Friday, May 29, 2015

Tokoh Islami "ENAM PULUH SAHABAT UTAMA RASUL - THALHAH BIN UBAIDILLAH - PART 3"

http://massandry.blogspot.com
Kemudian dipanggil­nya sebagian shahabatnya dan bersama-sama mereka membawa hartanya itu berkeliling melalui jalan-jalan kota Madinah dan rumah-rumahnya sambil membagi-bagikannya sampai parak siang sehingga tak ada pula yang tinggal lagi walau agak satu dirham pun ….

Jabir bin Abdullah menggambarkan pula kepemurahan Thalhah dengan berkata: “Tak pernah aku melihat seseorang yang lebih dermawan dengan memberikan hartanya yang banyak tanpa diminta lebih dulu, daripada Thalhah bin Ubaidillah . . .!”

Ia adalah seorang yang paling banyak berbuat baik kepada keluarga dan kaum kerabatnya; ditanggungnya nafqah mereka semua sekalipun demikian banyaknya ….

Mengenai itu di­katakan orang tentang dirinya: “Tak seorang pun dari Bani Taim yang mempunyai tanggungan, melainkan dicukupinya perbelanjaan keluarganya. Dinikahkannya anak-anak yatim mereka, diberinya pekerjaan keluarga mereka dan dilunasinya hutang-hutang mereka … .”

As-Sa’ib bin Zaid, lain pula ceriteranya tentang Thalhah: “Aku telah menemui Thalhah baik dalam perjalanan maupun waktu menetap, maka tak pernah kujumpai seseorang yang lebih merata kepemurahannya, baik mengenai uang, kain atau makanan daripada Thalhah …!”

Timbul fitnah yang terkenal dalam masa Khilafat Utsman r.a. Thalhah menyokong alasan mereka yang menentang Utsman dan membenarkan sebagian besar tuntutan mereka mengenai perubahan dan perbaikan ….

Tetapi dengan pendirian itu, apa­kah ia mengajak orang membunuh Utsman atau ia merestuinya . . . ?

Oh, seandainya ia tahu bahwa fitnah itu akan berlarut-larut dan membawa kepada permusuhan dan saling menuduh serta menimbulkan dendam kebencian yang menyala-nyala hingga akhirnya jatuh qurban menemui ajalnya “Dzun Nurain” Utsman bin ‘Affan dalam peristiwa berdarah dan kejam itu ….

Kita katakan: “Seandainya ia mengetahui bahwa fitnah itu akan berakhir dengan pembunuhan seperti itu, pastilah ia akan menentangnya bersama shahabat-shahabat yang mula-mula menyokong, karena anggapan dan dugaan bahwa gerakan itu hanyalah sebagai gerakan perbaikan dan peringatan semata tidak lebih…!”

Maka pendirian Thalhah ini berubah menjadi kemelut hidup­nya, yakni sesudah terjadinya cara kekerasan dan kekejaman di mana Utsman dikepung lalu dibunuh orang ….

Tak lama setelah Imam Ali menerima bai’at dari Kaum Muslimin di Madinah di antaranya Thalhah dan Zubair, kedua­nya telah meminta idzin pergi melaksanakan ‘umrah ke Mekah. Dari Mekah mereka menuju Bashrah dan di sana telah ber­himpun banyak kekuatan yang hendak menuntutkan bela kematian Utsman ….

“Waq’atul Jammal” atau peristiwa perang Berunta adalah perang, di mana bertempur dua pasukan, yang satu menuntut bela atas terbunuhnya Utsman dan yang lain pasukan peme­rintah di bawah Khalifah Ali… .

Adapun Imam Ali dalam memikirkan situasi sulit yang sedang melanda Agama Islam dan Kaum Muslimin, timbullah murung hatinya, melelehlah air matanya, dan terdengar isak tangisnya . ..!!

Ia telah dipaksa untuk bertindak keras. Dalam kedudukannya selaku Khalifah Muslimin, tak ada jalan lain, dan tidak sepantas­nya ia bersikap lunak terhadap pembangkangan atas peme­rintahan, atau terhadap setiap pemberontakan bersenjata me­lawan Khalifah yang telah dikukuhkah syari’at.

Di kala ia bangkit untuk memadamkan pemberontakan semacam ini, maka ia selalu mencari jalan untuk menghindarkan tertumpahnya darah saudara-saudaranya, para shahabat dan teman-temannya, para pengikut Rasul yang seagama, yaitu mereka yang semenjak lama telah berperang bersamanya melawan tentara syirik, menerjuni pertempuran bahu-membahu di bawah bendera tauhid yang mempersatukan mereka sebagai satu keluarga, bahkan menjadikan mereka sebagai saudara kandung yang saling membela.

Bencana apakah ini … ? Dan ujian sulit apa lagi yang lebih dari itu … ? Dalam mencari jalan ke luar dari bencana ini, dan untuk menjaga jangan sampai tertumpah darahnya Muslimin, Imam Ali selalu mempergunakan setiap cara yang dapat dipakai dan harapan yang dapat diandalkan. Tetapi orang-orang yang dahulu pernah menjadi intrik-intrik Romawi dan kekisraan Persi yang dahulu telah menemui kehancurannya di saat kejayaan Islam di bawah Khalifah Utsman nan bijaksana, dengan sikap munafik telah menyebarluaskan fitnah dan hasutan, maka kekalutan tambah menjadi-jadi.

Ali menangis mengucurkan air mata sewaktu ia melihat Ummul Mu’minin Aisyah dalam sekedup untanya, bertindak mengepalai balatentara yang hendak memeranginya ….

Dan ketika dilihatnya pula Thalhah dan Zubair, pembela-pembela Rasulullah itu berada di tengah-tengah pasukan, Ali lalu me­manggil Thalhah dan Zubair agar keduanya muncul menghadap­nya; keduanya pun tampillah hingga leher kuda-kuda mereka bersentuhan, Ali berkata kepada Thalhah:

“Hai Thalhah, pantas­lah engkau membawa-membawa isteri Rasulullah untuk ber­perang, sedangkan isterimu sendiri kau tinggalkan di rumah . . . ?”

Kemudian katanya kepada Zubair: