Monday, March 30, 2015

Bacaan Ringan "SEJARAH PERADABAN BANGSA ARAB SEBELUM ISLAM - PART 2"

http://massandry.blogspot.com
Kondisi Bangsa Arab Pra Islam
1.    Kondisi Geografis
Jazirah Arab dikelilingi oleh tiga lautan, yaitu laut merah di barat, samudera Hindia di Selatan, dan Teluk Persia di timur. Letak geopolitik ini sangat menguntungkan bagi kondisi sosial, ekonomi, dan politik bangsa Arab. Keadaan  tanahnya sebagian besar terdiri  dari  Padang Pasir tandus, bukit dan batu, terutama bagian tengah. Sedang bagian  selatan  atau bagian pesisir pada umumnya tanahnya cukup  subur.
            
Untuk wilayah bagian Tengah terbagi pada:
a. Sahara Langit atau disebut pula Sahara Nufud memanjang 140 mil dari utara ke selatan dan  180  mil  dari  timur  ke  barat.  Oase  dan  mata  air  sangat  jarang,  tiupan  angin sering kali menimbulkan kabut debu yang mengakibatkan  daerah  ini  sukar ditempuh;     
b. Sahara Selatan disebut  al-Ru'ul  Khali  yang  membentang  dan   menyambung  sahara  Langit kearah  timur  sampai  selatan  persia.  Hampir  seluruhnya  merupakan  daratan Keras, tandus, dan pasir bergelombang;
c. Sahara Harrat, suatu daerah yang terdiri dari tanah  liat  yang  berbatu  hitam  bagaikan Terbakar.[18]
         
Kondisi  alam/tanah  adalah:
Kering  dan tandus, kalaupun ada air hanyalah  Oase  atau Mata Air ini.
Menyebabkan  penduduknya suka berpindah-pindah  (Nomaden) dari satu wilayah ke wilayah lain, oleh para ahli  mereka disebut suku Badui.
Dari segi pekerjaan mereka umumnya bekerja menggembalakan kambing dan    binatang ternak lainnya.

Sementara  wilayah bagian Pesisir, yaitu  terdiri  wi­layah  pesisir Laut Merah, Samudera Hindia dan Teluk  Persi, sehingga kondisi tanahnya:
Sangat subur, di tempat ini banyak dilakukan usaha perta­nian;
Di samping itu juga dilakukan usaha perdagangan;
Penduduknya menetap dan sangat padat.[19]

2.    Kondisi Sosial
Keadaan bangsa  Arab yang hidup di daerah padang pasir yang tandus, sedikit banyaknya turut membuat corak  kehi­dupan  mereka  berjalan  agak keras,  penuh persaingan, perebutan  kekuasaan antara satu kabilah  dengan kabilah lainnya.  Siapa yang  kuat, gagah  perkasa  itulah  yang memimpin.[20]

Dalam hidup bermasyarakat, bangsa Arab sangat  dilungkupi kehidupan keduniawian. Mereka sangat menggemari hal-hal berikut ini:
1. Syair; dengan syair, orang bisa dipuji/mulia dan dihi­na.  Dari  syair ini akan  tergambar  kehidupan  sosial bangsa Arab;[21]
2. Minum  khamar, kendati di antara mereka ada pula  yang mengharamkan hal ini;
3. Ada  pula  adat  (tradisi)  pada  saat  itu  kebiasaan “mengawini isteri bapa”yang telah meninggal dunia;
4. Menganggap hina kaum perempuan;
5. Menguburkan  anak  perempuan, namun  hal  ini  menurut Sallabi, ini hanya dilakukan oleh Bani Asad dan Tamim;
6. Sementara mereka yang pandai membaca saat itu hanyalah sebanyak  17 orang;
7. Perbudakan suatu hal yang biasa terjadi pada masa Arab pra-Islam. Mereka ini memelihara  dan  mempertahankan perbudakan.[22]

Negara Hijaz tidak pernah dijajah, diduduki, atau dipengaruhi oleh bangsa asing. Hal ini disebabkan karean kondisi geografis dan kemiskinan negerinya sehingga tidak menimbulkan hasrat bangs asing untuk menjajahnya. Dan disebabkan karena Hijaz sejak zaman Ibrahim telah menjadi Ka’bah bagi bangsa Arab. Mereka bekarja bersama-sama memelihar, menjaga kemananan, dan menjauhkan penjajah dari negerinya.[23]

3.    Kebudayaan
Akibat peperangan secara terus menerus kebudayaan arab tidak berkembang. Karena itu, artefak sejarah arab pra islam sangat langka didapatkan di dunia Ara dan yang dalam bentuk bahasa arab. Sejarah mereka hanya dapat diketahui dari masa kira-kira 150 tahun menjelang lahirnya islam.[24]

Dalam kehidupan seni dan budaya orang-orang arab sebelum islam sangat maju. Bahasa mereka sangat indah dan kaya. Syair-syair berjumlah banyak. Di kalangan mereka seorang penyair dan ahli berpidato (khitabah) sangat dihormati. Tiap tahun di “Pasar Ukaz” diadakan deklamasi sajak yang sangat luas. Hal lain yang sangat dipentingkan oleh orang arab Jahiliyah adalah catatan keturunan (nasab), nasab digunakan untuk bermegah-megahan dan ajang pamer dengan lawannya.[25]

Orang-orang Arab sebelum Islam tidaklah bodoh melainkan cerdas. Kata jahiliyah yang melekat pada Arab Jahiliyah berasal dari kata jahl  tetapi yang dimaksud disini bukan jahl lawan dari ‘ilm yaitu tidak berilmu, melainkan lawan dari hilm yaitu Safah, Ghadad, anfah (sedai, berang, tolol). Jadi pengertian Arab Jahiliyah yang sebenarnya adalah orang-orang Arab sebelum Islam yang membangkang kepada kebenaran, terus melawan kebenaran, sekalipun telah diketahui olehnya kebenaran itu.[26]

4.    Kondisi Ekonomi
Kondisi Jazirah arab yang bergurun sangat cocok digunakan untuk berdagang sebagai penunjang kemapanan ekonomi. Orang-orang quraisy berdagang sepanjang tahun. Di musim dingin mereka mengirim khalifah dagang ke Yaman, sementara di musim panas kalifah dagang menuju ke Syam. Perdagangan yang paling ramai di Makkah adalah pada bulan Zulqaidah, Zulhijjah, dan Muharram yang mana itu merukan musim “Pasar Ukaz.”[27] Begitu pula di bulan Rajab, karena di bulan Rajab banyak dikerjakan Umrah. Bulan-bulan tersebut tadi mereka namai dengan “Asyhuru’I Hurum” atau bulan-bulan yang terlarang. Termasuk di dalamnya adalah larangan melakukan peperangan di bulan tersebut.[28]

Faktor yang menjadikan Makkah memiliki peranan dalam perdagangan adalah ketika negeri Yaman di Selatan berpindah ke Makkah karena negerinya dijajah oleh bangsa Habsyi dan Persia sehingga perniagaan laut dikuasai oleh penjajah. Perpindahan bangsa Yaman Ke Makkah sangat menguntungkan penduduk Makkah, karena bangsa Yaman sangat piawai dan berpengalaman luas dalam bidang perdagangan. Bangsa Arab yang yang nomaden umumnya bekerja  sebagai penggembala. Mereka ini juga kadangkala menjadi  pengawal para kafilah dagang yang umumnya dari penduduk perkotaan. Sementara  Arab  bagian selatan, pesisir  atau  perkotaan umumnya  mereka lebih  banyak   bergerak   di   bidang perdagangan  (niaga). Perdagangan  ini  mereka lakukan sampai ke negeri I