Skip to main content

Tokoh Islami "ENAM PULUH SAHABAT UTAMA RASUL - JA’FAR BIN ABI THALIB - PART 2"

http://massandry.blogspot.com
Ja’far pun bangkit berdiri, untuk menunaikan tugas yang telah dibebankan oleh kawan-kawannya sesama Muhajirin, yakni tugas yang telah mereka tetapkan dalam suatu rapat yang diadakan sebelum pertemuan ini. Dilepaskannya pandangan ramah penuh kecintaan kepada baginda Raja yang telah berbuat baik menerima mereka, lalu berkata:

“Wahai paduka yang mulia! Dahulu kami memang orang- orang jahil dan bodoh; kami menyembah berhala, memakan bangkai, melakukan pekerjaan-pekerjaan keji, memutuskan silaturrahmi, menyakiti tetangga dan orang yang berhampiran. Yang kuat waktu itu memakan yang lemah. Hingga datanglah masanya Allah mengirimkan Rasul-Nya kepada kami dari kalang­an kami. Kami kenal asal-usulnya, kejujuran, ketulusan dan kemuliaan jiwanya. Ia mengajak kami untuk mengesakan Allah dan mengabdikan diri pada-Nya, dan agar membuang jauh-jauh apa yang pernah kami sembah bersama bapak-bapak kami dulu, berupa batu-batu dan berhala …. “

” Beliau menyuruh kami bicara benar, menunaikan amanah, menghubungkan silaturrahmi, berbuat baik kepada tetangga dan menahan diri dari menumpah­kan darah serta semua yang dilarang Allah …. “

Dilarangnya kami berbuat keji dan zina, mengeluarkan ucapan bohong, memakan harta anak yatim, dan menuduh berbuat jahat terhadap wanita yang baik-baik …. Lalu ? kami benarkan dia dan kami beriman kepadanya, dan kami ikuti dengan taat apa yang disampaikannya dari Tuhannya. Lalu kami beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa dan tidak kami persekutukan sedikit pun juga, dan kami haramkan apa yang diharamkan-Nya kepada kami, dan kami halalkan apa yang dihalalkan-Nya untuk kami. “

“Karenanya kaum kami sama me­musuhi kami, dan menggoda kami dari Agama kami, agar kami kembali menyembah berhala lagi, dan kepada perbuatan-perbuatan jahat yang pernah kami lakukan dulu. Maka sewaktu mereka memaksa dan menganiaya kami, dan menggencet hidup kami, dan menghalangi kami dari Agama kami, kami keluar hijrah ke negeri paduka, dengan harapan akan mendapatkan perlindungan paduka dan terhindar dari perbuatan-perbuatan aniaya mereka . . . .”

Ja’far mengucapkan kata-kata yang mempesona ini laksana cahaya fajar. Kata-kata itu membangkitkan perasaan dan ke­haruan pada jiwa Negus, lalu sambil menoleh pada Ja’far baginda bertanya:

“Apakah anda ada membawa sesuatu (wahyu) yang diturunkan atas Rasulmu itu?” Jawab Ja’far: “Ada”.
Tukas Negus lagi: “Cobalah bacakan kepadaku”.

Lalu Ja’far langsung membacakan bagian dari surat Maryam dengan irama seronok dan kekhusyu’an yang memikat. Men­dengar itu, Negus lalu menangis dan para pendeta serta pembesar- pembesar agama lainnya sama menangis pula. Sewaktu air mata lebat dari baginda sudah berhenti, ia pun berpaling kepada kedua utusan Quraisy itu, seraya berkata:

“Sesungguhnya apa yang dibaca tadi dan yang dibawa oleh Isa a .s. sama memancar dari satu pelita. Kamu keduanya dipersilahkan pergi! Demi Allah kami tak akan menyerahkan mereka kepada kamu!”

Pertemuan itu pun bubar sudah. Allah telah menolong hamba-hamba-Nya dan menguatkan mereka, sementara kedua utusan Quraisy mendapat kekalahan yang hina.

Tetapi Amr bin ‘Ash adalah seorang lihai yang ulung dan penuh dengan tipu muslihat licik, tidak hendak menyerah kalah begitu saja, apalagi berputus asa. Demikianlah, begitu ia kembali bersama temannya ke tempat tinggalnya, tak habis-habisnya ia berfikir dan memutar otak, dan akhirnya berkata kepada temannya:

“Demi Allah, besok aku akan kembali menemui Negus, akan kusampaikan kepada baginda keterangan-keterangan yang akan memukul Kaum Muslimin dan membasmi urat akar mereka!” Jawab kawannya: “Jangan lakukan itu, bukankah kita masih ada hubungan keluarga dengan mereka, sekalipun mereka berselisih paham dengan kita!”

Jawab Amr: “Demi Allah, akan kuberitakan kepada Negus, bahwa mereka mendakwakan Isa anak Maryam itu manusia biasa seperti manusia yang lain”.

Inilah rupanya suatu tipu muslihat baru yang telah diatur oleh utusan Quraisy terhadap Kaum Muslimin, untuk memojok­kan mereka ke sudut yang sempit, dan untuk menjatuhkan mereka ke lembah yang curam.

Seandainya orang Islam terang-terangan mengatakan, bahwa Isa itu salah seorang hamba Allah seperti manusia lainnya, pasti hal ini akan membangkitkan kemarahan dan permusuhan Raja dan kaum agama …. Sebalik­nya jika mereka meniadakan pada Isa ujud manusia biasa, niscaya keluarlah mereka dari ‘aqidah agama mereka . . .

Besok paginya kedua utusan itu segera menghadap Raja, dan berkata kepadanya:

“Wahai Sri Paduka! Orang-orang Islam itu telah mengucapkan suatu ucapan keji yang merendahkan kedudukan Isa . . . .”.

Para pendeta dan kaum agama menjadi geger dan gempar …. Gam­baran dari kalimat pendek itu cukup menggoncangkan Negus dan para pengikutnya. Mereka memanggil orang-orang Islam sekali lagi, untuk menanyai bagaimana sebenarnya pandangan Agama Islam tentang Isa al-Masih ….

Tahulah orang-orang Islam sekarang bahwa akan ada per­musyawaratan baru. Mereka duduk berunding, dan akhirnya memperoleh kata sepakat, untuk menyatakan yang haq saja, sebagaimana yang mereka dengar dari Nabi mereka. Mereka tak hendak menyimpang serambut pun daripadanya, dan biarlah terjadi apa yang akan terjadi….

Pertemuan baru pun diadakanlah. Negus memulai percakap­an dengan bertanya kepada Ja’far: “Bagaimana pandangan kalian terhadap Isa?”

Ja’far bangkit sekali lagi laksana menara laut yang me­mancarkan sinar terang, ujarnya: “Kami akan mengatakan tentang Isa a.s., sesuai dengan keterangan yang dibawa Nabi kami Muhammad saw. bahwa:

“/a adalah seorang hamba Allah dan Rasul-Nya serta kalimah-Nya yang ditiupkan-Nya kepada Maryam dan ruh daripada-Nya “

Negus bertepuk tangan tanda setuju, seraya mengumumkan, memang begitulah yang dikatakan al-Masih tentang dirinya . . . . Tetapi pada barisan pembesar agama yang lain terjadi hiruk pikuk, seolah-olah memperlihatkan ketidak setujuan mereka ….

Negus yang terpelajar lagi beriman itu, terus melanjutkan bicaranya seraya berkata kepada orang-orang Islam:

“Silahkan anda sekalian tinggal bebas di negeriku! Dan siapa berani mencela dan menyakiti anda, maka orang itu akan mendapat hukuman yang setimpal dengan perbuatannya itu”.

Kemudian Negus berpaling kepada orang-orang besarnya yang terdekat, lalu sambil mengisyaratkan dengan telunjuknya ke arah kedua utusan kaum Quraisy, berkatalah ia:

“Kembalikan hadiah-hadiah itu kepada kedua orang ini! Aku tak membutuh­kannya! Demi Allah, Allah tak pernah mengambil uang sogokan daripadaku, di kala ia mengaruniakan takhta ini kepadaku; karena itu aku pun tak akan menerimanya dalam hal ini. . .!”

Popular posts from this blog

Bacaan Dewasa "FAKTA KEHIDUPAN SEKSUAL REMAJA JEPANG"

http://massandry.blogspot.com Inilah beberapa alasan Negeri Sakura itu melegalkan JAV Sex di Jepang sudah bukan hal yang tabu bagi kita, apalagi budaya sex yang bisa terbilang ekstrem di tengah-tengah bangsa yang menjunjung tinggi kesopanan ini. Siapa sih yang tidak tahu kalau bangsa Jepang terkenal sopan? Namun tak sedikit pula yang tahu budaya sex Jepang yang ekstrim.
Berikut kisahnya: 
1. Di salah satu kuil di Tokyo, ada sebuah gerbang merah yang jadi simbol sakral penduduk disana. Ternyata, di arena setelah kita melewati gerbang merah tersebut adalah area ritual bagi perempuan disana yang ingin melepas keperawanannya. 

2. Tahu shinkansen? Di kereta api super cepat ini ternyata tersedia gerbong khusus buat perempuan. Di gerbong ini, perempuan diberikan kebebasan untuk ngapain tanpa harus keganggu ama cowo- cowo yang ada disana. Konon kabarnya cowo Jepang sering ngelakuin tindakan asusila di kereta api. (bahkan beberapa syuting film porno memakai latar belakang kereta api sinkansen …

Bacaan Ringan "PROFIL LENGKAP WARKOP DKI "

http://massandry.blogspot.com
PROFIL: WAHYU SARDONO (DONO - WARKOP)
Drs. H. Wahjoe Sardono lebih dikenal dengan Dono Warkop lahir di Solo 30 September 1951 adalah aktor dan pelawak Indonesia yang bertinggi badan 167 cm serta beragama Islam. Ia juga dikenal sebagai aktor pada akhir 1970-an, tahun 1980-an dan era 1990-an. Dono meninggal pada 30 Desember 2001 akibat Kanker Paru-Paru.
Pendidikan:  Fakultas Ilmu Sosial - Jurusan Sosiologi, Universitas Indonesia 
Karir: Penyiar Radio Prambors (1974-1980)  Asisten Dosen Jurusan Sosiologi – Fakultas Ilmu Sosial UI (1974- 1980)  Dosen Jurusan Sosiologi – Fakultas Ilmu Sosial UI 
Alamat Rumah: Jalan Pulo Asem Utara 13/18, Jakarta Timur. 

Kabut tebal menyelimuti dunia perlawakan Indonesia. Ahad dini hari 30 Desember 2001 sekitar pukul 00.50 WIB, Drs H.Wahyu Sardono alias Dono Warkop, menghembus napas terakhirnya di kamar no 11 Paviliun Ignatius rumah sakit St Carollus Salemba Jakarta Pusat. Dia meninggal dengan tenang, disamping sahabatnya, Indr…

Bacaan Ringan "SABUNG AYAM MAULANA HASANUDDIN vs PRABU PUCUK UMUN"

http://massandry.blogspot.com Setelah kedua belah pihak telah bersepakat, dan telah menyiapkan ayam yang akan disabungkan, maka di hari itu, pada 11 Rabiul Awal tahun 888 Hijriah, orang-orang dari istana Pakuan Banten Girang dan para adjar dan pandita di Gunung Pulosari telah berkumpul untuk menyaksikan pertandingan sabung ayam antara Maulana Hasanuddin dan Ragamulya Surya Kencana alias Prabu Pucuk Umun. Saat itu, ayam keduanya saling mematuk, menghantam, mencabik, atau sesekali menghindari serangan lawannya, sebelum saling menyerang satu sama lain, yang diiringi oleh sorak-sorai para pendukung Maulana Hasanuddin dan Ragamulya Surya Kencana secara bergantian atau pun bersamaan.
Saat itu, semua yang hadir dan menyaksikan adu tanding kesumat itu merasa takjub dan heran ketika kedua ayam yang sama gagah dan perkasanya belum menandakan ada yang akan kalah di tengah arena. Bila ayam yang satu terpantik atau terjangkar oleh ayam yang lainnya, maka para pendukungnya akan bersorak gembira, da…