Skip to main content

Tokoh Islami "ENAM PULUH SAHABAT UTAMA RASUL - ABU DARBA - PART 1"

http://massandry.blogspot.com
Selagi balatentara Islam berperang kalah menang di beberapa penjuru bumi, sementara itu di kota Madinah berdiam seorang ahli hikmat dan filosof yang mengagumkan, yang dari dirinya memancar mutiara yang cemerlang dan bernilai.

Ia senantiasa mengucapkan kata-kata kepada masyarakat sekelilingnya, : “Maukah anda sekalian, aku kabarkan amalan- amalan yang terbaik, amalan yang terbersih di sisi Allah dan paling meninggikan derajat anda, lebih baik daripada memerangi musuh dengan menghantam batang leher mereka, lalu mereka pun menebas batang leher anda, dan malah lebih baik dari uang mas dan perak . . . ?”

Para pendengarnya sama menjulurkan kepala mereka ke muka karena ingin tahu, lalu segera menanyakan: “Apakah itu wahai Abu Darda’ . . . ?” Abu Darda’ memulai bicaranya dengan wajah berseri-seri, di bawah cahaya iman dan hikmat, lalu men­jawab: “Dzikrullah ….” — menyebut serta mengingat nama Allah — “Wa-ladzikrullahi akbar” — dan sesungguhnya dzikir kepada Allah itu lebih utama —.

Bukanlah maksud ahli hikmat yang mengagumkan ini meng­anjurkan orang menganut filsafat memencilkan diri, dan bukan pula dengan kata-katanya itu ia menyuruh orang meninggalkan dunia, dan tidak pula agar mengabaikan hasil Agama yang baru ini, yakni hasil yang telah dicapai dengan jihad atau kerja mati-matian.

Benar . . . , Abu Darda’ bukanlah tipe orang yang semacam itu, karena ia telah ikut berjihad mempertahankan Agama ber­sama Rasulullah saw. sampai datangnya pertolongan Allah dengan pembebasan dan kemenangan merebut kota Mekah ….

Tetapi ia adalah dari golongan orang yang setiap merenung dan menyendiri, atau bersamadi di relung hikmah, dan mem­baktikan hidupnya untuk mencari hakikat dan keyakinan, menemukan dirinya dalam suatu wujud yang padu, penuh dengan sari hayat dan gairah kehidupan ….

Dan Abu Darda’ r.a. ahli hikmat yang besar di zamannya itu, adalah seorang insan yang telah dikuasai oleh kerinduan yang amat sangat untuk melihat hakikat dan menemukan­nya ….

Dan karena ia telah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dengan iman yang teguh, maka ia merasa yakin dan percaya pula bahwa iman ini dengan segala tindak lanjutnya berupa kewajiban dan pengertian, merupakan jalan yang utama dan satu-satunya untuk mencapai hakikat itu … .

Demikianlah ia tetap berpegang dan secara bulat menyerah­kan dirinya kepada Allah, dan dengan teguh hati, dengan petun­juk dan kebesaran ditempanya kehidupannya sesuai dengan cetakan dan patokannya. Ia terus menelusuri jejak hingga akhirnya menemukannya …. dan berada di atas jalan lurus hingga mencapai tingkat kebenaran yang teguh …. dan menempati kedudukan yang tinggi beserta orang-orang yang benar secara sempurna, yakni di saat ia menyeru Tuhannya dengan membaca ayat-Nya:

إِنَّ صَلاتي‏ وَ نُسُكي‏ وَ مَحْيايَ وَ مَماتي‏ لِلَّهِ رَبِّ الْعالَمينَ

“Sesungguhnya shalatku dan ibadatku, hidup dan matiku, hanya untuk Allah semata, Tuhan alam semesta …. “.
(Q.S. 6 al-An’am: 162)

Abu Darda’ dalam melawan hawa nafsu dan mengekang dirinya untuk memperoleh mutiara bathin yang sempurna telah mencapai tingkatan yang tertinggi . . . tingkatan tafani rabbani — memusatkan fikiran, perhatian dan amaliahnya kepada pengabdian — menjadikan seluruh kehidupannya semata bagi Allah Rabbul ‘alamin ….

Dan sekarang marilah kita mendekati ahli hikmat dan orang suci itu! Tidakkah anda perhatikan sinar yang bercahaya-cahaya di sekeliling keningnya . . . ? Dan tidakkah anda mencium bau yang semerbak yang bertiup dari arahnya . . . ? Itulah dia cahaya hikmat dan harumnya iman . . . ! Dan sesungguhnya iman dan hikmat telah bertemu pada laki-laki yang rindu kepada Tuhannya ini, suatu pertemuan bahagia, kebahagiaan tiada taranya . . . !!

Pernah ibunya ditanyai orang, tentang amal yang sangat disenangi Abu Darda’, lalu dijawabnya: “Tafakkur dan meng­ambil i’tibar atau pelajaran!”

Sungguh benar, ia telah meresapi dengan sempurna firman Allah di dalam ayat-ayatnya yang tidak sedikit:

فَاعْتَبِرُوا يا أُولِي الْأَبْصارِ

“Hendaklah kamu mengambil ibarat — pelajaran, per­bandingan dan sebagainya — wahai orang-orang yang mempunyai fikiran!” (Q 59 Al Hasyr; 2)

Ia selalu mendorong kawan-kawannya untuk merenung dan memikir-mikirkan, katanya kepada mereka: “Berfikir — tafakkur — satu jam, lebih baik daripada beribadat satu malam . . . “Dan sesungguhnya beribadat dan bertafakkur dan mencari hakikat telah menguasai seluruh dirinya dan seluruh kehidupannya.

Di saat Abu Darda’ rela mengambil Islam sebagai Agamanya, dan ia bai’at kepada Rasulullah saw. akan melaksanakan Agama yang mulia ini, pada waktu itu ia adalah seorang saudagar kaya yang berhasil di antara saudagar-saudagar kota Madinah. Dan sebelum memeluk Islam, ia telah menghabiskan sebagian besar umurnya dalam dunia perniagaan, bahkan sampai saat Rasulullah dan Kaum Muslimin lainnya hijrah ke Madinah. Tidak lama kemudian setelah ia masuk Islam, arah hidupnya
Marilah kita menyilakan ia sendiri menceriterakan riwayat itu kepada kita: “Aku mengislamkan diriku kepada Nabi saw. sewaktu aku menjadi saudagar …. Keinginanku agar ibadat dan perniagaanku dapat berhimpun pada diriku jadi satu, tetapi hal
itu tidak berhasil …. Lalu aku kesampingkan perniagaan, dan menghadapkan diri kepada ibadat …. Dan aku tidak akan merasa gembira sedikit pun jika sekarang aku berjual beli dan beruntung setiap harinya tiga ratus dinar, sekalipun tokoku itu terletak di muka pintu mesjid . . . !

Perhatikan, aku tidak menyatakan kepada kalian, bahwa Allah mengharamkan jual beli …. Hanya aku pribadi lebih menyukai agar aku termasuk ke dalam golongan orang yang perniagaan dan jual beli itu tidak melalaikannya daripada dzikir kepada Allah . . . !” Apakah anda perhatikan kalimat-kalimat yang berisikan hikmat dan bersumberkan kejujuran . . . ?, ucap­annya yang meletakkan segala sesuatu pada tempatnya . . . ? Ia telah menerangkan sesuatu sebelum kita sempat menanyakan kepadanya, “.Apakah Allah mengharamkan niaga wahai Abu Darda’. . . ?

Uraiannya itu melenyapkan kesangsian yang ada dalam fikiran kita. Diisyaratkannya kepada kita tujuan yang lebih tinggi yang hendak dicapainya, menyebabkannya ia meninggalkan dagang sekalipun ia berhasil dalam hal ini. Ia sebenarnya mencari keistimewaan ruhani dan keunggulan yang menuju derajat kesempurnaan tertinggi yang dapat tercapai oleh anak manusia …. Ia menghendaki agar ibadat itu laksana tangga yang akan mengangkatnya ke alam kebaikan yang tinggi, hingga ia dapat menengok yang haq dalam kebesarannya, dan hakikat pada sumbernya. Seandainya yang dikehendaki hanyalah semata-mata ditunaikannya perintah dan ditinggalkannya larangan, niscaya ia sanggup menghimpun antaranya dengan dagang dan usaha- usahanya yang lain …. Berapa banyaknya para pedagang yang shaleh, atau sebaliknya orang shaleh yang jadi pedagang ….

Dan sesungguhnya banyak terdapat di antara shahabat- shahabat Rasulullah saw. orang-orang yang perniagaan dan jual belinya tak melalaikan mereka dari mengingat Allah . . . bahkan mereka bergiat mengembangkan perniagaan dan hartanya untuk dibaktikannya kepada tujuan Islam dan mencukupi kepentingan Muslimin …. Akan tetapi jalan yang ditempuh para shahabat yang lain itu tidak mengurangkan arti jalan hidup Abu Darda’, dan sebaliknya jalan yang ditempuhnya tidak pula mengurangkan ma’na jalan mereka, maka setiap orang dimudah­kan Allah untuk mengikuti jalan hidup yang telah ditetapkan bagi masing-masing ….

Popular posts from this blog

Bacaan Dewasa "FAKTA KEHIDUPAN SEKSUAL REMAJA JEPANG"

http://massandry.blogspot.com Inilah beberapa alasan Negeri Sakura itu melegalkan JAV Sex di Jepang sudah bukan hal yang tabu bagi kita, apalagi budaya sex yang bisa terbilang ekstrem di tengah-tengah bangsa yang menjunjung tinggi kesopanan ini. Siapa sih yang tidak tahu kalau bangsa Jepang terkenal sopan? Namun tak sedikit pula yang tahu budaya sex Jepang yang ekstrim.
Berikut kisahnya: 
1. Di salah satu kuil di Tokyo, ada sebuah gerbang merah yang jadi simbol sakral penduduk disana. Ternyata, di arena setelah kita melewati gerbang merah tersebut adalah area ritual bagi perempuan disana yang ingin melepas keperawanannya. 

2. Tahu shinkansen? Di kereta api super cepat ini ternyata tersedia gerbong khusus buat perempuan. Di gerbong ini, perempuan diberikan kebebasan untuk ngapain tanpa harus keganggu ama cowo- cowo yang ada disana. Konon kabarnya cowo Jepang sering ngelakuin tindakan asusila di kereta api. (bahkan beberapa syuting film porno memakai latar belakang kereta api sinkansen …

Bacaan Ringan "PROFIL LENGKAP WARKOP DKI "

http://massandry.blogspot.com
PROFIL: WAHYU SARDONO (DONO - WARKOP)
Drs. H. Wahjoe Sardono lebih dikenal dengan Dono Warkop lahir di Solo 30 September 1951 adalah aktor dan pelawak Indonesia yang bertinggi badan 167 cm serta beragama Islam. Ia juga dikenal sebagai aktor pada akhir 1970-an, tahun 1980-an dan era 1990-an. Dono meninggal pada 30 Desember 2001 akibat Kanker Paru-Paru.
Pendidikan:  Fakultas Ilmu Sosial - Jurusan Sosiologi, Universitas Indonesia 
Karir: Penyiar Radio Prambors (1974-1980)  Asisten Dosen Jurusan Sosiologi – Fakultas Ilmu Sosial UI (1974- 1980)  Dosen Jurusan Sosiologi – Fakultas Ilmu Sosial UI 
Alamat Rumah: Jalan Pulo Asem Utara 13/18, Jakarta Timur. 

Kabut tebal menyelimuti dunia perlawakan Indonesia. Ahad dini hari 30 Desember 2001 sekitar pukul 00.50 WIB, Drs H.Wahyu Sardono alias Dono Warkop, menghembus napas terakhirnya di kamar no 11 Paviliun Ignatius rumah sakit St Carollus Salemba Jakarta Pusat. Dia meninggal dengan tenang, disamping sahabatnya, Indr…

Bacaan Ringan "SABUNG AYAM MAULANA HASANUDDIN vs PRABU PUCUK UMUN"

http://massandry.blogspot.com Setelah kedua belah pihak telah bersepakat, dan telah menyiapkan ayam yang akan disabungkan, maka di hari itu, pada 11 Rabiul Awal tahun 888 Hijriah, orang-orang dari istana Pakuan Banten Girang dan para adjar dan pandita di Gunung Pulosari telah berkumpul untuk menyaksikan pertandingan sabung ayam antara Maulana Hasanuddin dan Ragamulya Surya Kencana alias Prabu Pucuk Umun. Saat itu, ayam keduanya saling mematuk, menghantam, mencabik, atau sesekali menghindari serangan lawannya, sebelum saling menyerang satu sama lain, yang diiringi oleh sorak-sorai para pendukung Maulana Hasanuddin dan Ragamulya Surya Kencana secara bergantian atau pun bersamaan.
Saat itu, semua yang hadir dan menyaksikan adu tanding kesumat itu merasa takjub dan heran ketika kedua ayam yang sama gagah dan perkasanya belum menandakan ada yang akan kalah di tengah arena. Bila ayam yang satu terpantik atau terjangkar oleh ayam yang lainnya, maka para pendukungnya akan bersorak gembira, da…