Saturday, May 30, 2015

Tokoh Islami "ENAM PULUH SAHABAT UTAMA RASUL - ABDULLAH IBNU RAWAHAH - PART 2"

http://massandry.blogspot.com
Ibnu Rawahah berdiri dalam keadaan siap bersama pasukan Islam yang akan berangkat meninggalkan kota Madinah …. Ia tegak sejenak lalu berkata, mengucapkan syairnya;

“Yang kupinta kepada Allah Yang Maha Rahman
Keampunan dan kemenangan di medan perang
Dan setiap ayunan pedangku memberi ketentuan
Bertekuk lututnya angkatan perang syetan
Akhirnya aku tersungkur memenuhi harapan ….
Mati syahid di medan perang . .!!”

Benar, itulah cita-citanya kemenangan dan hilang terbilang . . . , pukulan pedang atau tusukan tombak, yang akan membawanya ke alam syuhada yang berbahagia . . !!

Balatentara Islam maju bergerak ke medan perang Muktah. Sewaktu orang-orang Islam dari kejauhan telah dapat melihat musuh-musuh mereka, mereka memperkirakan besarnya bala­tentara Romawi sekitar duaratus ribu orang . . . , karena menurut kenyataan barisan tentara mereka seakan tak ada ujung akhir dan seolah-olah tidak terbilang banyaknya . . .!

Orang-orang Islam melihat jumlah mereka yang sedikit, lalu terdiam …. dan sebagian ada yang menyeletuk berkata:

“Baiknya kita kirim utusan kepada Rasulullah, memberitakan jumlah musuh yang besar. Mungkin kita dapat bantuan tambahan pasukan, atau jika diperintahkan tetap maju maka kita patuhi”.

Tetapi Ibnu Rawahah, bagaikan datangnya siang bangun berdiri di antara barisan pasukan-pasukannya lalu berucap:

“Kawan-kawan sekalian! Demi Allah, sesungguhnya kita ber­perang melawan rnusuh-musuh kita bukan berdasar bilangan, kekuatan atau banyaknya jumlah . . . ! Kita tidak memerangi mereka, melainkan karena mempertahankan Agama kita ini, yang dengan memeluknya kita telah dimuliakan Allah . . . ! Ayohlah kita maju . . . ! Salah satu dari dua kebaikan pasti kita capai, kemenangan atau syahid di jalan Allah . . . !”

Dengan bersorak sorai Kaum Muslimin yang sedikit bilangan­nya, tetapi besar imannya itu menyatakan setuju. Mereka ber­teriak: “Sungguh, demi Allah, benar yang dibilang Ibnu Rawahah . . !”

Demikianlah, pasukan terus ke tujuannya, dengan bilangan yang jauh lebih sedikit menghadapi musuh yang berjumlah 200.000 yang berhasil dihimpun orang Romawi untuk meng­hadapi suatu peperangan dahsyat yang belum ada taranya.

Kedua pasukan balatentara itu pun bertemu, lalu berkecamuklah pertempuran di antara keduanya, sebagaimana telah kita sebutkan dahulu ….

Pemimpin yang pertama Zaid bin Haritsah gugur sebagai syahid yang mulia, disusul oleh pemimpin yang kedua Ja’far bin Abi Thalib, hingga ia memperoleh syahidnya pula dengan penuh kebesaran, dan menyusul pula sesudah itu pemimpin yang ketiga ini, Abdullah bin Rawahah.

Di kala itu ia memungut panji perang dari tangan kanan Ja’far, sementara peperangan sudah mencapai puncaknya. Hampir-hampirlah pasukan Islam yang kecil itu, tersapu musnah di antara pasukan-pasukan Romawi yang datang membanjir laksana air bah, yang berhasil dihimpun oleh Heraklius untuk maksud ini.

Ketika ia bertempur sebagai seorang prajurit, Ibnu Rawahah menerjang ke muka dan ke belakang, ke kiri dan ke kanan tanpa ragu-ragu dan perduli. Sekarang setelah menjadi panglima seluruh pasukan, yang akan dimintai tanggung jawabnya atas hidup mati pasukannya, demi terlihat kehebatan tentara Romawi, seketika seolah terlintas rasa kecut dan ragu-ragu pada dirinya.

Tetapi saat itu hanya sekejap, kemudian ia membangkit­kan seluruh semangat dan kekuatannya dan melenyapkan semua kekhawatiran dari dirinya, sambil berseru:

“Aku telah bersumpah wahai diri, maju ke medan laga Tapi kenapa kulihat, engkau menolak surga …. Wahai diri, bila kau tak tewas terbunuh, kau kan pasti mati Inilah kematian sejati yang sejak lama kau nanti…. Tibalah waktunya apa yang engkau idam-idamkan selama ini Jika kau ikuti jejak keduanya, itulah kesatria sejati ….!” (Maksudnya, kedua shahabatnya Zaid dan Ja’far yang telah mendahului gugur sebagai syuhada).

“Jika kamu berbuat seperti keduanya, itulah kesatria sejati . . . . ! “

Ia pun maju menyerbu orang-orang Romawi dengan tabahnya …. Kalau tidaklah taqdir Allah yang menentukan, bahwa hari itu adalah saat janjinya akan ke surga, niscaya ia akan terus menebas musuh dengan pedangnya, hingga dapat menewas­kan sejumlah besar dari mereka .

Tetapi lonceng keberangkatan sudah berdenting, yang memberitahukan awal perjalanan­nya pulang ke hadlirat Allah, maka naiklah ia sebagai syahid .

Jasadnya jatuh terkapar, tapi rohnya yang suci dan perwira naik menghadap Zat Yang Maha Pengasih lagi Maha Tinggi, dan tercapailah puncak idamannya:

“Hingga dikatakan, yaitu bila mereka meliwati mayatku: Wahai prajurit perang yang dipimpin Allah, dan benar ia telah terpimpin!”

“Benar engkau, ya Ibnu Rawahah . . . ! Anda adalah seorang prajurit yang telah dipimpin oleh Allah . . . !”

Selagi pertempuran sengit sedang berkecamuk di bumi Balqa’ di Syam, Rasulullah saw. sedang duduk beserta para shahabat di Madinah, sambil mempercakapkan mereka. Tiba-tiba percakapan yang berjalan dengan tenang tenteram, Nabi terdiam, kedua matanya jadi basah berkaca-kaca. Beliau mengangkatkan wajahnya dengan mengedipkan kedua matanya, untuk melepas air mata yang jatuh disebabkan rasa duka dan belas kasihan . . . ! Seraya memandang berkeliling ke wajah para shahabatnya dengan pandangan haru, beliau berkata:

“Panji perang dipegang oleh Zaid bin Haritsah, ia bertempur bersamanya hingga ia gugur sebagai syahid …. Kemudian diambil alih oleh Ja’far, dan ia bertempur pula bersamanya sampai syahid pula ….”.

Beliau berdiam sebentar, lalu diteruskannya ucapannya:

“Kemudian panji itu dipegang oleh Abdullah bin Rawahah dan ia bertempur bersama panji itu, sampai akhirnya ia pun syahid pula”.

Kemudian Rasul diam lagi seketika, sementara mata beliau bercahaya, menyinarkan kegembiraan, ketenteraman dan ke­rinduan, lalu katanya pula: “Mereka bertiga diangkatkan ke tempatku ke surga . . . “

Perjalanan mana lagi yang lebih mulia ….
Kesepakatan mana lagi yang lebih berbahagia ….
Mereka maju ke medan laga bersama-sama ….
Dan mereka naik ke surga bersama-sama pula ….

Dan penghormatan terbaik yang diberikan untuk mengenangkan jasa mereka yang abadi, ialah ucapan Rasulullah saw. yang berbunyi:

“Mereka telah diangkatkan ke tempatku ke surga ….”