Friday, May 29, 2015

Tokoh Islami "ENAM PULUH SAHABAT UTAMA RASUL - KHALID BIN WALID - PART 8"

http://massandry.blogspot.com
Khalid memiliki tenaga di luar tenaga manusia biasa …. Tenaga itu mendorongnya sekuat-kuatnya untuk menghancurkan seluruh dunia lamanya yang menyiksa hatinya ….

Kalaulah kita mau memahaminya, bagaimana ia meruntuhkan berhala “Uzza ketika dialah yang dikirim Nabi untuk meruntuhkannya! Dan sekiranya kita melihat bagaimana ia menghancurkan bangun­an batu tersebut, akan kita lihat seorang laki-laki seolah-olah sedang memerangi Seantero tentara. Ditebasnya semua kepala oknum-okmunnya dan dibinasakan seluruh barisannya dengan kematian.

Ia menghantam dengan tangan kanannya, tangan kirinya, dengan kakinya sambil berteriak kepada runtuhan yang ber­tebaran dan debu yang berjatuhan: “Ya ‘Uzza kufranak, la Subhanak”, Hai ‘Uzza, keparat kamu, persetan akan kebesaran­mu! Sungguh, kulihat Allah telah menghinakanmu!”

Kemudian patung itu dibakarnya dengan menyalakan api di tanahnya. Setiap ciri-ciri kemusyrikan dan sisa-sisanya seperti ‘Uzza pada pandangan Khalid tak ada tempatnya lagi di alam baru, di mana Khalid berdiri di bawah benderanya ….

Khalid tak melihat alat lain untuk membersihkannya, kecuali pedangnya! Atau kalau tidak bentakannya:

“Keparat kau hai “Uzza, persetan akan kebesaranmu! Sungguh, kulihat Allah telah menghinakanmu!”

Tetapi kita sendiri, karena apa yang kita harapkan tidak beda dengan yang diharapkan sayyidina Umar, seandainya pedang Khalid tidak bertindak keras kita akan selalu mengulang-ulangi ucapan Amirul Mu’minin yang berbunyi:

“Tak seorang wanita pun akan sanggup melahirkan lagi laki-laki seperti Khalid “

Sewaktu ia meninggal dunia Umar menangis sejadi-jadinya. Kemudian umum dapat mengetahui, bahwa Umar bukan me­nangis hanya karena kehilangannya semata, tetapi yang beliau tangiskan ialah lenyapnya kesempatan untuk mengangkatnya kembali memegang pucuk pimpinan tentara Islam, sesudah ber­kurangnya kefanatikan manusia yang berlebih-lebihan kepada­nya.

Karena sebetulnya sudah agak lama Umar bertekad memu­lihkan kepemimpinannya itu dan menjernihkan sebab-sebab pemberhentiannya, kalau tidaklah maut datang menjemput pahlawan besar itu untuk bersegera pulang ke tempat kembali­nya di surga ….

Bukankah ia tidak pernah beristirahat seperti itu di bumi? Bukankah telah datang masanya bagi jasad yang selalu bekerja keras itu, untuk tidur sekejap? Ia lah pribadi yang sering dilukiskan oleh shahabat-shahabat maupun oleh musuh- musuhnya, dengan kata-kata: “Orang yang tidak pernah tidur dan tidak membiarkan orang lain tidur ….!”

Adapun ia sendiri, seandainya dibolehkan memilih, tentu ia akan memilih agar Allah menambah usianya agar dapat me­neruskan perjuangan meruntuhkan semua bangunan-bangunan lapuk, dan agar dapat menambah amal-amal dan jihadnya dalam Islam ….

Semangat juang dan keharuman namanya akan selalu di­kenang sepanjang masa, selama kuda-kuda perang masih me­ringkik, mata-mata pedang masih berkilatan, dan selama panji- panji dan bendera tauhid masih berkibaran di atas pundak bala­tentara Islam ….

Sungguh dia pernah berucap:

“Tak ada yang dapat menandingi kegembiraanku, bahkan lebih gembira dari saat malam pengantin, atau di saat di­karuniai bayi, yaitu suatu malam yang sangat genting, di mana aku dengan ekspedisi tentara bersama orang-orang Muhajirin menggempur kaum musyrikin di waktu shubuh . . .!”

Oleh karena itulah ada sesuatu yang selalu merisaukan fikirannya sewaktu masih hidup, yaitu kalau-kalau ia mati di atas tempat tidur, padahal ia telah menghabiskan seluruh umurnya di atas punggung kuda perangnya, dan di bawah kilatan pedangnya,.

Ia lah orangnya yang pernah berperang bersama Rosululloh saw. Ia yang telah menundukkan kaum murtad. Ia yang telah membumi ratakan takhta kerajaan Persi dan Romawi. Ia yang telah melompat menjelajahi bumi; di Irak langkah demi langkah . . . . hingga dimenangkannya untuk Islam dan di Syria setapak demi setapak pula, sampai semuanya dipersembahkannya ke haribaan Islam.

la adalah seorang panglima, dengan kesukaran hidup seorang prajurit serta rendah hatinya …. Sebaliknya seorang prajurit dengan tanggung jawab seorang panglima dengan teladannya! Seorang pahlawan perang yang hatinya risau kalau-kalau ia mati di atas tempat tidurnya.

Ketika itu ia berkata, sedang air mata­nya meleleh keluar:

“Aku telah ikut serta dalam pertempuran di mana-mana. Seluruh tubuhku penuh dengan tebasan pedang, tusukan tombak serta tancapan panah ….

Kemudian inilah aku tidak sebagai yang kuingini, mati di atas tempat tidur, laksana matinya seekor unta! Maka tidak akan tertidur mata orang-orang pengecut”

Itulah kata-katanya, yakni kata-kata yang tak akan diucap­kan seseorang dalam suasana demikian, kecuali seorang laki-laki jantan seperti dia! Di saat-saat ia hampir menghembuskan nafas­nya yang penghabisan, ia ucapkan wasiatnya itu … .

Tahukah anda kepada siapa ia berwasiat?
Yaitu kepada Umar bin Khatthab sendiri . . . !
Tahukah anda kekayaan apa yang ditinggalkannya?
Hanya kuda perang dan pedangnya.
Kemudian apa lagi??
Yang lain tak ada lagi sesuatu barang berharga yang dapat dini’mati atau dimiliki orang.

Demikian itu, disebabkan seumur hidupnya tak pernah ia dipengaruhi keinginan, kecuali meni’mati kemenangan dan berjaya mengalahkan musuh kebenaran.

Tak suatu pun kesenangan dunia yang mempengaruhi ke­inginan nafsunya. Oh, ada satu, yaitu suatu barang yang sangat hati-hati sekali dan mati-matian ia memeliharanya. Barang itu berupa kopiah. Pernah suatu ketika, kopiah itu terjatuh dalam perang Yarmuk lalu ia menyusahkan dirinya dan orang lain untuk mencarinya.

Ketika orang lain mencelanya karena itu, maka ujarnya:

“Di dalamnya terdapat beberapa helai rambut dari ubun-ubun Rosululloh”