Friday, May 29, 2015

Tokoh Islami "ENAM PULUH SAHABAT UTAMA RASUL - KHALID BIN WALID - PART 4"

http://massandry.blogspot.com
Berita-berita tentang pembangkangan kaum-kaum dan suku-suku, setiap saat nampaknya semakin berbahaya. Abu Bakar sendiri maju memimpin pasukan yang kedua ini Tetapi, para shahabat utama jadi hilang keshabaran mereka. Semuanya sepakat untuk meminta Khalifah agar tetap tinggal di Madinah.

Imam Ali terpaksa menghadang Abu Bakar dan memegang tali kekang kuda yang sedang ditungganginya untuk mencegah keberangkatannya bersama pasukan, sembari berkata kepadanya:

“Hendak ke mana anda, wahai Khalifah Rosululloh ? Akan kukatakan kepada anda, apa yang pernah diucapkan Rosululloh di hari Uhud: “Simpanlah pedangmu wahai Abu Bakar, jangan engkau cemaskan kami dengan dirimu!”

Di hadapan desakan dan suara bulat Kaum Muslimin, Kha­lifah terpaksa menerima untuk tinggal di kota Madinah. Maka dibaginya tentara Islam menjadi sebelas kesatuan, masing-masing kesatuan dibebani tugas tertentu, sedang sebagai kepala dari keseluruhan kesatuan tersebut diangkatnya Khalid ibnul Walid. Dan setelah menyerahkan bendera pasukan kepada masing- masing komandannya, Khalifah mengarahkan mukanya kepada Khalid, lalu katanya:

“Aku pernah mendengar Rosululloh bersabda: Bahwa sebaik-baik hamba Allah dan kawan sepergaulan, ialah Khalid ibnul Walid, sebilah pedang di antara pedang- pedang Allah yang ditebaskan kepada orang-orang kafir dan munafik . . .”

Maka Khalid pun segera menjalankan tugasnya, berpindah- pindah bersama pasukannya dari suatu medan tempur, ke per­tempuran yang lain, dari suatu kemenangan ke kemenangan berikutnya, sampai berakhir dengan pertempuran yang me­nentukan ….

Di sanalah yakni di Yamamah, Bani Hanifah bersama kabilah- kabilah yang telah bergabung dengan mereka telah membangun suatu gabungan aneka ragam tentara murtad yang paling ber­bahaya dikepalai oleh Musailamatul Kaddzab …. Sudah ada sebagian kesatuan Islam yang mencoba kekuatan mereka, tetapi tidak berhasil.

Sekarang datanglah perintah Khalifah kepada panglimanya “yang tak terkalahkan” agar berangkat kepada Bani Hanifah itu. Khalid pun maju berangkat dan demi Musailamah me­ngetahui bahwa Khalid sedang di tengah perjalanan menuju tempatnya, kembali ia memperkuat susunan pasukannya, karena ia benar-benar menganggapnya sebagai bahaya dahsyat dan musuh yang amat kuat.

Kedua pasukan tentara itu telah berhadap-hadapan …. Dan di waktu anda membaca buku-buku riwayat dan sejarah tentang jalannya pertempuran yang sengit itu, tentu anda akan merasa ngeri karena seolah-olah diri anda sedang menyaksikan suatu pertempuran yang menyerupai perang masa kini dalam kekerasan dan kekejamannya, sekalipun berbeda jenis senjata dan sarana perang yang dipergunakan ….

Khalid mengambil posisi dengan pasukannya di dataran bukit-bukit pasir Yamamah, sementara Musailamah menghadapi­nya dengan segala kecongkakan dan kedurhakaannya bersama barisan tentaranya yang banyak seakan-akan tak habis-habis­nya ….

Khalid segera menyerahkan bendera dan panji-panji perang kepada komandan-komandan pasukannya. Kedua kelompok balatentara itu pun serang-menyerang dan bertempur rapat. Perang berkecamuk tiada hentinya, korban dari pihak Muslimin susul-menyusul berguguran laksana bunga-bunga dan kembang di taman yang ditiup angin topan . . . !

Khalid telah melihat keunggulan musuh, ia lalu memacu kudanya ke suatu tanah tinggi yang terdekat, lalu ia layangkan pandangan­nya ke seluruh medan tempur, pandangan cepat yang diliputi ketajaman dan kearifan.

Dengan cepat pula ia dapat menangkap dan menyimpulkan titik-titik kelemahan pasukannya.

Ia dapat merasakan rasa tanggung jawab yang melemah di kalangan prajuritnya di bawah serbuan-serbuan mendadak yang dilakukan pasukan Musailamah. Maka diputuskannya secepat kilat untuk memperkuat semangat tempur Kaum Muslimin dan tanggung jawab mereka setinggi mungkin.

Dipanggilnya komandan-komandan teras dan sayap, ditertibkannya posisi masing- masing di medan tempur, kemudian ia berteriak dengan suaranya yang mengesankan kemenangan: “Tunjukkanlah kelebihanmu masing-masing . . . , akan kita lihat hari ini jasa setiap suku!”

Lalu setiap suku tampillah dengan kelebihannya sendiri-sendiri.

Orang-orang Muhajirin maju dengan panji-panji perang mereka dan orang-orang Anshar pun maju di bawah panji-panji mereka, seterusnya tiap kelompok suku dengan panji-panji tersendiri.