Friday, May 29, 2015

Tokoh Islami "ENAM PULUH SAHABAT UTAMA RASUL - KHALID BIN WALID - PART 9"

http://massandry.blogspot.com
Dan akhirnya jenazah pahlawan besar ini keluar dari rumah­nya diusung oleh para shahabatnya. Ibu dari sang pahlawan memandangnya dengan kedua mata yang bercahaya memper­lihatkan kekerasan hati tapi disaput awan dukacita, lalu melepas­nya dengan kata-kata:

“Jutaan orang tidak dapat melebihi keutamaanmu ….
Mereka gagah perkasa tapi tunduk di ujung pedangmu ….
Engkau pemberani melebihi singa betina ….
Yang sedang mengamuk melindungi anaknya ….
Engkau lebih dahsyat dari air bah ….
Yang terjun dari celah bukit curam ke lembah …. “

Umar mendengar ucapan tersebut, maka hatinya bertambah duka dan terharu, dan air mata beliau semakin jatuh berderai,lalu katanya:

“Benar ucapannya itu … ! Demi Allah sungguh- sungguh demikian . . . “

Dan tinggallah pahlawan itu di pembaringannya. Para sha­habatnya tegak berdiri dengan khusu’nya; dunia sekeliling mereka hening, tenang dan sepi …. Keheningan yang meng­harukan itu, tiba-tiba dipecahkan oleh bunyi ringkik dan dengus kuda yang datang — sebagaimana yang dapat kita bayangkan — sesudah melepaskan tali kekangnya, segera mendompak dan melompat lalu berlari melintasi jalan-jalan kota Madinah menyusul dari belakang jenazah tuannya, pemilik dan penunggang­nya, sementara keharuman dan kewangian jenazah itu semerbak membawanya ke arah tujuan ….

Sewaktu kuda itu sampai ke dekat kumpulan orang-orang yang sedang termenung menghadapi permukaan kubur yang masih basah, digerak-gerakkannya kepalanya bagaikan mengibar­kan panji perang, disertai dengan dengusan yang merendah . . . tak ubahnya seperti yang dilakukannya selagi pahlawannya masih hidup meracak punggungnya, pergi bertempur menggoncangkan istana-istana dan takhta kerajaan Persi dan Romawi, menghilangkan segala angan-angan keberhalaan dan kedurhakaan, dan mengikis habis segala kekuatan kemusyrikan dan kemundur­an yang merintangi jalan Islam ….

Ia terhenti sembari matanya nanap menatap kubur tak berkisar sedikit pun. Digoyang-goyangkannya kepalanya naik turun, seakan-akan melambai-lambaikan kepada tuan dan pah­lawannya, memberi hormat dan menyampaikan salam per­pisahan ….

Kemudian ia tertegun pula, dengan kepala terangkat ke atas disertai kening meninggi . . . , dan dari cekuk di bawahnya mengalirlah air matanya yang deras tak terbendung lagi.

Kuda ini telah diwakafkan Khalid bersama pedangnya untuk jalan Allah. Tetapi adakah orang berkuda lainnya yang sanggup menungganginya sesudah Khalid . . . ? Maukah ia merendahkan punggungnya bagi orang lain? Hai, pahlawan yang selalu jaya, wahai fajar di setiap malam . . . !

Sesungguhnya kamu mengangkat tinggi moral pasukanmu, dengan ucapan setiap bergerak maju:

“Di kala shubuh datang menjelma, pejalan-pejalan malam memuji suka”. (Hendak mencapai kesenangan, haruslah dengan bersusah payah lebih dahulu).

Hingga kata-katamu itu telah menjadi kata-kata bersayap!

Nah, inilah kamu, telah kamu selesaikan perjalanan malam­mu! Maka puji-pujianlah untuk waktu pagi-pagimu, wahai Abu Sulaiman! Sebutan namamu amat mulia, harum mewangi, kekal abadi, wahai Khalid! Dan biarkanlah kami . . . mengulang-ulangi bersama Amirul Mu’minin ucapan kata-katanya yang sedap, manis dan indah yang digunakannya untuk meratapi dan melepas kepergianmu:

“Rahmat Allah bagi Abu Sulaiman”.
“Apa yang di sisi Allah lebih baik daripada yang di dunia”.
“Ia hidup terpuji dan berbahagia setelah mati”.