Saturday, May 30, 2015

Tokoh Islami - IMAM BESAR - SAYYIDINA AL-IMAM JA’FAR AS-SHODIQ BIN SAYYIDINA AL-IMAM MUHAMMAD AL-BAQIR BIN SAYYIDINA AL-IMAM ALI ZAINAL ABIDIN BIN SAYYIDINA AL-IMAM AS-SYAHID SYABABUL JANNAH SAYYIDINA AL-HUSEIN. RODIYALLAHU ‘ANHUM AJMA’IN.

http://massandry.blogspot.com
Sayyidina Al-Imam Ja’far As-Shodiq bin Sayyidina Al-Imam Muhammad Al-Baqir bin Sayyidina Al-Imam Ali Zainal Abidin bin Sayyidina Al-Imam As-Syahid Syababul Jannah Sayyidina Al-Husein. Rodiyallahu ‘Anhum Ajma’in.

Beliau lahir di Madinah, tahun 83 H dan dibesarkan disana. Ibunda beliau Ummu Farwah binti Al-Qasim bin Muhammad bin Sayyidina Abu Bakar As-Shiddiq. Ayahanda beliau Sayyidina Al-Imam Muhammad Al-Baqir.
Sejak kecil beliau telah memperoleh pendidikan agama dari orang tuanya sendiri; ayah beliau telah membangun sebuah madrasah yang sudah banyak melahirkan Ulama besar yang pernah belajar di madrasah tersebut. Beliau juga belajar kepada Ulama besar lain seperti : Atha’, Urwah, Nafi Al Zuhri, dll.
Selama beliau tinggal di Madinah, beliau menghabiskan waktunya untuk memperdalam berbagai macam ilmu dan bergaul dengan Tokoh-tokoh Ulama besar, seperti :

• Imam Abu Hanifah
• Imam Malik bin Anas
• Washal bin Atha’
• Dll

Kelebihan dan Karomah Imam Ja’far As-Shodiq

• Beliau dikenal sebagai Mujtahid di bidang ilmu Fiqih. Dalam kalangan para Fuqoha’ dikenal sebagai Pendiri Mazhab kelima yakni Mazhab Fiqih Ja’fariyah. 

• Beliau dikenal sebagai Ulama dan Tokoh Sufi yang memilki Ma’rifah Laduniyah yang tinggi yang tidak dimiliki oleh sembarang orang.

• Beliau selalu menolak untuk diberi jabatan duniawi. Imam As-Syilli berkata : “pada suatu hari kalangan Bani Hasyim bermaksud akan mengangkat Muhammad dan Ibrahim bin Abdullah bin Hasan bin Abi Thalib, untuk menjadi Khalifah. Peristiwa itu terjadi, beberapa saat menjelang berakhirnya daulah Marwan.

Mereka mengirim sejumlah utusan untuk menemui Imam Ja’far As-Shodiq, dan meminta kesediaan beliau untuk diangkat menjadi Khalifah. Sesudah mereka berkumpul dihadapan beliau danmenyatakan akan membai’at beliau menjadi Khalifah, dengan tegas beliau menolak, seraya berkata : 

“Demi Allah swt,jabatan itu bukan untukku dan bukan pula untuk kedua orang ini. Jabatan ini hanya untuk yang berjubah kuning itu. Demi Allah swt, mereka akan dipermainkan oleh anak-anaknya.”
Setelah itu, beliau bangkit meninggalkan majelis itu. Manshur Al-Abbasi ketika itu hadir dan memakai jubah kuning. Ucapan Imam Ja’far As-Shodiq itu ternyata benar, karena Al-Manshur belakangan diangkat menjadi Khalifah.

• Doa’ beliau makbul; jika memerlukan sesuatu, beliau mengucapkan :”Wahai Tuhan, Aku memerlukan itu”
Maka belim habis doa’nya, sesuatu yang dimaintanya sudah berada didepannya. 
Al-Manawi meriwayatkan bahwa pada suatu hari Imam Ja’far As Shodiq digiring kehadapan Kholifah Al-Manshur, dengan tuduhan palsu. Seorang saksi memperkuat tuduhan itu, dengan besumpah bahwa ia telah melihat Imam Ja’far As Shodiq melakukan sesuatu. Padahal kesaksian itu tidak benar sama sekali. Belum lagi habis ucapannya, tiba-tiba saksi itu jatuh tersungkur dan mati ketika itu juga. 

• Al-Laits bin Saad menyatakan :”Pada tahun 113 H, Aku mengerjakan haji di Makkah. Pada suatu hari , selesai sholat ‘Asar, aku naik ke punacak Jabal Kubis. Kulihat disitu seorang laki-laki sedang asyik berdo’a. dia mengucaokan :”Ya Allah swt , aku ingin sekali memakam buah anggur, berilah aku. Ya Allah! Sesungguhnya pakaianku sudah lusuh, berilah aku pakaian.” Belum habis doa’nya kulihat sebuah keranjang penuh berisi anggur sudah berada dihadapannya, padahal masa itu bukan musim anggur. Dan dua helai kain baju terletak pula disampingnya. Kain baju itu sangat bagus, belum pernah kulihat kain sebagus. 

Dasar Pemikiran Imam Ja’far As-Shodiq
“Keseimbangan Tobat dan Ibadah akan menimbulkan perilaku yang baik yang mendapat Ridho dari Allah swt. Sebab dengan Tobat, kita akan menyadari akan semua kesalahan yang pernah kita lakukan, dan dengan Tobat pula dapat meningkatkan amal ibadah kita kepada Allah swt.”

Sesuai sabda Rasulullah saw : 
“Apabila Allah swt menghendaki seseorang menjadi baik, maka dia membuatnya menyadari akan kesalahan-kesalahannya.” 

Wafatnya Imam Ja’far As-Shodiq
Beliau wafat di Madinah pada tahun 148 H dan dimakamkan di Baqi’.
Asy-Syarif Ahmad bin Muhammad Sholih al-Baradighi mengatakan bahwa nasab para sayyid/ syarif di Hadramaut berpangkal pada nasab Imam Ja'far al-Shadiq melalui Muhammad bin Ali Uraidhi. Ia diberi gelar gelar 'al-Shadiq' karena kebenarannya dalam kata-katanya. Ia juga diberi nama ' Amudusy-Syaraf ' (tiang kemuliaan).

Ibundanya ialah Furwah binti Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar al-Shiddiq. Sedangkan ibunda Furwah ialah Asma binti Abdurahman bin Abu Bakar al-Shiddiq. Ia pernah berkata: Aku dilahirkan al-Shiddiq dua kali!. Imam Ja'far al-Shaddiq mempunyai anak:
Abdullah 
Abbas 
Yahya 
Muhsin Tidak mempunyai keturunan
Ja'far 
Hasan 
Muhammad al-Ashgor 

Sedangkan yang memberi keturunan:
1. Ismail (Sohibul Mazhab Syi'ah Ismailiyah)
2. Muhammad al-Akbar (gelarnya al-Dibaj)
3. Ishaq (gelarnya al-Mu'taman)
4. Musa al-Kadzim 
5. Ali (gelarnya al-Uraidhi)