Friday, May 29, 2015

Tokoh Islami "ENAM PULUH SAHABAT UTAMA RASUL - UMEIR BIN WAHAB - PART 2"

http://massandry.blogspot.com

Ujar Umeir pula: “Demi Allah, aku masih hijau tentang hal itu!”
Tanya Rasulullah pula: “Apa maksudmu datang ke sini, hai Umeir?” 
Jawabnya: “Kedatanganku ke sini sehubungan dengan tawanan yang berada di tangan anda”.
Tukas Nabi pula: “Apa maksud pedangmu yang tersandang itu?”
Jawab Umeir: “Pedang-pedang keparat! Menurut anda apakah ada faedah manfa’atnya pedang itu bagi kami?”
Berkata pula Rasulullah: “Berkatalah terus terang hai Umeir, apa maksud kedatanganmu yang sebenarnya?”
Ujar Umeir pula: “Tak ada maksudku yang lain, hanyalah yang kusebutkan tadi”.
Kata Rasulullah saw: lagi: “Bukankah kamu telah duduk bersama Shafwan bin Urnaiyah di atas batu, lalu kamu berbincang-bincang tentang orang-orang Quraisy yang tewas di sumur Badar, kemu­dian katamu: “Kalau bukan karena utang dan keluargaku, niscaya aku akan pergi membunuh Muhammad. Lalu Shafwan ­menjamin akan membayar utangmu dan menanggung keluarga­mu, asal kamu membunuhku, padahal Allah telah menjadi penghalang bagi maksudmu itu … !”
Waktu itu berserulah Umeir: “Asyhadu alla ilaha illallah, wa asyhadu annaka Rasulullah . . “

Urusan ini tak ada yang menghadirinya selain aku dengan Shafwan saja. Demi Allah, tak ada yang memberi kabar kepadamu selain Allah! Maka puji syukur kepada ‘Allah yang telah menunjuki aku kepada Islam!”

Maka berkatalah Rasulullah kepada shahabat-shahabatnya: “Ajarilah saudaramu ini soal Agama, bacakan kepadanya al-­Quran dan bebaskanlah tawanan itu serta serahkanlah ke­padanya!”

Begitulah Umeir bin Wahab masuk Islam..

Dan demikianlah masuk Islamnya Jagoan Quraisy! Ia telah diliputi oleh nur Rasul dan nur Islam seluruhnya, hingga tiba-tiba dalam sekajap saat ia telah berbalik menjadi pembela Islam yang gigih.

Berkatalah Umar bin Khatthab r.a.: “Demi Allah yang diriku di tangan-Nya! Sesungguhnya aku lebih suka melihat babi dari pada si Umeir sewaktu mula-mula muncul di hadapan kita . . . ! , Tetapi sekarang aku lebih suka kepadanya daripada sebagian anakku sendiri …!”

Umeir duduk merenungkan dengan mendalam toleransi atau kelapangan dada dan sifat pema’af Agama ini serta kebesaran Rasul-Nya. Ia teringat akan masa-masa silamnya di Mekah, sewaktu ia merencanakan tipu muslihat busuk dan memerangi Islam, yakni sebelum hijrah Rasul dan shahabat-shahabatnya ke Madinah. Kemudian ia teringat pula usaha dan perjuangannya di perang Badar . . .

Dan kini, ia datang dengan rnenimang ­nimang pedang di tangan hendak membunuh Rasul. Dan semua itu dengan sekejap mata habis dikikis dengan ucapannya: “La ilaha illallah, Muhammadur-Rasulullah . . . “

Alangkah pema’af dan sucinya, serta teguhnya kepercayaan diri , ajaran yang dibawa oleh Agama besar ini . . . !

Beginikah kiranya Islam dalam sekejap saja sedia meng­hapuskan segala kesalahannya yang lalu, sementara orang-orang Islam. melupakan segala dosa dan kejahatannya serta permusuhannya yang lampau, dan membukakan dasar hati mereka untuk­nya, bahkan sedia merangkul dan memeluknya ke haribaan mereka?

Beginikah jadinya, pedang yang tergenggam kuat untuk suatu niat yang jahat, dan kekejaman keji, yang kilatannya rnasih membayang di muka mereka, semuanya sudah di lupakan, dan sekarang tak ada yang diingat lagi, kecuali Islamnya Umeir, dan dalam waktu sekejap ia telah menjadi salah seorang dari Kaum Muslimin, shahabat Rasul, yang mempunyai hak seperti hak-hak mereka, dan memikul kewajiban dan tanggung jawab seperti mereka pula?

Dan beginikah akhirnya, seorang yang hampir dibunuh oleh Umar bin Khatthab beberapa saat sebelumnya, sekarang jadi dicintainya melebihi cintanya kepada anak cucunya sendiri ?

Kalaulah salah satu saat dari keberanian yakni saat Umeir . menyatakan keislamannya, telah membawa keberuntungan bagi Umeir berupa penghargaan, kemuliaan, ganjaran dan peng­hormatan dari Islam, maka tak ada penilaian lain, bahwa benar­ benarlah Islam itu suatu Agama yang maha luhur … !

Tidak berapa lama antaranya Umeir sudah mengenal tugas kewajibannya terhadap Islam . . . . Bahwa ia akan berbakti kepadanya, seimbang dengan usahanya memeranginya di masa lampau. Dan bahwa ia akan mengajak orang kepada Islam setaraf dengan ajakannya memusuhinya di masa silam.

Dan bahwa ia akan memperlihatkan kepada Allah dan Rasul-Nya apa yang dicintai,Allah dan Rasul-Nya itu berupa kejujuran, perjuangan dan ketaatan. Dan begitulah, ia datang menghadap Rasulullah pada suatu hari, sembari berkata:

“Wahai Rasulullah! Dahulu aku berusaha memadamkan cahaya Allah; sangat jahat terhadap orang yang memeluk Agama Allah ‘Azza wajalla, maka sekarang aku ingin agar anda idzinkan aku pergi ke Mekah! Aku akan menyeru mereka kepada Allah dan kepada Rasul­Nya, serta kepada Islam, semoga mereka diberi hidayah oleh Allah! Kalau tidak, aku akan menyakiti mereka karena agama mereka, sebagaimana dulu aku menyakiti shah abat-shahabatmu karena agama yang diikuti mereka . . . !”

Pada hari-hari itu, semenjak Umeir meninggalkan kota Mekah menuju Madinah, maka Shafwan bin Umaiyah yang telah menghasut Umeir pergi membunuh Rasul, sering mundar-mandir di jalan-jalan kota Mekah dengan sombong, dan ia selalu menumpahkan kegembiraannya yang meluap di semua majlis dan tempat-tempat pertemuannya … !

Dan setiap ia ditanyai kaum dan sanak saudaranya sebab ­sebab kegembiraannya itu, padahal tulang-belulang ayah masih terjemur di panas terik matahari padang Badar, ia lalu menepuk kan kedua telapak tangannya dengan bangga sambil berkata kepada orang-orang itu: “Bersenang hatilah kalian karena bakal ada satu kejadian yang akan datang beritanya dalam beberapa hari lagi, yang akan menghapus malu kita di perang Badar … !

Setiap pagi ia keluar ke tempat ketinggian di pinggiran kota Mekah, menanyai kafilah-kafilah dan para penunggang kalau-kalau ada peristiwa penting terjadi di Madinah. Tapi jawaban mereka tidak ada yang menyenangkan dan meng­gembirakannya, karena tak ada seorang pun yang mendengar atau melihat suatu kejadian penting di Madinah.

Shafwan tidak berputus asa, bahkan ia tetap shabar menanyai rombongan demi rombongan, hingga akhirnya ia menemukan sebagian mereka yang waktu ditanyainya: “Apa tak ada suatu kejadian di Madinah?”, mendapat jawaban dari musafir itu: “Benar,telah terjadi suatu kejadian besar . . . !”