Friday, May 29, 2015

Tokoh Islami "ENAM PULUH SAHABAT UTAMA RASUL - QEIS BIN SAAD BIN ‘UBADAH - PART 2"

http://massandry.blogspot.com
Di suatu hari Umar dan Abu Bakar bercakap-cakap sekitar kedermawanan dan kepemurahan Qeis sambil berkata: “Kalau kita biarkan terus pemuda ini dengan kepemurahannya, niscaya akan habis licin harta orang tuanya … !” Pembicaraan tentang anaknya itu, sampai kepada Sa’ad bin ‘Ubadah, maka serunya: “Siapa dapat membela diriku terhadap Abu Bakar dan Umar …? Diajarnya anakku kikir dengan memperalat namaku … ‘

Pada suatu hari pernah ia memberi pinjaman pada salah seorang kawannya yang kesukaran dengan jumlah besar …. Pada hari yang telah ditentukan guna melunasi utang, pergilah orang itu untuk membayarnya kepada Qeis. Ternyata Qeis tidak bersedia menerimanya, ia hanya berkata: “Kami tak hendak menerima kembali apa-apa yang telah kami berikan!”

Fithrah manusia mempunyai kebiasaan yang tak pernah berubah, dan sunnah (hukum) yang jarang berganti-ganti yaitu: di mana terdapat kepemurahan, terdapat pula keberanian …. Benarlah . . . , sesungguhnya dermawan sejati dan keberanian sejati adalah dua saudara kembar yang tak pernah berpisah satu dari lainnya untuk selama-lamanya. Dan bila anda menemukan kedermawanan tanpa keberanian, ketahuilah bahwa yang anda temukan itu bukanlah sebenarnya kepemurahan . . ., tetapi suatu gejala kosong dan bohong dari gejala-gejala melagakkan diri dan membusungkan dada. Demikian pula bila bertemu keberanian yang tidak disertai kepemurahan, ketahuilah pula bahwa itu bukanlah keberanian sejati, ia tak lain serpihan dari berani membabi buta dan kecerobohan!

Maka tatkala Qeis bin Sa’ad memegang teguh kendali ke­pemurahan dengan tangan kanannya, ia pun memegang kuat tali keberanian dan kepeloporan dengan tangan kirinya. Seolah- olah ialah yang dimaksud dengan ungkapan sya’ir: “Apabila bendera kemuliaan telah dikibarkan. Maka segala kekejian berubah menjadi kebaikan”.

Keberaniannya telah termashur pada semua medan tempur yang dialaminya beserta Rasulullah saw. selagi beliau masih hidup …. Dan kemasyhuran itu bersambung pada pertempuran- pertempuran yang diterjuninya sesudah Rasul meninggal dunia. Keberanian yang selalu berlandaskan kebenaran dan kejujuran sebagai ganti kelihaian dan kelicikan . . . dengan mempergunakan cara terbuka dan terus terang secara berhadap-hadapan, bukan dengan menyebarkan isyu dari belakang dan tidak pula dengan tipu muslihat busuk, tentu saja membebani dirinya dengan ke­sukaran dan kesulitan yang menekan.

Semenjak Qeis membuang jauh kemampuannya yang luar biasa dalam berdiplomasi licik dan bersilat lidah curang, dan ia membawakan diri dengan perangai berani secara terbuka dan terus terang, maka ia merasa puas dengan pembawaan yang baru ini, dan bersedia memikul akibat dan kesukaran yang silih berganti dengan hati yang rela ….

Sesungguhnya keberanian sejati memancar dari kepuasan pribadi orang itu sendiri …. Kepuasan ini bukan karena dorong­an hawa nafsu dan keuntungan tertentu, tetapi disebabkan oleh ketulusan diri pribadi dan kejujuran terhadap ke­benaran ….

Demikianlah, sewaktu timbul pertikaian di antara Ali dan Mu’awiyah, kita lihat Qeis bersunyi-sunyi memencilkan dirinya. Dan terus berusaha mencari kebenaran dari celah-celah kepuasan­nya itu. Hingga akhirnya demi dilihatnya kebenaran itu berada di pihak Ali, bangkitlah ia dan tampil ke sampingnya dengan gagah berani, teguh hati dan berjuang secara mati-matian.

Di medan perang Shiffin, Jamal dan Nahrawan, Qeis merupakan salah seorang pahlawannya yang berperang tanpa takut mati Dialah yang membawa bendera Anshar dengan meneriakkan:

“Bendera inilah bendera persatuan …. Berjuang bersama Nabi dan Jibril pembawa bantuan. Tiada gentar andaikan hanya Anshar pengibarnya. Dan tiada orang lain menjadi pendukungnya”

Dan sesungguhnya Qeis telah diangkat oleh Imam Ali sebagai gubernur Mesir …. Tapi sudah semenjak lama Mu’awiyah selalu mengincerkan matanya ke wilayah ini. Ia memandangnya sebagai permata berlian yang paling berharga pada suatu mahkota yang amat didambakannya ….

Oleh karena itu tidak lama setelah Qeis memangku jabatan sebagai Kepala Daerah itu, hampir terbit gilanya karena takut Qeis akan menjadi halangan bagi cita-citanya terhadap Mesir sepanjang masa, bahkan sekali­pun ia beroleh kemenangan nanti atas Imam Ali dengan ke­menangan yang menentukan ….

Begitulah Mu’awiyah berusaha dengan tipu daya dan mus­lihat yang tidak terbatas pada suatu corak saja, membangkitkan kemarahan yang tidak terbatas dari Imam Ali terhadap Qeis, sampai akhirnya Imam Ali memanggilnya dari Mesir ….