Friday, May 29, 2015

Tokoh Islami "ENAM PULUH SAHABAT UTAMA RASUL - THALHAH BIN UBAIDILLAH - PART 1"

http://massandry.blogspot.com

مِنَ الْمُؤْمِنينَ رِجالٌ صَدَقُوا ما عاهَدُوا اللهَ عَلَيْهِ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضى‏ نَحْبَهُ وَ مِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ وَما بَدَّلُوا تَبْديلاً

“Di antara orang-orang Mu’min itu terdapat sejumlah laki- laki yang memenuhi janji-janji mereka terhadap Allah. Di antara mereka ada yang memberikan nyawanya, sebagian yang lain sedang menunggu gilirannya. Dan tak pernah mereka merubah pendiriannya sedikit pun juga … “(Q.S. 33 al-Ahzab: 23)

Setelah Rasulullah saw. membacakan ayat yang mulia ini, beliau menatap wajah para shahabatnya sambil menunjuk kepada Thalhah sabdanya:

“Siapa yang suka melihat seorang laki-laki yang masih berjalan di muka bumi, padahal ia telah memberikan nyawanya, maka hendaklah ia memandang Thalhah … “

Tak ada satu kegembiraan yang paling didambakan oleh shahabat Rasul, di mana hati mereka terbang merindukannya, melebihi kedudukan seperti yang disandangkan Rasul kepada Thalhah bin Ubaidillah ini!.

Karena itu, tidak heran bila Thalhah hatinya tenteram mendengar akhir hayatnya serta kesudahan nasibnya dalam hidup ini …. Ia akan hidup dan mati dan termasuk salah seorang dari mereka yang menepati benar apa yang telah mereka janjikan kepada Allah, dan ia tak terkena fitnah dan tidak mendapat kesukaran …. Ia telah digembirakan Rasul akan beroleh surga. Nah, bagaimanakah riwayat kehidupan orang yang telah diramalkan akan berbahagia itu … ?

Dalam perjalanannya berniaga ke kota Bushra, Thalhah sempat berjumpa dengan seorang pendeta yang amat baik. Di waktu itu sang pendeta memberi tahu padanya, bahwa Nabi yang akan muncul di tanah Haram, sebagaimana telah diramalkan oleh para Nabi yang shaleh, masanya telah datang menampakkan diri ….

Diperingatkannya Thalhah agar tidak ketinggalan menyertai kafilah kerasulan itu, yaitu kafilah pembawa petunjuk, rahmat dan pembebasaan ….

Dan sewaktu Thalhah tiba kembali di negerinya Mekah, sesudah berbulan-bulan dihabiskannya di Bushra dan dalam perjalanan, ia menangkap bisik-bisik penduduk . . . dan men­dengar percakapan tentang “Muhammad al-Amin” . . . dan ten­tang wahyu yang datang kepadanya . . . begitu pun tentang kerasulan yang dibawanya kepada seluruh ummat manusia . . . .

Orang yang mula-mula ditanyakan Thalhah ialah Abu Bakar. Maka diketahuinyalah bahwa ia baru saja pulang dengan kafilah beserta barang perniagaannya, dan bahwa ia berdiri di samping Muhammad saw. selaku Mu’min, sebagai pembela yang me­nyerahkan dirinya kepada Tuhan.

Thalhah berbicara kepada dirinya sendiri: ‘Muhammad saw. dan Abu Bakar? Demi Allah, tak mungkin kedua orang ini akan bersekongkol dalam kesesatan kapan pun!”

Muhammad saw. telah mencapai usia 40 tahun. Kita belum pernah mengenal kebohongan agak sekalipun dalam jangka usianya yang sekian lama itu … . Apakah mungkin ia berdusta hari ini terhadap Allah, . . . lalu mengatakan bahwa Tuhan telah mengutusnya dan mengirimkan wahyu kepadanya . . . ? Suatu hal yang tidak masuk akal .. . !

Thalhah mempercepat langkahnya menuju rumah Abu Bakar. Tak berlangsung lama pembicaraan di antara keduanya, maka rindunya hendak menemui Rasulullah saw. dan hasratnya hendak berjanji setia kepadanya serasa semakin cepat dari debar jantung­nya sendiri …. Ia ditemani Abu Bakar pergi kepada Rasulullah saw. di mana ia menyatakan keislamannya dan mengambil tempat dalam kafilah yang diberkati ini . . . dari angkatan per­tama. Begitulah Thalhah termasuk orang yang memeluk Islam pada angkatan terdahulu …..

Sekalipun ia orang yang terpandang dalam kaumnya, dan seorang hartawan besar dengan perniagaannya yang selalu me­ningkat, namun ia tidak luput menderitakan penganiayaaji dari orang-orang Quraisy karena Islam. Untunglah ia dan Abu Bakar mendapat perlindungan dari Naufal bin Khuwailid, si Singa Quraisy paman Khadijah isteri Rasul …. Sehingga penganiayaan terhadap keduanya tidak berlangsung lama, karena orang-orang musyrik Quraisy merasa segan kepadanya serta takut pula akan akibat perbuatan mereka….

Thalhah hijrah ke Madinah sewaktu orang-orang Islam diperintahkan hijrah. Kemudian ia selalu menyaksikan semua peperangan bersama Rasulullah saw. kecuali perang Badar, karena waktu itu, Rasul mengutusnya bersama Sa’id bin Zaid untuk suatu keperluan penting keluar kota Madinah ….

Sewaktu keduanya telah menyelesaikan tugas mereka dengan baik, dan kembali ke Madinah, kebetulan Nabi dengan para shahabatnya yang lain sedang kembali pula dari perang Badar. Alangkah sedih dan perih perasaan keduanya kehilangan pahala karena tidak menyertai Rasulullah saw. berjihad dalam peperang­an yang pertama itu.

Tetapi Rasul telah menenteramkan hati mereka hingga tenang dan mantap dengan memberitahukan bahwa mereka tetap memperoleh pahala dan ganjaran yang sama seperti orang- orang yang berperang. Bahkan Rasul membagikan rampasan perang kepada keduanya, tidak kurang dari yang didapat oleh mereka yang menyertainya ….