Skip to main content

Tokoh Islami "ENAM PULUH SAHABAT UTAMA RASUL - THALHAH BIN UBAIDILLAH - PART 3"

http://massandry.blogspot.com
Kemudian dipanggil­nya sebagian shahabatnya dan bersama-sama mereka membawa hartanya itu berkeliling melalui jalan-jalan kota Madinah dan rumah-rumahnya sambil membagi-bagikannya sampai parak siang sehingga tak ada pula yang tinggal lagi walau agak satu dirham pun ….

Jabir bin Abdullah menggambarkan pula kepemurahan Thalhah dengan berkata: “Tak pernah aku melihat seseorang yang lebih dermawan dengan memberikan hartanya yang banyak tanpa diminta lebih dulu, daripada Thalhah bin Ubaidillah . . .!”

Ia adalah seorang yang paling banyak berbuat baik kepada keluarga dan kaum kerabatnya; ditanggungnya nafqah mereka semua sekalipun demikian banyaknya ….

Mengenai itu di­katakan orang tentang dirinya: “Tak seorang pun dari Bani Taim yang mempunyai tanggungan, melainkan dicukupinya perbelanjaan keluarganya. Dinikahkannya anak-anak yatim mereka, diberinya pekerjaan keluarga mereka dan dilunasinya hutang-hutang mereka … .”

As-Sa’ib bin Zaid, lain pula ceriteranya tentang Thalhah: “Aku telah menemui Thalhah baik dalam perjalanan maupun waktu menetap, maka tak pernah kujumpai seseorang yang lebih merata kepemurahannya, baik mengenai uang, kain atau makanan daripada Thalhah …!”

Timbul fitnah yang terkenal dalam masa Khilafat Utsman r.a. Thalhah menyokong alasan mereka yang menentang Utsman dan membenarkan sebagian besar tuntutan mereka mengenai perubahan dan perbaikan ….

Tetapi dengan pendirian itu, apa­kah ia mengajak orang membunuh Utsman atau ia merestuinya . . . ?

Oh, seandainya ia tahu bahwa fitnah itu akan berlarut-larut dan membawa kepada permusuhan dan saling menuduh serta menimbulkan dendam kebencian yang menyala-nyala hingga akhirnya jatuh qurban menemui ajalnya “Dzun Nurain” Utsman bin ‘Affan dalam peristiwa berdarah dan kejam itu ….

Kita katakan: “Seandainya ia mengetahui bahwa fitnah itu akan berakhir dengan pembunuhan seperti itu, pastilah ia akan menentangnya bersama shahabat-shahabat yang mula-mula menyokong, karena anggapan dan dugaan bahwa gerakan itu hanyalah sebagai gerakan perbaikan dan peringatan semata tidak lebih…!”

Maka pendirian Thalhah ini berubah menjadi kemelut hidup­nya, yakni sesudah terjadinya cara kekerasan dan kekejaman di mana Utsman dikepung lalu dibunuh orang ….

Tak lama setelah Imam Ali menerima bai’at dari Kaum Muslimin di Madinah di antaranya Thalhah dan Zubair, kedua­nya telah meminta idzin pergi melaksanakan ‘umrah ke Mekah. Dari Mekah mereka menuju Bashrah dan di sana telah ber­himpun banyak kekuatan yang hendak menuntutkan bela kematian Utsman ….

“Waq’atul Jammal” atau peristiwa perang Berunta adalah perang, di mana bertempur dua pasukan, yang satu menuntut bela atas terbunuhnya Utsman dan yang lain pasukan peme­rintah di bawah Khalifah Ali… .

Adapun Imam Ali dalam memikirkan situasi sulit yang sedang melanda Agama Islam dan Kaum Muslimin, timbullah murung hatinya, melelehlah air matanya, dan terdengar isak tangisnya . ..!!

Ia telah dipaksa untuk bertindak keras. Dalam kedudukannya selaku Khalifah Muslimin, tak ada jalan lain, dan tidak sepantas­nya ia bersikap lunak terhadap pembangkangan atas peme­rintahan, atau terhadap setiap pemberontakan bersenjata me­lawan Khalifah yang telah dikukuhkah syari’at.

Di kala ia bangkit untuk memadamkan pemberontakan semacam ini, maka ia selalu mencari jalan untuk menghindarkan tertumpahnya darah saudara-saudaranya, para shahabat dan teman-temannya, para pengikut Rasul yang seagama, yaitu mereka yang semenjak lama telah berperang bersamanya melawan tentara syirik, menerjuni pertempuran bahu-membahu di bawah bendera tauhid yang mempersatukan mereka sebagai satu keluarga, bahkan menjadikan mereka sebagai saudara kandung yang saling membela.

Bencana apakah ini … ? Dan ujian sulit apa lagi yang lebih dari itu … ? Dalam mencari jalan ke luar dari bencana ini, dan untuk menjaga jangan sampai tertumpah darahnya Muslimin, Imam Ali selalu mempergunakan setiap cara yang dapat dipakai dan harapan yang dapat diandalkan. Tetapi orang-orang yang dahulu pernah menjadi intrik-intrik Romawi dan kekisraan Persi yang dahulu telah menemui kehancurannya di saat kejayaan Islam di bawah Khalifah Utsman nan bijaksana, dengan sikap munafik telah menyebarluaskan fitnah dan hasutan, maka kekalutan tambah menjadi-jadi.

Ali menangis mengucurkan air mata sewaktu ia melihat Ummul Mu’minin Aisyah dalam sekedup untanya, bertindak mengepalai balatentara yang hendak memeranginya ….

Dan ketika dilihatnya pula Thalhah dan Zubair, pembela-pembela Rasulullah itu berada di tengah-tengah pasukan, Ali lalu me­manggil Thalhah dan Zubair agar keduanya muncul menghadap­nya; keduanya pun tampillah hingga leher kuda-kuda mereka bersentuhan, Ali berkata kepada Thalhah:

“Hai Thalhah, pantas­lah engkau membawa-membawa isteri Rasulullah untuk ber­perang, sedangkan isterimu sendiri kau tinggalkan di rumah . . . ?”

Kemudian katanya kepada Zubair:

Popular posts from this blog

Bacaan Dewasa "FAKTA KEHIDUPAN SEKSUAL REMAJA JEPANG"

http://massandry.blogspot.com Inilah beberapa alasan Negeri Sakura itu melegalkan JAV Sex di Jepang sudah bukan hal yang tabu bagi kita, apalagi budaya sex yang bisa terbilang ekstrem di tengah-tengah bangsa yang menjunjung tinggi kesopanan ini. Siapa sih yang tidak tahu kalau bangsa Jepang terkenal sopan? Namun tak sedikit pula yang tahu budaya sex Jepang yang ekstrim.
Berikut kisahnya: 
1. Di salah satu kuil di Tokyo, ada sebuah gerbang merah yang jadi simbol sakral penduduk disana. Ternyata, di arena setelah kita melewati gerbang merah tersebut adalah area ritual bagi perempuan disana yang ingin melepas keperawanannya. 

2. Tahu shinkansen? Di kereta api super cepat ini ternyata tersedia gerbong khusus buat perempuan. Di gerbong ini, perempuan diberikan kebebasan untuk ngapain tanpa harus keganggu ama cowo- cowo yang ada disana. Konon kabarnya cowo Jepang sering ngelakuin tindakan asusila di kereta api. (bahkan beberapa syuting film porno memakai latar belakang kereta api sinkansen …

Bacaan Ringan "PROFIL LENGKAP WARKOP DKI "

http://massandry.blogspot.com
PROFIL: WAHYU SARDONO (DONO - WARKOP)
Drs. H. Wahjoe Sardono lebih dikenal dengan Dono Warkop lahir di Solo 30 September 1951 adalah aktor dan pelawak Indonesia yang bertinggi badan 167 cm serta beragama Islam. Ia juga dikenal sebagai aktor pada akhir 1970-an, tahun 1980-an dan era 1990-an. Dono meninggal pada 30 Desember 2001 akibat Kanker Paru-Paru.
Pendidikan:  Fakultas Ilmu Sosial - Jurusan Sosiologi, Universitas Indonesia 
Karir: Penyiar Radio Prambors (1974-1980)  Asisten Dosen Jurusan Sosiologi – Fakultas Ilmu Sosial UI (1974- 1980)  Dosen Jurusan Sosiologi – Fakultas Ilmu Sosial UI 
Alamat Rumah: Jalan Pulo Asem Utara 13/18, Jakarta Timur. 

Kabut tebal menyelimuti dunia perlawakan Indonesia. Ahad dini hari 30 Desember 2001 sekitar pukul 00.50 WIB, Drs H.Wahyu Sardono alias Dono Warkop, menghembus napas terakhirnya di kamar no 11 Paviliun Ignatius rumah sakit St Carollus Salemba Jakarta Pusat. Dia meninggal dengan tenang, disamping sahabatnya, Indr…

Bacaan Ringan "SABUNG AYAM MAULANA HASANUDDIN vs PRABU PUCUK UMUN"

http://massandry.blogspot.com Setelah kedua belah pihak telah bersepakat, dan telah menyiapkan ayam yang akan disabungkan, maka di hari itu, pada 11 Rabiul Awal tahun 888 Hijriah, orang-orang dari istana Pakuan Banten Girang dan para adjar dan pandita di Gunung Pulosari telah berkumpul untuk menyaksikan pertandingan sabung ayam antara Maulana Hasanuddin dan Ragamulya Surya Kencana alias Prabu Pucuk Umun. Saat itu, ayam keduanya saling mematuk, menghantam, mencabik, atau sesekali menghindari serangan lawannya, sebelum saling menyerang satu sama lain, yang diiringi oleh sorak-sorai para pendukung Maulana Hasanuddin dan Ragamulya Surya Kencana secara bergantian atau pun bersamaan.
Saat itu, semua yang hadir dan menyaksikan adu tanding kesumat itu merasa takjub dan heran ketika kedua ayam yang sama gagah dan perkasanya belum menandakan ada yang akan kalah di tengah arena. Bila ayam yang satu terpantik atau terjangkar oleh ayam yang lainnya, maka para pendukungnya akan bersorak gembira, da…