Monday, January 12, 2015

Bacaan Ringan "SEJARAH PANJANG NEGERI JEPANG DARI JAMAN PRASEJARAH - B.JEPANG ZAMAN YAMATO"

http://massandry.blogspot.com
B. Jepang Zaman Yamato (250 M – 710 M)

1) Keadaan Zaman
Zaman Yamato dibagi menjadi dua yaitu zaman Kofun (250 M – 550 M) dan zaman Asuka (550 M – 710 M). Pemberian nama Yamato didasarkan atas daerah kekuasaan negeri Yamato. Daerah kekuasaannya meliputi Honshū bagian selatan dan Kyūshū bagian utara. Saat itu Jepang terdiri dari daerah-daerah yang diperintah oleh gabungan-gabungan keluarga yang disebut Uji (klan). Kepalanya disebut Uji no kami atau Ujigami. Nantinya akan disebut Tennō. Masyarakat dalam organisasi klan itu adalah golongan bangsawan. Tiap klan mempunyai golongan pekerja dan budak. Bertani padi menjadi dasar perekonomian saat itu. Bentuk rumah mengalami perubahan. Kuil dan istana didirikan.
Setelah mengalami perpecahan zaman dan kekacauan politik selama tiga setengah abad, Cina kembali menjadi negara kesatuan. Keadaan politik di Cina tersebut membuat Jepang meniru sistem politik di Cina mengenai pemusatan kekuasaan.

Tahun 593 M terjadi peristiwa penting dalam sejarah politik Jepang. Susunan masyarakat Jepang yang berinti pada Uji harus diubah karena pertambahan penduduk  yang tidak dapat dipertahankan lebih lama lagi dan harus mengalami perubahan. Perubahan susunan masyarakat itu merubah pula susunan politik. Tahun 593 M, Shotoku Taishi diangkat menjadi Sesshō (penasehat bagi Tennō yang belum dewasa) bagi Tennō puteri Suiko. Dengan demikian Taishi memegang pimpinan negara. Ia mengubah susunan jabatan-jabatan tinggi di istana yang saat itu dijabat oleh kepala-kepala klan turun-temurun, diganti dengan susunan baru. Siapa saja dapat memangku suatu jabatan sesuai dengan kecakapan dan jasanya.

Tahun 604 M disusun 17 aturan. Dalam peraturan itu antara lain disebutkan  supaya agama Buddha dihormati, keluhan rakyat harus diperhatikan dan mendapat penyelesaian yang adil, petani-petani harus diperlakukan dengan baik, dan sebagainya. Tetapi apa yang diusahakan Taishi tersebut baru berupa cita-cita yang tidak dapat dengan segera dilaksanakan, yaitu cita-cita membentuk Jepang menjadi negara nasional. Baru pada tahun 645 M konsepsi tersebut terwujud. Pada tahun itu, keluarga dari klan Soga yang punya pengaruh besar dalam pemerintahan Tennō sejak tahun 587 M, dijatuhkan oleh pangeran Naka no Oe dengan bantuan Fujiwara. Setelah itu diadakan pembaharuan-pembaharuan dalam lapangan politik dan sosial yang berlangsung hingga 702 M. Gerakan pembaharuan itu dikenal dengan sebutan Reformasi Taika. Yang jadi tangan kanan Naka no Oe dalam perebutan kekuasaan dengan keluarga Soga ialah Fujiwara (no) Kamatari Dalam tahun 661 M, Naka no Oe naik tahta sebagai Tennō bergelar Tennō Tenji.

Asas-asas pembaharuan itu dijalankan dengan berangsur-angsur selama beberapa puluh tahun dan seringkali peraturan-peraturan pembaharuan tinggal di atas kertas. Seluruh negeri dan rakyat ditaruh langsung di bawah kekuasaan Tennō. Tanah pertanian dibagi antara rakyat atas dasar peraturan yang sama (sistem Kōchikōmin). Semua penduduk didaftarkan untuk tujuan pembagian tanah dan pemungutan pajak. Daerah negara dibagi dalam  kuni (propinsi) dan kori atau gun (distrik). Pemerintahan disusun dengan mencontoh kepada Cina, pemerintah pusat mengangkat pegawai-pegawai untuk menyelenggarakan administrasi pemerintahan. Dalam rangka pembaharuan-pembaharuan itu, disusun undang-undang bernama Ritsu-ryō (Ritsu adalah kitab undang-undang hukum pidana dan Ryō terdiri dari undang-undang hukum tatanegara dan hukum sipil). Disusun menurut contoh undang-undang dinasti Tang di Cina. Penyusunan kitab-kitab, undang-undang itu baru selesai pada tahun 701 M dan terkenal dengan sebutan Taihō Ritsu-ryō (pada tahun 718 M sebagian diubah dan diberi nama baru Yōrō Ritsu-ryō). Undang-undang itu dengan perubahannya menjadi dasar hukum Jepang hingga sekarang.

Pembaharuan-pembaharuan menghasilkan suatu susunan yang tampak dari luar sebagai pembentukan pemerintahan pusat, tetapi sebenarnya memupuk susunan aristokrasi baru. Pembaharuan itu tidak mendapat perlawanan karena tidak menghapuskan sama sekali hak-hak istimewa yang tertumpuk pada golongan lapisan atas dari masyarakat. Orang-orang lapisan atas itu masih tetap dalam kedudukan yang menguntungkan, hanya dalam bentuk yang berubah, sedangkan kedudukan rakyat jelata pada umumnya tidak bertambah baik. Dalam pembaharuan susunan pemerintahan itu, keluarga dari klan Fujiwara mencapai kedudukan, yang menggenggam kekuasaan yang sebenarnya di dalam negara. Dasar dari kedudukan itu diletakkan oleh Fujiwara Kamatari, tangan kanan Naka no Oe ketika meruntuhkan kekuasaan kelurga dari klan Soga.

Walaupun pembaharuan-pembaharuan dilakukan dengan mencontoh Cina, tidak semuanya yang dari Cina ditiru. Anggapan mengenai Tennō sebagai keturunan Dewi Matahari tidak berubah.

Pada zaman Asuka nama negara diganti dari Yamato atau Wa menjadi Nihon atau Nippon. Zaman Asuka (550 M – 710 M) berlangsung ketika pusat pemerintahan berada di Asuka (sekarang Nara).

2) Kebudayaan
Pada abad ke-5 dibuka hubungan resmi antara Jepang dengan Cina. Sebagai hasilnya kebudayaan dari Cina masuk ke Jepang langsung atau melalui Paekche (Korea). Kesusasteraan, ilmu falak, obat-obatan, barang-barang masuk ke Jepang. Melalui Paekche agama Buddha masuk ke Jepang. Agama Buddha masuk ke Jepang secara resmi pada tahun 552 M, ketika Paekche mengirimkan sebuah patung Buddha emas dan beberapa jilid Buddha sutera kepada Tennō di Yamato.

Tahun 554 M Paekche mengirimkan orang terpelajar dalam kitab-kitab klasik Cina, ilmu obat-obatan, ilmu nujum, membuat penanggalan dan musik serta mengirim beberapa orang rahib agama Buddha. Setelah itu pada abad ke-6, dari Korea datang lebih banyak sutra agama Buddha, patung-patung dan tukang-tukang pembuat patung, rahib-rahib dan seorang ahli bangunan kuil.

Mula-mula Tennō tidak tegas mengenai agama Buddha. Setuju atau menolak agama Buddha. Tetapi atas dorongan Klan Soga, agama Buddha berkembang di Jepang. Pemeliharaan benda benda suci (patung Buddha dan Buddha sutera) dari Korea ditugaskan kepada keluarga Soga. Pertikaian timbul antara Klan Soga dengan 2 klan Soga yang lain, Nakatomi dan Mononobe, yang membela agama nasional asli, yaitu agama Shintō. Pertengkaran tentang setuju tidaknya dengan agama Buddha menjadi perebutan kekuasaan dengan terang-terangan. Pada tahun 587 M klan Soga menang dan pengaruhnya membayangi kekuasaan Tennō. Sejak itu agama Buddha di Jepang mendapat kemajuan.
Karena bangsa Jepang belum pandai menulis dan membaca, maka pada permulaan dalam perhubungan dengan Cina itu dipakai perantaraan orang-orang Korea dan orang-orang Cina itu sendiri. Dengan lambat laun bangsa Jepang belajar menulis dan membaca. Baru pada akhir abad ke-5 oleh pemerintah Jepang dilakukan dengan resmi pemakaian huruf Cina, tetepi pegawai-pegawai untuk pekerjaan tulis menulis sementara masih terdiri dari orang orang Korea atau Cina yang menjadi orang kewarganegaraan Jepang. Pada saat itu mulai disusun Kojiki (kumpulan cerita zaman kuno) dan Nihongi atau Nihonshoki (catatan sejarah Jepang). Selesai disusun pada abad ke-7.

Dengan masuknya kesusasteraan Cina ke Jepang, filsafat Cina tersiar di kalangan orang-orang besar. Antara lain Konfusianisme dan Taoisme. Konfusianisme menanamkan pengaruhnya seperti pemujaan nenek moyang, kesetiaan kepada keluarga, kebaktian anak kepada keluarga, dsb. Pengaruh Taoisme masuk pula ke Jepang. Unsurnya dalam bentuk penggunaan magic atau sihir.

3) Peninggalan
Dari segi arsitektur yang paling populer di zaman ini adalah kuburan kuno (kofun). Kofun adalah kuburan kuno untuk mengubur mayat dalam peti mati. Dari kata Kofun ini menjadi dasar penamaan pada zaman ini (zaman Kofun). Untuk keluarga Tennō dan keluarga terkemuka dibuat bukit-bukit kuburan. Kuburan untuk Tennō disebut Misasagi. Kuburan milik Nintoku Tennō ( meninggal ± tahun 400 M). Mempunyai ukuran yang sangat besar. Kuburan itu termasuk kuburan terbesar di dunia. Panjangnya kira-kira 1700 kaki, tingginya lebih dari 100 kaki dikelilingi parit dan luasnya (terhitung paritnya) kira-kira 80 acres (1 acre = 4047 m2).

Di dalamnya terdapat cermin perunggu, pedang, zirah, helm dan ikat pinggang dari perunggu atau besi, manik-manik kecil berbentuk bulan sabit itu sebesar kuku dan disebut Magatama.
Di sekitar Kofun biasanya terdapat Haniwa yaitu barang-barang yang terbuat dari tanah liat yang ditempatkan dengan teratur di sekeliling tumuli. Bentuk haniwa itu bermacam-macam. Biasanya berupa orang, binatang piaraan, perabot rumah dan perkakas dan dapat memberikan gambaran tentang kehidupan pada masa itu.

Dengan adanya hubungan dengan Cina dan Korea, agama Buddha masuk dan kuil-kuil didirikan. Misalnya kuil di Ise (untuk dewi matahari) dan di Izumo (untuk dewi bumi). Kuil lain yang terkenal pada zaman ini adalah Horyūji. Kuil ini menjadi kuil kayu tertua di dunia.