Friday, May 29, 2015

Tokoh Islami "ENAM PULUH SAHABAT UTAMA RASUL - UMEIR BIN WAHAB - PART 1"

http://massandry.blogspot.com
Di perang Badar ia termasuk salah seorang pemimpin Quraisy yang menghunus pedangnya untuk menumpas Islam. Ia seorang yang tajam penglihatan dan teliti perhitungannya. Oleh karena itulah ia diutus kaumnya untuk menyelidiki jumlah Kaum Muslimin yang ikut pergi berperang dengan Rasul, dan untuk ‘ mengamat-amati’ apakah di belakang itu ada balabantuan atau yang masih bersembunyi ….

Umeir bin Wahab al-Jamhi pun berangkatlah, dan dengan kudanya ia dapat mengamati sekeliling perkemahan pasukan Muslimin, kemudian kembalilah ia memberi laporan kepada kaumnya, bahwa kekuatan rnereka kurang lebih tigaratus orang; dan perkiraannya itu ternyata benar.

Lalu mereka menanya’inya, apakah di belakang itu ada bala bantuan, yang dijawabnya: “Aku tidak melihat apa-apa lagi di belakang mereka … tetapi wahai kaum Quraisy, terbayang di hadapanku pusara-pusara menganga yang menantikan jasad mereka . . . ! Mereka adalah kaum yang tidak mempunyai per­tahanan dan perlindungan kecuali pedang mereka sendiri … !

Demi Allah, . tidak mungkin salah seorang di antara mereka terbunuh, tanpa terbunuhnya seorang di antara kita sebagai imbalannya! Maka ‘apabila jumlah kita yang tewas sama dengan jumlah mereka, kehidupan mana lagi yang lebih baik setelah itu … ? Nah, cobalah kamu fikirkan baik-baik …

Kata-kata dan buah fikirannya itu berkesan dan berpengaruh kepada sebagian di antara pemimpin-pemimpin Quraisy, dan hampir saja mereka menghimpun laki-laki mereka untuk kembali pulang ke Mekah tanpa perang, seandainya Abu Jahal tidak merusakkan fikiran tersebut. Dikobarkannyalah api kebencian ke dalam jiwa mereka, tegasnya api peperangan di mana ia sendiri tewas sebagai korbannya yang pertama …

Penduduk Mekah memberinya gelar dengan “Jagoan Qu­raisy”. Di perang Badar itu, benar-benar si Jagoan ini mendapat pukulan hebat, karena usahanya menemui kegagalan total. Orang orang Quraisy kembali ke Mekah dengan kekuatan yang telah hancur berantakan. Umeir bin Wahab telah pula meninggalkan darah dagingnya , sendiri di Madinah . . . , karena anaknya jatuh menjadi tawanan Kaum Muslimin ….

Pada suatu hari kebetulan ia terlibat dalam percakapan dengan pamannya Shafwan bin Umaiyah ….

Shafwan ini sejak lama memendam rasa dendam dan bencinya dengan getir, karena ayahnya Umaiyah bin Khalaf menemui ajalnya tewas di perang Badar, sedang tulang belulangnya telah mendekam di sumur tua. ‘

Shafwan dan Umeir duduk berbincang-bincang sama-sama melampiaskan kebenciannya. Marilah kita panggil ‘Urwah bin Zubeir untuk memaparkan percakapan panjang mereka kepada kita:

Kata Shafwan: “Demi Allah, tak ada lagi gunanya hidup kita setelah peristiwa itu …. !”

Dan berkata pula Umeir: “Kau benar, dan demi Allah, kalau karena utang yang belum sempat kubayar,
dan keluarga yang kukhawatirkan akan tersia-sia sepeninggalku, niscayas aku berangkat mencari
Muhammad saw. untuk membunuhnya . . . !”

“Aku mempunyai alasan kuat untuk berbicara dengannya, akan kukatakan, bahwa aku datang untuk membicarakan anakku yang tertawan itu”.

Shafwan segera menanggapi dan katanya pula: “Biarlah aku yang me­nanggung utangmu . . . , akan kulunasi semua dan keluargamu hidup bersama keluargaku, akan kujaga mereka seperti keluargaku!”
Maka kata Umeir lagi: “Nah, kalau begitu marilah kita simpan rahasia kita ini . . . !”

Kemudian Umeir meminta pedang­nya, yang sudah disuruhnya asah dan diberi racun. Maka berang­katlah ia hingga sampai di Madinah ….

Di Madinah selagi Umar bin Khatthab bercakap-cakap dengan sekelompok Muslimin tentang perang Badar dan mereka menyebut-nyebut pertolongan Allah kepada mereka, sewaktu ia menoleh, tampaklah olehnya Umeir bin Wahab yang baru saja menambatkan tunggangannya di muka mesjid, siap memperguna­kan pedangnya, maka kata Umar:

“Itu si Umeir bin Wahab anjing musuh Allah! Demi Allah, pastilah kedatangannya untuk maksud jahat . . . ! la lah yang, telah menghasut orang banyak dan mengerahkan mereka untuk memerangi kita di perang Badar … !”

Lalu Umar masuk menghadap Rasulullah saw. dan terus berkata:
“Ya Nabi Allah, itu si Umeir musuh Allah, ia telah datang siap menghunus pedangnya …!
Jawab Rasulullah saw.: “Suruhlah ia masuk menghadapku …!”

Umar pun pergi mengambil pedangnya dan menimang ­nimangnya di tangan, sembari mengatakan kepada orang-orang Anshar yang ada di sana, agar mereka masuk semua dan duduk dekat Rasulullah sambil mengawasi tindak tanduk bajingan itu terhadap Rasul, karena ia tidak dapat dipercaya.

Lalu Umar membawa masuk Umeir menghadap Nabi, sambil membawa pedangnya yang tersandang di pundaknya, dan sewaktu hal ini dilihat oleh Rasul, beliau berkata: “Biarkanlah ia wahai Umar …. dan anda wahai Umeir …. dekatlah ke mari!”

Umeir pun mendekat seraya berkata: “Selamat pagi!” suatu ucapan jahiliyah, maka jawab Nabi saw:: “Sesungguhnya Allah telah memuliakan kami dengan suatu ucapan kehormatan yang lebih baik dari ucapanmu hai Umeir, yaitu salaam . . . peng­hormatan ahli surga!”