Monday, January 12, 2015

Bacaan Ringan "SEJARAH PANJANG NEGERI JEPANG DARI JAMAN PRASEJARAH - A.JEPANG ZAMAN PRASEJARAH / ZAMAN ES"

http://massandry.blogspot.com
Sejarah Jepang
Jepang adalah negara yang tidak begitu luas dibandingkan dengan Indonesia. Namun Jepang sudah mampu mengalahkan negara-negara Asia lainnya. Luas negara Jepang sendiri adalah + 378.000km2 (ada pula yang menyebutkan hanya 370.000 km2). Itu berarti hanya 1/25 (seper dua puluh lima) dari negara Amerika.

Pembagian zaman di Jepang tidak bisa dibagi menjadi beberapa dinasti seperti di China, karena Jepang hanya mempunyai satu dinasti. Zaman Jepang dapat dibagi menjadi beberapa zaman, yaitu:

Zaman Jōmon
(10.000 SM – 200 SM)

Zaman Prasejarah
Zaman Yayoi
(200 SM – 250 M)
Zaman Yamato
(250 M – 710 M)

Zaman Kuno

Zaman Sejarah
Zaman Nara
(710 M – 794 M)
Zaman Heian
(794 M – 1185 M)
Zaman Kamakura
(1192 M – 1333 M)

Zaman Feodal
Zaman Muromachi
(1338 M – 1568 M)
Zaman Azuchi-Momoyama
(1568 M – 1600 M)
Zaman Edo
(1603 M – 1867 M)
Zaman Meiji
(1868 M – 1912 M)

Zaman Modern
Zaman Taishō
(1912 M – 1926 M)
Zaman Shōwa
(1926 M – 1989 M)
Zaman Heisei
(1989 M –  sekarang)

Sampai dengan kondisi Jepang yang saat ini kita kenal dengan kecanggihan teknologinya, bangsa Jepang ternyata telah melewati aliran waktu sejarah yang panjang, hingga akhirnya terbentuklah karakter mereka seperti yang dapat kita saksikan dewasa ini. Berikut ulasan singkat mengenai sejarah bangsa dimulai dari era prasejarah.

A. Jepang Zaman Prasejarah
1)    Keadaan Zaman
Pada zaman Pleistosin (zaman es) kepulauan Jepang masih menyatu dengan daratan Asia. Kemudian pada akhir zaman Pleistosin, orang-orang pindah ke Jepang. Orang-orang tersebut dikenal sebagai nenek moyang bangsa Jepang yaitu bangsa Ainu (disebut juga bangsa Ezo atau Emishi).

Pada zaman Paleolithikum (zaman batu tua) orang-orang hidup dengan membuat alat-alat dari batu kasar dan alat-alat dari tulang.

Pada zaman Neolithikum (zaman batu muda) orang-orang hidup dengan berburu, menangkap ikan dan mengumpulkan tanaman. Mereka tinggal dengan cara mendirikan tiang di lubang dangkal yang mereka gali dan mengunakan rumput sebagai atapnya (Tateanashikijūkyo). Di dekat tempat tinggalnya, mereka makan kerang dan membuang kulitnya sehingga terbentuk gundukan kulit kerang (Kaizuka). Mereka sudah dapat membuat alat-alat dari batu halus dan periuk. Periuk tersebut kemudaian dinamakan periuk Jōmon (Jōmon shikidoki). Dari penamaan periuk tersebut, diambil nama untuk zaman ini yaitu zaman Jōmon. Zaman ini dimulai sejak kira-kira 10.000 SM.

       Karena pada zaman Jōmon belum dikenal pertanian, orang-orang tinggal dalam kelompok kecil dengan kehidupan berburu dan mencari ikan. Pada zaman Jōmon orang-orang percaya akan adanya roh dalam semua benda yang ada di alam dan menyembahnya (animisme dan dinamisme). Menurut Kojiki (cerita zaman kuno Jepang), setelah dunia terbentuk, turunlah dewa Izanagi no Mikoto dan Izanami no Mikoto. Keduanya menciptakan dewa matahari (Amaterasu), dewi bulan (Tsukiyumi no Mikoto) dan dewi perusak (Susa no Ō no Mikoto). Amaterasu dan Tsukiyumi tinggal di nirwana, sedangkan Susa no Ō tinggal di bumi. Amaterasu menyuruh cucunya Ninigi no Mikoto turun ke bumi untuk memerintah. Dia tiba pertama kali mendarat di Hyuga (sekarang Kyūshū) dan dibekali oleh Amaterasu 3 buah pusaka yaitu Permata Yasaka, Cermin Yata dan Pedang Kusanagi. Amaterasu juga mengirim 5 dewa untuk membantu Ninigi yaitu Ame no Koyane no Mikoto (nenek moyang klan Nakatomi), Futodama no Mikoto (nenek moyang klan Inbe), Ame no Uzume no Mikoto (nenek moyang klan Sarume), Ishikoridome no Mikoto (nenek moyang pembuat cermin), dan Tamaya no Mikoto (nenek moyang pembuat permata). Cicit dari Ninigi dalam sejarah Jepang dikenal dengan nama Jinmu. Dia kemudian mengubah gelar Mikoto menjadi Tennō. Jinmu merupakan kaisar pertama Jepang (Jinmu Tennō). Kemudian Jinmu melakukan perjalanan dan menetap di Yamato. Setelah Jinmu menetap di Yamato dan menjadi kaisar, zaman pra sejarah berakhir dan dimulai zaman sejarah. Sampai sekarang masyarakat Jepang menganggap kaisar dan keturunannya adalah titisan dewa matahari.

Pada zaman batu-perunggu dan perunggu-besi (sekitar tahun 200 SM), masuk kebudayaan dari Cina. Kebudayaan itu terlihat dari bidang pertanian yang menggunakan alat-alat pertanian dari perunggu, besi dan periuk tanah corak baru. Orang-orang sudah mulai menanam padi dan gandum di sawah. Salah satu peninggalan yang terkenal pada zaman ini adalah sebuah periuk yang disebut periuk Yayoi (Yayoi shikidoshi). Periuk tersebut ditemukan di Yayoi-chō (sekarang Tōkyō) sehingga zaman ini dikenal dengan nama zaman Yayoi. Sedangkan alat yang terbuat dari perunggu adalah lonceng perunggu yang digunakan dalam upacara-upacara. Lonceng tersebut dinamakan Dōtaku.


Pada abad ke-1, pertanian bertambah maju. Masyarakat pun tinggal dalam suatu kelompok yang besar. Desa semakin berkembang dan mengakibatkan timbulnya strata sosial dalam masyarakat tersebut. Perkembangan ini menimbulkan orang yang berkuasa dan orang yang tidak berkuasa. Pemimpin wilayah tersebut berkuasa menjadi raja. Raja yang kuat menguasai raja yang lemah. Kemudian mulai terbentuk kerajaan-kerajaan kecil. Dalam buku sejarah Cina kuno, Gishi (catatan dari kerajaan Wei) yang didalamnya tertulis hikayat orang Wa (Jepang) dikatakan bahwa negara Wajin (Jepang) terbagi menjadi kira-kira 30 kerajaan-kerajaan kecil. Diantaranya yang terkuat adalah kerajaan Yamatai (Yamataikoku) dengan Himiko sebagai ratunya.

 2)   Kebudayaan
Pada zaman batu, orang hidup dengan berburu, menangkap ikan dan mengumpulkan tanaman. Pada zaman Jōmon dan Yayoi, orang-orang hidup dengan bertani. Kebudayaan bertani tersebut terlihat dari barang-barang peninggalan purbakala yang pada sisi luarnya tergambar kehidupan bertani. Kebudayaan logam dari Cina juga masuk ke Jepang. Hal tersebut terlihat dari alat-alat pertanian yang telah memakai logam seperti sabit, cangkul, dsb. Ada juga budaya yang berkaitan dengan animisme dan dinamisme seperti mempercayai dewa, menyembah benda-benda yang ada di alam, mengadakan upacara-upacara roh, dll. Pemujaan kepada dewa-dewa lambang alam tersebut pada perkembangan selanjutnya dikenal dengan nama agama Shintō (jalan dewa). Pusat pemujaan dalam Shintōisme adalah pemujaan kepada dewi matahari dan kaisar sebagai wakilnya di bumi. Melalui agama Shintō terjadi pemujaan kekuasaan negara dengan kaisar sebagai lambangnya. Untuk pemujaan terhadap dewi matahari didirikan kuil di Ise.

3)   Peninggalan
Peninggalan dari zaman prasejarah yang paling terkenal adalah periuk Jōmon dan periuk Yayoi. Bentuk periuk Yayoi lebih sederhana, tetapi teknik pembuatannya lebih maju dari pada periuk Jōmon. Hal tersebut karena menggunakan teknologi dari Cina. Peninggalan lainnya adalah Lonceng perunggu yang disebut Dotaku. Pada Dotaku terdapat bermacam-macam gambar yang menceritakan pola hidup pada zaman itu. Misalnya pada gambar orang menumbuk padi, berarti menceritakan kehidupan bertani. Gambar orang memanah rusa berarti menceritakan kehidupan berburu. Pada zaman Yayoi ditemukan rumah panggung (Takayukashiki). Selain digunakan sebagai tempat tinggal juga untuk menyimpan hasil pertanian.