Friday, May 29, 2015

Tokoh Islami "ENAM PULUH SAHABAT UTAMA RASUL - UMEIR BIN SA'AD - PART 3"

http://massandry.blogspot.com
“Di suatu hari jalan-jalan kota Madinah menyaksikan seorang laki-laki dengan rambut kusut dan tubuh berdebu. Ia diliputi kelelahan karena berjalan jauh. Langkah-langkahnya seakan-akan tercabut dari tanah disebabkan lamanya kepayahan dalam perjalanan, dan tenaganya yang sudah habis terkuras …. Di atas pundak kanannya terdapat buntil kulit dan sebuah piring . . . sedang di pundak kirinya kendi berisi air . . . ! Ia bertelekan pada sebuah tongkat, yang tidak akan terasa berat bila dibawa oleh orang yang kurus dan lemah …. Ia menghampiri majlis Umar dengan langkah yang gontai, lalu ucapnya: “Assalamu- ‘alaikum ya Amirul Mu’minin . . .!”

Umar membalas salamnya kemudian menanyainya. Hatinya sedih melihatnya dalam ke­adaan payah dan letih itu. “Apa kabar hai Umeir?” Jawab Umeir: “Keadaanku sebagaimana yang anda lihat sendiri …. Bukankah anda melihat aku berbadan sehat dan berdarah bersih, dan dunia di tanganku yang dapat kukendalikan semauku . . .”

Apa yang kamu bawa itu? — Yang kubawa ialah buntil atau bungkusan tempat membawa bekal . . . , piring tempat aku makan, kendi tempat air minum dan wudlu, kemudian tongkat untuk bertelekan dan guna melawan musuh jika datang meng­hadang …. Demi Allah, dunia ini tak lain hanyalah pengikut bagi bekal kehidupanku . . . !

— Apakah anda datang dengan berjalan kaki? — Benar! —
— Apa tak ada orang yang mau mem­berikan binatang kendaraannya untuk kamu tunggangi . . . ? —
— Mereka tidak menawarkan dan aku tidak pula memintanya. —
— Apa yang kamu lakukan mengenai tugas yang kami berikan padamu? —
— Aku telah mendatangi negeri yang anda titahkan itu. Orang-orang shaleh di antara penduduknya telah kukumpulkan. Kuangkat mereka mengurus pemungutan pajak dan kekayaan negara.’ Bila telah terkumpul, kupergunakan kembali pada tempatnya yang wajar untuk kepentingan mereka. Dan kalau ada kelebihan, tentulah sudah kukirimkan ke sini . . . ! —
— Kalau begitu kau tak membawa apa-apa untuk kami? —
— Tidak . . . ! —

Maka berserulah Umar dalam keadaan bangga dan berbaha­gia:

“Tetapkan kembali jabatan gubernur bagi Umeir .. . !” yang dijawab oleh Umeir dengan mengelakkan diri secara bersungguh- sungguh, katanya: “Masa yang demikian itu telah berlalu .. . aku tak hendak menjadi pegawai anda lagi, atau pegawai pejabat setelah anda . . . !”

Cerita ini bukanlah skenario yang kami atur sendiri, dan bukan pula cerita yang dibuat-buat . . . tetapi benar-benar peris­tiwa sejarah yang pada suatu masa pernah disaksikan oleh bumi Madinah selaku ibu kota Islam yakni di saat-saat kejayaan dan kebesarannya. Maka dari tipe golongan manakah tokoh-tokoh utama dan luar biasa itu … ?

Selalulah Umar r.a. mengangankan dan mengatakan: “Aku ingin sekali mempunyai beberapa orang laki-laki yang seperti Umeir akan jadi pembantuku untuk melayani Kaum Muslimin ….”.

Sebabnya, Umeir yang dilukiskan oleh para shahabatnya sebagai “tokoh yang tak ada duanya” benar-benar telah me­ningkat naik dan dapat mengatasi kelemahan dirinya selaku manusia berhadapan dengan harta benda dunia dan kehidupan yang penuh dengan onak dan duri ini ….

Di waktu ia diharus­kan melaksanakan pemerintahan dan pemimpin, maka keduduk­annya yang tinggi itu hanya semakin menambah sifat wara’ dari orang suci ini, dengan perkembangan, pertumbuhan dan kecemerlangan ….

Ketika ia menjabat sebagai gubernur di Homs itu ia telah menggariskan tugas kewajiban seorang kepala pemerintahan Islam dalam kata-kata yang selalu diutarakannya dalam meng­gembleng Kaum Muslimin dari atas mimbar. Kata-kata itu demikian bunyinya:

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya Islam mempunyai dinding teguh dan pintu yang kukuh …. Dinding Islam itu ialah keadilan . . . sedang pintunya ialah kebenaran …. Maka apabila dinding itu telah dirobohkan, dan pintunya didobrak orang, Islam pun akan dapat dikalahkan. Islam akan senan­tiasa kuat selama pemerintahannya kuat. Kekuatan peme­rintah tidak terletak dalam angkatan perang, atau keperkasa­an angkatan kepulisian …. Tetapi dalam realita pelaksana, melaksanakan segala ketentuan dengan jujur dan benar disertai menegakkan keadilan . . . !”

Dan sekarang dalam kita melepas Umeir . . . dan menghor­matinya dengan penuh kebesaran dan hati yang khusyu’, marilah kita menundukkan kepala dan kening kita:

Bagi sebaik-baik guru, yaitu Nabi Muhammad ….
Bagi ikutan orang-orang taqwa, yakni Nabi Muhammad ….
Bagi pembawa rahmat Allah yang dilimpahkan kepada umat manusia sepanjang hayatnya ….
Semoga shalawat dan salam-Nya terlimpah kepadanya Begitu pun ucapan selamat dan berkah-Nya …. Semoga ter­limpah pula salam atas keluarganya yang suci ….
Begitupun terlimpah atas para shahabatnya yang terpuji. . . !