Friday, May 29, 2015

Tokoh Islami "ENAM PULUH SAHABAT UTAMA RASUL - ABU DARBA - PART 4"

http://massandry.blogspot.com
Seandainya apa yang telah kami kemukakan’di atas bagi Abu Darda’ merupakan salah satu wajah dari kedua wajah ibadah, maka wajahnya yang lain ialah ilmu dan ma’rifat….

Sungguh, Abu Darda’ benar-benar mengkuduskan ilmu dengan setinggi-tinggi kedudukan, disucikannya selaku ia seorang budiman, dan disucikannya selaku ia seorang ‘abid. Perhatikanlah ungkapannya tentang ilmu:

“Orang tidak mungkin mencapai tingkat muttaqin, apabila tidak berilmu, apa guna ilmu, apabila tidak dibuktikan dalam per­buatan”.

Ilmu baginya ialah: pengertian dari hasil penelitian, jalan dalam mencapai tujuan, ma’rifat untuk membuka tabir hakikat, landasan dalam berbuat dan bertindak, daya fikir dalam mencari kebenaran dan motor kehidupan yang disinari iman, dalam melaksanakan amal bakti kepada Allah ar-Rahman.

Dalam mengkuduskan ilmu seorang budiman menganggap:

“Pendidik dan penuntut ilmu sama mempunyai kedudukan yang mulia, masing-masing mempunyai kelebihan dan pa­hala ….
Ia melihat pula bahwa kebesaran hidup ini yang banyak sangkut pautnya dengan segala sesuatu tergantung kepada ilmu yang baik.”

Resapkan ucapannya ini:

“Aku tak tahu mengapa ulama kalian pergi berlalu, sedang orang-orang jahil kalian tidak mau mempelajari ilmu? Ketahuilah bahwa guru yang baik dan muridnya, serupa pahalanya …. Dan tak ada lagi kebaikan yang lebih utama dari kebaikan mereka . . ..”
Katanya pula:

“Manusia itu tiga macam: orang yang berilmu, orang yang belajar . . . , dan yang ketiga orang yang goblok tidak mempunyai kebaikan apa-apa . . . .”

Dan sebagaimana telah kami jelaskan di atas, ilmu dan amal tak pernah berpisah dari hikmat Abu Darda’ r.a. Ia berkata:

“Yang paling kutakutkan nanti di hari qiamat ialah bila di­tanyakan orang di muka khalayak: “Hai ‘Uwaimir, apakah eng­kau berilmu?, maka akan kujawab: “Ada . . . . ” Lalu ditanyakan orang lagi kepadaku: “Apa saja yang engkau amalkan dengan ilmu yang ada itu?”

Ia selalu memuliakan ulama yang mengamalkan ilmunya, menghormati mereka dengan penghormatan besar, bahkan beliau berdu’a kepada Tuhannya dengan katanya: “Ya Allah, aku ber­lindung kepada-Mu dari kutukan hati ulama . . . . ” Lalu ia ditanyai: “Bagaimana dapat hati mereka mengutuki anda?” Jawabnya r.a.; “Dibencinya aku … !”

Adakah anda perhatikan . . . ? Bahwa ia memandang suatu laknat yang tak tertanggungkan bila terdapat kebencian orang alim kepadanya. Oleh karena itulah ia dengan rendah hati berdu’a kepada Tuhannya, agar Ia melindunginya daripadanya ….
Hikmah Abu Darda’ mengajarkan berbuat baik dalam per­saudaraan dan membina hubungan manusia dengan manusia atas dasar kejadian tabiat manusia itu sendiri, maka berkatalah ia:

“Cacian dari seorang saudara, lebih baik daripada kehilang­annya …. Siapakah mereka bagimu, kalau bukan saudara atau teman? Berilah saudaramu dan berlunak lembutlah kepadanya . . . ! Dan jangan engkau ikut-ikutan mendengki saudaramu, nanti engkau akan seperti orang itu pula . . . ! Besok engkau akan dijelang maut, maka cukuplah bagi engkau kehilangannya …. Bagaimana anda akan menangisinya sesudah mati, sedang selagi hidup tak pernah anda memenuhi haknya . . . ?”

Pengawasan Allah terhadap hamba-Nya menjadi dasar yang kuat bagi Abu Darda’, untuk membangun hak-hak persaudaraan di atasnya. Berkatalah Abu Darda’ r.a.:

“Aku benci menganiaya seseorang . . . , dan aku lebih benci lagi, jika sampai menganiaya seseorang yang tidak mampu meminta pertolongan dari aniayaanku, kecuali kepada Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Besar . . . !”

Alangkah besar jiwamu, dan terang pancaran ruhmu, wahai Abu Darda’!

Ia selalu memberi peringatan keras terhadap masyarakat dari fikiran keliru yang menyangka bahwa kaum lemah mudah saja mereka perlakukan sewenang-wenang dengan menyalah­gunakan kekuasaan dan kekuatan. Diperingatkannya, bahwa di dalam kelemahan orang-orang itu, terdapat kekuatan yang ampuh, yakni jeritan hati dan memohon kepada Allah karena kelemahan mereka, lalu menyerahkan nasib mereka ke hadapan- Nya atas perlakuan orang yang menindasnya itu …. !

Nah inilah dia Abu Darda’ yang budiman itu … ! Inilah dia Abu Darda’ yang zuhud, ahli ibadah dan yang selalu merindukan kembali hendak bertemu dengan Tuhannya …. Inilah dia Abu Darda’, yang bila orang terpesona oleh ketaqwaannya, lalu mereka meminta du’a restunya, dijawabnya dengan kerendahan hati yang teguh, katanya:

“Aku bukan ahli berenang …. hingga aku takut akan teng­gelam . . . .”

Demikianlah Abu Darda’ . . . , benarlah ia tak pandai bere­nang? Tetapi apa pula yang akan diherankan, karena bukankah ia hasil tempaan Rasulullah saw. . . . , murid al-Quran .. . , putera Islam yang pertama . . . , dan teman sejawat Abu Bakar dan Umar, serta tokoh-tokoh utama lainnya … !”