Saturday, January 10, 2015

Bacaan Ringan "HISTORY OF GREAT ODA NOBUNAGA - PART 4"

http://massandry.blogspot.com
Pada tahun 1575, pewaris Takeda Shigen, Takeda Katsuyori menyerang istana Nagashino. Istana tersebut merupakan kediaman menantu Ieyasu, Okudaira Nobumasa. Serangan yang dilancarkan dengan 15.000 tentara itu bermotifkan balas dendam yang ditujukan kepada Ieyasu. Ieyasu lalu meminta bantuan Nobunaga dan dijawab dengan pengerahan 30.000 tentara Oda. Ditambah 5.000 tentara Ieyasu, pasukan Takeda Katsuyori mengalami kekalahan total dimana lebih dari 10.000 tentara tewas dalam peperangan tersebut. 

Kemenangan ini selain karena jumlah yang jauh lebih banyak dari tentara Takeda Katsuyori, strategi pasukan penembak Oda yang jitu dan juga kegigihan tentara Nobumasa dalam mempertahankan serangan 15.000 tentara Katsutori sebelum bantuan Nobunaga dan Ieyasu datang. Pada tahun yang sama Oda Nobunaga menunjuk Shibata Katsuie sebagai Panglima Pasukan Gabungan untuk menyerang pasukan Ikko Ikki yang merupakan bentukan setelah kehancuran klan Asakura. 

Serangan pasukan ke Echizen membantai puluhan ribu orang tanpa pandang usia dan jenis kelamin. “Para bawahan Nobunaga menggambarkan peristiwa tersebut dengan gambaran tanah lapang yang luas tanpa satu pun tempat kosong yang tak terdapat mayat. Dan ribuan tawanan, disalib, direbus dan dibakar hidup-hidup”. Pada tahun 1576, Nobunaga membangun istana Azuchi di tepi danau Biwa Provinsi Omi. Istana itu nantinya dijadikan sebagai pusat pemerintahan Nobunaga dalam mempersatukan Jepang. 

Istana selesai diperkiraan tahun 1579 dan merupakan istana termegah di Jepang dan bahkan seorang misionaris dari Eropa berkata tak ada istana di eropa yang semegah istana Azuchi. Pembangunan juga mengalami hambatan diantaranya penyerangan kuil Ishiyama Honganji yang hampir gagal, pertempuran laut pertama Nobunaga yang mengalami kekalahan di muara sungai Kizu. 

Pertempuran laut itu disebabkan karena serangan angkatan laut Mori terhadap perahu-perahu Nobunaga yang membawa perbekalan untuk menyuplai perbekalan untuk tentara yang menyerang Kuil Ishiyama. Kekalahan itu menyebabkan pasukan Nobunaga harus menarik diri untuk sementara. Nobunaga lalu memerintahkan Kuki Yoshitaka untuk membangun perahu-perahu yang terbuat dari plat besi sehingga tahan terbakar. Pertempuran laut kedua kembali terjadi dan pasukan Nobunaga mengalami kemenangan gemilang yang diikuti oleh kemenangan melawan pasukan monk (biksu) dari kuil Ishiyama Honganji. Keberhasilan Nobunaga dalam usahanya mempersatukan tidak lepas dari para panglima perangnya. 

Mereka itu adalah Shibata Katsuie,Oda Nobutada, Akechi Mitsuhide, Hashiba Hideyoshi, Niwa Nagahide dan Sakuma Nobumori. Pada tahun 1579, Hashiba Hideyoshi menaklukkan Ukita Naoie dan provinsi Bizen, pasukan Hatano Hideharu dari Tanba dipaksa menyerah oleh Akechi Mitsuhide. “ Hatano langsung dihukum mati oleh Nobunaga walau sebelumnya sudah menyerah atas bujukan dari Hideyoshi. Tindakan Nobunaga ini secara tidak langsung menyebabkan terbunuhnya ibunda Akechi Mitsuhide yang sebelumnya dijadikan tawanan pasukan Hatano Hideharu. 

Kejadian ini merupakan awal mula rasa dendan dan kebencian Akechi Mitsuhide kepada Nobunaga”. Sementara itu, putra Nobunaga Kitabatake Nabuo (Oda Nabuo) yang ditugaskan memimpin provinsi Ise melakukan serangan ke provinsi Iga tanpa sepengetahuan Nobunaga. Serangan tersebut ternyata mengalami kegagalan dan akhirnya diketahui oleh Nobunaga. Setelah memarahi putra keduanya secara habis-habisan, Nobunga lalu menyatakan pejuang lokal di provinsi Iga sebagai musuh klan Oda. Pada tahun yang sama pula, pasukan Oda Nobunaga yang dipimpim oleh Besso Nagahara dan Araki Murashige memadamkan pemberontakkan di Kinai. “ Dengan alasan yang masih belum diketahui, Nobunaga memerintahkan istri Tokugawa Ieyasu untuk melakukkan seppuku. Tindakan ini menimbulkan pro dan kontra dikalangan pengikut Tokugawa. Namun pada akhirnya Ieyasu harus merelakan istri tercintanyanya untuk melakukan seppuku”.

Pada tahun 1580, berhasil didamaikan dengan pihak kuil Ishiyama Honganji dengan campur tangan Kaisar Ogimachi. Kuil Ishiyama lalu dipindahkan ke Osaka. Pada tahun yang sama, tanpa sebab yang masih belum diketahui; Nobunaga mengusir pengikutnya, diantaranya: Sakuma Nobumori, Hayashi Hidesada, Ando Morinari, Niwa Ujikatsu. 

Pada tahun 1581, Nobunaga memimpin 60.000 pasukan untuk menyerang Iga dengan motif membalas kekalahan yang pernah dialami oleh putra keduanya. Pembunuhan massal pun terjadi yang tidak memandang wanita dan anak-anak yang disangka sebagai ninja. Lebih dari 10.000 orang dikabarkan tewas dan provinsi Iga menjadi tanpa penghuni dan harta benda penduduknya juga hilang tanpa jejak. Pada Maret 1582, pasukan Oda Nobutada menyerang wilayah Takeda dan secara berturut-turut menaklukkan provinsi Shinano dan Suruga. 

Takeda Katsuyori sebagai pemimpin klan harus melarikan diri sampai ke gunung Tenmoku di provinsi Kai dan dipaksa melakukan seppuku/bunuh diri. Kematian Katsuyori menandai berakhirnya klan Takeda. Namun Nobunaga belum puas sampai sana dan memerintahkan memusnahkan semua keturunan Kateda dan juga pembantu-pembantunya yang dianggap nantinya akan menuntu balas akan kehancuran klan Takeda. 

Keputusan ini sangat ditentang keras oleh Tokugawa Ieyasu dan beberapa menteri klan Oda. Secara sembunyi-sembunyi Ieyasu menyembunyikan beberapa orang dari klan Takeda. Pada tanggal 15 Mei 1582, Tokugawa Ieyasu mengunjungi istana Azuchi dalam rangka ingin mengucapkan terima kasih atas kepercayaan Nobunaga dengan memberi wilayah Suruga kepada Tokugawa. Nobunaga menugaskan Akechi Mitsuhide sebagai tuan rumah dalam penyambutan rombongan Tokugawa Ieyasu. Ditengah kunjungan Ieyasu, Nobunaga menerima utusan yang dikirim oleh Hashiba Hideyoshi yang menyampaikan permohonannya untuk meminta bantuan pasukan. 

Saat itu Hideyoshi berusaha merebut istana Takamatsu di Bitchu, dan mengalami kesulitan dalam menghadapi pasukan Mori yang jauh lebih banyak. Nobunaga menanggapi permintaan itu dengan mengirim Mitsuhide bersama pasukan bantuan dimana sebelumnya dibebastugaskan sebagai tuan rumah dalam penyembutan Tokugawa Ieyasu. “Namun sebenarnya Akechi Mitsuhide merasa bahwa Nobunaga kecewa dengan pekerjaannya sebagai tuan rumah, maka dari itu memgirimnya untuk membantu Hideyoshi”. 

Pada tanggal 29 Mei 1582, Nobunaga berangkat ke Kyoto dalam rangka untuk mempersiapan pasukan untuk menyerang pasukan Mori. Dalam perjalanan, Nobunaga menginap di kuil Honnoji di Kyoto. Akechi Mitsuhide yang sebelumnya berangkat dengan pasukan bala bantuan untuk Hideyoshi berbalik arah dan menyerang kuil Honnoji. Serangan tersebut memaksa Oda Nobunaga untuk melakukan seppuku/bunuh diri pada tanggal 2 Juni 1582. Banyak yang mengganggap serangan ini bermotif dendam lama dari tindakan Nobunaga terdahulu yang menyebabkan ibunda Mitsuhide tewas dibunuh pada saat ditawan musuh. Peristiwa ini dikenal dengan Insiden Honnoji.