Thursday, January 15, 2015

Bacaan Ringan "PERANG ONIN BUNMEI 1467 - 1477 - AWAL ZAMAN SENGOKU - PART 1"

http://massandry.blogspot.com
Perang Ōnin (応仁の乱 Ōnin no ran?) adalah perang saudara di Jepang dari tahun 1467 hingga 1477 pada masa pemerintahan Shogun ke-8 Ashikaga Yoshimasa. Perang ini juga disebut Perang Ōnin-Bunmei karena terjadi sepanjang era Ōnin dan Bunmei. Perang Ōnin menandai awal periode baru dalam sejarah Jepang yang disebut zaman Sengoku.[1]

Shogun Yoshimasa yang belum dikaruniai putra pewaris menunjuk adik kandung bernama Yoshimi untuk diangkat sebagai shogun. Namun tahun berikutnya, Hino Tomiko, istri Yoshimasa melahirkan seorang putra yang diberi nama Yoshihisa. Perang dimulai akibat persaingan dua kelompok bersenjata, faksi Yamana pimpinan shugo daimyō Yamana Sōzen (Yamana Mochitoyo) yang mendukung Yoshihisa, dan faksi Hosokawa pimpinan Kanrei Keshogunan Muromachi Hosokawa Katsumoto yang mendukung Yoshimi. Kedua belah pihak ingin calonnya diangkat sebagai shogun hingga kota Kyoto dijadikan medan pertempuran. Peperangan meluas ke berbagai daerah (kecuali Kyushu dan beberapa tempat lain). Kematian Yamana Sōzen dan Hosokawa Katsumoto pada tahun 1473 tidak berhasil menghentikan perang.

Daftar Isi
1 Latar belakang
1.1 Janji Shogun Ashikaga Yoshimasa kepada Ashikaga Yoshimi
1.2 Perubahan politik zaman Bunshō
1.3 Perselisihan antara Katsumoto dan Sōzen
1.4 Pertempuran Kamigoryō
1.5 Meluasnya api peperangan
1.6 Situasi peperangan
1.7 Akhir perang

2 Kekuatan kedua belah pihak
2.1 Pasukan Timur
2.1.1 Shugo daimyo
2.1.2 Bangsawan
2.2 Pasukan Barat
2.2.1 Shugo daimyo
2.2.2 Bangsawan

3 Pembangunan kembali Kyoto
4 Catatan kaki
5 Daftar pustaka
6 Pranala luar

Latar Belakang
Janji Shogun Ashikaga Yoshimasa kepada Ashikaga Yoshimi
Setelah Shogun ke-3 Ashikaga Yoshimitsu dan Shogun ke-4 Ashikaga Yoshimochi berhasil mengatasi kekacauan zaman Namboku-cho dan pemberontakan oleh shugo daimyo berpengaruh, Keshogunan Muromachi mendirikan pemerintahan oleh para tetua di tangan dewan gabungan para daimyo berpengaruh. Shogun ke-6 Ashikaga Yoshinori menjalankan sistem pemerintahan despotisme. Pada tahun 1441, Yoshinori memerintahkan pembunuhan atas Akamatsu Mitsusuke (Pemberontakan Kakitsu), dan kemunduran Keshogunan Muromachi mulai terlihat. Shogun ke-7 Ashikaga Yoshikatsu adalah putra pewaris Yoshinori. Yoshikatsu diangkat menjadi shogun sewaktu masih berusia 9 tahun. Ia tidak lama kemudian meninggal dunia, dan hanya menjabat shogun kurang dari setahun. Ashikaga Yoshikatsu masih berusia 8 tahun ketika diangkat sebagai shogun ke-8 oleh Kanrei Hatakeyama Mochikuni.

Yoshimasa diasuh oleh ibu bernama Hino Shigeko dan ibu susu/selir bernama Imamairi no Tsubone. Ia menjadi dewasa sebagai seorang budayawan di bawah bimbingan Ise Sadachika dan biksu Kikeishinzui. Namun kemampuan Yoshimasa untuk memimpin para daimyo sangat kurang. Minatnya hanya pada upacara minum teh, taman Jepang, dan sarugaku. Keshogunan dijalankan oleh istrinya yang bernama Hino Tomiko, Kanrei Hosokawa Katsumoto, dan Yamana Mochitoyo.

Shogun Yoshimasa berniat mengundurkan diri karena jemu dengan kekacauan dalam pemerintahan dan pemberontakan para petani (Tsuchi Ikki) yang berkelanjutan. Ia juga tidak dapat mengatasi Kelaparan Zaman Chōroku-Kansei (1459-1461). Ketika berusia 29 tahun Yoshimasa belum memperoleh putra penerus keturunan dari Tomiko istrinya ataupun dari para selir. Keadaan tersebut membuatnya berniat memberikan jabatan shogun kepada Gijin, adik kandungnya yang sudah menjadi biksu sekte Jōdokyo. Gijin berpendapat Yoshimasa masih muda dan masih mungkin memiliki keturunan. Ia berulang kali menolak untuk dijadikan shogun, namun akhirnya setuju setelah terus menerus dibujuk. Yoshimasa bahkan membuat surat kontrak pribadi yang menjanjikan "kalau dari dirinya nanti lahir anak laki-laki akan dijadikan biksu, dan tidak akan dijadikan kepala keluarga penerus keturunan". Pada 24 Desember 1464, Gijin berhenti sebagai biksu dan dijadikan putra angkat oleh Yoshimasa. Nama yang dipakainya sebagai calon shogun berikutnya adalah Ashikaga Yoshimi.

Perubahan politik zaman Bunshō
Pada tahun 1466, secara tidak terduga, Shogun Yoshimasa atas saran pembantu terdekat (Ise Sadachika dan Kikei Shinzui) mengalihkan jabatan kepala keluarga dari klan Shiba dari Shiba Yoshikado ke Shiba Yoshitoshi. Yamana Sōzen (Mochitoyo) yang memiliki hubungan keluarga dengan Shiba Yoshikado bersekutu dengan Isshiki Yoshinao dan Toki Shigeyori untuk mendukung Yoshikado. Selanjutnya, Sadachika menyebarkan isu tentang pemberontakan dengan maksud mengusir Ashikaga Yoshimi. Sebagai tindakan balasan, Katsumoto yang menjadi pelindung Yoshimi, mengusir Sadachika hingga ke Provinsi Ōmi dengan bantuan Yamana Sōzen. Sebagai akibat perubahan politik di keshogunan, Kikei Shinzui, Shiba Yoshitoshi, dan Akamatsu Masanori untuk sementara kehilangan posisi dalam pemerintahan dan terusir dari ibu kota.

Perselisihan antara Katsumoto dan Sōzen
Batu peringatan pecahnya Perang Ōnin di Kuil Kamigoryō, Kyoto.
Pemulihan kekuasaan klan Akamatsu ditentang oleh Yamana Sōzen yang telah berjasa memadamkan Pemberontakan Kakitsu. Pada tahun 1458, Katsumoto berencana menghabisi kekuatan militer Sōzen dengan mengangkat Akamatsu Masanori yang juga menantunya menjadi daimyo Provinsi Kaga. Sebagai akibatnya, pertentangan di antara Katsumoto dan Sōzen semakin menjadi. Permusuhan di antara keduanya makin memanas dengan adanya perebutan jabatan kepala klan Shiba antara Yoshikado dan Yoshitoshi.

Pada 12 Desember 1465, secara tidak terduga lahir seorang anak laki-laki dari Hino Tomiko dan Shogun Yoshimasa. Anak laki-laki tersebut kemudian diberi nama Ashikaga Yoshihisa. Tomiko berambisi menjadikan putra kandungnya sebagai pewaris jabatan shogun, tapi jabatan sudah tersebut dijanjikan untuk adik iparnya (Ashikaga Yoshimi). Demi mewujudkan keinginannya, Tomiko mendekati Yamana Sōzen. Dibantu Sōzen, Tomiko secara diam-diam berusaha mencegah pengangkatan Ashikaga Yoshimi sebagai shogun. Di pihak yang berseberangan, Yoshimi bersekutu dengan Kanrei Hosokawa Katsumoto. Sebagai akibatnya, persaingan sengit terjadi karena memperebutkan hak menjadi pewaris jabatan shogun (kepala klan Ashikaga). Hino Tomiko dan Yamana Sōzen yang menjagokan Ashikaga Yoshimasa harus berhadapan dengan Ashikaga Yoshimi dan Hosokawa Katsumoto. Perselisihan penerus jabatan shogun juga meluas ke daerah-daerah. Shugo daimyo terbelah dua menjadi faksi Katsumoto dan faksi Sōzen, dan bentrokan di antara kedua faksi menjadi sulit dihindarkan. Di antara klan Yamana dan klan Hosokawa sebenarnya terikat hubungan keluarga. Katsumoto adalah menantu dari Sōzen setelah mengawini anak angkat Sōzen sebagai istri sah pada tahun 1447.