, maka keduanya mesti dipisahkan. Konsep inilah yang terpaku dalam benak Barat, yang pada akhirnya menjadi dogma mereka.

Abad ke 14 menjadi saksi awal era baru dalam sejarah Eropa, yang kemudian dikenal dengan istilah renaissance. Setelah berabad di landa kemunduran filsafat dan kemandegan pemikiran, Eropa mulai bangkit secara perlahan dan bertahap melepaskan diri dari genggaman gereja untuk kemudian meraih kembali peradaban Yunani dan Romawi. Filosof-filosof dan para ilmuan renaissance tidak menebarkan aksi pemberontakan secara terbuka, tetapi dengan penuh waspada dan hati-hati mereka menabur benih-benih pencerahan. Pemberontakan terhadap kepercayaan ortodoks di Barat terus berlanjut dan berubah menjadi penolakan total terhadap agama.

Renaissance mencapai puncaknya selama masa pencerahan. Ide atau konsep-konsep yang kuncup pada masa lalu mekar kembali. Ketika itu mulailah tampak kegemilangan Barat yang mendapat pengaruh dari peradaban Yunani dan Romawi. Muncul berbagai isme yang mengukuhkan diri sebagai pengganti kekuasaan ortodoks dan pemikiran pendeta sehingga akal memperoleh kembali kejayaannya. Adapun isme yang muncul dimaksud, seperti: materialisme, rasionalisme dan empirisme.

Pengalaman Eropa selama periode renaissance dan pencerahan telah melahirkan asumsi baru dalam pemikiran Barat, diantaranya:

Kebebasan berpikir dan kemajuan ilmu tidak akan berpengaruh kecuali dengan menundukkan gereja dan merebut dominasi agama tradisional.
Penemuan keilmuan sering berlawanan dengan beberapa pemikiran keagamaan.
Ilmu dan pengetahuan berjalan seiring dengan kebebasan.
Dalam beberapa aspek, agama identik dengan totaliterisme dan pemenggalan terhadap aneka kebebasan.
Akal manusia tidak terbatas dan sanggup menguak sebagian besar gejala yang ada.[11]
Walaupun abad pertengahan merupakan masa yang suram pada dunia Barat, namun sedikit banyaknya tetap memiliki peran dan andil dalam mengusung peradaban Barat modern hingga saat ini.

C.  Penutup
Berdasarkan uraian pada bagian di atas, dapat disimpulkan makalah ini sebagai berikut:

Peradaban Barat adalah peradaban yang berasal dari Yunani dan Romawi, karena kedua wilayah tersebut merupakan wilayah asli bagian Barat. Adapun daerah yang menjadi tempat lahirnya peradaban Yunani adalah daerah Ionia di Asia Kecil dan disusul dengan daerah Athena. Sedangkan daerah Romawi yang menjadi tempat lahirnya peradaban adalah kota Roma.

Orang-orang yang dianggap paling berjasa dalam pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya pada bidang filsafat adalah Thales, kemudian dilanjutkan oleh filosof kenamaan yang bernama Socrates, Plato, dan Aristoteles. Mereka itu dianggap menjadi dasar kemajuan ilmu pengetahuan dan peradaban bangsa Barat hingga saat ini.

Dua tradisi pemikiran Barat yang diwariskan oleh Yunani, yaitu kepercayaan terhadap kemampuan akal dan pikiran dalam menjelaskan segenap gejala yang ada; serta pemisahan agama dari segenap ilmu pengetahuan, lembaga sosial dan politik. Berlandaskan pada dua tradisi tersebut, terbentuklah inti filsafat Barat kontemporer.

Peradaban Romawi kembali pada abad pertengahan setelah masa renaissance. Kebangkitan itu ditandai hilangnya dominasi gereja dan mulai berkembang filsafat dan ilmu pengetahuan lainnya. Isme yang Berjaya pada saat itu adalah materialisme, rasionalisme dan empirisme.

DAFTAR PUSTAKA
Altwajri, Ahmed O., Islam, Barat dan Kebebasan Akademis, terj. Mufid, Yogyakarta: Titian Ilahi Press, 1997

Azra, Azyumardi, Konflik Baru Antar Peradaban; Globalisasi, Radikalisme & Pluralitas, Jakarta: RajaGrapindo Persada, 2002.

Bury, J. B., A History of Freedom of Thought, London: Oxford University Press, 1952.

Daya, Burhanuddin, Pergumulan Timur Menyikapi Barat; Dasar-dasar Oksidentalisme, Yogyakarta: Suka Press, 2008.

Hanafi, Hassan, Oksidentalisme, Sikap Kita Terhadap Tradisi Barat, Jakarta: Paramadina, 2000.

Muller, H. J., Freedom in The Ancient World, New York: Harper & Broters, 1961

Tamara, M. Nasir, dan Elza Peldi Taher (ed), Agama dan Dialog Antar Peradaban, Jakarta: Paramadina, 1999.

[1] Olaf Schumann dalam M. Nasir Tamara dan Elza Peldi Taher (ed.), Agama dan Dialog Antar Peradaban, (Jakarta: Paramadina, 1999), hlm. 63.

[2] Burhanuddin Daya, Pergumulan Timur Menyikapi Barat; Dasar-dasar Oksidentalisme, (Yogyakarta: Suka Press, 2008), hlm. 52.

[3] Ibid. hlm. 54.

[4] J.B. Bury, A History of Freedom of Thought, (London: Oxford University Press, 1952), hlm. 13.

[5] Menurut data sejarah, bangsa Yunani baru berhasil memberontak dan membebaskan belenggu diri mereka pada tanggal 25 Maret 1821, dan pada tahun 1828 mereka mendapatkan kemerdekaannya. Sebagai sebuah negara baru yang hanya terdiri dari sebagian kecil dari negara modern mereka, perjuangan untuk membebaskan seluruh daerah yang dihuni oleh bangsa Yunani berlanjut. Pada tahun 1864, kepulauan Ionian disatukan dengan Yunani; tahun 1881 sebagian dari Epirus dan Thessaly. Crete, kepulauan Aegean Timur dan Macedonian ditambahkan pada tahun 1913 dan Thrace Barat tahun 1919. Setelah Perang Dunia II kepulauan Dodecanese juga dikembalikan ke Yunani.

[6] Ahmed O. Altwajri, Islam, Barat dan Kebebasan Akademis, terj. Mufid, (Yogyakarta: Titian Ilahi Press, 1997), hlm. 108.

[7] Lihat penjelasannya dalam Burhanuddin Daya, Pergumulan… hlm. 68.

[8] H. J. Muller, Freedom in The Ancient World, (New York: Harper & Broters, 1961), hlm. 289-290

[9] Contoh kebuasan gereja dengan dalih untuk memelihara kepentingan agama, telah dihukum 40.300 orang sejak tahun 1481 – 1808, dan hampir 30.000 dari mereka dijatuhi hukuman bakar.

[10] Hassan Hanafi, Oksidentalisme, Sikap Kita Terhadap Tradisi Barat, (Jakarta: Paramadina, 2000),hlm. 211.

[11] Ahmed O. Altwajri, Islam…, hlm. 116.

Share this: