Skip to main content

Tokoh Islami "ENAM PULUH SAHABAT UTAMA RASUL - KHALID BIN WALID - PART 4"

http://massandry.blogspot.com
Berita-berita tentang pembangkangan kaum-kaum dan suku-suku, setiap saat nampaknya semakin berbahaya. Abu Bakar sendiri maju memimpin pasukan yang kedua ini Tetapi, para shahabat utama jadi hilang keshabaran mereka. Semuanya sepakat untuk meminta Khalifah agar tetap tinggal di Madinah.

Imam Ali terpaksa menghadang Abu Bakar dan memegang tali kekang kuda yang sedang ditungganginya untuk mencegah keberangkatannya bersama pasukan, sembari berkata kepadanya:

“Hendak ke mana anda, wahai Khalifah Rosululloh ? Akan kukatakan kepada anda, apa yang pernah diucapkan Rosululloh di hari Uhud: “Simpanlah pedangmu wahai Abu Bakar, jangan engkau cemaskan kami dengan dirimu!”

Di hadapan desakan dan suara bulat Kaum Muslimin, Kha­lifah terpaksa menerima untuk tinggal di kota Madinah. Maka dibaginya tentara Islam menjadi sebelas kesatuan, masing-masing kesatuan dibebani tugas tertentu, sedang sebagai kepala dari keseluruhan kesatuan tersebut diangkatnya Khalid ibnul Walid. Dan setelah menyerahkan bendera pasukan kepada masing- masing komandannya, Khalifah mengarahkan mukanya kepada Khalid, lalu katanya:

“Aku pernah mendengar Rosululloh bersabda: Bahwa sebaik-baik hamba Allah dan kawan sepergaulan, ialah Khalid ibnul Walid, sebilah pedang di antara pedang- pedang Allah yang ditebaskan kepada orang-orang kafir dan munafik . . .”

Maka Khalid pun segera menjalankan tugasnya, berpindah- pindah bersama pasukannya dari suatu medan tempur, ke per­tempuran yang lain, dari suatu kemenangan ke kemenangan berikutnya, sampai berakhir dengan pertempuran yang me­nentukan ….

Di sanalah yakni di Yamamah, Bani Hanifah bersama kabilah- kabilah yang telah bergabung dengan mereka telah membangun suatu gabungan aneka ragam tentara murtad yang paling ber­bahaya dikepalai oleh Musailamatul Kaddzab …. Sudah ada sebagian kesatuan Islam yang mencoba kekuatan mereka, tetapi tidak berhasil.

Sekarang datanglah perintah Khalifah kepada panglimanya “yang tak terkalahkan” agar berangkat kepada Bani Hanifah itu. Khalid pun maju berangkat dan demi Musailamah me­ngetahui bahwa Khalid sedang di tengah perjalanan menuju tempatnya, kembali ia memperkuat susunan pasukannya, karena ia benar-benar menganggapnya sebagai bahaya dahsyat dan musuh yang amat kuat.

Kedua pasukan tentara itu telah berhadap-hadapan …. Dan di waktu anda membaca buku-buku riwayat dan sejarah tentang jalannya pertempuran yang sengit itu, tentu anda akan merasa ngeri karena seolah-olah diri anda sedang menyaksikan suatu pertempuran yang menyerupai perang masa kini dalam kekerasan dan kekejamannya, sekalipun berbeda jenis senjata dan sarana perang yang dipergunakan ….

Khalid mengambil posisi dengan pasukannya di dataran bukit-bukit pasir Yamamah, sementara Musailamah menghadapi­nya dengan segala kecongkakan dan kedurhakaannya bersama barisan tentaranya yang banyak seakan-akan tak habis-habis­nya ….

Khalid segera menyerahkan bendera dan panji-panji perang kepada komandan-komandan pasukannya. Kedua kelompok balatentara itu pun serang-menyerang dan bertempur rapat. Perang berkecamuk tiada hentinya, korban dari pihak Muslimin susul-menyusul berguguran laksana bunga-bunga dan kembang di taman yang ditiup angin topan . . . !

Khalid telah melihat keunggulan musuh, ia lalu memacu kudanya ke suatu tanah tinggi yang terdekat, lalu ia layangkan pandangan­nya ke seluruh medan tempur, pandangan cepat yang diliputi ketajaman dan kearifan.

Dengan cepat pula ia dapat menangkap dan menyimpulkan titik-titik kelemahan pasukannya.

Ia dapat merasakan rasa tanggung jawab yang melemah di kalangan prajuritnya di bawah serbuan-serbuan mendadak yang dilakukan pasukan Musailamah. Maka diputuskannya secepat kilat untuk memperkuat semangat tempur Kaum Muslimin dan tanggung jawab mereka setinggi mungkin.

Dipanggilnya komandan-komandan teras dan sayap, ditertibkannya posisi masing- masing di medan tempur, kemudian ia berteriak dengan suaranya yang mengesankan kemenangan: “Tunjukkanlah kelebihanmu masing-masing . . . , akan kita lihat hari ini jasa setiap suku!”

Lalu setiap suku tampillah dengan kelebihannya sendiri-sendiri.

Orang-orang Muhajirin maju dengan panji-panji perang mereka dan orang-orang Anshar pun maju di bawah panji-panji mereka, seterusnya tiap kelompok suku dengan panji-panji tersendiri.

Popular posts from this blog

Bacaan Dewasa "FAKTA KEHIDUPAN SEKSUAL REMAJA JEPANG"

http://massandry.blogspot.com Inilah beberapa alasan Negeri Sakura itu melegalkan JAV Sex di Jepang sudah bukan hal yang tabu bagi kita, apalagi budaya sex yang bisa terbilang ekstrem di tengah-tengah bangsa yang menjunjung tinggi kesopanan ini. Siapa sih yang tidak tahu kalau bangsa Jepang terkenal sopan? Namun tak sedikit pula yang tahu budaya sex Jepang yang ekstrim.
Berikut kisahnya: 
1. Di salah satu kuil di Tokyo, ada sebuah gerbang merah yang jadi simbol sakral penduduk disana. Ternyata, di arena setelah kita melewati gerbang merah tersebut adalah area ritual bagi perempuan disana yang ingin melepas keperawanannya. 

2. Tahu shinkansen? Di kereta api super cepat ini ternyata tersedia gerbong khusus buat perempuan. Di gerbong ini, perempuan diberikan kebebasan untuk ngapain tanpa harus keganggu ama cowo- cowo yang ada disana. Konon kabarnya cowo Jepang sering ngelakuin tindakan asusila di kereta api. (bahkan beberapa syuting film porno memakai latar belakang kereta api sinkansen …

Bacaan Ringan "PROFIL LENGKAP WARKOP DKI "

http://massandry.blogspot.com
PROFIL: WAHYU SARDONO (DONO - WARKOP)
Drs. H. Wahjoe Sardono lebih dikenal dengan Dono Warkop lahir di Solo 30 September 1951 adalah aktor dan pelawak Indonesia yang bertinggi badan 167 cm serta beragama Islam. Ia juga dikenal sebagai aktor pada akhir 1970-an, tahun 1980-an dan era 1990-an. Dono meninggal pada 30 Desember 2001 akibat Kanker Paru-Paru.
Pendidikan:  Fakultas Ilmu Sosial - Jurusan Sosiologi, Universitas Indonesia 
Karir: Penyiar Radio Prambors (1974-1980)  Asisten Dosen Jurusan Sosiologi – Fakultas Ilmu Sosial UI (1974- 1980)  Dosen Jurusan Sosiologi – Fakultas Ilmu Sosial UI 
Alamat Rumah: Jalan Pulo Asem Utara 13/18, Jakarta Timur. 

Kabut tebal menyelimuti dunia perlawakan Indonesia. Ahad dini hari 30 Desember 2001 sekitar pukul 00.50 WIB, Drs H.Wahyu Sardono alias Dono Warkop, menghembus napas terakhirnya di kamar no 11 Paviliun Ignatius rumah sakit St Carollus Salemba Jakarta Pusat. Dia meninggal dengan tenang, disamping sahabatnya, Indr…

Bacaan Ringan "SABUNG AYAM MAULANA HASANUDDIN vs PRABU PUCUK UMUN"

http://massandry.blogspot.com Setelah kedua belah pihak telah bersepakat, dan telah menyiapkan ayam yang akan disabungkan, maka di hari itu, pada 11 Rabiul Awal tahun 888 Hijriah, orang-orang dari istana Pakuan Banten Girang dan para adjar dan pandita di Gunung Pulosari telah berkumpul untuk menyaksikan pertandingan sabung ayam antara Maulana Hasanuddin dan Ragamulya Surya Kencana alias Prabu Pucuk Umun. Saat itu, ayam keduanya saling mematuk, menghantam, mencabik, atau sesekali menghindari serangan lawannya, sebelum saling menyerang satu sama lain, yang diiringi oleh sorak-sorai para pendukung Maulana Hasanuddin dan Ragamulya Surya Kencana secara bergantian atau pun bersamaan.
Saat itu, semua yang hadir dan menyaksikan adu tanding kesumat itu merasa takjub dan heran ketika kedua ayam yang sama gagah dan perkasanya belum menandakan ada yang akan kalah di tengah arena. Bila ayam yang satu terpantik atau terjangkar oleh ayam yang lainnya, maka para pendukungnya akan bersorak gembira, da…