Saturday, May 30, 2015

Tokoh Islami - IMAM BESAR - IMAM MUHAMMAD MAULA AD-DAWILAYH BIN IMAM ALI SHOHIBUD DARK BIN SAYYIDINA AL-IMAM ALWI AL-GHUYUR BIN SAYYIDINA AL-IMAM AL-FAQIH AL-MUQADDAM MUHAMMAD BIN SAYYIDINA ALI BIN SAYYIDINA AL-IMAM MUHAMMAD SHOHIB MARBAT BIN SAYYIDINA AL-IMAM KHOLI QOSAM BIN SAYYIDINA ALWI BIN SAYYIDINA AL-IMAM MUHAMMAD SHOHIB AS-SHOUMA’AH BIN SAYYIDINA AL-IMAM ALWI SHOHIB SAML BIN SAYYIDINA AL-IMAM UBAIDILLAH SHOHIBUL ARADH BIN SAYYIDINA AL-IMAM MUHAJIR AHMAD BIN SAYYIDINA AL-IMAM ISA AR-RUMI BIN SAYYIDINA AL- IMAM MUHAMMAD AN-NAQIB BIN SAYYIDINA AL-IMAM ALI AL-URAYDHI BIN SAYYIDINA AL-IMAM JA’FAR AS-SHODIQ BIN SAYYIDINA AL-IMAM MUHAMMAD AL-BAQIR BIN SAYYIDINA AL-IMAM ALI ZAINAL ABIDIN BIN SAYYIDINA AL-IMAM AS-SYAHID SYABABUL JANNAH SAYYIDINA AL-HUSEIN. RODIYALLAHU ‘ANHUM AJMA’IN. - PART 2"

http://massandry.blogspot.com
Karomah Imam Muhammad bin Ali Maula Ad-Dawilayh.

• Wali Shohibul Ahwal
Imam Muhammad Maula Dawilayh dikenal sebagai seorang Wali Shohibul Ahwal, dikarenakan itulah banyak kejadian luar biasa seputar hal beliau ini. Secara sederhana, Hal bisa diartikan dalam bahasa modern adalah reaksi kimia dari resonansi hati yang merupakan efek langsung dari aktifitas yang sangat tinggi dari setiap faktor ataupun unsur batin secara menyeluruh ( dari ibadat ) yang telah sempurna, secara intens dalam waktu yang bersamaan. 

Disebabkan setiap faktor tadi telah mencapai intensitas maksimum yang lalu terjalin menjadi satu dalam ( sifat ) hal yang sedang dialami kemudian berproses lebih lanjut menimbulkan reaksi metafisika yang tervisual menjadi sesuatu yang terlihat luar biasa, sebagai tanda "benarnya" aktifitas hal itu sendiri. Nilai "benar" disini menjadi penting sekali bila dikaitkan dengan benar tidaknya "penempatan" didalam kosmos hati, sebagai perbedaan yang mana timbul dari sifat manusiawi ataukah Rabbany ( berasal dari Allah swt ). Karena hal timbul semata karena berasal dari Allah swt bukan karena sebab lain seperti sifat manusia secara psikologis.

Merupakan kesepakatan di kalangan Wali bahwa asas hal adalah Mahabbah ( cinta Allah dan Rasul Allah swt ), maka bila benar Mahabbah-Nya, benar pula hal-nya, ketiadaan Mahabbah tadi menafikan hal. Sebagai contoh yang paling mudah dari hal awam, adalah orang yang telah sungguh-sungguh bertobat dari dosa besar, mustahil tidak merasa sedih, takut ataupun malu bilamana teringat dengan perbuatannya, baik itu dikala ia menghadapkan dirinya kepada tuhannya ketika sholat ataupun bermunajah, mestilah ia menangis, dikarenakan takut ( khauf ) dan pengharapan ( Roja' ) akan rahmat Allah swt ( takut dan pengharapan disini adalah hal ). 

Menangis, hanyalah bentuk visual, dalam contoh hal ini "penyesalan yang mendalam" adalah pemicunya. Seperti inilah contoh cikal bakal apa yang disebut hal. Logisnya bilamana hal ini terjadi pada diri seorang Wali tentulah kadar hal nya pun akan jauh lebih tinggi sekali dan visualnya sangat luar biasa. Berbeda dengan "Maqom", hal tidak bersifat permanen, hanya bersifat sementara, selama aktifitas dari hati berlangsung.

• Jari-jari yang terbakar.
Al-Faqih As-Sholeh Muhammad bin Abdullah bercerita :
"Kami sering melihat di jari dan di anggota tubuh yang lain pada diri Syekh Muhammad bin Ali Maula Ad-Dawilayh ada bekas hitam seperti bekas terbakar, tanda seperti ini selalu kami dapati hingga beliau wafat, dan tanda ini sering muncul apabila beliau dalam keadaan hal Khauf.

Syekh Abdurrahman Assegaff juga meriwayatkan sebagian hal ayahnya ( Syekh Muhammad bin Ali Maula Ad-Dawilayh ) : ada bekas hitam seperti bekas terbakar, tanda seperti itu selalu kami dapati hingga beliau wafat. "Bilamana ayahku sedang membaca satu ayat AL-Khauf, maka lidah beliau seolah-olah menjadi bara. 

Dan tak lama kemudian akan terlihat bibir beliau terbakar, karena dahsyatnya rasa Khauf beliau kepada Allah swt. Dan ayahandaku pernah berkata kepadaku : "Kalau sekiranya lidahku berada diluar badanku ketika aku sedang membaca ayat Al-Qur'an niscaya akan aku bakar lidahku dengan tanganku sendiri sebagai peringatan bagi diriku sendiri agar bertaqwa kepada Allah swt." Dan bilamana beliau sedang membaca Al-Qur'an tersebut, Kami ( Anak-anak As-Suekh Muhammad Maula Ad-Dawilayh )ambil, beliau pun tidak akan sadar, karena kekhusukan yang tinggi dalam membaca Al-Qur'an.

• Darah yang membeku.
As-Syekh Abdurrahman As-Segaff bercerita : "Sekali Waktu ayahandaku mendapatkan Hal dan Hal ini berlangsung lama ampai 7 hari berturut-turut sehingga membuat beliau kepayahan. Di tubuh beliau kala itu aku dapati adanya darah hitam, atau bekas lebam kehitam-hitaman. Kalau sekiranya badan ayahandaku tidak kuat, maka hal yang beliau alami tersebut hampir-hampir membunuh ayahku."

"Ketika diriku sedang berada di sisi ayahandaku menjelang wafatnya beliau, aku mendengar suatu suara yang berasal dari dada beliau. Maka terlintas di hatiku keraguan, apakah ini memang kematian seorang sufi. Maka tiba-tiba kedua mata ayahandaku terbuka dan beliau mengkasyaf akan isi hatiku. Beliau berkata : "Sesungguhnya aku melihat buruk sangka di dalam hatimu. Ketahuilah olehmu bahwa suara yang engkau dengar itu berasal dari suara berzikirnya hatiku mengingat Allah swt."

• Imam Muhammad Ad-Dawilayh yang sedang Ghairoh.
Syekh Abdurrahman Assegaf Ra bercerita : 
Sekali waktu datanglah rombongan para Sholihin yang ingin berziarah ke makam Nabi Hud As. Tatkala mereka sampai di kota Yabhur, mereka sholat maghrib bersama ayahku. Setelah sholat maghrib mereka pun meneruskan ibadah mereka dengan berbagai amalan sunnah lainnya, yang justru tidak ku mengerti adalah ayahku, beliau malah pergi ke belakang masjid dan bercakap-cakap dengan pembantu beliau.

Imam Muhammad Maula Dawilah lahir di Tarim. Beliau tumbuh dan dibesarkan di sana. Ketika ayahnya meninggal ia masih kecil dan selanjutnya beliau diasuh dan dididik oleh pamannya Syaikh Abdullah. Imam Muhammad Maula Dawilah belajar kepada kaum ulama al-arifin , para fuqaha di Makkah dan Madinah.

Berkata Syaikh Muhammad bin Hasan al-Mualim: "Saya menyaksikan bahwa Syaikh Muhammad Maula dawilah berada dalam kasih sayang Allah swt setelah wafatnya". Suatu hari Syaikh Muhammad Maula dawilah hadir bersama paman dan gurunya Syaikh Abdullah Ba'alawi. Ketika datang waktu shalat, beliau langsung menunaikan shalat tanpa terlebih dahulu mengambil wudhu' dan ketika ditanya kepadanya, Syaikh Muhammad Maula Dawilah berkata: "Demi Allah swt, sesungguhnya saya telah minum dan berwudhu' dengan air di telaga kautsar". Kemudian beliau menggerakkan jenggotnya, maka meneteslah air dari jenggotnya itu. Telaga kautsar adalah salah satu telaga yang berada di surga.

Al-Faqih Ali bin Silim meriwayatkan: Pada suatu hari Syaikh Muhammad Maula Dawilah datang ke rumahnya dan memegang rumah tersebut dengan jari-jarinya. Lalu ia berkata kepada penghuni rumah tersebut: Keluarlah kamu sekalian wahai penghuni rumah. Maka keluar semua yang ada di dalam rumah tersebut. Setelah itu beliau melepaskan tangannya dan menjauh dari rumah itu, maka tidak lama kemudian rumah itu roboh dan semua penghuni rumah tersebut selamat.

Berkata Syaikh Abdurahman Assaqqaf: "Ayahku berkata kepadaku: ketika aku sedang sakit datang dua orang malaikat dengan sebuah bejana dan di dalamnya terdapat sesuatu yang berwarna putih seperti susu, maka aku minum apa yang ada dalam bejana itu sampai habis, rasa cairan yang aku minum lebih manis dari madu. Maka beliau berkata: dari mana cairan ini? Malaikat tersebut menjawab: dari mata air Salsabila.

Sesungguhnya Imam Muhammad Maula Dawilah jika sedang membaca alquran tentang ayat-ayat yang berisi berita peringatan, maka kaku lidahnya, cemas dan terlihat di kedua bibirnya seperti terbakar dan beliau selama dua puluh tahun melaksanakan shalat subuh dengan wudhu' isya. Ketika merasa sesaat lagi akan wafat, beliau melihat Rasulullah saw memakaikannya jubah.

Imam Muhammad Maula Dawilah wafat pada hari Senin tanggal 10 sya'ban 765 H / sekitar 1345 M, jasadnya dimakamkan di kompleks pemakaman para Habib di Zanbal.

Beberapa hari menjelang wafatnya, beliau mengucapkan bait-bait puisi sebagai tanda cinta kepada Rasulullah saw :
"Sesungguhnya setiap rumah yang Tuan tempati tak membutuhkan lampu penerang. Wajah Tuan yang bercahaya adalah hujjah kami, pada hari ketika manusia mendatangkan berbagai macam hujjah."