Monday, January 12, 2015

Bacaan Ringan "RESTORASI MEIJI - TITIK AWAL FASISME DI JEPANG - PART 1"

http://massandry.blogspot.com
Selama kurang lebih 7 abad Jepang berada di bawah pemerintahan ke-shogunan. Pada saat itu peran militer lebih banyak berpengaruh terhadap segala kebijakan yang ada di Jepang. Namun pada akhir-akhir masa keshogunan terjadi kemerosotan di berbagai sector terutama pada masa Azuchi Mamoyama dan Edo.

Menurut Mattulada dalam bukunya yang berjudul Pedang dan Sempoa menyebutkan dua periode pemerintahan tersebut sebagai zaman peralihan yang ditandai dengan beralihnya kekuasaan daerah-daerah yang seolah-olah berdiri sendiri di bawah kekuasaan para Damyo, Tuan-tuan tanah, para bangsawan feudal, menjadi kekuasaan yang dipusatkan dan melayani segenap wilayah dalam kesatuan kerajaan jepaqng. Dengan pemulihan kesatuan kekuasaan pemerintah tidak berarti suasana masyarakat feudal dengan sendirinya berakhir. Struktur masyarakat feudal, tetap berlangsung hanya saja dengan langgam yang berbeda dengan sebelumnya (Mattulada, 1979:100).

Pada dasarnya Jepang merupakan negara yang sangat miskin sehingga banyak orang-orang Jepang yang merantau, pada masa keshogunan Jepang negara yang sangat tertutup dan diperintah dengan cara yang sangat feodalistik. Dorongan modernisasi Jepang berawal dari hadirnya angkatan laut Amerika dibawah pimpinan Laksamana Perry. Laksamana Perry minta pintu gerbang Jepang dibuka dan minta berunding dengan tujuan agar Jepang membuka diri kepada pihak asing, berdagang dan membolehkan kapal asing merapat di pelabuhan Jepang. Mulai saat itu bangsa Jepang terbuka matanya bahwa ada kekuatan-kekuatan besar diluar mereka.

Semangat Bushido para samurai dengan pedang-pedangnya ditantang untuk mampu melawan kekuatan Amerika, orang kulit putih, orang Barat (sekalipun orang Amerika itu datangnya dari Timur). Sejak saat itu mereka berpikir untuk menjadi sekurang-kurangnya sama kuatnya dengan orang asing.Restorasi Meiji,, terjadi pada tahun 1866 sampai 1869, tiga tahun yang mencakup akhir Zaman Edo dan awal Zaman Meiji. Restorasi Meiji juga dikenal dengan sebutan Meiji Ishin, Revolusi, atau Pembaruan, adalah rangkaian kejadian yang menyebabkan perubahan pada struktur politik dan sosial Jepang. Restorasi ini merupakan akibat langsung dari dibukanya Jepang kepada kedatangan kapal dari dunia Barat yang dipimpin oleh perwira angkatan laut asal AS, Matthew Perry.
Pembentukkan Aliansi Sat-cho, yaitu antara Saigo Takamori, pemimpin Satsuma, dengan Kido Takayoshi, pemimpin Choshu, adalah titik awal dari Restorasi Meiji. Aliansi ini dicetuskan oleh Sakamoto Ryoma, dengan tujuan melawan Keshogunan Tokugawa dan mengembalikan kekuasaan kepada Kaisar. Keshogunan Tokugawa resmi berakhir pada tanggal 9 November 1867, ketika Shogun Tokugawa ke-15, Tokugawa Yoshinobu “memberikan kekuasaannya ke Kaisar” dan 10 hari kemudian mundur dari jabatannya. Titik ini adalah awal “Restorasi” kekuasaan imperial. Walau begitu, Yoshinobu masih tetap memiliki kekuasaan yang signifikan .

Restorasi Meiji merupakan usaha besar-besaran kaisar Meiji untuk menciptakan Jepang baru, yaitu transformasi dari negara yang terisolasi dan miskin menjadi negara yang modern. Restorasi Meiji membawa perubahan besar dalam kehidupan bangsa Jepang, terutama pendidikan. Sebelum Restorasi Meiji, Jepang melaksanakan pendidikannya berdasarkan sistem masyarakat feodal, yaitu pendidikan untuk samurai, petani, tukang, pedagang, serta rakyat jelata. Kegiatan ini dilaksanakan di kuil dengan bimbingan para pendeta Budha yang terkenal dengan sebutan Terakoya (sekolah kuil).

Dalam kurun waktu bergulirnya Restorasi Meiji (Meiji Ishin) tahun 1868 dan dekade sesudahnya, bangsa Jepang telah membuktikan diri kepada dunia sebagai bangsa yang memiliki kompetensi ilmu pengetahuan dan teknologi maju yang dapat disejajarkan dengan Amerika dan negara maju lainnya. Hal yang terpenting dari restorasi ini adalah restorasi dibidang pendidikan, yaitu mengubah sistem pendidikan dari tradisional menjadi modern (saat itu dimulai dengan mengadopsi sistem Jerman), program wajib belajar, mengirim mahasiswa Jepang untuk belajar ke luar negeri (ke Francis dan Jerman), dan meningkatkan anggaran sektor pendidikan secara drastis.

Semenjak Restorasi Meiji dikibarkan pemerintah Jepang terus menjalankan kebijaksanaannya dengan mulai giat menerjemahkan dan menerbitkan pelbagai macam buku, di antaranya tentang ilmu pengetahuan, sastra, maupun filsafat. Para pemuda banyak dikirim ke luar negeri untuk belajar sesuai dengan bidangnya masing-masing, tujuannya jelas yaitu mencari ilmu dan menanamkan keyakinan bahwa Jepang akan dapat setara dengan kemajuan dunia Barat.Sebuah doktrin penting yang mengilhami restorasi Meiji dan menjadi pandangan hidup orang Jepang tentang pentingnya pendidikan, dirumuskan pertama kali oleh Fukuzawa Yukichi, bapak pendidikan Jepang yang hidup pada zaman Meiji. Menurut Fukuzawa dalam bukunya berjudul Gakumon no Susume (Jepang: di antara Feodalisme dan Modernisasi), kedudukan manusia dalam suatu negara harus ditentukan oleh status pendidikannya, bukan oleh nilai-nilai yang dibawa sejak lahir sebagai warisan.

Dengan adanya retorasi Meiji Jepang semakin mengalami kemajuan diberbagai bidang. Hal tersebut mampu membuat Jepang berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa barat. Berkenaan dengan latar belakang tersebut maka penulis berusaha memahami lebih dalam mengenai Retorasi Meiji yang pada akhirnya memunculkan fasisme di Jepang. Untuk lebih mempermudah dalam pemahaman tulisan ini, maka penulis membagi menjadi tiga sub pokok pembahasan yang pertama mengenai reotorasi Meiji itu sendiri, yang kedua tentang proses fasisme yang ada di Jepang dan yang ketiga mengenai hubungan retorasi Meiji dengan munculnya fasisme yang ada di Jepang.









BAB II PEMBAHASAN

2.1 Retorasi Meiji Jepang
            Pada abad ke-18 jauh sebelum Restorasi Meiji Jepang dianggap sebagai Negara yang lemah, terbelakang dan selalu mengadopsi kebudayaan cina. Kebudayaan cina yang diadopsi meliputi tulisan dan huruf Cina (kanji), ilmu konfusius, kalender, teknik irigasi dan agama Budha sejak abad ke-5 mempunyai pengaruh mendalam pada masyarakat Jepang. Kebudayaan Cina itu kemudian disesuaikan dengan kebutuhan Jepang sendiri.
            Jepang sebagai Negara lemah dan terbelakang, saat itu merupakan mangsa yang baik bagi Negara-negara Imperialisme barat. Akan tetapi setelah restorasi dalam segala bidang berhasil pada abad ke-19, ternyat amemberikan nilai positif bagi bangsa dan Negara Jepang. Bangsa Jepang terangkat kepuncak keunggulannya menjadi Negara kuat dan modern sejajar dengan Negara-negara barat.
            Pada abad ke-19, Jepang mengadakan restorasi hampir dalam segala bidang, seperti dalam bidang politik, perekonomian, pendidikan, kemiliteran yang meniru dunia barat. Pembaharuan dalamsegala bidang tersebut adalah sebagai berikut :
1.      Di Bidang Pemerintahan
Pada tanggal 6 April 1988 Tenno  mengumumkan janjinya yang terkenal dengan Piagam Sumpah (Charter-Oath), yang berisi :
a.       Dibentuk dewan-dewan permusyawaratan dan peraturan-peraturan pemerintah sesuai dengan pendapat umum.
b.      Semua golongan dalam masyarakat, tinggi dan rendah akan bersatu dalam melaksanakan program pemerintah dengan sekuat tenaga.
c.       Semua pegewai sipil dan militer serta semua rakyat akan diperkenankan sejauh mungkin melaksanakan keinginan, sehingga tidak ada yang merasa kecewa.
d.      Kebiasaan-kebiasaan yang tidak sesuai dengan semangat pembaharuan akan dihilangkan
e.       Pengetahuan akan dicari dari segala pelosok dunia untuk meningkatkan taraf kesejahteraan rakyat.
Dokumen diatas merupakan awal dari modernisasi Jepang dan merupakan dasar pembaharuan Jepang yang meliputi berbagai aspek kehidupan. Dibidang pemerintahan , pertama-tama diletakkan dasar-dasar sentralisasi dan univikasi. Modernisasi pemerintahan berdasarkan pada dua tuntutan utama yaitu mengadakan konsentrasi kekuasaan dan pelaksanaan Charter Oatch. Badan-badan penasehat raja yang terdiri atas Majelis agung (Sosai), Gijo (Dewan Penasehat kelas satu) dan Sanyo (dewan penasehat kelas dua), disebut dalam suatu wadah yang disebut Daijo-kwan yang meliputi dua bagian yakni dewan Negara dan dewan perwakilan Feodal. Pada tanggal 26 November 1868 ibukota dipindahkan ke Yedo kemudian bernama Tokyo.
 Feodalisme dalam arti adanya kekuasaan dan hak-hak istimewa dari para daimyo dihapuskan. Para daimyo menyerahkan daerah-daerah kekuasaannya kepada Tenno, selanjutnya mereka diangkat menjadi gubernur sehingga dapat dipersatukan menjadi satu kekuasaan yang tangguh.
Pada tahun 1883, Ito Hirobumi berhasil menusun Undang-Undang Dasar. Undang-undang dasar tersebut disusun mencontoh Jerman pada masa Bismark dan diumumkam berlakunya sejak tahun 1889. Kedudukan Tenno sebagai kepala Negara dan kepala pemerintahan sangat kuat, semua undang-undang harus disetujui dan diumumkan oleh Tenno. Tenno dapat memerintah parlemen bersidang dan membubarkannya, kekuasaan Tenno adalah mutlak. Pemerintahan sesungguhnya ada ditangan Oligharki. Para pemimpin yang turut serta dalam proses restorasi, mengangkat kedudukan Tenno sebagai manusia-dewa. Dengan demikian mereka dapat bertindak atas nama Tenno, sehingga kekuasaan mereka terhadap rakyat sangat besar. Kepada rakyat ditanamkan semangat pengabdian dan kesetiaan mutlak kepada Tenno. Pemupukan semangat diperkuat dengan dasar moralitas berlandaskan agam Shinto sebagai aagama Negara.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pemerintahan demokrasi tidak tidak dikenal dalam system pemerintahan Jepang sebelum Perang Dunia II. Modernisasi pemerintahan tidak diartikan sebagai demokrasi pemerintahan. Ito Hirobumi sebagai bapak Undang-Undang Dasar di Jepang adalah organisator pemerintahan sipil, tetapi ia bukan pelopor pemerintahan demokrasi.