Friday, May 29, 2015

Tokoh Islami "ENAM PULUH SAHABAT UTAMA RASUL - ZAID BIN KHATTAB - PART 1"

http://massandry.blogspot.com
Pada suatu Hari Nabi saw. duduk dikelilingi sejumlah orang ­orang Islam. Selagi pembicaraan berlangsung , tiba-tiba Rasulullah terdiam sejenak, kemudian beliau menghadapkan bicaranya kepada semua yang ada di sekelilingnya dengan ucapan:

“Sesungguhnya di antara kalian ada seorang laki-laki,gerahamnya di dalam neraka, lebih besar dari gunung Uhud. . . !

Semua yang hadir dalam majlis beserta Rasulullah saw. ini senantiasa diliputi ketakutan dan kecemasan akan timbulnya fitnah dalam Agama kelak . . . . Masing-masing mereka merasa kecut dan takut, kalau-kalau ia lah yang akan menerima nasib yang paling jelek dan kesudahan yang terkutuk itu. . . !

Tetapi semua mereka, yang mendengar pembicaraan waktu itu , kehidupannya telah berakhir dengan kebaikan, mereka telah menemui ajal mereka sebagai syuhada di jalan Allah. Yang tinggal masih hidup hanyalah Abu Hurairah dan Rajjal bin ‘Unfuwah.

Setelah gugur sebagai syuhada para shahabat tersebut di atas , Abu’ Hurairah merasa seluruh persendiannya gemetar dan hatinya diliputi ketakutan , kalau-kalau ramalan Nabi itu me nimpa dirinya. Matanya tak mau terpejam ditidurkan, dan belum tenang rasa cemasnya , sampai taqdir menyingkapkan tabir orang yang bernasib celaka itu . . . .

Orang yang bernama Rajjal itu murtad dari Islam dan ia bergabung dengan Musailamah al-Kaddzab , malah .mengakui kenabian palsunya.

Ketika itu ternyatalah apa yang diramalkan Rasul dengan nubuatnya mengenai nasib jelek dan kesudahan yang celaka itu …. Rajjal bin ‘Unfuwah ini pergi di suatu hari kepada Rasul saw. berbai’at dan masuk Islam. Sesudah ia menganut Islam itu kembalilah ia kepada kaumnya . . . Ia tak pernah datang lagi ke Madinah, kecuali sesudah Rasul wafat dan terpilihnya Abu Bakar ash-Shiddiq jadi Khalifah Kaum Muslimin .

Kepada Abu Bakar telah disampaikan orang berita tentang keadaan penduduk Yamamah dan bergabungnya.mereka dengan Musai­lamah. Rajjal mengusulkan kepada ash-Shiddiq agar ia sendiri diutus kepada mereka untuk mengembalikan mereka kepada Islam. Usul itu diterima oleh Khalifah ….

Maka berangkatlah Rajjal ke negeri Yamamah . . . . Sewaktu ia menyaksikan jumlah mereka sangat banyak serta menakutkan dan disangkanya bahwa orang-orang itu pasti menang.

Maka jiwa khianatnya membisikkan agar mulai hari itu, ia menyeberang saja ke pihak gerombolan “Al-Kaddzab” si pembohong itu yang disangkanya akan jaya dan menang, lalu ditinggalkannya Islam, dan bergabung ke dalam barisan Musai­lamah yang ber-murah hati kepadanya dengan mengobral janji janji .

Bahaya Rajjal. terhadap Islam lebih mengkhawatirkan dari bahaya Musailamah sendiri. Sebabnya karena ia dapat me­nyalah gunakan keislamannya yang lalu , dan masa-masa hidupnya bersama Rasul di Madinah, serta hafalnya akan ayat-ayat Quran yang tidak sedikit , begitupun dikirimnya ia sebagai utusan oleh Abu Bakar, Khalifah Kaum Muslimin. Semua itu disalahgunakan­nya secara keji untuk memperkuat kekuasaan Musailamah dan mengukuhkan kenabian palsunya.

Dengan sungguh-sungguh ia pergi menyebarluaskan kepada orang banyak, bahwa ia pernah mendengar Rasulullah saw. berkata yang maksudnya: Bahwa beliau menjadikan Musailamah bin Habib sebagai serikatnya dalam perkara itu …. Sekarang, karena Rasul telah wafat; maka orang yang paling berhaq mem­bawa bendera kenabian dan wahyu sesudahnya ialah Musai­lamah … !!
Jumlah orang-orang yang bergabung kepada Musailamah semakin bertambah banyak, disebabkan, kebohongan-kebohongan Rajjal ini, dan karena penyalahgunaan keislaman dan hubungan­nya dengan Rasulullah di masa silam

Berita kebohongan Rajjal ini sampai ke Madinah. Kemarahan orang-orang Islam menjadi berkobar karena tindakan si murtad ini, yang akan menyesatkan manusia sampai sebegitu jauh, dan yang dengan kesesatan itu akan memperluas daerah pepe­rangan, yang mau tak mau harus diterjuni Kaum Muslimin. Maka orang Islam yang paling murka dan terbakar kemarah­annya untuk menjumpai Rajjal,, ialah seorang shahabat yang mulia, yang cemerlang namanya dalam buku-buku riwayat dan sejarah dengan nama tersayang Zaid ibnul Khatthab … !

Pasti anda pernah mendengarnya …!