Monday, January 12, 2015

Bacaan Ringan "SEJARAH PANJANG NEGERI JEPANG DARI JAMAN PRASEJARAH - H.JEPANG ZAMAN EDO"

http://massandry.blogspot.com
H. Jepang Zaman Edo (1603 M – 1867 M)

1) Keadaan Zaman
Setelah mengalahkan Toyotomi Hideyoshi dalam pertempuran Sekigahara pada tahun 1600 M, Tokugawa Ieyasu diangkat menjadi Seiitai Shōgun  pada tahun 1603 M dan mendirikan Bakufu di Edo (sekarang Tōkyō). Sehingga zaman ini disebut zaman Edo atau zaman Tokugawa.

Tidak lama setelah pertempuran Sekigahara, para Daimyō diambil sumpahnya secara tertulis kemudian mereka dibagi menjadi beberapa kelas, yaitu:

Shinpan Daimyō = Merupakan Daimyō yang paling dekat dengan keluarga Tokugawa dan dapat berhubungan langsung dengan keluarga Tokugawa. Daimyō kelas ini memegang posisi penasehat dalam pemerintahan dan diberikan wilayah yang dekat dengan Edo.

Fudai Daimyō =   Merupakan Daimyō yang terdiri dari pengikut setia Ieyasu sebelum Ieyasu berkuasa yaitu sebelum perang Sekigahara. Daimyō kelas ini memegang jabatan di hampir semua kantor pemerintahan dan ditempatkan di Jepang bagian tengah dan timur yang tidak begitu jauh dari Edo. Mereka merupakan pengawal keamanan dari Kyoto dan Edo.

Tozama Daimyō = Merupakan Daimyō yang terdiri dari pengikut setia Ieyasu setelah perang Sekigahara. Daimyō ini memiliki kekuasaan yang kecil karena ditempatkan di Jepang bagian barat, utara dan selatan yang jauh dari Edo.

Wilayah yang diberikan pada bakufu tersebut dinamakan Han. Untuk mengatur Han, Bakufu membuat sistem yang disebut sistem Bakuhan (Bakuhan Taisei). Dalam sistem Bakuhan, Bakufu memegang kekuasaan seluruh negeri, sedangkan Daimyō memegang kekuasaan atas wilayah yang diberikan kepadanya (Han).

Untuk mengatur Daimyō, Tokugawa Ieyasu menetapkan peraturan yang harus dipatuhi oleh para Daimyō yang disebut Bukeshōhattō. Salah satunya adalah para Daimyō dilarang memperkuat pasukannya atau mendirikan benteng tanpa sepengetahuan pemerintah pusat (Bakufu).

Bakufu juga membatasi wewenang pihak istana dengan peraturan Kugeshōhattō. Tennō dan golongan Kuge (bangsawan) diberikan penghasilan sesuai kedudukan mereka tapi tidak diberikan tanah. Pengangkatan pejabat istana harus dengan persetujuan Bakufu. Tennō tidak boleh aktif turut serta dalam pemerintahan dan hanya punya fungsi sakral. Tennō tidak dapat diganggu gugat tetapi sama sekali tidak punya kekuasaan apapun. Ada juga larangan Katanagari, yaitu larangan memiliki senjata bagi petani. Hal ini dilakukan karena sering timbulnya pemberontakan oleh petani yang disebabkan besarnya pajak yang harus mereka bayar. Dengan adanya ketiga peraturan tersebut maka Jepang menjadi sangat tenang dan stabil.

Pada mulanya Tokugawa Ieyasu menerima agama Kristen dengan baik, tapi karena timbul kekhawatiran ancaman bahaya politik dari agama Kristen, ia menutup perdagangan dengan bangsa Eropa dan mulai menindas agama Kristen. Penduduk yang beragama Kristen pun memberontak. Perdagangan diperketat hanya bangsa Asia dan Belanda yang boleh berdagang, itupun dengan pengawasan ketat. Jepang menjadi negara yang mengisolasikan diri dari pengaruh barat. Politik isolasi negeri seperti ini disebut Sakoku.

Tahun 1605 M Ieyasu menyerahkan jabatannya kepada anaknya, Tokugawa Hidetada (Shōgun generasi ke-2). Tetapi dirinya masih memerintah sebagai Shōgun yang mengundurkan diri sampai dirinya meninggal tahun 1616 M.

Kemudian Shōgun generasi ke-3, Tokugawa Iemitsu membuat peraturan untuk mengatur para Daimyō yang disebut Sankin Kōtai, yaitu para Daimyō diwajibkan untuk datang dan menetap di Edo sampai beberapa waktu untuk membantu pemerintah pusat. Perekonomian para Daimyō menjadi susah sehingga tidak punya tenaga untuk melawan Shōgun.

Susunan masyarakat pada zaman Edo disebut Shinōkōshō. Kata Shinōkōshō berasal dari:
Shi= bushi= samurai/militer
Nō= nōmin= petani
Kō= kōsakunin= pekerja
Shō= shōnin= pedagang

Selain itu masih ada golongan masyarakat yang tidak digolongkan ke dalam Shinōkōshō, yaitu orang-orang buangan yang disebut Eta atau Hinin.

Pembagian tatanan sosial ini didasarkan pada aja
ran Konfusianisme yang mengajarkan pemaham terhadap hakikat takdir yaitu bahwa manusia harus menerima takdirnya sejak lahir dan tidak dapat menggugat takdir. Pemikiran ini membuat rakyat terpaksa menerima keadaan serta status yang dimilikinya dan tidak dapat memperbaiki statusnya ke tingkat yang lebih tinggi. Diskriminasi kelas pun semakin jelas. Tujuan ditetapkan Shinōkōshō adalah supaya kelas penguasa tetap pada kedudukannya dan memiliki kekuatan untuk menekan kelas yang berada di bawahnya.

Pada zaman Genrōku (zaman kecil yang ada selama zaman Edo. Berlangsung tahun 1646 M sampai 1709 M) perekonomian menjadi kacau karena krisis ekonomi. Tokugawa Yoshimune (Shōgun  generasi ke-8) melakukan beberapa pembaharuan untuk membangun kembali perekonomian Bakufu. Ada tiga reformasi yang dilakukan.

Reformasi pertama = Merancanakan pajak yang berlipat ganda  dan cara membuka lahan baru serta memerintahkan kaum Bushi untuk menghentikan hidup bermewah-mewah dan berhemat. Reformasi ini berhasil, tetapi tidak berlangsung lama.

Reformasi kedua = Memerintahkan kaum Bushi untuk berhemat, menganjurkan Bushi untuk belajar beladiri dan ilmu pengetahuan serta mengeluarkan perintah bahwa Bushi tidak perlu membayar hutan kepada kaum pedagang. Reformasi ini gagal tapi mampu menolong kaum Bushi.

Reformasi ketiga = Memerintahkan kaum Bushi untuk berhemat dan melarang perkumpulan pedagang besar yang melakukan pemborongan. Reformasi ini gagal.

Karena krisis ekonomi, para Daimyō jatuh miskin dan mereka menyalahkan Bakufu. Yang paling buruk nasibnya adalah petani, karena harus membayar pajak yang tinggi. Perasaan tidak senang dan tidak puas terhadap Bakufu itu memupuk gerakan nasionalisme dan menjadi kekuatan besar yang menentang kekuasaan Shōgun. Gerakan itu membuat rakyat memuja kembali Shintōisme dan menyanjung pemerintahan Tennō di masa dahulu yang gemilang. Rakyat menghendaki supaya Tennō memegang kekuasaan kembali. Mereka menganggap kekuasaan Shōgun  tidak sah. Bangsa Jepang pun ingin menghidupkan kembali  sifat-sifat Jepang lama. Keadaan para Samurai yang semakin mundur dan petani yang semakin susah membuat anasir-anasir menjatuhkan Shōgun  semakin kuat.
Ketika keadaan dalam negeri bergejolak, negara-negara barat mendesak Jepang supaya membuka negerinya. Inggris mengadakan revolusi industri dan mengadakan ekspansi ke seluruh dunia dan Amerika pun bermaksud memperluas jangkauannya ke Asia. Pada tahun 1854 M Amerika memaksa Jepang untuk menandatangani persetujuan dagang (persetujuan Kanagawa) yang membuat Jepang harus membuka negeri dari bangsa asing.

Pembukaan negeri (Kaikoku) tersebut  membuat rakyat dan Bushi menjadi susah serta perekonomian menjadi kacau. Dua golongan Bushi tingkat bawah yang disebut Satsuma dan Chōshū bersatu dan memulai gerakan Sonnōjōi melawan orang asing tetapi kalah. Mereka mengakui kekuatan orang asing dan berfikir untuk menjatuhkan Bakufu dan menyelenggarakan pemerintahan baru yang berpusat pada kaisar. Saat itu muncul gerakan-gerakan anti Bakufu yang disebut Bakumatsu.

Pemerintahan Tokugawa resmi berakhir ketika Tokugawa Yoshinobu menyerahkan pemerintahan ke tangan Tennō (Taisei Hōkan) pada tanggal 9 November 1867 untuk menghadapi krisis. Tanggal 19 November 1867 Tokugawa mundur dari jabatannya.

2) Kebudayaan
Karena politik isolasi negeri, Jepang terisolasi dari peradaban barat namun kebudayaan asli Jepang mengalami perkembangan. Dari segi industri, dibangun perusahaan air minum. Industri kerajinan tangan seperti sutera dan kertas juga berkembang. Lalu lintas dan jalan raya dibangun.

Dari segi pendidikan, muncul sekolah yang diselenggarakan di kuil-kuil Buddha yang disebut Terakoya. Ilmu pengetahuan yang berasal dari ajaran Konfusianisme berkembang pesat. Selain itu muncul juga ajaran Kokugaku yaitu ilmu pengetahuan yang meneliti ilmu klasik Jepang dan mencari pemikiran-pemikiran asli Jepang. Kokugaku kemudian memupuk pemikiran untuk menghidupkan kembali pemerintahan langsung oleh Tennō (Sonnō Shisō) dan pemikiran yang berusaha mengusir kekuatan dan pengaruh asing (Jōi Shisō). Inilah yang kemudian melahirkan gerakan Sonnōjōi (Sonnōjōi Shisō) yang muncul pada akhir Bakufu (Bakumatsu). Dengan dibukanya kembali Jepang dari bangsa barat, muncul pula pengetahuan-pengetahuan baru dari barat dan berkembang sebagai Rangaku seperti ilmu kedokteran, ilmu bumi, elektronika dll.

Di bidang kesusastraan, pada zaman Genroku pada masa pemerintahan Tokugawa Tsunayoshi (Shōgun  generasi ke-5) lahir kebudayaan baru masyarakat kota yang disebut Genroku Bunka. Ihara Saikaku mengangkat kehidupan masyarakat kota pada zaman Genroku dalam novel Kōshoku Ichidai Otoko dan Sekenmunazanyō. Matsuo Bashō menciptakan Haiku yaitu puisi 3 baris yang berpola 7-5-7 suku kata. Haiku adalah bagian awal dari Renga yang berdiri sendiri dan pada saat itu disebut Haikai. Oku no Hosomichi adalah catatan perjalanan Bashō yang kemudian menjadi suatu Kikōbun (catatan perjalanan).

Dalam bidang seni pertunjukan, berkembang Kabuki. Kabuki pada mulanya berupa tari-tarian yang dilakukan oleh Okuni yang berasal dari Izumo di kuil Shintō. Saat itu Kabuki dianggap bernilai seni rendah karena kostum dan gerakannya tidak begitu bagus, sehingga Kabuki dilarang oleh Bakufu. Setelah itu Kabuki hanya ditampilkan oleh laki-laki dan lambat laun isi cerita dan seninya menjadi lebih baik. Selain kabuki berkembang pula Ningyō Jōruri yaitu drama boneka yang dimainkan dengan tangan. Kabuki dan Ningyō Jōruri menampilkan lakon-lakon insiden yang terjadi di masyarakat. Ningyō Jōruri merupakan warisan hasil budaya tanpa bentuk yang disebut Bunraku yang dikenal sampai sekarang. Penulis naskah Kabuki dan Ningyō Jōruri pada zaman Genrōku yang juga dikenal sebagai penulis drama terbesar di Jepang adalah Chikamatsu Monzaemon. Karyanya yang terkenal antara lain Sonezaki Shinjū dan Chūshin Tennō Amishima.

Dalam bidang seni lukis yang paling berkembang adalah Ukiyo-e yaitu lukisan yang menggambarkan dunia Kabuki, dunia Sumō, dan dunia wanita penghibur. Ada juga Nishiki-e yaitu gambar yang dibuat dengan dicetak pada papan menggunakan warna-warna yang indah. Seni lain yang berkembang adalah Yūzen (kain celup) dan keramik Jepang.