Saturday, May 30, 2015

Tokoh Islami - IMAM BESAR - SAYYIDINA AL-IMAM ALWI AL-GHUYUR BIN SAYYIDINA AL-IMAM AL-FAQIH AL-MUQADDAM MUHAMMAD BIN SAYYIDINA ALI BIN SAYYIDINA AL-IMAM MUHAMMAD SHOHIB MARBAT BIN SAYYIDINA AL-IMAM KHOLI QOSAM BIN SAYYIDINA ALWI BIN SAYYIDINA AL-IMAM MUHAMMAD SHOHIB AS-SHOUMA’AH BIN SAYYIDINA AL-IMAM ALWI SHOHIB SAML BIN SAYYIDINA AL-IMAM UBAIDILLAH SHOHIBUL ARADH BIN SAYYIDINA AL-IMAM MUHAJIR AHMAD BIN SAYYIDINA AL-IMAM ISA AR-RUMI BIN SAYYIDINA AL- IMAM MUHAMMAD AN-NAQIB BIN SAYYIDINA AL-IMAM ALI AL-URAYDHI BIN SAYYIDINA AL-IMAM JA’FAR AS-SHODIQ BIN SAYYIDINA AL-IMAM MUHAMMAD AL-BAQIR BIN SAYYIDINA AL-IMAM ALI ZAINAL ABIDIN BIN SAYYIDINA AL-IMAM AS-SYAHID SYABABUL JANNAH SAYYIDINA AL-HUSEIN. RODIYALLAHU ‘ANHUM AJMA’IN - PART 3"

http://massandry.blogspot.com
Berkata al-Muhaddits Imam Muhammad bin Ali bin Alwi al-Khirrid Ba'alawi dalam kitabnya al-Ghuror , telah dikabarkan kepada Syaikh Abdurahman bin Ali, seungguhnya kaum ulama al-arifin berkata: "Tiga orang dari keluarga Alawiyin yang cerdik dan doanya mustajab ialah Syaikh Alwi, anaknya Syaikh Ali dan Umar Muhdhar".

Ketika saudaranya Syaikh Abdullah bin Muhammad al-Faqih al-Muqaddam wafat, kepada beliau Rasulullah memberinya baju dan memerintahkan untuk memakaikannya sebagai kafan kepada saudaranya. Maka dipakaikannya baju tersebut kepada Syaikh Abdullah dan berkata: "Sesungguhnya saudaraku Abdullah adalah seorang wali quthub pada zamannya". Syaikh Abdullah bin Muhammad al-Faqih al-Muqaddam wafat pada malam Senin dua puluh Zulqoidah tahun 662 hijriyah. Beliau tidak mempunyai keturunan kecuali anaknya Muhammad An-nuqo'i dan Fathimah (ibu dari Syaikh Ahmad bin Abdullah bin Alwi bin Muhammad al-Faqih al-Muqaddam). Muhammad An-nuqo'i ialah seorang waliyullah, beliau sering bertemu dengan nabi Khiddir as. Karena rasa takutnya kepada Allah swt beliau sering tidak sadar dan jatuh ke tanah.

Murid-muridnya yang di belakang hari menjadi ulama, antara lain:

• Sayid Abdullah Ba “Alawi
• Sayid Ali
• Sayid Ahmad
• Syekh Ali bin Salim
• Syekh Ahmad Muhammad Bamukhtar,
• dan sejumlah ulama kenamaan lainnya.

Alwi al-Ghuyur juga dikenal sebagai ulama yang suka bersyukur, suka menyantuni yang orang lain, dan suka mengabulkan permohonan orang lemah. Siapa saja yang datang kepadanya dan membutuhkan pertolongan, pasti cepat mendapat pertolongan. Dalam kitab Al-Qurar, Sayid Al-allamah al-imam Muhammad bin Alwi al-Khirid Ba’alawy menulis, Syech Abdurrahman bin Ali mengabarkan kepadaku, bahwa para ulama besar berkata :

“Ada tiga orang keluarga Bani Alawy yang semangatnya senantiasa terpelihara. Mereka cepat memberikan pertolongan kepada orang-orang yang membutuhkan. Mereka adalah Alwi al-Ghuyur dan anaknya, yaitu Ali, serta Syekh Umar al-Muhdhar.”

Suatu hari Alwi al-Ghuyur dicaci maki oleh seorang lelaki didepan khalayak ramai, hanya gara-gara dia tidak berkunjung ke rumah lelaki itu. Lelaki itu tersebut mempunyai khadam, pembantu dari kalangan jin, yang setiap saat mendemontrasikan kebolehannya. Jika ada yang menolak kebolehan jin tersebut, dia dizalimi dengan menggunakan tangan orang lain. Ketika lelaki itu sedang mencaci maki Alwi al-Ghuyur, tiba-tiba Isa bin Amru, seorang lelaki dari bani haram, menempeleng wajahnya.
“kalau kamu mencaci maki Sayid Alwi, apakah kami harus diam?”

Setelah ditempeleng, lelaki pemelihara jin itu mengucapkan kata-kata ancaman kepada Isa bin Amru. Khawatir akan ancaman lelaki tersebut, Isa bin Amru kemudian menemui Sayid Alwi al-Ghuyur.
“Kamu jangan takut” kata Alwi al-Ghuyur. 

Tapi Isa bin Amru tetap takut dan tak berani beranjak dari sisi Sayid Alwi al-Ghuyur. Akhirnya Sayid Alwi al- Ghuyur pergi ke masjid dan menggerak-gerakan pintunya hingga terdengar suara berderit-derit. Kemudian ia pergi ke pintu lainnya dan menggerak-gerakkannya seperti terhadap pintu pertama.

”Ini suara lelaki itu dan suara jin yang selalu ia gunakan untuk mengganggu orang lain. Kini jin itu telah terbunuh, dan lelaki sudah melarikan diri dari Tarim.” 

Kata Sayid Alwi Al-Ghuyur.
Al-Imam Alwi Al-Ghuyur wafat pada hari jum’at 12 Zulkaidah 669 H / 1271 M. jasadnya disemayamkan di makam Zanbal, Tarim, disebelah timur makam ayahandanya.