Monday, January 12, 2015

Bacaan Ringan "SEJARAH PANJANG NEGERI JEPANG DARI JAMAN PRASEJARAH - J.JEPANG ZAMAN TAISHO"

http://massandry.blogspot.com
J.  Jepang Zaman Taishō (1912 M – 1926 M)

1) Keadaan Zaman
Zaman Taishō dimulai sejak kaisar Yoshihito berkuasa (30 Juli 1912 – 25 Desember 1926). Kaisar Yoshihito kemudian mengubah namanya menjadi kaisar Taishō. Pada tahun 1914 M di Eropa terjadi Perang Dunia I. Jepang bersekutu dengan Inggris dan mendeklarasikan perang melawan Jerman pada tanggal 23 Agustus 1914. Jepang pun menduduki daerah jajahan Jerman yang ada di Cina seperti Shandong dan Jiaozhou. Jepang berusaha lebih jauh untuk mengkonsolidasikan posisinya di Cina dengan menyajikan “Dua Puluh Satu Tuntutan” (Twenty-one Demands) ke Cina pada bulan Januari tahun 1915 M. Selain memperluas kontrol atas kepemilikan Jerman, Manchuria, dan Mongolia, Jepang juga mencari kerja sama untuk memiliki kompleks pertambangan dan metalurgi di Cina Tengah. Akhirnya Jepang menarik tuntutan tersebut pada Mei 1915 setelah timbul anti-Jepang di Cina dan kecaman dunia internasional.

Kekuatan Jepang di Asia tumbuh dengan runtuhnya rezim Tsar di Rusia dan kekacauan Revolusi Bolshevik tahun 1917 M di Siberia. Kesempatan tersebut digunakan Jepang untuk menduduki Siberia. Tapi untuk melakukannya Jepang harus bernegosiasi dengan Cina agar bisa mendapatkan tempat transit untuk pasukan Jepang. Akhirnya pada tanggal 2 November 1917, diadakan perjanjian Ishii-Lansing yang menghasilkan kebijakan ”Pintu terbuka”. Pada bulan Juli 1918, Jepang mengirimkan 75.000 tentaranya ke Siberia.

Tahun 1919 M, sebagai negara yang menang perang, Jepang menghadiri Konferensi perdamaian yang diselenggarakan di Paris. Dan pada tahun 1920 M terbentuk Liga-Liga Bangsa dan Jepang menjadi anggota tetap dewan keamanan. Setelah Perang Dunia I lahirlah Demokrasi Taishō di Jepang. Tahun 1918 M Hara Takahashi menjadi Perdana Menteri.

Pada tanggal 13 Desember 1921 ditandatangani Perjanjian Empat Kekuatan (Four Power Treaty) Jepang, Amerika Serikat, Britania, dan Perancis sepakat untuk mengakui status quo di Pasifik. Kemudian tanggal 6 Februari 1922 ditandatangani Perjanjian Perlucutan Senjata Lima Kekuatan (Five Power Naval Disarmament Treaty). Dalam perjanjian tersebut disepakati rasio jumlah kapal adalah 5:5:3:1,75:1,75 masing-masing untuk Amerika Serikat, Inggris, Jepang, Perancis, dan Italia. Tanggal 6 Februari 1922 ditandatangani Perjanjian Sembilan Kekuatan (Nine Power Treaty) Belgia, Cina, Belanda, dan Portugal, bersama dengan lima kekuatan yang asli. Persetujuan tersebut melahirkan kesepakatan untuk mencegah perang di Pasifik. Mereka setuju untuk menghormati Cina merdeka. Jepang juga sepakat untuk menarik pasukannya dari Shandong dan menarik pasukannya dari Siberia.

Akibat adanya perpecahan di Diet dan koalisi yang tidak stabil, pada tahun 1927 M terbentuklah Rikken Minseito (Partai Demokrat Konstitusi) yang merupakan gabungan Kenseikai (Kumpulan Konsititusi Pemerintah) dan Seiyūhontō (True Seiyū). Setelah itu, sampai 1932 M, Seiyūkai dan Rikken Minseito berganti dalam kekuasaan.

Dalam demokrasi di bidang ekonomi, dibuatlah UU anti monopoli sehingga aktivitas ekonomi bisa dilakukan dengan bebas. Reformasi di bidang pertanian dilakukan dengan cara membagikan tanah luas milik tuan tanah yang tidak berada di wilayahnya kepada rakyat. Akibatnya feodalisme antara tuan tanah dan petani kecil menjadi hilang dan pertanian berkembang pesat. Di bidang pendidikan dibuat UU Pendidikan yang menyatakan bahwa sistem pendidikan sekolah dijadikan 6 tahun (SD), 3 tahun (SMP), 3 tahun (SMA), dan 4 tahun (perguruan tinggi). Wajib belajar diperpanjang menjadi 9 tahun.

Pada Tanggal 25 Desember 1926 kaisar Taishō meninggal. Dan digantikan oleh Hirohito.

2) Kebudayaan
Pada zaman Taishō lahirlah sastrawan bernama Akutagawa Ryūnosuke yang menulis novel ”Rashomon”, ”Hana”, ”Jigokuhen”, dll. Dia meninggal dengan cara bunuh diri. Ada juga Tanizaki Jun’ichirō dengan karyanya ”Shunkinshō”, ”Sasameyuki”. Shiga Naoya dengan karyanya ”Anyakoro”. Mushanokōji Saneatsu dengan karyanya ”Sono Imōto”. Kobayashi Takiji dengan karyanya ”Kanikōsen”.

3) Peninggalan
Pada tanggal 1 September 1923 daerah Kantō diguncang gempa hebat sehingga Jepang mengalami kerugian yang cukup berat. Setelah gempa tersebut dibangunlah bangunan-bangunan besar. Rel kereta api, saluran telepon, sarana penyiaran radio, penerbit majalah dan koran juga dibangun. Mobil pun menjadi sarana transportasi yang baru. Pendidikan dan kebudayaan meluas, lahir pula sarjana-sarjana terkenal seperti Noguchi Hideyo yang meneliti penyakit cacar air.