Friday, May 29, 2015

Tokoh Islami "ENAM PULUH SAHABAT UTAMA RASUL - THALHAH BIN UBAIDILLAH - PART 4"

http://massandry.blogspot.com
“Hai Zubair, aku minta kau jawab karena Allah! Tidakkah engkau ingat, di suatu hari Rasulullah lewat di hadapanmu sedang ketika itu kita sedang berada di tempat Anu. Beliau berkata kepadamu: “Wahai Zubair, tidakkah engkau cinta kepada Ali. .. ?” Maka jawabmu: “Masa kan aku tidak akan cinta kepada saudara sepupuku, anak bibi dan anak pamanku, serta orang yang satu Agama dengan­ku .. . ?” Waktu itu beliau berkata lagi: “Hai Zubair demi Allah, bila engkau memeranginya, jelas engkau berlaku dhalim kepadanya . . . !” Waktu itu berkatalah Zubair r.a.: “Yah, se­karang aku ingat, hampir aku melupakannya! Demi Allah aku tak akan memerangimu … !”

Thalhah dan Zubair menarik diri dari perang saudara ini …. Mereka menghentikan perlawanan, segera setelah mengeta­hui duduk persoalan, dan demi melihat Ammar bin Yasir ber­perang di fihak Ali. Mereka teringat akan sabda Rasulullah saw. kepada Ammar: “Yang akan membunuhmu ialah golongan orang durhaka . . . “

Seandainya Ammar terbunuh dalam peperangan yang disertai Thalhah ini, tentulah ia termasuk golongan orang yang durhaka… !

Thalhah dan Zubair mengundurkan diri dari peperangan, dan mereka terpaksa membayar harga pengunduran itu dengan nyawa mereka. Tetapi mereka beruntung dapat menemui Allah mereka dengan hati yang senang dan tenteram, disebabkan karunia yang telah dilimpahkan-Nya kepada mereka, berupa petunjuk dan fikiran yang benar ….

Adapun Zubair ia telah diikuti seorang laki-laki bernama Amru bin Jarmuz yang membunuhnya di kala ia sedang lengah, yakni sewaktu ia sedang bershalat . . . ! Dan mengenai Thalhah, ia dipanah oleh Marwan bin Hakam yang menghabisi hayat- nya….

Peristiwa terbunuhnya Utsman telah mendatangkan keresah­an pada jiwa Thalhah, hingga sebagaimana telah kami katakan dahulu menyebabkan kemelut hidupnya. Padahal, ia tidaklah ikut dalam pembunuhan, tidak pula menghasut orang untuk membunuhnya, ia hanya membela orang yang menentang Utsman, di waktu belum ada tanda-tanda bahwa penentangan itu akan berlanjut dan berlarut-larut hingga berubah menjadi kejahatan atau tindak pidana yang kejam .. . !

Dan sewaktu ia ikut mengambil bagian dalam perang Jamal bersama pasukan yang menentang Ali bin Abi Thalib menuntut bela kematian Utsman, maka tujuannya dengan tindakan itu, ialah untuk menebus dosa yang akan membebaskannya dari tekanan bathinnya.

Sebelum memulai pertempuran, dengan suara yang tersekat oleh air mata, ia berdu’a dan merendahkan diri, katanya: “Ya Allah ambillah sekarang balasan kesalahanku terhadap Utsman hingga Engkau ridla kepadaku ….”. Maka tatkala ia ditemui Ali seperti yang telah kita ceriterakan, kata-kata Ali telah me­nerangi hatinya, sehingga bersama Zubair mereka melihat ke­benaran lalu meninggalkan medan perang.

Tetapi mati sebagai syahid telah disediakan untuk kedua mereka! Benar . . . ! Mati syahid adalah hak Thalhah yang di­kejarnya dan mengejar dirinya, di mana pun ia berada . . . karena bukanlah Rasulullah telah bersabda tentang hal ini: “Inilah dia orang yang akan mengurbankan nyawanya! Siapa yang ingin menyaksikan seorang syahid yang berjalan di muka bumi, maka lihatlah Thalhah . . 

Karena itulah ia menemukan syahid, tempat kembalinya yang agung dan yang telah ditentukan, dan dengan demikian berakhir pula perang Jamal …. Ummul Mu’minin Aisyah menyadari bahwa ia telah tergesa-gesa dalam menghadapi per­soalan itu, karena itu ditinggalkannya Bashrah menuju Baitul Haram dan terus ke Madinah, tak hendak campur tangan lagi dalam pertarungan itu. Ia dibekali oleh Imam Ali dalam per­jalanannya dengan segala perbekalan dan diiringi penghor­matan ….Sewaktu Ali meninjau orang-orang yang gugur sebagai syuhada di medan tempur, semua mereka dishalatkannya, baik yang bertempur di fihaknya maupun yang menentangnya. Dan tatkala selesai memakamkan Thalhah dan Zubair, ia berdiri melepas keduanya dengan kata-kata indah dan mulia, yang disudahinya dengan kalimat-kalimat berikut ini:

“Sesungguhnya aku amat mengharapkan agar aku bersama Thalhah dan Zubair dan Utsman, termasuk di antara orang- orang yang difirmankan Allah:

وَ نَزَعْنا ما في‏ صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ إِخْواناً عَلى‏ سُرُرٍ مُتَقابِلينَ

“Dan Kami cabut apa yang bersarang dalam dada mereka dari kebencian sebagai layaknya orang bersaudara, dan di atas pelaminan mereka bercengkerama berhadap-hadapan “(Q.S. 15 al-Hijr: 47!

Kemudian disapunya makam mereka dengan pandangan kasih sayang, yang keluar dari hati bersih dan penuh belas kasih, seraya katanya:

“Kedua telingaku ini telah mendengar sendiri sabda Rasulullah saw. Thalhah dan Zubair menjadi tetanggaku dalam surga …. “.